NovelToon NovelToon
Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Yun Miao 1: Satu Sabda Penyembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Auzora Maleeka

"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"

"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"

Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

"Kalau dia punya kemampuan, nggak mungkin nggak lihat, ada dua gumpalan energi jahat yang menempel di bahumu." Kata Nadira kepada Nyonya Rania.

Setelah Nadira selesai berkata seperti itu, Nyonya Rania pun refleks mencari-cari apa yang dimaksud oleh Nadira. Karena dalam penglihatan Nadira, memang benar Nyonya Rania ditempeli oleh dua gumpalan jahat di bahunya.

"Kau bilang apa ?" Marah Nyonya Rania.

"Ucapan yang menakut-nakuti. Aku juga ahli dalam energi jahat. Bagaimana mungkin aku nggak bisa melihat apa yang kau katakan. Nyonya Rania, kau baik-baik saja ?" Kata Pendeta Axel, saat Pendeta Axel memanggil Nyonya Rania langsung terkejut.

Pada saat Pendeta Axel menanyakan apa dia baik-baik saja, sebenarnya Nyonya Rania sangat ketakutan, hingga pada akhirnya dia melihat ke arah bahunya itu, sambil ketakutan dan badannya menjadi gemetar.

Pendeta Axel yang melihat Nyonya Rania begitu ketakutan, diapun bertanya. "Nyonya Rania, kau kenapa ?"

"Apa lagi yang bisa terjadi ? Tentu saja ia takut." Kata Adrian, sambil menunjuk ke arah Nyonya Rania yang sedang ketakutan itu.

Pendeta Axel yang mendengarkan perkataan adrian, sontak mengarahkan pedang yang dia pegang ke arah Nyonya Rania, dan sekilas saja seperti sedang bertarung. Hingga akhirnya ia pun menjauh dari Nyonya Rania.

"Apa yang terjadi ? Tadi Pendeta Axel masih bilang kalau wanita itu cuma menakut nakuti saja. Hey kenapa sekarang menjadi berubah. Apa ucapan wanita itu tepat sasaran ?" Kata Murid ke¹

"Hey...... Kalau Pendeta Axel nggak bisa melihatnya, aku nggak percaya wanita ini pun punya kemampuan." Kata murid ke².

"Pendeta Axel, semangat. Aku tahu siapa dia. Dia wanita penghibur yang di internet. Cuma datang cari sensasi." Kata orang ke³ (Pr)

"Pendeta Axel, kau baik-baik saja ? Cepat tunjukkan kemampuanmu." Tanya Nyonya Rania.

Sementara Pendeta Axel terus menerus menatap ke arah Nyonya Rania.

"Kenapa Pendeta Axel ? Apa dia takut ?" Kata murid ke¹.

"Apa dia nggak bisa ?" Kata murid ke².

"Hemmmm..... Karena ada orang lain yang mau menyelesaikan masalah, aku akan mengalah dulu, biar orang lain yang unjuk kemampuan." Kata Pendeta Axel yang terdengar sombong.

"Dia ? Apa dia bisa ?" Tanya Nyonya Rania sambil menunjuk ke arah Nadira.

"Kau tenang saja. Kalau dia nggak bisa, aku akan turun tangan lagi, untuk menstabilkan situasi." Ujar Pendeta sombong itu.

Tiba-tiba, tidak tahu dari mana datangnya sebuah guci itu dilempari ke arah Nyonya Rania, hingga semua orang kaget dan Nyonya Rania berteriak.

Hingga pada akhirnya, muncul seorang perempuan yang diketahui dialah yang melempari guci tersebut hingga berteriak histeris.

" Semuanya pergi !. Pergi." Teriak Nyonya Desi.

"Nona Nadira, ini adalah Nyonya keluarga Hutama, ibu dari Yuna." Kata Adrian sambil berbisik kepada Nadira.

"Siapapun jangan pergi !" Cegah Nyonya Rania, hingga urung mereka untuk pergi.

"Desi, kau kembalilah dulu ke kamar. Kau jangan mencemaskan masalah di luar." Kata Nyonya Rania kepada Desi.

"Wanita tua sialan. Aku tahu kau yang sudah mencelakai Yuna. Dasar, wanita tua yang hanya mementingkan anak laki-laki daripada perempuan. Aku nggak akan membiarkanmu mencelakai Yuna. Nggak diizinkan." Teriak Desi marah.

Pada saat Desi marah muncul seorang laki-laki, yaitu suaminya Desi, namanya Heri.

Sementara Nadira, terus memperhatikan Desi hingga dia tidak berkedip, seakan-akan dia begitu fokus pada orang itu, atau pada orang yang disampingnya atau bisa juga pada 2 gumpalan tersebut

"Desi. Desi. Kau jangan emosi. Dokter bilang kau nggak boleh emosi." Kata Heri.

"Ibu, kau sedang apa ? Apa keluarga kita nggak cukup kacau ?" Tanya Heri pada sang ibu, yang mana tangan ibunya sedang gemetar karena takut.

"Aku sedang apa ? Aku melakukan ini demi keluarga kalian. Hari ini aku pergi membakar dupa, dan mereka bilang Yuna belum bisa bereinkarnasi setelah meninggal. Dia masih dirumah. Ini akan memengaruhi keturunanmu." Kata Nyonya Rania kepada anaknya itu. Sedangkan Nadira seperti biasa dia melihat ke arah Nyonya Rania, seakan-akan 2 gumpalan itu akan melahapnya sekarang juga.

Desi yang mendengar penuturan dari ibu mertuanya, begitu marah hingga ia ingin menghabisinya saja.

"Aku tahu kau orangnya. Demi anak laki-laki yang bahkan belum pasti ada, kau membunuh Yuna. Aku nggak akan ampuni kau, wanita Tua sialan." Ujar Desi yang terus memberontak ingin melepaskan diri dari suaminya itu.

Nyonya Rania, melihat ke arah badannya sendiri dia kaget karena bisa melihat asap hitam keluar dari tubuhnya itu, dan kemudian terbang sehingga semua orang bisa melihat asap itu.

Dan, membuat asap hitam menjadi seperti awan itu, menutupi seluruh rumah keluarga Hutama. Mereka pun menjadi panik dengan apa yang mereka lihat itu.

"Ini." Seru mereka semua berbarengan.

Sementara Nyonya Rania, diam membisu karena dia tidak bisa bergerak. Hingga pada akhirnya asap hitam itu membuat di sekitar keluarga Hutama menjadi seperti malam.

"Kenapa langit jadi gelap ?"Kata murid ke¹ sambil melihat ke arah sekeliling yang menjadi kabut hitam.

"Dari mana datangnya kabut hitam ini ?" Lanjut murid ke¹.

Pendeta Axel, memfokuskan pikirannya untuk mengetahui apa yang terjadi pada saat ini.

"Dupa Roh ? Kau memakai Dupa Roh ? Apa kau mau membunuh kami ?" Tanya Pendeta Axel kepada Nyonya Rania dengan marah.

"Nggak. Aku nggak melakukan apapun." Bantah Nyonya Rania.

"Kalau bukan kau, siapa lagi ? Kau yang mengundang kami kemari. Tapi kau malah menyalakan Dupa Roh. Apa kau mau memaksa kami bekerja untuk keluargamu ?" Marah Pendeta Axel.

Mereka yang mendengar itu pun sontak ada yang marah, juga ada yang ketakutan, tapi kalau Nadira jangan di tanya ya gaes. Dia mah nggak takut apapun.😂🤭✌🏻

"Aku yang panggil." Akui Desi.

"Desi ?" Kata Heri.

"Aku sangat merindukannya. Aku sangat merindukan Yuna." Jawab Desi, sambil menangis pelan hingga akhirnya ia berjongkok.

"Diapun masih begitu kecil. Aku nggak mau dia sendirian disana. Dia pasti sangat takut. Aku merindukannya. Aku merindukan menemaninya." Jawab Desi menangis sambil memeluk tubuhnya sendiri, dikarenakan dia begitu kehilangan sang putri semata wayangnya dan juga ia sangat merindukan putrinya itu.

Sedangkan mereka yang ada di sana menggelengkan kepalanya, karena mereka tidak percaya, dengan apa yang telah dilakukan oleh Nyonya Desi.

"Nona Nadira, apa dengan cara ini dia akan benar-benar bisa bertemu dengan putrinya ?" Tanya Adrian kepada Nadira, karena dia merasa iba terhadap apa yang menimpa Desi.

"Itu semua hanyalah ilusi." Jawab Nadira.

Setelah Nadira selesai berbicara, Desi pun melihat ke arahnya.

Sang suami pun, ikut berjongkok untuk menyamai tubuh sang istri sambil terus memeluk tubuh istrinya itu.

"Desi, kau jangan seperti ini. Kau masih ada aku." Kata Heri.

"Karena kau sangat mencintai Yuna, kau seharusnya membiarkannya beristirahat dengan tenang. Kalau nggak, nggak hanya nggak akan membantu, tapi juga akan memengaruhi keturunan keluarga Hutama." Kata Nyonya Rania.

"Ibu !" Teriak Heri suami Desi hingga akhirnya pun dia berdiri.

"Kau sedang bicara apa ?"Sentak Heri suami Desi.

"Aku bicara apa ? Aku melakukannya juga demi kebaikanmu. Kalian mengerti nggak ? Nggak ada anak laki-laki, Kalian...... " Kata Nyonya Rania.

"Anak laki-laki !" Sentak Desi sambil berdiri.

"Kau demi anak laki-laki tega mencelakai Yuna. Wanita tua sialan. Aku nggak akan mengampuni mu. Aku pun tahu semua perbuatan menjijikkan yang kau lakukan. Aku tahu segalanya." Kata Desi marah sambil menunjuk ke arah Nyonya Rania dengan sangat marah.

Saat Nyonya Rania akan berbicara, pembicaraannya sudah di potong oleh Desi.

"Merasa bersalah, 'kan ? Tenang saja. Aku nggak akan mengampuni pelaku yang sudah membunuh Yuna." Kata Desi.

"Kalian jangan ribut dulu. Lihat ke sekitar." Kata Pendeta Axel, sehingga membuat mereka yang ada di sana menjadi menoleh ke sekitar, dan menjadi ketakutan.

"ini."

"Ini."

"Murid-murid !" Panggil Pendeta Axel.

"ini."

Mereka semua sangat ketakutan, ada yang lari dan masih ada yang bertahan disitu. Pendeta Axel memfokuskan dirinya, agar bisa mengetahui apa yang akan dilakukan setelah itu.

Tapi, Nadira diam saja dengan tenang karena dia bisa melindungi dirinya sendiri, hingga muncul sinar keemasan melindungi dirinya, orang yang ada di samping Nadira pun menjauh sedikit karena tidak tahan akan silau dari tubuh Nadira.

"Nona Nadira, seperti Dewi. Ya. Cuma Dewi yang bisa menunjukkan tatapan kosong dan angkuh seperti itu." Ujar Adrian dalam hati, yang mana masih sempat-sempatnya menatap kagum dan takjub ke arah Nadira yang masih saja terus bersinar layaknya seorang Dewi itu.

"Aduh, apa yang aku pikirkan di saat genting seperti ini ?" Sambung Adrian dalam hati, sambil memukul kepalanya, karena dia masih sempat-sempatnya kagum ke arah Nadira.

1
Andira Rahmawati
absend dulu thor...
Chen Nadari
mampir Thorr
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!