NovelToon NovelToon
SIMFONI TAK BERATURAN

SIMFONI TAK BERATURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.

Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.

Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.

Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

Gembok senja mulai mengunci langit Jakarta, mengubah warna cakrawala dari jingga pekat menjadi ungu kelabu. Adzan Maghrib yang bersahut-sahutan dari masjid-masjid di sekitar lingkungan rumah Andra menjadi penanda alami bahwa pertemuan penuh tawa sore itu harus segera berakhir. Kelompok Sableng, yang biasanya sulit dibubarkan jika sudah berkumpul, akhirnya mulai merapikan barang-barang bawaan mereka untuk berpamitan.

Sandi berdiri dari kursi kayu di samping tempat tidur, lalu mendekat dan menepuk-nepuk bahu Andra dengan gerakan maskulin yang akrab namun penuh perhatian. "Ndra, gue cabut duluan ya. Udah kemaleman ini, ngeri kena macet total di jalur pulang," ujar Sandi sambil melirik jam tangannya. "Gue harus antar si Oneng ini dulu ke Pondok Indah, perjalanan gue hari ini beneran rute 'tour de Jakarta', jauh banget."

Anggita, yang sedari tadi duduk di ujung kasur, ikut berdiri dan membenahi letak tas punggungnya. "Iya Ndra, gue juga pamit ya. Jangan lupa diminum obatnya tepat waktu, jangan nunggu disuapin nyokap terus. Cepet sehat ya, jagoan," ucap sang ketua kelas dengan senyum menyemangati.

Vino, yang sedang sibuk menghabiskan sisa sirup melonnya dalam satu tegukan, ikut menimpali. "Jangan begadang lo, mentang-mentang besok nggak sekolah jangan malah main game sampai pagi. Istirahat total aja biar antibodi lo kerja maksimal dan lo cepet sembuh."

Saskia yang berdiri di samping Sandi menatap Andra dengan tatapan prihatin yang tulus. "Maaf ya Ndra, kita nggak bisa lama-lama nemenin kamu. Rumahku juga jauh dan kasihan Sandi nanti kalau pulangnya kemalaman banget, dia harus bolak-balik dari Jakarta Selatan ke Jatinegara lagi."

Andra, yang wajahnya kini terlihat jauh lebih segar dibandingkan saat mereka pertama kali datang—mungkin karena efek tertawa yang melebihi dosis parasetamol—tersenyum manis menatap sahabat-sahabatnya. "Iya, nggak apa-apa. Makasih banyak ya kalian semua sudah mau mampir. Rasanya beban di kepala gue langsung enteng denger bacotan kalian. Besok kalau suhu badan gue udah stabil, gue usahain masuk sekolah."

Sandi langsung mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti. "Eits, jangan sok kuat dulu. Jangan maksain kalau badan lo belum bener-bener 'fit' seratus persen. Nanti yang ada lo pingsan di kelas, malah makin repot kita harus gotong lo ke UKS."

Andra terkekeh pelan. "Iya, iya. Kalau emang besok pagi masih lemes, gue izin sehari lagi. Tapi kalau udah seger, gue pasti masuk."

Mendengar itu, Sandi memasang wajah lega yang dibuat-buat. "Nah, gitu dong! Bagus kalau lo masih ragu buat masuk besok. Biar gue punya space waktu lebih lama buat ngumpulin duit. Kalau lo masuk besok pagi, dompet gue belum siap sedia, duit gue lagi 'ente' alias sekarat gara-gara bensin Ninja lagi boros-borosnya."

Seketika, seluruh ruangan kamar Andra kembali dipenuhi ledakan tawa. Bahkan Mama Andra yang kebetulan lewat di depan pintu kamar ikut tersenyum mendengar keriuhan itu.

Andra menunjuk Sandi dengan jari telunjuknya sembari tertawa. "Oke! Gue kasih lo waktu tambahan buat menabung. Tapi inget ya, gue nggak mau es krim yang abal-abal. Pokoknya gue mau lo beliin gue es krim bermerek yang iklannya sering muncul di TV!"

Sandi terkekeh kecil sembari melangkah menuju pintu, diikuti Saskia yang masih setia memegang ujung seragamnya. "Oke, oke, tenang aja. Padahal lo harus tahu Ndra, es dung-dung yang mangkal di depan gerbang sekolah kita itu juga bermerek tahu. Lo aja yang kurang teliti liat gerobaknya."

Andra, Anggita, dan Vino menghentikan tawa mereka sejenak, menatap Sandi dengan dahi berkerut heran. "Emang ada mereknya, San? Perasaan cuma gerobak kayu cokelat biasa," tanya Vino penasaran.

Sandi mengangguk dengan wajah sangat meyakinkan, seolah sedang mempresentasikan sebuah fakta ilmiah penting. "Ada dong! Mereknya itu 'Es Dung-Dung Asli Garapan Mang Soleh'. Itu merek lokal yang sudah melegenda di lingkungan SMP kita, Ndra!"

Respons atas banyolan garing nan absurd itu datang dalam hitungan detik. Bugh! Andra mengerahkan tenaga terakhirnya untuk melemparkan bantal yang sedari tadi ia peluk. Plak! Anggita dengan refleks kilat menabok lengan Sandi. Dan Vino, tanpa ampun, melemparkan gumpalan tisu bekas yang tadi ia gunakan untuk mengelap tumpahan sirup tepat ke arah wajah Sandi.

"SIAAALAN LO, SAN!" teriak mereka bertiga serempak.

Sandi sukses menghindar dengan gerakan lincah bak pemain akrobat, sambil tertawa terbahak-bahak melihat reaksi teman-temannya. Sementara itu, Saskia hanya bisa tertawa geli dan menggelengkan kepala melihat bagaimana Sandi selalu sukses menjadi "samsak" kebahagiaan bagi Kelompok Sableng.

Lampu teras rumah Andra yang mulai berpijar kekuningan menjadi saksi bisu perpisahan empat sekawan itu dengan Mama Andra. Di ambang pintu, suasana hangat masih terasa saat mereka mencium tangan wanita paruh baya itu secara bergantian. "Hati-hati ya anak-anak, sampaikan salam buat orang tua kalian," pesan Mama Andra dengan tulus sembari melepas kepulangan mereka.

Mereka pun melangkah menuju carport yang kini aromanya mulai bercampur dengan bau aspal basah sisa embun sore. Sandi segera menghampiri Ninja 150RR hijaunya, memutar kunci, dan menekan kick starter dengan mantap. Suara mesin 2-tak yang garing dan bertenaga langsung memecah kesunyian komplek, mengeluarkan asap tipis yang khas. Di sampingnya, Vino tak mau kalah; Satria 120 kuning miliknya ikut meraung dengan suara yang lebih melengking, menciptakan duet mesin yang maskulin.

Saskia tampak sedikit kewalahan dengan helm half-face barunya. Helm itu sengaja ia beli karena ia tahu, mulai besok—saat Sandi resmi pindah ke paviliun rumahnya—hidupnya akan dihabiskan di atas jok belakang motor hijau itu. Namun, jemari lentiknya seolah kehilangan koordinasi saat mencoba mencari celah pengait di bawah dagunya.

Melihat kekacauan kecil itu, Sandi mendengus tipis, namun tangannya bergerak dengan lembut menarik lengan Saskia agar mendekat. Tanpa sepatah kata pun, ia mengambil alih tali helm tersebut. Jarak mereka begitu dekat, hingga hembusan napas Sandi terasa di kening Saskia, membuat jantung gadis itu berdegup tak karuan.

Anggita, yang sudah berdiri di depan gerbang siap untuk berjalan kaki, tak tahan untuk tidak berkomentar. Ia terkekeh melihat pemandangan di depannya. "Bener-bener ya lo, Sas. Dari tadi gue perhatiin, urusan pake helm aja nggak lulus-lulus. Padahal udah kelas tiga SMP!" celetuk Anggita jenaka. Sebagai teman yang baru mengenal Saskia di tahun terakhir ini, Anggita memang sering gemas dengan tingkah "oneng" sahabat barunya itu.

Saskia hanya bisa cengengesan di balik kaca helm yang masih setengah terbuka. "Duh, beneran deh Nggi, tanganku susah banget nyari celahnya, kayak ngumpet gitu pengaitnya," dalihnya manja.

"Ya sudah, kalau gitu gue jalan duluan ya. Rumah gue deket ini," pamit Anggita sembari mulai melangkah.

Vino yang sudah siap di atas motor Satria-nya langsung memotong. "Eh, nggak sekalian aja gue anterin, Nggi? Udah gelap banget ini, bahaya kalau lo jalan sendiri meskipun cuma beda blok."

Sandi yang baru saja menyelesaikan urusan helm Saskia ikut menoleh. "Iya Nggi, mending bareng Vino sekalian. Biar cepet sampai rumah dan lo bisa langsung istirahat. Nyokap lo pasti kepikiran kalau anak gadisnya keluyuran jalan kaki Magrib-Magrib begini."

Anggita tampak ragu sejenak, melirik ke arah jalanan komplek yang mulai remang. "Nggak ngerepotin nih, Vin?"

"Woles, Nggi. Gaya lo boleh tomboy, kelakuan lo boleh kayak preman kelas, tapi di mata hukum dan alam, lo itu tetap cewek," sahut Vino santai sembari menepuk jok belakang motornya.

Sandi menimpali dengan seringai tengilnya, "Yoi, Nggi. Kalau nanti di jalan lo di-grepe-grepe orang nggak bener kan bahaya. Masa ketua kelas kita ternodai di tengah jalan."

Tawa renyah Anggita dan Vino meledak bersamaan mendengar istilah "grepe-grepe" yang terlontar dari mulut Sandi. Namun, reaksi berbeda muncul dari Saskia. Wajahnya mendadak memerah padam di balik helm. Kata itu seolah memicu imajinasi liar di otaknya, membayangkan dirinya dan Sandi dalam situasi yang... ah, sudahlah. Ia hanya terdiam, tersipu malu sendiri dengan pikiran nakalnya.

"Ya udah, gue sama Vino duluan ya, San, Sas!" seru Anggita sembari naik ke boncengan Satria kuning.

Sandi mengangguk mantap, sementara Saskia masih mematung dengan tatapan kosong, seolah jiwanya sedang berkelana memikirkan definisi "grepe-grepe" versi khayalannya. Sandi yang merasakan ada yang aneh, menoleh ke belakang. Ia melihat tunangannya itu bengong seperti orang kesambet.

Tak!

Satu sentilan mendarat di dahi helm Saskia, suaranya terdengar nyaring. "Aduh! Sakit, San!" protes Saskia sembari tersentak dari lamunannya.

"Mana ada sakit? Itu kan helm lo yang gue sentil. Lagian lo bengong aja Magrib-Magrib. Kesambet setan komplek mana lo? Malah makin oneng nanti kalau dibiarin," sindir Sandi tajam.

Anggita dan Vino yang melihat itu hanya bisa geleng-geleng kepala sembari tertawa kecil. "Sas, beneran ya, gue duluan!" Anggita melambaikan tangan saat motor Vino mulai melaju perlahan meninggalkan area gerbang.

"Iya Nggi, Vin! Hati-hati di jalan ya!" balas Saskia dengan suara cemprengnya.

Setelah bayangan motor kuning itu menghilang di tikungan, Sandi menghela napas panjang dan menarik tuas koplingnya. "Pegang yang erat, Sas. Kita bakal lewat jalur macet kalau mau ke Pondok Indah jam segini."

Saskia langsung memeluk pinggang Sandi tanpa perlu diperintah dua kali. Sandi pun melajukan Ninja hijaunya, meninggalkan rumah Andra dan bergerak ke arah berlawanan dari Vino, membelah malam Jakarta yang baru saja dimulai.

Deru mesin Ninja 150RR milik Sandi membelah aspal Jakarta yang mulai merayap padat oleh kepulangan para pekerja kantor. Cahaya lampu kota mulai berpendar, memantul di kaca spion motor yang bergetar pelan. Di jok belakang, Saskia seolah memiliki dunianya sendiri. Pikirannya masih tersangkut pada satu kata yang diucapkan Sandi di depan rumah Andra tadi: grepe-grepe. Kata yang bagi orang lain mungkin terdengar kasar atau bercandaan tongkrongan, namun bagi imajinasi Saskia yang sedang berbunga-bunga, kata itu berubah menjadi skenario drama romantis yang membuatnya senyam-senyum sendiri di balik helm.

Saskia membenamkan wajahnya lebih dalam ke punggung Sandi. Ia mulai menggeser-geserkan pipinya ke kanan dan ke kiri di jaket Sandi, mengelusnya seolah punggung itu adalah bantal empuk yang paling nyaman di dunia. Gerakannya yang tidak biasa itu membuat Sandi merasa risih. Ada sensasi geli sekaligus aneh yang merambat di saraf punggungnya setiap kali helm Saskia bergesekan dengan badannya.

Karena merasa ada yang tidak beres dengan "muatannya", Sandi akhirnya memutuskan untuk menepikan motor hijaunya ke bahu jalan yang agak sepi, tepat di bawah rimbunnya pohon peneduh jalan.

"Sas!" panggil Sandi dengan suara meninggi, mencoba mengalahkan bising kendaraan yang lewat.

Namun, Saskia seolah tuli. Ia malah makin asyik menggelengkan kepalanya di punggung Sandi, menikmati aroma jaket pemuda itu dengan mata terpejam. Sandi yang mulai gemas akhirnya memutar badannya setengah lingkaran.

Plak!

Sandi menabok pelan kaca helm Saskia dengan telapak tangannya. Efek suara benturan plastik itu seketika memecah gelembung khayalan Saskia. Gadis itu tersentak, matanya mengerjap-ngerjap kaget menatap wajah Sandi yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya.

Sandi memperhatikan wajah Saskia. Di balik kaca helm yang bening, ia melihat pipi gadis itu merona merah padam, jauh lebih merah dari biasanya. Ditambah lagi dengan cengiran lebar yang terlihat sangat tidak wajar, Sandi mulai curiga.

"Lo beneran kesambet penunggu komplek Andra ya, Sas? Muka lo aneh banget, cengar-cengir nggak jelas begini," tanya Sandi dengan dahi berkerut dalam.

Saskia mengerjapkan matanya, lalu tersenyum sangat manis—jenis senyuman yang biasanya ia gunakan kalau sedang ada maunya. "Nggak kok, Sayang... eh, San," jawabnya dengan nada yang sedikit mendesah.

Sandi menyipitkan matanya, menyelidik. "Terus lo kenapa? Dari tadi kepala lo goyang-goyang mulu di punggung gue kayak boneka dasbor mobil. Geli tahu nggak!"

Saskia hanya menggigit bibir bawahnya, lalu menggeleng pelan dengan tatapan yang masih terlihat "melayang". Karena khawatir Saskia benar-benar sakit atau demam mendadak, Sandi melepaskan sarung tangannya dan menempelkan telapak tangannya ke kening Saskia yang tertutup sedikit poni.

"Suhu badan lo normal, nggak demam kok. Terus lo kenapa sih? Jangan bikin gue takut deh, mana udah Maghrib lewat begini," ujar Sandi bingung.

Saskia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada orang di bahu jalan yang memperhatikan mereka. Dengan gerakan pelan, ia memajukan wajahnya hingga hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Sandi. Suaranya merendah, penuh malu-malu. "Aku... aku kepikiran omongan kamu tadi, San."

Sandi makin bingung. Ia mencoba memutar kembali memori percakapannya selama satu jam terakhir. "Omongan gue? Omongan yang mana? Perasaan dari tadi pas di motor gue nggak ada ngomong apa-apa, gue fokus nyalip truk."

"Bukan yang di motor... itu, yang di depan rumah Andra tadi," bisik Saskia.

Sandi mulai merasa gemas karena keteledoran Saskia dalam menjelaskan sesuatu. "Omongan yang mana di rumah Andra? Yang soal janji gue mau beliin Andra es krim kalau dia sembuh?"

Saskia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Sandi, seolah ingin membisikkan rahasia paling terlarang di sekolah mereka. "Itu... yang kamu bilang ke Anggita... soal di-grepe-grepe!"

Hening sejenak. Sandi terdiam, mencerna kata-kata itu. Detik berikutnya, tawa geli meledak dari mulut Sandi. Ia menutup wajahnya dengan satu tangan sambil bahunya terguncang hebat. "Lah! Terus kenapa emangnya? Itu kan cuma becandaan biar Anggita mau diantar Vino, biar dia aman!"

Saskia malah makin cengangas-cengenges, tangannya memainkan ujung jaket Sandi dengan gugup namun antusias. "Ya aku ngebayangin aja... gimana kalau aku yang digituin sama kamu, San! Rasanya pasti... gimanaaa gitu."

Sandi tersentak. Matanya membelalak kaget mendengar pengakuan polos bin ajaib dari calon tunangannya ini.

Plak! Plak! Plak!

Sandi menabok helm Saskia bertubi-tubi dengan gemas, sementara Saskia malah tertawa kegirangan seolah tabokan itu adalah belaian kasih sayang. "Oneng! Pe'a! Otak lo isinya apaan sih? Omongan sampah begitu malah lo pikirin sampai segitunya!" seru Sandi dengan wajah yang kini ikut memerah karena malu.

Saskia tidak peduli. Ia justru langsung menghambur, memeluk leher Sandi dengan erat di atas motor. "Ihh, kenapa sih emangnya? Kan aku ini calon tunangan kamu! Dan sebentar lagi kita bakal pindah rumah jadi satu area, terus nanti kita juga bakal jadi suami istri, San! Masa mikirin hal romantis begitu sama calon suami sendiri nggak boleh sih?"

Sandi berusaha melepaskan pelukan maut Saskia yang membuatnya susah bernapas. "Sas! Dengerin gue! Kita ini masih sekolah, masih bau kencur! Walaupun kita dijodohin dan bakal jadi suami istri suatu saat nanti, kalau lo mikirin hal-hal 'begituan' sekarang, rasanya kayak lo tuh murahan banget tahu nggak! Jaga harga diri lo sebagai cewek, Oneng!"

Saskia tidak mendengarkan ceramah moral Sandi. Ia justru semakin membenamkan wajahnya di celah leher Sandi, tertawa geli sendiri membayangkan betapa kakunya Sandi jika harus bersikap romantis. Baginya, omelan Sandi justru terdengar seperti musik yang indah karena ia tahu, di balik galaknya pemuda itu, ada rasa melindungi yang sangat besar.

Sandi hanya bisa menghela napas panjang, menatap langit malam Jakarta dengan pasrah. Ia sadar, menghadapi sifat "Oneng" Saskia jauh lebih menguras tenaga daripada harus menghadapi preman pasar manapun.

1
Shintara
Yuk di baca yuk
Shin Nara
Next thor
Shintara: update setiap jam 9 pagi ya kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!