Embun baru saja tamat Sekolah dari Desa, Sehingga dia terpaksa ikut dengan Bu Wina, Warga tetangganya karena dia memang butuh pekerjaan dalam menyambut hidup.
Embun tinggal seorang diri, setelah ibunya meninggal dunia, sejak saat itu dia menghadapi getirnya hidup didunia ini.
Sementara Rido Prasetio adalah Pewaris Talzus Group, dia terus dipaksa nikah oleh sang Ibu, Karena menurut sang Ibu, Usia Rido Sudah sangat Jauh berumur.
Karena merasa kesal dengan ibunya, Rido mengajak teman temannya untuk datang ke Bar, sehingga mereka mabuk dan mengalami kecelakaan beruntun.
Penasaran dengan ceritanya, ayo terus ikuti ceritanya disini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeprism4n Laia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2. Kecelakaan Rido
Waktu terus berputar pada porosnya, botol minuman semakin menumpuk dilantai ruangan itu, Rido bersama dengan teman-temannya, sudah berkata ngelantur dan berhayal di atas awan tujuh bidadari.
Sang sekretaris Rido dari perusahaan terus menghubunginya, namun tetap saja tidak bisa tersambung, coba hubungi beberapa saat lagi, kata Operator didalam sambungan telepon itu.
“Dasar Bos Gendeng! Sudah tau hari ini ada rapat yang sangat penting, eh dia malah main matikan Handpone segala” Dengus sang sekretaris dengan sangat kesal.
Sang Sekretaris bernama Berys Sagala, dia sudah menemani Rido sejak beberapa tahun yang lalu, dia juga merupakan kandidat yang sangat berbakat dalam bagian administrasi dibidang bisnis, sehingga Rido percaya dengannya.
Berys terpaksa harus mewakili sang Presdirnya untuk memulai Rapat, sehingga dia berusaha dengan semaksimal mungkin untuk meyakinkan para investor dan pemegang saham, bahwa Perusahaan terus berjalan pada relnya dan mendapatkan untung sama dengan biasanya.
Rido dan teman temannya memutuskan untuk pulang dengan sendiri sendiri, dengan mereka mengendarai mobil masing masing.
“Weiii bos boskuh, kekmana kalo kita ke jalan Pancing, kita balapan disana? Kita lihat yang masih hebat memutar setir mobil?” Ungkap Satrio memberikan saran.
“Okey… siapa takut! Yang gak mau ikut, berarti dia adalah Benzong” Jawab Lipus dengan berteriak, kemudian dia langsung masuk didalam mobil Lambornya.
Karena efek minuman alkohol yang sudah mulai bergerak dialam nadi, sehingga diantara mereka berempat tidak ada yang membatasi untuk melakukan balapan tersebut. Sehingga dalam satu gerakan, mereka semua sudah berada didalam mobil masing masing.
Rido langsung mengenderai mobilnya menuju jalan pancing, dengan diikuti oleh teman temannya dari belakang, karena Bar mereka minum saat ini tidaklah jauh dari jalan pancing.
“Ayuuu semuanya! Dalam klakson ketiga, kita langsung go!” Kata Anton Baene, mereka langsung menjadi wasit karena tidak ada orang lain yang berada ditempat itu.
“pim, pim, pim” suara klakson berbunyi. Dan”broom” suara knalpot mobil mereka memenuhi tempat itu, sementara para pengguna jalan lain, terpaksa berhenti karena mobil mobil mewah telah berjejer di tengah jalan.
Mereka langsung eksen untuk balapan, mereka semua melewati jalanan yang lurus dan sepi tanpa adanya hambatan sama sekali, namun tanpa mereka sadari mereka sudah mulai masuk di daerah yang sudah mulai ramai, dengan beberapa mobil tronton dan mobil ekspedisi.
Mobil Lipus dengan kecepatan tinggi, dia mampu menyalip mobil Rido yang berada dipaling depan, tiba tiba sampai ditikungan tajam.
“Poom, Proom” suara Klakson Mobil Ekspedisi. Lipus yang dalam keadaan pengaruh Alkohol, dia sangat terkejut ketika Mobil besar sudah berada didepannya dengan hanya beberapa meter saja, sehingga dia harus membating setir mobilnya kearah Rumah Warga.
“Duaar” Suara tabrakan Mobil Lipus dengan rumah.
Sementara Rido yang berada dibelakang mobil Lipus, dia juga sama terkejutnya dengan Lipus, sehingga dengan cepat dia langsung membanting setir mobilnya kearah kiri, namun belum seluruhnya badan Mobil itu lolos.
“Ckiitt” suara bak Belakang Mobil Rido diseret Oleh Mobil Tronton.
“Duaarr, Bruuss” suara Mobil Rido ketika terguling guling diatas aspal, setelah mobilnya terbang keatas langit sekitar 2 meter.
Sedangkan Anton dan Satrio berada dipaling belakang, sehingga mereka mampu mengelakan kecelakaan beruntun tersebut.
Mobil Rido hancur berkeping keeping bagaikan pecahan kaca rumah tangga, ketika suami istri sedang marahan didalam rumah, seperti itulah bayangan mobilnya Rido.
Rido tak sadarkan diri, kedua kakinya terjepit di bangku mobilnya sementara dadanya terhantam oleh setir. Begitu juga dengan Lipus dia sudah tak sadarkan diri.
Anton dan Satrio langsung memanggil bantuan untuk membantu Rido dan Lipus, mereka langsung dibawa kerumah Adam Malik.
Ibunya Rido bersama dengan sang ayah, mereka langsung berlarian kerumah sakit adam malik, ketika mereka mendapatkan informasi dari Satrio, kalau Rido sudah mengalami kecelakaan di daerah jalan Pancing.
“Mana keluarga Pasien atas nama Rido?” Tanya sang Dokter.
“Saya ibunya Dok?” jawab langsung oleh Tiaras ibunya Rido Prasetio.
“begini ibu, anak ibu sepertinya mengalami benturan yang sangat cukup keras, sehingga banyak D4rahnya yang keluar, dan yang paling berat kedua kakinya sepertinya sudah mengalami keretakan” ungkap sang Dokter dengan nada yang terasa berat.
Tiaras menggeleng dengan cepat, kemudian dia berkata “Ti, tidak! Tidak bisa, anakku tidak mungkin mengalami keretakan tulang kakinya, tidak bisa dia hanya terus duduk dikursi roda selamanya” sambil dia terjatuh terduduk dilantai.
Sementara Giancarlo hanya bisa memapah sang istri, dia seakan hilang kata kata dengan semua kejadian ini, dia seperti kehilangan tenaga untuk berkata lagi.
“Kalau anak ini tidak bisa berjalan, dan mengalami perusahaanku pasti akan mengalami keterpurukan, Hah! Ini bagaimana ya Allah” Gumam Gian didalam hatinya, sambil dia memapah sang istri untuk bangkit berdiri lagi.
“ini surat suratnya pak, kami akan melakukan operasi sekarang” ucap sang dokter sambil menyodorkan surat pernyataan yang wajib ditandantangani oleh pihak keluarga.
Giancarlo dengan berat hati terpaksa menandatangani surat dari dokter itu, setelah itu mengajak sang istri untuk duduk di kursi pasien yang telah tersedia disamping pintu ruangan operasi.
Berys memberikan mereka minuman dingin, minuman yang bermerek Fruitea.
“Terimakasih ya Berys, untuk sementara, kau handel dulu keperluan perusahaan, kalau ada hal paling mendesak, kau langsung hubungi saya” Ucap Giancarlo kepada Berys sang Sekretaris.
3 Jam telah berlalu, lampu operasi dimatikan dan pintu ruangan terbuka, keluarlah sang Dokter yang menangani Rido, dengan langkah kaki cepat Gian dan Tiaras berjalan kearah sang Dokter.
“Dok bagaimana keadaan anak saya” ucap Tiaras langsung dor.
Sang Dokter mengangguk pelan, kemudian dia membuka maskernya, teman teman taulah kalau Dokter habis dari ruang Operasi, pastilah mereka selalu masker.
“Anak Tuan baik baik saja, dia sudah melewati masa kritisnya, namun dia harus tetap dirawat beberapa hari disini, kami harus memastikan perkembangannya setiap waktu” sahut sang Dokter.
Rido dipindahkan diruangan VVIP yang penuh dengan AC dan TV, beda dengan kalau warga biasa, ruangan mereka pastilah ruangan bawah tanah, yang tidak memiliki AC dan TV.
Tiaras dan Giancarlo langsung keruangan Rido, setelah para suster menizinkan mereka untuk menjenguk pasien.
Waktu berlalu begitu cepat, keesokan harinya.
Embun bersama bu Wina sudah sampai di Kota Medan.
Setelah turun dari Damri, mata Embun berbinar melihat gedung pencakar langit, dengan gedung gedung megah yang dipenuhi dengan kaca.
“Waaah… Bu Wina! Apakah ini namanya Kota Medan?” Tanyanya kepada Bu Wina sambil dia memegang tangan bu Wina dengan erat.
Bu wina mengangguk dengan cepat, pertanda ia mengiyakan pertanyaan dari Embun Solai barusan.
Bu Wina memesan Taksi Online, karena tempat mereka berada sekarang, memerlukan waktu berapa menit lagi untuk sampai ditempat dia bekerja.
Tidak menunggu lama, Taksi Onelinenya sudah sampai didepa mereka, sehingga dengan cepat bu wina meraih tangan Embun untuk masuk kedalam mobil pesanan mereka. Mereka langsung OTW kearah rumah majikan bu wina.
Tidak menunggu beberapa waktu, mereka sudah sampai di Mansion yang sangat besar dan megah, sampai sampai mata Embun melotot bagaikan kacang kulit akan keluar dari dalam kulitnya.
“Waooww… bu Wina, ini rumah apa istana ya?” Tanya Embun lagi kepada bu Wina.
“ini tempat kita akan bekerja Nak. Apakah kamu dengar apa wejangan ibu dari kampong?” peringati ibu kepada Embun.
Dengan cepat Embun menganggukkan kepalanya, pertanda ia mengerti dengan apa yang barusan dikatakan oleh Bu Wina.
Bu Wina mengajak masuk Embun dengan melewati pagar, bu Wina memanggil satpam rumah itu.
“Pak Tarno, buka Pintunya” teriak Bu Wina.
“Ehh Bu Wina. Ternya sudah kembali toh” Sahut Pak Tano dengan senyuman dibibirnya.
Pak Tarno langsung menekan tombol On untuk membukakan Pintu Pagar rumah itu, setelah itu Embun dan Bu Wina langsung melangkah masuk kedalam.
“Bu Wina! Ini siapa gadis cantik ini?’ Tanya Pak Tarno dengan penuh penasaran.
“Ohh.. Ini Namanya Embun Solai, dia adalah Ponakanku dari Desa, dia mau kerja di tempat kita” Jawab Bu Wina dengan sopan.
“Oh Ternyata begitu, okelah silahkan” Pak Tarno mempersilahkan Bu Wina dan Embun untuk masuk kedalam Mansion.