NovelToon NovelToon
Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Anindia Dan Keanu: Indahnya Menikah Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Romantis / Cintamanis
Popularitas:623
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

🌺 Sekuel cerita "Suami Rahasia Anindia", disarankan untuk membaca S1 terlebih dahulu agar ceritanya lebih nyambung untuk dibaca, terima kasih:)

•••

Setelah lulus SMA, Anindia dan Keanu memutuskan untuk melanjutkan pendidikan mereka di Universitas Trisakti Jakarta. Mereka berdua memiliki impian besar untuk masa depan, dan mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk mencapai impian tersebut.

Namun, kehidupan mereka tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Mereka harus menghadapi tantangan baru sebagai orang tua muda, mengurus si kecil Shaka yang berusia 1 tahun. Anindia dan Keanu harus membagi waktu antara kuliah, mengurus Shaka, dan menjalani kehidupan sebagai pasangan muda.

Bagaimana Anindia dan Keanu akan menghadapi tantangan sebagai orang tua muda dan mahasiswa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Sama-sama salting

Kelopak mata Anindia terbuka perlahan, mengerjap beberapa kali sebelum benar-benar terbuka. Pandangannya sempat kosong, berusaha menyesuaikan diri dengan suasana yang tenang dan remang.

Anindia menghela nafas pelan. Ia mengernyit sedikit, merasa asing sesaat. Ia tidak ingat kapan berpindah dari sofa ke tempat tidur. Kepalanya menoleh ke samping, jam kecil di atas meja menunjukkan pukul satu dini hari.

Anindia kembali mengedarkan pandangan. Di sampingnya, Keanu terlelap dengan posisi yang tenang, nafasnya teratur. Wajahnya terlihat jauh lebih santai dibanding tadi sore saat berkutat dengan tugas.

Pandangannya kemudian beralih ke box bayi, Shaka tertidur pulas di dalamnya. Tubuh kecil itu tertutup selimut dengan rapi, dengan kedua tangan lurus di atas kepala.

Seketika, sudut bibirnya terangkat tipis. Malam itu terasa begitu utuh, dengan dua orang yang selalu ada di dekatnya.

Anindia kembali menoleh ke arah Keanu. Ia menatap Keanu beberapa detik lebih lama, memperhatikan wajah suaminya yang tampak tenang ketika tidur.

Tanpa sadar, tangannya terangkat. Ujung jarinya menyentuh pelan pipi Keanu, membelainya dengan lembut, nyaris tak terasa.

Keanu tidak bergerak, ia masih dalam posisi yang sama. Anindia sedikit tersenyum, lalu menarik tangannya perlahan. Ia mulai menggeser tubuhnya, berniat bangkit dari tempat tidur.

Namun, belum sempat ia benar-benar beranjak, tangan Keanu tiba-tiba bergerak. Dalam waktu singkat, tangannya menyentuh pipi Anindia, menggantikan posisi yang tadi ia lakukan. Jemarinya terasa lembut di sana, hangat, seolah tidak ingin melepas.

Anindia langsung terdiam, matanya membulat sedikit, tubuhnya kaku seketika. Keanu masih memejamkan mata, ekspresinya pun tetap tenang, seolah benar-benar terlelap. Tapi sentuhan itu terlalu sadar.

Anindia menatap Keanu lebih lama, mencoba memastikan. "Mas?" Panggilnya pelan, nyaris berbisik.

Tidak ada jawaban. Namun, jari Keanu bergerak sedikit, mengusap pipi Anindia dengan lembut. Detik itu juga Anindia tahu bahwa Keanu tidak benar-benar tidur.

Wajah Anindia langsung memanas. Rona merah perlahan muncul di pipinya, semakin jelas ketika ia sadar sejak tadi diperhatikan.

Anindia terpaku di tempat, saat itu tiba-tiba saja Keanu membuka mata perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada Anindia dengan ekspresi tenang, seolah tidak ada yang aneh dengan apa yang baru saja ia lakukan.

"Bangun?" Ujar Keanu pelan, suaranya masih serak khas orang yang baru terjaga.

Anindia mengangguk singkat, masih merasa salah tingkah. "Iya, Mas. Kamu kebangun juga?" Tanyanya.

Keanu tidak langsung menjawab, ia justru memperhatikan wajah istrinya sebentar. Lalu, sudut bibirnya terangkat sedikit. Tangannya masih menyentuh pipi Anindia. "Mau kemana?"

Anindia sedikit tersentak, lalu refleks menjawab cepat. "Ke... Ke kamar mandi, Mas."

Nada suara Anindia sedikit lebih gugup dari yang ia harapkan. Sementara Keanu jelas menyadari reaksi itu. Namun alih-alih melepas, Keanu justru menahan lebih lama, menatap Anindia dengan ekspresi yang sulit ditebak.

Tatapan Keanu semakin fokus, menatap Anindia tanpa berkedip sedikitpun. Jarak mereka yang sudah dekat sejak tadi terasa semakin nyaman, sampai membuat Anindia kehilangan arah.

"Mas," panggil Anindia lagi, nyaris seperti protes.

Keanu masih diam, seolah sengaja menikmati reaksi itu. Beberapa saat berlalu, bahu Keanu sedikit bergetar. Ia terkekeh sangat pelan, jelas menahan agar tidak membangunkan Shaka.

"Ya udah," bisik Keanu, masih tersenyum. "Sana gih."

Kali ini tangannya benar-benar menjauh dari pipi Anindia. Anindia langsung menarik diri, hampir seperti melarikan diri dari situasi itu. Tanpa berani menoleh lagi, ia langsung turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi.

Sementara di belakangnya, arah mata Keanu mengikuti langkah Anindia sampai pintu kamar mandi tertutup pelan.

Di dalam kamar mandi, Anindia langsung bersandar di balik pintu. Tangannya refleks memegangi dadanya.

"Ya ampun," gumam Anindia lirih, nyaris tak terdengar.

Jantungnya berdegup kencang, tidak teratur. Wajahnya masih terasa panas, nafasnya sedikit memburu seolah baru saja berlari jauh, padahal ia hanya berdiri di tempat.

Anindia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri. Sudah lebih dari dua tahun bersama Keanu, sudah melewati banyak hal, bahkan hal-hal yang jauh lebih dekat hari ini. Tapi, tetap saja hal-hal kecil seperti tatapan tadi masih bisa membuatnya salah tingkah seperti pertama kali.

Anindia menghela nafas pelan, lalu menegakkan tubuhnya. Tanpa sadar, sudut bibirnya kembali terangkat, merasa malu namun juga hangat.

Sementara itu, Keanu tidak langsung memejamkan matanya lagi. Ia justru menyandarkan tubuhnya di ujung kasur, satu tangannya meraih ponsel yang tergeletak di samping bantal.

Layar menyala redup di tengah gelapnya kamar, memantulkan sedikit cahaya di wajahnya yang masih terlihat setengah mengantuk. Namun, matanya tidak benar-benar fokus membaca apapun.

Ibu jarinya hanya bergerak asal, membuka satu aplikasi lalu menutupnya lagi. Pikirannya melayang entah kemana.

Keanu menghela nafas pelan, entah kenapa malam itu ia tidak bisa tidur kembali. Padahal biasanya, jika sudah terbangun tengah malam, ia akan berusaha memejamkan mata lagi, meski membutuhkan waktu.

Kebiasaan lamanya seperti datang tanpa di undang. Ia terbangun tengah malam tanpa alasan yang jelas, hanya ditemani keheningan dan pikirannya sendiri.

Keanu menoleh ke arah kamar mandi yang pintunya masih tertutup. Lalu, mematikan layar ponselnya. Tangannya kemudian ia letakkan di belakang kepala, tubuhnya sedikit merosot lebih santai di atas kasur. Matanya menatap langit-langit kamar, seolah memikirkan sesuatu.

Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Anindia melangkah keluar dengan langkah yang lebih tenang dari sebelumnya. Matanya langsung tertuju pada sosok di atas kasur.

Anindia mendapati suaminya masih terjaga, menatap langit-langit kamar tanpa fokus yang jelas. Anindia berjalan mendekat, lalu duduk di sampingnya.

"Mas," panggil Anindia pelan, membuat Keanu langsung menoleh.

Tatapan mereka bertemu beberapa saat, sebelum akhirnya Anindia kembali bersuara. "Lagi mikirin apa?" Tanyanya lembut, penuh rasa ingin tahu.

Keanu menghela nafas kecil, menegakkan tubuhnya. Lalu, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menatap Anindia dengan tatapan serius.

"Cuma heran aja," ujar Keanu pelan.

Anindia sedikit mengernyit, "Heran kenapa?"

Keanu menatap langit-langit sebentar, lalu menatap Anindia. "Kenapa aku sering banget kebangun tengah malam," ujarnya. "Padahal gak ada apa-apa."

Anindia memperhatikan wajah Keanu. Tanpa sadar, tangannya bergerak menyentuh lengan Keanu.

"Biasa itu, Mas," ujar Anindia lembut. "Mungkin kebiasaan lama."

Keanu menghela nafas kecil, seolah menerima jawaban itu meski belum sepenuhnya puas. "Hmm... Bisa jadi," gumamnya.

Suasana kembali hening, Anindia masih di sampingnya. Sementara Keanu kini sepenuhnya menatap Anindia, seolah kehadiran Anindia selalu membuatnya merasa tenang.

Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama. Keanu yang tadi terlihat serius, tiba-tiba mengubah posisi duduknya sedikit, menghadap lebih jelas ke arah Anindia. Tatapannya kembali fokus, tapi tersirat sesuatu di dalamnya.

"Sayang," panggil Keanu pelan.

Anindia menoleh, "Iya, Mas?"

Keanu mengangkat kedua tangannya, memberi contoh. "Coba sini, tangan kamu gini," ujarnya.

Anindia mengernyit bingung, tapi tetap mengikuti. Ia mengatupkan kedua tangannya seperti yang dicontohkan oleh Keanu, tanpa curiga sedikitpun.

"Gini?" Tanya Anindia polos.

"Iya, bener," jawab Keanu cepat.

Belum sempat Anindia bertanya lebih lanjut, tiba-tiba Keanu bergerak. Dengan satu tangan, ia langsung menggenggam kedua tangan Anindia. Sementara tangan satunya...

Tok!

Sentilan kecil mendarat di kening Anindia. "Mas!" Anindia langsung refleks protes, wajahnya berubah kesal dalam sekejap. Sementara tangannya berusaha lepas dari genggaman Keanu.

Keanu sendiri justru terlihat santai, tanpa rasa bersalah. Ia menatap Anindia lekat, ekspresinya tetap tenang tapi sudut bibirnya jelas menahan senyum.

"Masih sama ternyata," gumam Keanu pelan.

Anindia langsung cemberut, dengan ekspresi kesal yang jelas. "Sama apanya?" Protesnya, nada suaranya terdengar manja berbalut kesal.

Refleks, Anindia ingin menggosok keningnya yang baru saja disentil. Tapi saat tangannya bergerak, ia baru sadar bahwa tangannya masih digenggam erat oleh Keanu.

"Masih sama lucunya," jawab Keanu.

"Mas, lepasin," ujar Anindia sedikit memohon.

Keanu tidak menghiraukan, ia justru menggenggam tangan itu lebih erat. Lalu, menatap Anindia dengan tatapan yang sulit dijelaskan, antara gemas dan puas melihat reaksi istrinya.

Tanpa diduga, Keanu mengangkat dagunya sedikit, lalu menunjuk salah satu pipinya. "Cium dulu," ujarnya.

"Ngeselin banget sih, Mas," protes Anindia, tapi tidak benar-benar menolak.

Keanu tidak menjawab, ia justru menggerakkan jari telunjuknya berulang kali ke arah pipinya. Anindia menghela nafas pasrah, lalu dengan gerakan sedikit ragu ia mendekat. Satu kecupan singkat mendarat di pipi Keanu

Anindia langsung menjauh lagi, wajahnya kembali memerah. "Udah kan, Mas?"

Namun, Keanu belum juga melepas genggamannya. Anindia mengedip sekali, menatap Keanu dengan tatapan yang lebih kesal. "Mas Kean..."

Nada suaranya mulai berubah, ada sedikit nada memelas yang muncul tanpa ia sadari. Tangannya bergerak kecil, mencoba untuk melepaskan diri. "Lepasin dong."

Keanu menggeleng santai, "Enggak mau." Nada suaranya terdengar jahil, jelas menikmati reaksi Anindia saat ini.

Anindia terdiam, kali ini tidak langsung membalas dengan kata-kata. Bibirnya sedikit manyun, matanya menatap Keanu dengan ekspresi yang jelas memelas. Benar-benar memelas.

Tangannya masih berusaha menarik pelan, tapi tidak ada tenaga sungguhan di sana. Hanya protes kecil yang terlihat lebih seperti manja dibanding kesal.

Keanu yang melihat itu langsung terdiam. Untuk pertama kalinya sejak tadi, ia benar-benar tidak menggoda lagi. Tatapannya jatuh ke wajah Anindia yang sedang memasang ekspresi seperti itu, tanpa sadar terasa begitu menggemaskan.

Beberapa detik ia hanya terdiam, lalu ia menunduk tiba-tiba. Genggamannya pada tangan Anindia masih sama, tapi sedikit mengendur. Sementara tangan satunya terangkat menutupi sebagian wajahnya sendiri, seolah berusaha menyembunyikan sesuatu.

Pipi Keanu memerah, nafasnya tertahan sesaat. Sensasi panas menjalar di bagian wajahnya.

"Ya Allah..." Batin Keanu. "Imut banget."

Keanu diam di posisi itu, bukan karena memikirkan cara lain untuk menggoda, namun karena benar-benar kena boomerang nya sendiri.

Anindia sendiri terlihat bingung dengan perubahan sikap Keanu yang tiba-tiba diam. "Mas, kamu kenapa?" Tanya Anindia khawatir.

Keanu benar-benar terdiam untuk beberapa saat. Bahunya sedikit bergerak, seolah menahan sesuatu, entah tawa atau mungkin salting yang tiba-tiba datang.

Beberapa saat berlalu dalam diam, hingga akhirnya Keanu mengangkat wajahnya perlahan. Tangannya yang tadi menutupi wajah kini turun, meski rona merah itu belum sepenuhnya hilang.

Tatapannya kembali ke arah Anindia, kali ini lebih tenang. Atau setidaknya berusaha terlihat tenang. Ia akhirnya melepaskan genggamannya pada tangan Anindia.

"Enggak papa," ujar Keanu pelan, sedikit menghela nafas. "Cuma... Lucu aja."

Anindia mengernyit, jelas tidak puas dengan jawaban itu. "Lucu?" Ulangnya, menatap Keanu penuh dengan tanya.

Keanu langsung menggeleng cepat, bahkan terlalu cepat. "Enggak kok," ujarnya, mengalihkan pandangannya sesaat. "Enggak ada."

Keanu berdehem pelan, lalu menepuk kasur di sampingnya, seolah menutup pembicaraan itu begitu saja. "Sini," ujarnya lebih lembut. "Tidur lagi ya, udah malam."

Nada suaranya terdengar biasa, tapi ekspresinya masih sedikit canggung. Tatapannya tidak berani terlalu lama bertemu dengan Anindia.

Anindia masih menatapnya, mencoba membaca sesuatu dari wajah Keanu. Tapi, ia tidak bisa menarik kesimpulan yang pasti. Akhirnya, ia menghela nafas kecil, memilih menurut.

"Iya deh, Mas," ujar Anindia.

Anindia kembali berbaring di samping Keanu. Tidak ada percakapan lagi di antara mereka, hanya suasana hangat yang terasa. Perlahan, Anindia kembali memejamkan matanya, membiarkan rasa kantuknya mengambil alih.

Sementara Keanu, ia melirik Anindia sekali lagi, sebelum akhirnya ikut membaringkan tubuhnya di atas kasur. Dan malam itu, mereka berdua sama-sama kalah, tanpa ada yang mau mengakuinya.

^^^Bersambung...^^^

1
Fadillah Ahmad
Kok, sepi sih, yang baca? Padahal Tulisan di Sinopsis-nya bagus loh? Rapi lagi. Kok sepi banget, ya?

Kebetulan sekali, novel ini, muncul di beranda-ku kak 🙏😁
𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱 𝓻𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲: Terima kasih udah mampir, kak... Selamat membaca ya, semoga terhibur hehe😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!