GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔
Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔
Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥
📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kebenaran di Balik Topeng Dingin
Waktu berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin Luna masuk ke rumah megah ini dengan penuh ketakutan dan air mata, dan sekarang udah hampir setahun dia tinggal di sini. Satu tahun yang penuh perjuangan, satu tahun yang penuh air mata, satu tahun yang mengubah seluruh jalan hidupnya sampai ke akar-akarnya.
Luna sekarang udah berusia dua puluh tahun. Kecantikannya makin bersinar terang, makin dewasa, makin matang, tapi tatapan matanya yang dulu penuh ketakutan dan keraguan itu sekarang berubah jadi tatapan yang kuat, tenang, dan penuh pengertian. Dia udah hafal luar dalam segala seluk-beluk rumah ini, udah hafal semua aturan ketat Bu Rina, dan yang paling penting... dia udah hafal banget sifat, kebiasaan, dan isi hati majikannya yang dingin itu: Aditya Pratama.
Bagi orang lain, Aditya masih tetaplah sosok yang sama: dingin, kejam, angkuh, ditakuti, dan nggak punya hati. Tapi bagi Luna... cewek itu tau banget, kalau di balik topeng kejam itu, tersembunyi hati yang lembut, rapuh, dan penuh luka yang dalam banget. Luka yang nggak pernah kering, luka yang dia simpan sendiri bertahun-tahun tanpa ada yang tau.
Sejak sore itu, saat Aditya tanpa sadar buka suara soal kesepiannya di tengah hujan deras itu, ada perubahan besar yang terjadi di antara mereka berdua. Dinding tebal yang Aditya bangun tinggi-tinggi di sekeliling hatinya itu perlahan mulai retak, retakan kecil yang makin lama makin lebar gara-gara ketulusan dan kesabaran Luna yang nggak ada habisnya.
Hari itu, cuaca sangat cerah, langit biru bersih tanpa awan sedikit pun. Matahari bersinar hangat, menyinari halaman rumah luas itu yang penuh bunga warna-warni sedang mekar indah. Di teras belakang rumah yang agak sepi dan teduh karena di bawah pohon besar rimbun, Luna sedang sibuk merapikan buku-buku dan berkas kerjaan yang baru saja diambilnya dari ruang kerja.
Dia membungkuk pelan, tangannya bergerak cekatan menata tumpukan itu supaya rapi, rambut hitam panjangnya terurai jatuh ke samping menutupi sebagian wajahnya. Dia sendirian di sana, hening, cuma ada suara angin berdesir di antara dedaunan dan suara burung berkicau riang.
Nggak jauh dari situ, di balik tiang penyangga teras, Aditya berdiri diam cukup lama. Dia dari tadi mengamati Luna diam-diam dengan tatapan yang jauh berbeda dari dulu. Tatapan yang dulu penuh ancaman, penuh amarah, atau sekadar pandangan bosan... sekarang berubah jadi pandangan yang lembut, penuh kekaguman, dan entah kenapa penuh rasa takut kehilangan.
Aditya sendiri bingung sama perasaannya sendiri. Dia benci ngakuinya, dia berusaha mati-matian menolaknya, dia marah sama dirinya sendiri kenapa dia bisa begini. Cewek itu cuma pembantu, cuma orang yang punya hutang sama dia, cuma anak kampung polos yang nggak punya apa-apa. Tapi kenapa setiap kali dia sakit, dia yang paling cemas? Kenapa setiap kali dia pergi sebentar aja, rasanya rumah ini jadi kosong dan sepi banget? Kenapa setiap kali dia senyum, rasanya seluruh dunia jadi indah dan cerah? Kenapa setiap kali dia natap mata bening itu, rasanya dia mau lupa semuanya dan cuma mau ada di dekat cewek itu selamanya?
"Kamu ngapain ngeliatin dia terus, hah?!" batin Aditya marah sama dirinya sendiri, dia buang muka sebentar, tapi nggak lama matanya kembali nyari sosok itu lagi kayak magnet yang nggak bisa dilawan.
Dia inget banget perjanjian mereka dulu. Hutang ratusan juta. Dulu dia senang banget dapet alasan buat ngikat Luna tetap di sini, tetap jadi milik dia. Tapi sekarang... dia sadar, kalau hutang itu lunas besok aja, dia bakal sedih banget. Dia takut banget Luna pergi. Dia takut banget kebebasan yang diperjuangkan Luna mati-matian itu malah jadi perpisahan buat mereka.
Aditya menghela napas panjang, lalu melangkah keluar dari persembunyiannya, mendekat ke arah Luna. Langkah kakinya sengaja dia buat agak berat biar kedengeran, supaya cewek itu nggak kaget.
Luna yang denger langkah kaki langsung menegakkan badan, buru-buru menunduk hormat sambil merapikan ujung bajunya. Jantungnya langsung berdegup kencang, rasa yang dulu karena takut... sekarang campur jadi satu sama rasa malu dan rasa senang yang dia sembunyiin mati-matian.
"Se... selamat siang, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya sopan, suaranya lembut banget.
Aditya berhenti tepat di depan Luna, tangannya dimasukkan ke saku celana, wajahnya berusaha dia buat sedingin mungkin, meski matanya menatap cewek itu lekat-lekat. "Nggak ada apa-apa. Cuma mau nanya... kapan lagi kamu bakal selesai bayar hutang kamu sama aku? Hitung-hitung, kerja kamu setahun ini baru nutup dikit banget. Masih butuh puluhan tahun lagi baru kamu bisa bebas."
Kata-kata itu keluar tajam, tapi nada bicaranya ada nada lain yang nggak bisa dia sembunyikan: nada lega. Dia senang hutang itu masih besar banget. Dia senang Luna masih harus lama-lama di sini.
Luna mengangguk pelan, senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang ada rasa sedih dan ikhlas campur jadi satu. Dia tau banget posisinya, dia tau banget perasaannya sendiri yang udah berubah drastis. Dulu dia pengen banget bebas, pengen banget kabur, pengen banget lunasin hutang itu cepet-cepet. Tapi sekarang? Dia malah berharap waktu berhenti aja di sini. Dia berharap hutang itu nggak ada habisnya. Karena dia sadar... dia udah jatuh cinta. Jatuh cinta sama majikannya sendiri, laki-laki yang dulu paling dia takuti dan benci.
"Ya, Tuan... masih lama banget kayaknya. Saya bakal kerja seumur hidup pun nggak apa-apa, asal saya bisa bayar lunas tanggung jawab saya," jawab Luna pelan, matanya menunduk natap lantai.
Aditya mendengus pelan, dia maju selangkah makin deket, bikin Luna nahan napas gugup. "Kerja seumur hidup? Hah... dasar cewek aneh. Orang lain pengen bebas, kamu malah seneng diikat. Tapi..." Aditya diam sebentar, suaranya berubah makin rendah dan pelan banget, hampir bisikan. "Tapi aku rasa... di sini juga nggak seburuk yang kamu bayangin kan? Aku nggak sekejam yang orang-orang omongin kan?"
Luna mengangkat muka perlahan, menatap manik mata hitam yang dalam itu. Di sana, dia lihat kerinduan, dia lihat kesepian, dia lihat ketulusan yang tersembunyi.
"Tuan itu... sebenarnya baik, kok. Cuma cara nunjukinnya aja yang beda," jawab Luna jujur, tanpa ragu sedikit pun. "Tuan itu cuma kesepian, cuma takut terluka lagi, makanya bikin tembok tinggi di sekeliling diri. Saya ngerti, Tuan... saya ngerti banget rasanya."
Kalimat itu menghantam dada Aditya keras banget. Nggak ada yang pernah ngomong gitu sama dia. Nggak ada yang pernah ngerti dia. Semua orang cuma lihat sisi luarnya aja. Cuma Luna... cuma cewek polos ini yang bisa masuk sampai ke dasar hatinya.
Tanpa sadar, tangan Aditya terulur, jari-jarinya menyentuh pipi Luna lembut banget, menyapu rambut yang jatuh menutupi wajah cewek itu. Sentuhan itu hangat, lembut, penuh kasih sayang yang tertahan lama banget. Luna memejamkan matanya, merasakan sentuhan itu, jantungnya rasanya mau meledak saking bahagia dan takutnya.
"Kamu tau nggak, Luna..." bisik Aditya parau, suaranya bergetar. "Dulu aku benci banget ketemu kamu. Aku benci banget alasan kamu ada di sini. Aku benci banget rasanya dikuasai sama kehadiran kamu. Tapi makin lama... aku sadar. Aku nggak bisa lagi bayangin hidup aku tanpa kamu. Kamu masuk diam-diam, ngerusak semua aturan aku, ngerusak semua tembok aku, terus kamu bikin aku nggak mau lagi hidup tanpa kamu."
Luna membuka matanya perlahan, air mata bahagia mulai menggenang di sana. "Tu... Tuan..."
"Jangan panggil aku Tuan..." potong Aditya cepat, tangannya mengangkat dagu Luna supaya natap dia tepat di mata. "Panggil nama aku. Aditya aja. Cuma Aditya."
Di momen indah dan penuh perasaan itu, saat mereka berdua tenggelam dalam tatapan satu sama lain, saat dinding pemisah antara majikan dan pelayan itu runtuh sudah... tiba-tiba ada suara langkah kaki tergesa-gesa mendekat, memecah keheningan dan keindahan itu.
Bu Rina datang dengan wajah pucat, napasnya terengah-engah kelihatan panik luar biasa. Di belakangnya ada seorang pria tua berwajah tegas dan berwibawa, orang yang sering banget datang ke rumah ini, Pak Herman, pengacara kepercayaan keluarga Aditya.
Aditya langsung menarik tangannya kasar, mundur selangkah, kembali memasang topeng dingin dan kaku kayak biasa, seolah nggak ada yang baru aja terjadi. Wajahnya berubah tegang natap kedatangan mereka berdua.
"Ada apa, Bu Rina? Kenapa buru-buru banget?" tanya Aditya ketus, nada dinginnya balik lagi.
Bu Rina menunduk hormat, tapi kelihatan banget dia gelisah. "Maaf ganggu, Tuan. Tapi Pak Herman ada bawa berita... berita yang sangat penting, sangat besar, dan... berkaitan erat sama Mbak Luna juga."
Mata Aditya langsung menyipit tajam. Dia natap Pak Herman yang datang mendekat sambil bawa map besar cokelat tua di tangannya.
"Ada apa, Herman? Ada masalah sama perusahaan? Atau ada urusan warisan lagi?" tanya Aditya tegas.
Pak Herman menggeleng pelan, lalu menatap bergantian ke arah Aditya dan Luna dengan pandangan heran sekaligus takjub. Dia membuka map itu, mengeluarkan selembar dokumen tua yang udah agak kusam, dan selembar foto lama yang warnanya udah mulai pudar.
"Bukan soal perusahaan, Aditya. Ini soal masa lalu. Ini soal kebenaran yang kita cari bertahun-tahun tapi nggak ketemu. Dan ternyata..." Pak Herman menunjuk ke arah Luna yang berdiri bingung dan takut di pinggir. "Ternyata jawabannya ada di depan mata kita dari dulu."
Aditya mengerutkan kening makin dalam, bingung banget. "Maksud kamu apa? Hubungannya apa sama Luna?"
Pak Herman menghela napas panjang, lalu menatap Luna lekat-lekat, menatap wajah cewek itu teliti banget, dari bentuk mata, hidung, sampai garis wajahnya.
"Dulu, sebelum orang tua kamu meninggal dalam kecelakaan tragis itu, ada satu rahasia besar yang mereka simpan. Dulu Ibu kamu punya saudara kembar, adik perempuan yang dipisahkan sejak bayi karena masalah keluarga besar. Adik itu hilang, nggak ada yang tau ke mana, sampai akhirnya dianggap udah meninggal. Padahal..." Pak Herman diam sebentar, menunjuk foto tua itu ke depan wajah Aditya.
"Padahal adik itu selamat, menikah, dan punya anak perempuan. Dan anak perempuan itu... wajahnya persis banget sama foto Ibu kamu waktu muda. Persis banget sama wajah adik Ibu kamu di foto ini."
Aditya mengambil foto itu dengan tangan gemetar. Dia natap foto wanita muda cantik, manis, bermata bening... dan rasanya kaget setengah mati. Wajah di foto itu... sama persis sama Luna. Sama persis kayak dua butir kacang.
Dia natap Luna, natap foto itu, natap Luna lagi. Dunianya rasanya berputar kacau.
"Lu... Luna...?" gumam Aditya nyaris nggak kedengeran. "Kamu... kamu anak dari adik Ibu aku? Kamu... sepupu aku?"
Luna sendiri berdiri kaku kayak patung, darahnya berhenti mengalir. Dia mendengarkan semuanya dengan mulut terbuka lebar kaget nggak percaya. Dia inget Ayah Haris sama Ibu Sumi dulu pernah bilang, kalau dia itu anak angkat, dia ditemukan bayi di depan pintu rumah mereka, nggak ada surat-surat, nggak ada identitas orang tua. Ternyata... ternyata asal-usul dia ada hubungannya sama keluarga Pratama? Sama Aditya?
Pak Herman mengangguk mantap. "Benar, Aditya. Bukti dokumen, tes DNA yang diam-diam saya ambil dari barang-barang kalian berdua, dan kemiripan fisik yang nggak bisa dibantah... semuanya membuktikan satu hal: Luna adalah cucu kandung dari kakek kamu, anak dari adik kembar Ibu kamu yang hilang dulu. Dia keluarga kamu. Dia darah daging keluarga Pratama yang selama ini hilang dicari-cari."
Hening hebat menyelimuti teras itu. Aditya terduduk pelan di kursi belakangnya, pikirannya kacau balau, hatinya sakit banget campur senang dan bingung. Dia baru aja sadar dia jatuh cinta sama Luna, baru aja mau ngungkapin semuanya, baru aja mau ngubah hubungan mereka... dan sekarang kebenaran ini muncul. Luna keluarganya. Luna sepupunya sendiri.
Di sisi lain, Luna menutup mulutnya dengan tangan, air matanya mengalir deras. Dia nggak nyangka, dia yang merasa sendirian, nggak punya siapa-siapa, ternyata punya keluarga besar, keluarga kaya, keluarga terpandang. Dan keluarga itu... adalah keluarga orang yang paling dia cintai dan paling dia takuti sekaligus.
Tapi ada satu hal lagi yang bikin Aditya makin terkejut dan emosi meledak. Pak Herman melanjutkan ucapannya dengan suara berat dan serius.
"Dan satu lagi kebenaran besar, Aditya... soal kematian orang tua kamu dulu. Selama ini kita kira itu kecelakaan biasa. Padahal..." Pak Herman menatap tajam ke arah Aditya. "Padahal pembunuh sebenarnya, orang yang merencanakan kecelakaan itu, orang yang memisahkan keluarga ini bertahun-tahun... adalah orang yang paling kamu percaya selama ini. Orang yang mengaku sahabat baik ayah kamu. Dan ternyata... dia juga yang dulu merampok dan membunuh orang tua angkat Luna di desa itu. Dia tau keberadaan Luna, dia takut kebenaran terungkap, makanya dia berusaha menghabisi siapa saja yang berhubungan sama rahasia ini."
Semua potongan teka-teki akhirnya nyambung sempurna. Kenapa nasib Luna begitu berat. Kenapa dia jadi yatim piatu lagi. Kenapa dia harus bertemu Aditya. Semuanya bukan kebetulan. Semuanya rencana Tuhan. Semuanya jalan buat nyatukan keluarga yang terpisah, dan buat menumpas kejahatan yang udah berlangsung puluhan tahun.
Aditya bangkit berdiri, matanya merah menyala menahan amarah yang luar biasa besar. Amarah sama pembunuh orang tuanya, amarah sama orang yang udah bikin Luna menderita bertahun-tahun. Tapi di balik amarah itu, ada rasa lega. Luna keluarganya. Luna bukan orang asing. Luna berhak atas segalanya.
Dia berjalan mendekat ke arah Luna yang masih menangis terguncang hebat. Kali ini, nggak ada lagi batas majikan dan pelayan. Nggak ada lagi hutang ratusan juta. Nggak ada lagi perbedaan kelas. Aditya mengusap air mata di pipi Luna lembut banget, tatapannya penuh rasa sayang dan perlindungan yang utuh.
"Maafin aku, Luna..." bisik Aditya parau, suaranya penuh penyesalan. "Maafin aku kalau selama ini aku kasar sama kamu. Maafin aku kalau aku bikin kamu susah. Aku nggak tau... aku sama sekali nggak tau kalau kamu darah daging aku. Kamu bukan pembantu aku, kamu bukan budak aku... kamu keluarga aku. Kamu sepupu aku. Dan mulai sekarang, aku bakal lindungin kamu. Aku bakal pastikan orang-orang yang udah nyakiti kamu dan keluarga kita dapet hukuman setimpal. Aku bakal balas semua sakit hati kamu."
Luna menangis makin keras, dia memeluk pinggang Aditya erat banget, menumpahkan semua rasa sakit, rindu, dan kelegaan yang dia simpan sendirian selama ini. Akhirnya dia tau asal-usulnya. Akhirnya dia punya keluarga. Akhirnya dia tau kenapa dia selalu ngerasa nyaman dan dekat sama Aditya, ada ikatan darah yang nggak kelihatan yang nyambungkan hati mereka berdua.
Perjalanan panjang dan berat Luna belum selesai. Masih ada musuh besar yang harus dilawan, masih ada keadilan yang harus ditegakkan. Tapi sekarang, dia nggak lagi sendirian. Dia punya Aditya. Dia punya keluarga. Dia punya kekuatan yang jauh lebih besar dari apa pun.
(BERSAMBUNG)
📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷
Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰
Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷
Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷