【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】
Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpangKehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Tangis Fandi perlahan mereda, menyisakan sesenggukan panjang yang memecah keheningan koridor rumah sakit yang dingin. Ia perlahan melepaskan pelukannya dari Andry, menatap kemeja linen hitam milik pria kota itu yang kini tampak basah dan kusut akibat air matanya. Ada rasa malu yang teramat sangat menjalar di wajah Fandi, namun beban berat yang selama ini mengimpit dadanya seolah terangkat sebagian setelah menumpahkan segala penyesalannya.
"Maaf, Bang... kemeja Abang jadi kotor," bisik Fandi sambil menunduk, menyeka sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan yang kasar.
Andry hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang jarang sekali terukir di wajahnya yang biasa angkuh. Ia menepuk pundak Fandi sekali lagi, memberikan kekuatan fana yang sangat dibutuhkan pemuda itu. "Kemeja bisa dicuci, Fandi. Tapi nama baik dan kepercayaan keluargamu, itu yang harus kamu perjuangkan kembali dari sekarang. Kamu paham?"
Fandi mengangguk kuat-kuat. "Paham, Bang. Saya janji... saya tidak akan menyentuh barang-barang di rumah lagi. Saya mau cari kerja yang benar setelah Ibu sembuh. Pekerjaan apa saja yang penting halal."
Tepat saat Fandi menyelesaikan kalimatnya, lampu merah di atas pintu ruang IGD mendadak padam. Suara klik dari gagang pintu yang terbuka membuat kedua pria itu serentak bangkit berdiri dari bangku tunggu. Dokter paruh baya dengan jas putih keluar, diikuti oleh beberapa perawat. Di belakang mereka, Pak Rahman, Rika, dan Lisa melangkah keluar dengan raut wajah yang jauh lebih tenang, meski sisa-sisa air mata masih membekas di pipi Lisa.
"Dokter, bagaimana keadaan istri dan anak saya?" tanya Pak Rahman dengan suara yang gemetar, langsung menghampiri sang dokter dengan tatapan penuh harap.
Dokter itu tersenyum hangat, melepas kacamata yang bertengger di hidungnya untuk mencairkan ketegangan. "Bapak dan keluarga bisa bernapas lega sekarang. Ibu Aminah mengalami infeksi saluran pencernaan yang cukup parah ditambah dehidrasi akut, itulah yang membuat badannya demam tinggi dan lemas. Untung saja beliau cepat dibawa ke sini sehingga penanganan bisa segera dilakukan. Kami sudah memberikan perawatan darurat dan menyuntikkan antibiotik. Sekarang kondisinya sudah stabil."
Mendengar penjelasan dokter, Pak Rahman langsung mengucap syukur berkali-kali sambil mengusap wajahnya yang penuh keriput. Beban berat yang sempat menggelayuti pundak tuanya runtuh seketika. Di sudut lain, Rika dan Lisa saling berpelukan erat, menumpahkan rasa lega yang teramat sangat setelah beberapa jam didera ketakutan luar biasa.
"Lalu... bagaimana dengan adik saya, Tina, Dok?" tanya Rika bergantian, menyuarakan kecemasan yang belum sepenuhnya hilang.
"Adik Anda hanya mengalami kelelahan fisik yang sangat hebat, atau *fatigue*, dipicu oleh tingkat stres yang terlalu tinggi dan kurangnya asupan makanan. Tubuhnya ambruk karena tidak mampu lagi menahan beban tersebut. Saat ini dia sedang dipasangi infus nutrisi dan dipindahkan ke ruang rawat inap agar bisa beristirahat total," jelas Dokter itu sebelum berpamitan untuk memeriksa pasien lain.
Setelah melewati masa kritis di ruang IGD, Ibu Aminah dan Tina akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan. Atas pengaturan dari pihak rumah sakit, mereka ditempatkan di kamar pribadi yang terpisah namun posisinya saling bersebelahan, memberikan ruang yang cukup bagi keduanya untuk memulihkan diri.
Di kamar sebelah, Ibu Aminah tampak tertidur dengan sangat pulas. Deru napasnya yang teratur menjadi bukti bahwa bahaya telah lewat, sementara Rika dan Fandi duduk berjaga di sisi ranjang dengan takzim.
Sementara itu, di kamar sebelahnya lagi, suasana jauh lebih sunyi. Sayup-sayup bunyi tetesan cairan infus menjadi satu-satunya melodi yang menemani keheningan ruangan. Di atas ranjang putih, Tina perlahan-lahan mulai membuka matanya. Kelopak matanya terasa sangat berat, dan kepalanya berdenyut nyeri seiring kesadarannya yang terkumpul kembali.
"Kak Tina...?" bisik Lisa yang duduk di samping ranjang, langsung menggenggam jemari kakaknya yang masih terasa agak hangat.
Tina mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan pendar lampu putih di langit-langit ruangan yang asing. Bau menyengat antiseptik yang khas segera menyadarkannya bahwa ia tidak lagi berada di bawah kolong rumah panggung Ibu Yuna.
"Lisa... kita di mana?" tanya Tina, suaranya terdengar sangat parau, kering, dan lemah.
"Kita di rumah sakit kota, Tin," sahut Pak Rahman yang melangkah mendekat dari sudut ruangan. Ayahnya mengusap kepala anak perempuannya itu dengan penuh kasih sayang, menyalurkan kehangatan seorang ayah yang sempat dirundung kepanikan. "Kamu pingsan di rumah Ibu Yuna siang tadi. Untung ada Pak Andry yang langsung membawa kamu dan Mamamu ke sini pakai mobilnya."
Mendengar nama Andry disebut, ingatan Tina seketika berputar kembali pada rentetan kalimat kelicikan yang ia dengar di teras rumah panggung itu. Rasa sakit hati, kecewa, dan terhina yang sempat membuatnya ambruk kini mendadak bangkit kembali. Sisi pertahanan diri Tina secara otomatis terpasang teguh. Ia mencoba untuk duduk, memaksakan tubuhnya yang ringkih, namun rasa pening yang hebat di kepalanya langsung menyerang, membuat ia kembali terjatuh di atas bantal dengan napas terengah-engah.
"Lalu... bagaimana keadaan Mama, Bah?" tanya Tina mengalihkan pembicaraan, matanya menatap sang ayah dengan cemas.
"Mamamu ada di kamar sebelah, sedang tidur pulas. Di sana dijaga oleh Rika dan Fandi," jawab Pak Rahman lembut.
Mendengar nama Fandi yang ikut menjaga ibunya, Tina seketika terdiam. Ada rasa heran yang sempat tebersit, namun rasa lelah yang teramat sangat kembali mendominasi pikirannya. Ia memalingkan wajahnya, menatap lurus ke arah langit-langit kamar pasien yang putih bersih, seolah sedang mencari jawaban atas kekacauan hidup yang menimpanya.
"Saya... mau sendiri dulu, Bah, Lis," ucap Tina lirih, menyembunyikan kerapuhan emosinya di balik suara datarnya.
Lisa dan Pak Rahman saling memandangi satu sama lain, menangkap sinyal bahwa gadis itu sedang membutuhkan ruang untuk menenangkan badai di dalam kepalanya. Pak Rahman mengangguk paham, lalu mengusap lengan Tina pelan.
"Kalau begitu, istirahatlah yang tenang ya, Nak. Kami semua ada di kamar sebelah. Kalau butuh apa-apa, panggil saja," ucap Pak Rahman dengan suara kebapakan yang meneduhkan. Bersama Lisa, ia melangkah pelan keluar dari kamar, menutup pintu rapat-rapat demi memberikan ketenangan yang diinginkan Tina.
Tidak lama setelah pintu tertutup dan suasana kamar kembali sunyi senyap, daun pintu kayu itu kembali bergerak. Seseorang melangkah masuk dengan sangat diam-diam, nyaris tanpa suara langkah kaki.
Tina yang mengira itu adalah adiknya yang kembali, bergumam tanpa menoleh, "Lis, aku tidak apa-apa... Kamu jaga Mama saja di sebelah."
"Tina... ini aku, Andry."
Mendengar suara bariton yang sangat familiar itu, Tina seketika kaget. Jantungnya berdesir hebat. Ia langsung berbalik, menatap sosok pria kota yang kini berdiri di dekat tirai pembatas. Begitu pandangan mereka bertemu, Tina dengan cepat kembali membuang wajahnya ke arah dinding, enggan menatap pria yang telah menyusun skenario licik atas keluarganya.
"Terima kasih... karena Pak Andry sudah membantu membawa keluarga saya ke rumah sakit," ucap Tina, nadanya terdengar sangat formal, dingin, dan berjarak.
Andry menarik napas dalam. Langkah kakinya yang biasa tegap kini terasa berat saat ia maju mendekati ranjang. "Tina... saya minta maaf," ucapnya, suaranya terdengar sangat rendah dan sarat akan penyesalan.
Sebelum Tina sempat mencerna situasi, Andry tiba-tiba menjatuhkan kedua lututnya ke atas lantai keramik rumah sakit. Pria kota yang selalu tampil necis, angkuh, dan berkuasa itu kini berlutut di samping ranjang seorang gadis desa.
Tina terperangah. Ia menoleh cepat dengan mata membelalak sempurna. "Apa yang Anda lakukan, Pak?! Berdirilah!" seru Tina, panik melihat tindakan spontan Andry.
"Sampai kamu memaafkan saya dengan tulus, baru saya akan berdiri," sahut Andry kukuh, matanya menatap lurus ke arah Tina dengan tatapan yang tidak lagi menyiratkan manipulasi, melainkan kepasrahan total.
"Apa yang Anda lakukan? Berdirilah! Saya sudah memaafkan Bapak!" ucap Tina dengan suara yang meninggi, dadanya bergemuruh. Ada rasa tidak nyaman yang mendalam melihat pemandangan itu. "Jangan berlutut seperti ini... kita tidak boleh berlutut kepada sesama manusia. Berdirilah, Pak Andry!"
Mendengar teguran Tina, Andry akhirnya perlahan bangkit berdiri, meski kepalanya tetap tertunduk dalam. "Tina, saya sungguh-sungguh minta maaf atas semua apa yang sudah saya lakukan... atas semua rencana buruk saya. Jadi, tolong... jangan benci saya," bisik Andry, suaranya terdengar serak, hampir menyerupai sebuah permohonan putus asa dari seorang pria yang takut kehilangan kesempatan terakhirnya.
Tina masih memalingkan wajahnya ke arah dinding. Ia mencengkeram pinggiran selimut rumah sakit dengan erat. Dadanya terasa sesak, bergejolak oleh badai emosi yang rumit. Dan tanpa bisa ia bendung atau mengerti mengapa, butiran air mata yang hangat perlahan menetes melewati pipinya, membasahi bantal tempatnya bersandar. Ada rasa marah, kecewa, namun ada setitik rasa lain yang ia sendiri belum mampu definisikan.
"Pak... saya sudah memaafkan Anda. Saat ini saya benar-benar ingin sendiri... jadi tolong, keluarlah," ucap Tina dengan suara yang bergetar menahan tangis, mengusir pria itu dengan sisa ketegasannya.
Andry menatap punggung tegang Tina yang berguncang pelan untuk beberapa saat. Menyadari bahwa kehadirannya hanya akan menambah beban pikiran gadis itu, Andry akhirnya mengangguk pasrah. "Baik, Tina. Istirahatlah," ucapnya lirih. Ia berbalik dan melangkah keluar dari kamar perawatan dengan langkah yang terasa sangat berat, membawa serta penyesalan yang membekas di dadanya.
Setelah pintu benar-benar tertutup dan langkah kaki Andry menghilang di koridor, tangis Tina akhirnya pecah dalam kesunyian. Di dalam kamar yang sepi itu, pikirannya kembali melayang, mundur ke beberapa jam yang lalu saat ia masih berdiri mematung di balik pintu rumah panggung Ibu Yuna.
Ada satu detail ingatan yang sengaja ia kunci rapat-rapat dari semua orang. Sebenarnya, saat berada di luar pintu siang tadi, ia tidak hanya mendengar tentang rencana kedua Andry yang licik. Jauh sebelum percakapan tentang koperasi itu dimulai, Tina sempat mendengar kalimat lain yang diucapkan Andry kepada tantenya dengan nada suara yang sangat dalam dan bersungguh-sungguh.
*"Saya sangat menyukai Tina tan, wajahnya selalu muncul di kepalaku dan aku takut kehilangan nya."*
Kalimat itu bergaung kembali di dalam kepala Tina, beradu dengan suara detak jantungnya sendiri yang mendadak tidak beraturan. Air matanya terus mengalir, namun di balik rasa sakit hatinya atas manipulasi pria itu, sebuah pertanyaan besar kini timbul dan menari-nari di dalam benak polosnya.
Tina memeluk lututnya di atas ranjang, berbisik lirih dalam hati pada kesunyian malam, *"Apa... apa sebenarnya yang dia sukai dari gadis desa yang penuh dengan masalah seperti aku?"*
Pertanyaan itu menggantung di udara kamar perawatan, menjadi sebuah teka-teki baru di tengah benang takdir mereka yang kini telah kusut dan saling bertautan secara rumit di bawah atap rumah sakit kota.