Alma setelah kematiannya mengetahui bahwa sebenarnya dia hanyalah salah satu karakter sampingan di novel yang semua takdir kehidupannya sudah di tentukan oleh penulis.
Penderita yang telah dia lalui sebenarnya tidak lain dan tidak bukan hanyalah kata-kata yang tertulis untuk mempromosikan plot tentang protagonis wanita di novel.
Dia marah, dan kecewa tidak menerima semua takdir itu, dia ingin membalas rasa sakit yang dia terima dari orang-orang yang telah menyakitinya.
Dan kesempatan itu muncul, dia di hidupkan kembali , hari di mana semua penderitaannya belum terjadi.
Dan dia bersumpah akan membalas setiap inci perbuatan mereka padanya menghancurkan mereka secara perlahan.
Alma ingin mereka membayarnya dengan lunas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bearbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
"Ahh, aku tidak tahu kapan penderitaan itu akan berakhir. Kasihan sekali. Tidak ada seorang pun yang bisa menolongnya," ucap Sherin lirih, wajahnya tampak muram meski nada suaranya mengandung keterkejutan.
Keduanya duduk cukup lama di bangku taman sekolah, menyaksikan pemandangan yang seolah sudah menjadi tontonan sehari-hari. Namun, bukan hanya mereka berdua yang melihatnya. Hampir seluruh siswa yang sedang berkunjung ke taman pun memperhatikan adegan tersebut. Tidak ada yang berani maju, tidak ada yang mencoba menghentikan. Semua hanya diam, menonton, bahkan beberapa justru ikut tertawa kecil.
Bullying di sekolah ini bukan lagi rahasia. Semuanya terjadi terang-terangan, seolah menjadi hiburan bagi kalangan tertentu. Pihak sekolah menutup mata rapat-rapat, seakan-akan mereka sama sekali tidak mendengar atau melihat. Apalagi korban yang dianiaya biasanya hanyalah siswa beasiswa, yang dianggap tak lebih dari sampah di antara lautan kebanggaan para keturunan keluarga kaya raya.
Alma tidak banyak bereaksi. Matanya tetap tertuju pada buku tebal yang sedang ia baca, seolah tenggelam di dalam dunia kata-kata. Namun, telinganya tajam menangkap setiap rintihan penuh permohonan, setiap suara ejekan, tawa menghina, serta cacian kejam yang dilontarkan tanpa sedikit pun belas kasih. Tidak ada ampun, tidak ada penyesalan. Hanya kepuasan ketika melihat seseorang yang dianggap lebih rendah diperlakukan layaknya binatang.
"Lihat… lihat itu! Ya ampun, dia benar-benar dipaksa mencium kakinya!" Sherin kembali berkomentar, wajahnya meringis tak tega, meskipun tetap saja matanya tidak bisa berpaling.
Alma menutup bukunya perlahan. Senyumnya mengembang lembut, sebuah senyum yang kontras dengan pemandangan memilukan di depan mereka. Ia menoleh pada Sherin dan berkata dengan suara penuh ketenangan, "Sherin, aku mendengar sebuah informasi menarik tadi pagi."
Sherin spontan menajamkan pendengarannya. Ia menoleh cepat dengan tatapan penuh rasa penasaran, nyaris berbinar. "Apa? Apa itu? Katakan padaku cepat!" tuntutnya dengan nada terburu-buru.
"Aku dengar," Alma menahan jeda seakan sengaja membuat suasana semakin menegang, "seseorang dari sekolah kita sedang menjadi incaran seorang pembunuh berantai. Dan kau tahu siapa orang itu?"
Sherin membelalakkan mata, lalu menggeleng cepat.
"Kita pernah bertemu dengannya. Salah satu gadis yang menghampiri kita di kafetaria waktu itu." Senyum Alma semakin dalam, tatapannya melengkung penuh kelembutan yang justru terasa aneh dan mengundang tanda tanya.
Sherin berdiri mendadak, wajahnya penuh keterkejutan. "Sial! Kenapa aku tidak tahu informasi sepenting ini? Alma, aku pergi dulu. Aku harus memastikan kebenarannya."
Tanpa menunggu jawaban, Sherin berlari meninggalkan taman, tergesa-gesa bagai anjing pemburu yang baru saja mencium aroma mangsanya.
Alma hanya menggelengkan kepala pelan. Lihatlah gadis penggosip itu. Hanya secuil informasi sudah cukup untuk membuatnya kalang kabut.
Kini, matanya kembali beralih pada sosok malang yang tergeletak di rerumputan. Seorang siswi beasiswa bernama Aurel, tubuhnya penuh bekas luka dan noda kotor akibat dipaksa melakukan hal menjijikkan. Di sampingnya, sebuah buku lusuh tergeletak, sampulnya telah tercabik-cabik.
Ia lalu berdiri, mendekati Aurel dengan langkah ringan. Suasana taman mulai lengang, sebagian besar penonton bubar setelah pertunjukan mengerikan itu usai.
"Hei, kau tidak apa-apa?" suara Alma terdengar lembut, seolah penuh kepedulian.
Aurel mendongak, tersentak ketika menyadari ada seseorang yang menyapanya. Ia menatap gadis itu, seragam mewah dengan lambang kebesaran Athena, namun dengan jelas tersemat lencana khusus Arcturus. Seketika napas Aurel tercekat.
"A-aku baik-baik saja. Tidak apa-apa… terima kasih," jawabnya gugup, suaranya nyaris bergetar.
Alma ikut berjongkok di hadapannya, masih dengan senyum menenangkan. "Kau ingin pergi ke ruang perawatan? Aku bisa mengantarmu."
Aurel menunduk, bahunya bergetar tipis. Tawa getir lolos dari bibirnya. Ruang perawatan? Itu bukan tempat yang aman baginya. Justru di sanalah ia akan kembali dihina, bahkan oleh petugas yang seharusnya menolong.
"Sebaiknya kau jangan dekat denganku," ucap Aurel lirih, nyaris seperti bisikan penuh luka. "Apalagi menolongku. Bisa-bisa kau jadi incaran mereka juga…"
Alma menatapnya lekat, lalu senyumnya berubah samar. Ada kilatan gelap di balik sorot matanya. "Itu tidak akan terjadi. Lagi pula, aku pernah mengalaminya."
Tatapannya makin dalam, suaranya rendah namun menusuk. “Kau tahu, dunia ini seperti rimba liar. Hanya ada dua pilihan, jadi pemburu, atau jadi mangsa. Bertahan sebagai mangsa itu menyakitkan. Tubuhmu akan terus dicabik, jiwamu terkikis sedikit demi sedikit, hingga tak tersisa apa pun.”
Aurel terdiam. Kata-kata itu menusuknya lebih dalam daripada ejekan yang barusan ia terima.
Alma mendekat, berbisik nyaris seperti suara iblis yang manis. "Aku bisa membantumu keluar dari lingkaran itu. Bukan hanya bebas, tapi juga membalas. Bayangkan wajah-wajah mereka yang selama ini menertawakanmu. Menangis, berteriak, memohon. Bayangkan bagaimana rasanya membalikkan keadaan."
Tangannya masuk ke balik rok, mengeluarkan pisau lipat kecil berkilau. Ia letakkan di telapak tangan Aurel. "Ambil. Rasakan beratnya. Itu bukan sekadar besi. Itu pilihan. Dengan ini, kau bisa berhenti jadi mangsa."
Aurel menatap pisau itu. Tangannya gemetar ketika menyentuh gagangnya. Ada sesuatu yang bergejolak dalam dadanya. Takut, benci, sakit, marah. Semuanya berbaur kacau.
Tidak… aku tidak bisa… aku bukan pembunuh… pikirnya. Tapi di balik hatinya, suara lain berbisik. Lalu sampai kapan kau terus diinjak? Sampai kapan kau biarkan dirimu diperlakukan seperti sampah?
Matanya berkaca-kaca. Kenangan-kenangan mengalir deras. Wajahnya ditekan ke toilet, buku-bukunya dicabik, makanan bekalnya dibuang, semua tawa mengejek yang menusuk telinga.
"Cukup…" bisiknya. Jemarinya menggenggam pisau lebih erat.
Tiba-tiba, suara tawa terdengar lagi. Beberapa siswi yang tadi membullynya lewat di dekat taman. Mereka masih menertawakan sesuatu, suara mereka melengking menusuk. Salah satu dari mereka menoleh, menyenggol yang lain, lalu berkata sinis, "Lihat, si beasiswa busuk itu kenapa tidak mati saja."
Aurel membeku. Wajahnya memanas, telinganya berdenging.
"Sekarang, Aurel," suara Alma berbisik lembut dari belakang. "Buktikan bahwa kau bukan lagi mangsa."
Napas Aurel memburu. Matanya bergetar menatap punggung siswi itu. Pisau di tangannya terasa berdenyut, seolah menuntun.
"Tidak… tidak… aku bukan…" suaranya tercekat, air matanya mengalir. Namun, amarah yang terkubur bertahun-tahun kini mendesak keluar, lebih kuat dari logika.
"AKU BUKAN SAMPAH!!" jeritnya mendadak.
Pisau itu terhunus cepat.
Craaasshh!
Jeritan melengking memecah taman. Siswi yang baru saja mengejeknya jatuh tersungkur, matanya melebar tak percaya ketika darah mulai membasahi seragamnya.
Teman-temannya berteriak panik, beberapa menjerit histeris, ada yang lari, ada pula yang hanya terdiam kaku.
Aurel berdiri dengan tubuh gemetar, pisau masih di tangannya, wajahnya basah oleh air mata. Ia menatap tangannya sendiri dengan horor, seolah tak percaya pada apa yang baru saja ia lakukan.
Di belakangnya, Alma berdiri tenang. Senyum samar menghiasi bibirnya.
🥀🥀🥀
Kekacauan di taman sekolah benar-benar menghebohkan. Forum daring sekolah segera dipenuhi dengan topik itu, setiap orang berusaha mencari kepingan informasi yang tercecer. Siapa yang tidak terkejut mendengar kabar bahwa seorang siswa beasiswa berani menusukkan pisau kepada salah satu siswa Polaris? Hal yang tidak pernah terbayangkan, kini menjadi kenyataan yang menyeramkan.
Di tengah situasi yang begitu kacau, pihak sekolah bertindak cepat. Siswi yang terluka segera dibawa ke klinik, sementara para saksi mata dipanggil satu per satu untuk dimintai keterangan. Namun, kejanggalan segera muncul. Aurel, sang pelaku utama menghilang tanpa jejak. Saat pihak sekolah berusaha meninjau rekaman CCTV, yang tampak hanyalah layar gelap. Tidak hanya satu, tetapi seluruh CCTV di area taman hingga gerbang sekolah tidak bisa menampilkan gambar. Semua data seolah terhapus begitu saja.
Sementara seluruh perhatian terfokus pada insiden itu, dalang sesungguhnya tengah menghadapi situasi yang jauh berbeda. Alma, gadis yang diam-diam menjadi poros dari berbagai kepentingan, kini duduk di sebuah cafe. Ia awalnya hanya membuat janji dengan Leon. Namun ternyata, tidak hanya Leon yang hadir. Kaiden dan Calvin pun muncul tanpa undangan.
Suasana berubah canggung. Alma duduk di kursi seberang, sementara ketiga pemuda itu duduk mengitari meja, seakan-akan sedang mengadili dirinya.
Leon tampak paling kesal. Tujuannya sederhana, ia hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan Alma, berbincang santai, menikmati kopi, dan mungkin… membuat gadis itu lebih mengenalnya. Namun rencana itu berantakan, sebab Calvin dan Kaiden, entah dari mana, tiba-tiba muncul dan bergabung.
Alma menghela napas pelan, lalu berusaha memecah kebekuan. "Ehmm… Leon, terima kasih untuk buku tadi," ucapnya sambil menatap lelaki itu dengan senyum sopan.
Leon yang semula kaku seketika melunak. "Tidak masalah. Selama kau menyukainya, aku senang," jawabnya tulus. Nada bicaranya lembut, seolah apapun yang diinginkan Alma akan selalu ia kabulkan.
Calvin yang duduk di samping Leon mendengus pelan. Namun tatapan matanya berubah lembut ketika beralih pada Alma. "Hei, gadis kutu buku. Jika kau benar-benar menyukai buku, kau harus datang ke rumahku. Nenekku memiliki perpustakaan pribadi dengan koleksi yang sangat lengkap. Semua genre ada di sana. Kau bisa berkunjung kapan pun kau mau."
Mata Alma berbinar mendengar tawaran itu. "Benarkah? Itu pasti menyenangkan sekali," ucapnya dengan ketertarikan yang tulus.
Calvin tersenyum tipis. Dalam hatinya ia merasa menang. Ia tahu pembicaraan seputar buku adalah cara terbaik untuk menarik perhatian Alma. "Tentu saja, kalau kau mau..."
"Alma tidak perlu jauh-jauh ke rumahmu." Suara Kaiden tiba-tiba memotong. Pemuda itu duduk dengan santai, kaki bersilang penuh keangkuhan. "Jika dia menginginkannya, aku bisa membangun perpustakaan pribadi di kediaman keluarga Morrison."
Calvin langsung mendengus sinis. "Heh, memang siapa kau baginya sampai bisa mengucapkan kata-kata seperti itu?"
Kaiden tersenyum penuh percaya diri. "Tentu saja calon suami yang sudah terverifikasi. Mamaku dan Tante Isabella sudah lama berteman dekat. Jadi tidak usah kaget kalau perjodohan ini sudah dibicarakan."
Leon yang sedari tadi berusaha menahan diri akhirnya mencibir. "Percaya dirimu sungguh berlebihan, Kaiden."
Calvin menoleh ke arah Alma, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu. "Benar itu? Apakah keluargamu sudah mengatur hal semacam ini?"
Alma agak terkejut dengan pertanyaan itu. Ia menarik napas sebelum menjawab. "Mamah dan Tante Caterina memang berteman baik, tapi itu bukan berarti..."
"Lihat? Aku tidak berbohong," Kaiden langsung memotong, suaranya penuh kepuasan.
Leon mengetuk meja dengan jari, tatapannya menusuk. "Kau tidak pernah belajar sopan santun? Alma bahkan belum menyelesaikan kalimatnya."
Kaiden mengangkat satu alis, nada suaranya penuh tantangan. "Dan apa bedanya? Faktanya tetap sama."
Ketegangan makin terasa. Alma yang duduk di tengah-tengah percakapan itu merasa seolah sedang diperebutkan di meja perundingan. Ia menatap ketiga pemuda itu secara bergantian, lalu menghela napas panjang.
🥀🥀🥀
Beberapa menit kemudian, suasana kafe semakin ramai. Aroma kopi yang pekat berpadu dengan wangi roti panggang, memenuhi setiap sudut ruangan bersama denting sendok yang beradu dengan cangkir. Suara riuh rendah para pengunjung membentuk latar belakang yang hidup, seakan menciptakan irama tersendiri di antara obrolan-obrolan yang berbaur.
Alma, yang sejak tadi berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik yang lebih ringan, sempat tersenyum lega ketika suasana di meja mereka mulai mencair. Namun ketenangan itu buyar seketika saat pintu kafe terbuka dengan suara lonceng kecil yang menggantung di atasnya.
Sekelompok pria masuk dengan langkah tenang namun mantap. Mereka tampak tidak menonjol, berpakaian santai layaknya pelanggan biasa, tetapi aura yang terpancar dari sikap tubuh mereka menunjukkan sesuatu yang berbeda, disiplin yang terbentuk dari latihan panjang. Oscar berjalan paling depan, diikuti oleh Aron, Geo, dan Arhan. Mereka bermaksud melepas penat dan sekadar mengisi energi dengan kafein. Namun, yang tidak diduga Oscar adalah pandangan matanya justru langsung tertuju pada sebuah meja di sudut kafe.
Di sana, duduk Leon bersama beberapa orang.
Aron yang pertama kali menyadari itu mencondongkan tubuh sedikit, lalu berbisik pada Oscar, "Kapten, bukankah itu adikmu?"
Oscar tidak segera menjawab. Pandangannya tetap terarah, penuh kehati-hatian.
Sementara itu, Geo yang duduk di sebelahnya menyipitkan mata, berusaha menganalisis situasi. "Wow, menarik sekali. Dari pengamatan singkatku, mereka tampak terjebak dalam situasi yang rumit. Kalau tidak salah, ini jelas-jelas mirip dengan pola… cinta segi empat." Ucapannya diiringi senyum tipis, seakan sedang menikmati drama yang sedang berlangsung.
Oscar hanya menghela napas, enggan menanggapi analisis itu. Namun Arhan, yang sejak tadi memperhatikan Alma dengan saksama, mengerutkan kening. "Hei… aku merasa tidak asing dengan gadis yang duduk di depan Leon itu."
Geo segera menimpali, nadanya penuh keyakinan, "Benar. Aku juga merasa sama. Aku yakin pernah melihatnya sebelumnya."
Arhan menoleh pada Geo, menunggu penjelasan lebih lanjut. Geo pun menurunkan suaranya hingga nyaris seperti bisikan rahasia. "Dia… gadis semalam. Yang membawa mawar merah itu."
Ucapan itu seketika membuat ketiganya saling bertukar pandang. Ingatan mereka melayang kembali pada peristiwa malam sebelumnya, operasi penangkapan yang sempat mereka lakukan. Di tengah kericuhan, mereka memang melihat sosok seorang gadis yang muncul dengan tiba-tiba, membagikan mawar merah. Kejadian itu terasa ganjil dan tak terjelaskan, meninggalkan tanda tanya yang tak kunjung hilang hingga kini.
Oscar merapatkan rahangnya. "Tidak perlu menyapa mereka," jawabnya datar ketika Aron kembali bertanya apakah mereka harus menghampiri Leon. Nada suaranya tegas, seolah menutup ruang diskusi.
Namun, meski demikian, pandangan Oscar tidak pernah lepas dari arah meja itu. Lebih tepatnya, pada sosok Alma. Ada sesuatu yang mengusik benaknya, semacam kecurigaan yang terus menempel.
Arhan, yang memperhatikan ekspresi sang kapten, tersenyum tipis sambil menyilangkan tangan di dada. "Sepertinya Kapten juga penasaran, bukan?"
Oscar tidak menanggapi. Matanya tetap tajam, menembus keramaian kafe yang semakin padat. Denting sendok, tawa pengunjung, dan alunan musik lembut.
atau alma dengan kesadaran penuh yang bunuh orang2 sebelumnya?