NovelToon NovelToon
Bayang Yang Runtuh

Bayang Yang Runtuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Shanti_San

Kiara, putri tunggal keluarga terkaya, memilih menikah dengan pria biasa karena cinta yang ia pikir sangat kuat dan abadi. Selama sepuluh tahun pernikahan, Kiara hidup dengan rasa bersalah yang besar—ia tidak pernah bisa mengandung dan melahirkan anak, selalu menyalahkan dirinya sendiri, dan terus meminum obat yang dikatakan suaminya sebagai vitamin penyehat tubuh.

Semua kepercayaan dan kebahagiaannya runtuh dalam sekejap mata. Kiara mengetahui kenyataan pahit, suaminya telah berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Lebih menyakitkan lagi, obat yang ia minum setiap hari ternyata adalah pil penunda kehamilan. Sepuluh tahun ia pikir dia kurang subur, padahal dialah yang menjadi korban, dan suaminya sendirilah penyebab ia tidak pernah bisa memiliki keturunan. Puncak kehancuran tiba saat Kiara tahu sahabatnya kini sedang mengandung anak hasil perselingkuhan mereka.

Kiara pun memilih pura-pura tidak tahu, untuk membalaskan rasa sakitnya karena telah di tipu oleh mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shanti_San, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 - Perlahan membunuh

Kiara Menyeruput sedikit lalu ia meletakan gelas susu itu di atas meja di samping nya.

"Kenapa tidak di habiskan semua sayang?." Tanya Ferdi.

"Aku akan menghabiskan nanti, aku masih ada kerjaan." Ferdi pun mengangguk.

Ferdi tampak lega dan puas. Ia bangkit berdiri, merapikan sedikit pakaiannya, lalu mencium kening Kiara dengan sikap penuh kasih sayang yang palsu. "Iya habis ya, ini Sudah malam, kamu sebaiknya segera tidur ya. Aku harus kembali ke ruang kerja sebentar lagi, mungkin sampai larut malam baru selesai. Jangan menungguku, ya? Tidur saja duluan. Nanti kalau aku selesai, aku masuk pelan-pelan supaya tidak mengganggu tidurmu."

"Iya, Mas. Hati-hati ya di dalam sana. Jangan terlalu lelah," jawab Kiara, menatap kepergian suaminya itu.

Ferdi berjalan menuju pintu kamar, melangkah dengan tenang, dengan hati yang damai karena rencananya berjalan lancar seperti biasa. Pintu ditutup perlahan dari luar, hingga terdengar bunyi 'klik' halus yang menandakan pintu terkunci dari luar. Langkah kaki Ferdi menjauh, berjalan menjauh menuju ruang kerjanya yang berada di ujung lorong, persis seperti malam-malam sebelumnya.

Begitu suara langkah kaki itu hilang sepenuhnya, ekspresi wajah Kiara berubah drastis. Senyumnya lenyap seketika, digantikan oleh rasa jijik, kemarahan, dan kesedihan yang mendalam. Ia menatap gelas susu di meja nakas itu dengan pandangan yang penuh kebencian.

Kiara bangkit berdiri perlahan, berjalan dengan langkah yang mantap namun gemetar menuju kamar mandi yang terhubung langsung dengan kamar tidur mereka. Ia memegang gelas itu begitu erat, seolah-olah sedang memegang nyawa kedua manusia yang telah mengkhianatinya itu. Di dalam hati, ia bersyukur luar biasa. Bersyukur karena ia sudah mengetahui kebenaran tepat pada waktunya. Bersyukur karena malam ini, untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, ia tidak akan membiarkan racun itu merusak tubuhnya lagi.

Ia masuk ke dalam kamar mandi, menutup pintu kaca itu rapat-rapat agar suara apapun tidak terdengar dari luar. Di hadapannya, terdapat kloset duduk yang bersih dan mengkilap. Kiara berdiri diam sejenak, menatap pantulan dirinya di cermin dinding. Ia melihat wajah wanita yang dulu polos, yang dulu percaya pada kata-kata manis, yang dulu menganggap suaminya adalah dunia dan segalanya. Wanita itu sudah mati sejak kemarin malam. Yang tersisa sekarang hanyalah wanita yang terluka, yang sakit hati, dan yang bertekad membalas setiap tetes darah yang telah dikorbankan nya.

Dengan gerakan cepat dan penuh rasa muak, Kiara mengangkat gelas itu, lalu membalikkannya. Cairan susu yang bercampur obat-obatan jahat itu mengalir turun, jatuh ke dalam lubang kloset, menghilang perlahan seiring putaran air yang kemudian ditariknya.

"Basa lah ke tempat sampahmu, racun busuk ini..." gumam Kiara pelan, suaranya bergetar menahan tangis. "Sudah cukup lima tahun aku menelan kepahitan dan kebohongan kalian. Mulai malam ini, tidak ada lagi racun yang akan masuk ke tubuhku. Mulai malam ini, aku akan menjaga diriku sendiri. Aku akan menjaga rahimmu yang dulu kamu hina dan cegah, Mas Ferdi. Rahim ini masih milikku, dan suatu saat nanti, rahim ini akan membuktikan bahwa kamu yang salah, kamu yang bodoh, dan kamu yang telah menyia-nyiakan harta paling berharga yang pernah kamu miliki."

Kiara meletakkan gelas kosong itu di wastafel, lalu membilasnya hingga bersih, sebersih apa yang akan ia lakukan pada nama baiknya nanti. Ia menatap bayangannya sendiri kembali di cermin. Matanya yang basah kini berkilat tajam. Ia teringat kembali percakapan Ferdi dan Leo kemarin malam, teringat kejadian pagi ini di rumah Emily, teringat permintaan kejelasan Emily, dan teringat rencana Ferdi yang ingin menunggu sampai diangkat menjadi direktur utama sebelum bertindak lebih jauh.

"Belum jadi apa-apa,masih menunggu jadi direktur utama."

Kalimat itu terus berputar di kepala Kiara. Jadi, kunci dari semua ambisi Ferdi itu ada di sana. Jabatan Direktur Utama. Saat Pak Edward, ayahnya, menyerahkan tongkat kekuasaan itu sepenuhnya ke tangan Ferdi, saat Ferdi memegang kendali perusahaan dan kekayaan keluarga Wijaya, saat itulah ia merasa berkuasa, merasa tidak bergantung lagi, merasa bisa berbuat apa saja. Saat itulah ia berencana membuang Kiara, membawa Emily, dan hidup bahagia atas penderitaan orang lain.

"Kamu ingin jadi direktur, ya, Mas Ferdi?" bisik Kiara pelan sambil tersenyum miring, senyum dingin yang mengerikan. "Kamu ingin memegang kekuasaan, ingin punya segalanya, lalu membuang ku begitu saja? Kamu kira semudah itu? Kamu kira ayahku semudah itu memberikan segalanya ke tangan orang asing yang tidak tahu diri sepertimu?"

Kiara mengeringkan tangannya, lalu berjalan kembali ke tempat tidur. Ia berbaring di atas kasur empuk itu, menatap langit-langit kamar yang gelap. Ia tidak lagi merasa takut atau sedih. Yang ada hanyalah rencana. Ia harus mengubah jalannya sejarah. Ia tidak akan membiarkan Ferdi mencapai puncak kekuasaannya. Ia tidak akan membiarkan ambisi suaminya itu terwujud. Karena begitu Ferdi jadi direktur, posisi Kiara akan sangat lemah, dan kekuasaan ayahnya akan berkurang. Itu adalah bahaya terbesar baginya.

Ferdi berpikir ia sedang bermain catur dengan lawan yang lemah dan bodoh. Padahal, Kiara sudah melihat seluruh papan permainan itu, sudah melihat semua bidak yang dimiliki Ferdi, dan sudah bersiap memakan satu per satu bidak itu sampai raja sekalipun tak tersisa.

"Malam ini kamu menang, Ferdi. Kamu merasa berhasil menipuku lagi, kamu merasa rencanamu mulus," batin Kiara sambil memejamkan mata, menyimpan dendam dan tekadnya jauh di dalam hati. "Tapi tunggu saja sampai besok. Tunggu sampai saat yang tepat tiba. Aku akan pastikan jabatan yang kamu dambakan itu tidak akan pernah kamu pegang. Aku akan pastikan kekuasaan itu tetap di tangan keluargaku. Dan aku akan pastikan, sebelum kamu sempat menghancurkan ku, aku yang akan menghancurkan mu lebih dulu, lebih kejam, dan lebih tuntas daripada apa yang pernah kamu bayangkan."

Di ujung lorong, Ferdi duduk di ruang kerjanya dengan tenang, merasa aman dan nyaman, menyusun rencana masa depan yang indah baginya dan Emily. Ia sama sekali tidak tahu, bahwa di kamar tidurnya, wanita yang ia remehkan itu baru saja membuang racunnya, dan sedang menyusun strategi pembalasan yang akan menjadi mimpi buruk terbesar dalam hidupnya. Permainan baru saja memasuki babak baru, dan kini, kendali sudah beralih ke tangan Kiara.

1
Yeni Astriani
yuuukk lanjut Author
Yeni Astriani
good job Kiara kamu kuat, kamu punya banyak bukti perceraian pasti bakalan terjadi.
ferdi mengancam karna tahu dia bakalan hidup miskin lagi
Yeni Astriani
lanjut Author
Asyura
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!