Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. BIANG MASALAH
"Om cinta kan sama Mama? Ngaku aja, Om!"
Alvin membeku beberapa detik--sebelum akhirnya mengulum senyum dan menatap Saga dengan ekspresi seakan maklum.
"Saga... kamu juga cinta sama Mama, kan?"
Saga tertegun sejenak, kemudian membelalak.
"Tentu saja--tapi Saga kan anaknya Mama! Beda! Sementara Om Alvin--"
"Tante Harum juga cinta dan sayang sama Mamamu," sela Alvin. "Mamamu orang baik dan layak dicintai orang banyak. Jadi wajar kan kalau Om--"
"Nggak wajar!" ketus Saga. "Om itu laki-laki dewasa, bukan anaknya Mama, bukan siapa-siapa juga..."
"Om teman Mama kamu. Bos Mama kamu. Om bukan orang asing, Saga," jelas Alvin. "Kalau kamu tanya apa Om cinta Mama kamu? Ya, Om cinta..."
Saga makin membelalak. Wajahnya merah, seakan kemarahannya hampir meledak.
"Tapi kamu harus tahu, yang namanya cinta itu universal dan banyak bentuknya," Alvin melanjutkan tak gentar, tatapannya dalam. "Cinta Om itu dalam artian ingin Mama dan orang-orang yang disayanginya aman dan baik-baik saja. Itu bukan sesuatu yang buruk, kan? Seharusnya Saga juga paham itu... karena Saga lebih dulu melakukan hal yang sama kepada Nia. Saga menolong Nia supaya Nia aman dan baik-baik saja. Yang Om lakukan juga seperti itu, Saga... kamu paham?"
Kening Saga mengerut dalam. Tatapannya menghujam tajam.
"Begitu...? Yakin cuma sebatas itu? Sekarang Saga tanya, kalau Om memang cinta Mama dengan cara seperti itu, apa Om juga punya keinginan untuk menikahi Mama? Jawab jujur!"
Hening yang menjeda terasa berat dan canggung.
"Kalau ada kesempatan--dan Om bisa melakukannya--apa Om akan menikahi Mama? Jawab jujur!"
Alvin tanpa sadar menahan napasnya. "Itu--"
Saga tersenyum mengejek, bahkan tertawa.
"Tuh, kan! Om nggak bisa langsung bilang 'nggak'...! Itu karena Om memang modus--ngedeketin Mama ada maunya! Saga nggak bodoh, ya!"
"Saga..."
"Saga kasih peringatan--untuk terakhir kalinya--jangan dekati Mama lagi!" Saga dengan berani maju selangkah dan menyemprot Alvin garang. "Jangan jadi biang masalah baru di keluarga kami! Biarkan kami hidup damai tanpa dirusak siapapun lagi--dan kalau Om masih nekat, Saga sendiri yang akan bikin Om menyesal! Camkan itu baik-baik!"
Saga berputar dan pergi meninggalkan Alvin dengan telinga merah yang seakan hampir mengepulkan asap seperti teko berisi air mendidih. Alvin hanya bisa terdiam menatap punggung remaja tanggung itu menjauh--sudut-sudut bibirnya melekuk muram.
Sebuah dering telepon masuk memecah keheningan lorong. Alvin meraih ponsel di saku jasnya, dan melihat nama "Kanjeng Ibunda Ratu Titisan Dewi Durga" muncul di layar.
"Ya, Ma...?"
Alvin terdiam sejenak, meresapi kata-kata Andini, ibunya, sembari murung menatap seekor cicak boker alias buang kotoran di sudut plafon berhias lampu putih-perak.
"Baik. Aku akan pulang. Sekarang."
***
"Jelaskan, apa maksudnya ini, pangeran bungsuku tersayang?"
Di gazebo dekat danau buatan di belakang mansion kediaman keluarga Hermawan, sang Kanjeng Ibunda Ratu Titisan Dewi Durga menyodorkan laporan keuangan yang tertera di layar tabletnya, tepat di bawah hidung Alvin yang sedang menghirup Queen Anne's Tea--racikan teh premium salah satu merek legendaris asal Inggris yang rasanya dominan pahit dan kuat. Teh mahal itu jelas tak bisa ditemukan sembarangan--apalagi di kedai es teh pinggir jalan. Bahkan tak setiap kafe mewah menyediakan menu teh itu, yang menjadi ciri khas kaum bangsawan.
"Mama masih suka mengecek transaksi kartu dan mutasi rekening pribadiku, ya?" Alvin mendengus. "Itu kan uangku sendiri, Ma--"
"Kalau kamu SELALU menggunakan uangmu dengan jelas dan bijak, Mama tak akan rutin mengecek seperti ini dan menegurmu. Kamu tak ingat dulu pernah menghamburkan uang lima milyar hanya untuk beli saham bodong dan koin crypto yang ujung-ujungnya rungkat?" tegur Andini dengan suara manis, tetapi sorot matanya menghujam dalam seperti keris.
"Ya itu kan dulu--aku waktu itu masih naif dan bodoh. Tapi aku sudah janji tak akan mengulang kesalahan yang sama dua kali, Ma, kenapa Mama masih tak percaya pada darah daging Mama sendiri?" gerutu Alvin dengan wajah memerah.
"Mama akan percaya kalau kamu bicara jujur dan terbuka--dan Mama beri kamu kesempatan untuk membuktikan itu, sekarang," tukas Andini tajam.
Alvin meletakkan cangkir tehnya dan menghela napas panjang.
"Mama mau kejelasan kenapa aku mengeluarkan uang lima ratus juta rupiah sebagai deposit pembayaran tindakan medis rumah sakit itu...?"
"Untuk pasien atas nama Erina Hutomo," sambung Andini, alisnya bertaut sekarang. "Dia admin marketing di PT. Dasim Sakti--kantor tempatmu bekerja sekarang..."
"Ya, benar."
"Kenapa kamu melakukannya?"
Alvin terdiam sejenak.
"Amal," jawabnya singkat.
Netra cokelat Andini melebar.
"Amal?"
"Ya," Alvin mengangguk serius. "Supaya pahalaku bertambah, dan kalau aku mati nanti, aku masuk surga jalur sedekah."
Andini harus memperlebar sabar untuk tidak menjitak kepala anaknya dengan hak sepatunya yang setinggi lima senti.
"Jawaban macam apa itu, Alvin? Jangan bercanda kamu...!"
"Aku tidak bercanda, Ibunda Ratu," bantah Alvin. "Mana ada orang bercanda pakai uang lima ratus juta? Serius itu untuk tabungan pahala--"
"Alvin!"
Andini sampai harus memijat pelipisnya dan menarik napas panjang agar tensinya tetap di batas aman.
"Ya... jelas kamu tidak bercanda. Uang sebesar itu digunakan untuk membiayai pengobatan janda dua anak yang terkena tumor otak... yang baru kamu kenal? Yang belakangan ini kamu kunjungi setiap hari di rumah sakit, bahkan ketika harusnya kamu mengurus pekerjaan di kantor? Modusmu jelas sekali... apa kamu mencintai wanita itu?"
Pertanyaan itu telak dijatuhkan seperti kotoran cicak yang dilihat Alvin beberapa jam lalu di rumah sakit tempat Erina dirawat.
"Baru tahu kalau amal artinya cinta," gumam Alvin. "Jadi kalau aku sedekah ke pengemis di pinggir jalan, artinya aku juga cinta sama dia..."
Andini terdiam beberapa saat untuk menenangkan diri. Putranya yang satu ini memang sejak dulu hampir selalu menguji batas aman tekanan darah dan kewarasannya--berbeda seratus delapan puluh derajat dengan sulungnya yang sangat bisa dibanggakan dari segala aspek, kecuali perkara asmara.
"Putraku sayang," Andini kembali bicara dengan nada selembut awan--yang justru sebenarnya mengandung ancaman. "Kalau masih mau mendapat kebaikan dan ampunan seorang Titisan Dewi Durga, jangan lagi bermain kata-kata. Katakan yang sebenarnya, atau..."
"Atau apa? Mama akan mencoretku dari hak waris dan KK?"
Andini memiringkan wajahnya--sebagai pertanda bahaya akan segera menerpa siapa saja yang ada di hadapannya.
"Atau Mama akan menyingkirkan wanita itu dari hidupmu... seperti yang sudah-sudah."
Alvin tak memalingkan wajah dari tatapan maut ibunya, juga tak bereaksi apa-apa.
"Singkirkan saja," kata Alvin pelan.
Andini mematung. Ia tak menduga akan mendapat jawaban seperti itu.
"Kalau Mama berharap wanita itu tak memasuki kehidupanku lebih dalam--selamat, Mama, keinginan itu sudah terkabul tanpa perlu susah payah diwujudkan," kata Alvin datar. "Aku memang menanggung biaya pengobatannya--tapi aku melakukannya tanpa menuntut balasan. Aku juga tak akan mengencaninya. Apalagi menikahinya. Kami jelas tak bisa bersama... sampai kapan pun."
Andini mengerjap. Kata-kata Alvin sungguh absurd. Namun Andini bisa melihat kejujuran terpancar jelas di netra bening sang putra, juga kepahitan.
"Kamu..."
"Biang masalah," Alvin tertawa tanpa humor. "Itulah aku, sejak dulu. Tapi Mama jangan khawatir. Aku tak akan membuat masalah apapun lagi sekarang. Tak akan ada lagi petualangan bodoh, cinta gila, atau uang terbuang percuma... ah, mengenai uang lima ratus juta itu, jika itu dianggap ketololanku juga, aku minta maaf. Akan kupastikan itu yang terakhir."
Alvin menatap lurus Andini, wajahnya dipenuhi kesungguhan.
"Tapi Mama harus tahu, jika bantuanku yang dianggap buang-buang uang itu bisa menyelamatkan nyawa Erina, dan membuat dua anaknya yang masih di bawah umur tak kehilangan ibunya... aku tak akan pernah menyesalinya."
Kalimat dalam dan tulus itu entah bagaimana membuat hati Andini yang biasanya sebeku es tiba-tiba bergetar--seakan musim dingin panjang dalam jiwanya sudah mencapai batas akhir. Dan perilaku anaknya ibarat udara hangat yang memberi isyarat, musim baru yang tak terduga akan segera tiba.
"Ada lagi yang masih ingin dibahas? Kalau tidak, hamba undur diri, Ibunda Ratu," Alvin kembali menyungging senyum dan menangkupkan kedua tangan di depan hidung mancungnya--seperti ber-sendika dawuh pada penguasa kerajaan sungguhan. "Hamba punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Permisi ya."
Alvin meninggalkan gazebo sambil mengecek ponselnya. Ia sama sekali tak menyadari, sesosok gadis remaja berkulit seputih kapas dan berambut merah kecokelatan berdiri di balik sebatang pohon rindang, tak jauh dari tempatnya berbincang dengan Andini barusan.
Netra cokelat gadis itu mengawasi lekat punggung Alvin hingga kembali memasuki mansion. Ia kemudian melirik Andini yang masih duduk sendiri di gazebo, ekspresinya seakan termenung.
Tanpa ragu, Kania Hermawan--gadis itu, putri semata wayang Alvin sekaligus cucu Andini, meraih ponsel di saku celana jeans-nya, dan mengetik sebuah pesan dengan cepat.
Kamu tak perlu khawatir. Papaku tak akan mendekati Mamamu lagi. Kita tak akan pernah jadi saudara tiri, sampai kapan pun. Aku bisa jamin itu.
Nia mengirim pesan itu, lalu diam-diam berjalan memasuki mansion sambil tersenyum.
***