⚠️ PERHATIAN PEMBACA! ⚠️ Ini adalah Part 2 (Season 2) dari novel Petani Sultan: Rahasia Kendi Dimensi. Sangat disarankan untuk membaca Part 1 terlebih dahulu guna memahami alur cerita, intrik karakter, dan sepak terjang sang Petani Sultan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang ke Tanah Air
Albert Wu dan Lin Ming Ho masih terus menyusun konspirasi berdarah untuk menghabisi Pak Yapto Liem. Di kubu seberang, sang taipan Hong Kong juga tengah mengerahkan seluruh koneksi intelijennya untuk memburu dalang yang menginginkan nyawanya. Kedua belah pihak kini resmi terseret ke dalam pusaran perang bawah tanah yang mematikan.
Namun, Banyu kini justru terbebas dari pusaran konflik tersebut. Ia menghabiskan hari-harinya dengan sangat damai di rumah sakit, menikmati perawatan super VIP dan perhatian penuh kasih sayang dari Siska.
Melihat pria yang dicintainya menderita luka separah itu, hati Siska hancur berantakan. Sikap garang ala 'Wanita Besi'-nya sirna total, digantikan oleh kepatuhan mutlak dan kelembutan layaknya seorang istri yang berbakti. Karena Banyu terus-terusan mengeluhkan betapa hambarnya makanan rumah sakit, Siska tanpa mengeluh menyetir bolak-balik hanya untuk membelikannya makanan dari luar. Karena luka Banyu pantang terkena air, Siska turun tangan sendiri menyeka tubuh pemuda itu dengan air hangat setiap hari. Bahkan, setiap kali Banyu merengek meminta pelukan atau ciuman manja, Siska akan memenuhi permintaannya dengan wajah merona merah. Dilihat dari sudut mana pun, perlakuan Siska benar-benar persis seperti istri idaman yang sempurna.
Bahkan seluruh dokter dan perawat di rumah sakit itu mengira mereka adalah pasangan suami istri sungguhan. Setiap berpapasan, mereka selalu menyapa Siska dengan panggilan "Nyonya Banyu". Meskipun Siska tidak pernah secara gamblang mengiyakan panggilan itu, ia juga tak pernah repot-repot meralatnya. Mengingat karakter Siska yang biasanya sangat perfeksionis dan gengsian, kebisuan ini adalah konfirmasi tak langsung bahwa ia telah menerima status tersebut di hatinya.
Pada dasarnya, kualitas regenerasi sel tubuh Banyu memang sudah bermutasi di luar nalar manusia. Ditambah asupan Cairan Ajaib secara rutin selama masa pemulihan, kecepatan penyembuhannya sukses membuat seluruh tim medis ternganga tak percaya dan menganggapnya sebagai mukjizat medis. Hanya dalam waktu kurang dari seminggu, kondisinya membaik secara drastis hingga ia sudah bisa turun dari ranjang dan berjalan pelan! Jika luka tembak sedalam itu menimpa manusia normal, butuh minimal satu minggu hanya untuk melewati masa kritis, dan butuh minimal satu hingga dua bulan rawat inap sebelum berani mencoba berdiri dari kasur.
Seiring dengan pulihnya kondisi fisik Banyu, permintaan manjanya pada Siska pun perlahan meningkat levelnya. Awalnya hanya sekadar ciuman dan pelukan ringan, kini perlahan berevolusi menjadi ciuman panas yang lebih liar dan kontak fisik yang lebih intim. Semenjak memutuskan untuk berdamai dengan perasaannya dan menerima Banyu seutuhnya, Siska memang menjadi jauh lebih berani dan terbuka. Ia tak lagi menolak sentuhan intim pria itu.
Namun, Siska tetap menarik garis pertahanan akhir yang tak boleh ditembus: ia menolak keras untuk melakukan 'hubungan suami-istri' dengan Banyu di ranjang rumah sakit! Meski setiap kali mereka berciuman panas hingga wajahnya merona padam dan napasnya memburu tak karuan, Siska selalu berhasil mempertahankan sisa-sisa kewarasannya di detik-detik terakhir untuk menghentikan niat mesum Banyu.
Bagi Banyu, situasi ini benar-benar menyiksa lahir batin. Rasanya ibarat disuruh bermain mahyong, diizinkan menyentuh dan mengocok baloknya, tapi dilarang keras untuk menang! Ia dibuat frustrasi setengah mati.
Tentu saja, Siska punya alasan kuat yang sangat rasional: ia takut aktivitas fisik yang ekstrem akan merobek jahitan luka Banyu dan memperparah kondisinya. Oleh karena itu, sekeras apa pun Banyu merayu dan mengemis, Siska pantang berkompromi mengorbankan keselamatan pria itu hanya demi kepuasan nafsu sesaat.
Banyu pada dasarnya bukanlah tipe pria pemaksa, apalagi penolakan Siska ini dilandasi oleh kepedulian yang tulus pada kesehatannya. Ia tidak punya alasan untuk marah, dan hanya bisa menurut dengan patuh. Masalahnya, gairahnya selalu dibuat menggantung di tengah jalan! Setiap kali melihat Siska menolaknya dengan napas tersengal, wajah memerah, dan ekspresi menggoda yang luar biasa cantik, Banyu selalu merutuk dalam hati dan bersumpah: "Awas saja kalau lukaku sudah sembuh total! Bakal kuhabisi kau di ranjang sampai tak bisa bangun!"
Di tengah masa pemulihan itu, ada satu intermeso kecil yang terjadi: Jessica tiba-tiba meneleponnya. Gadis bule itu mengawali obrolan dengan menanyakan apakah Banyu berhasil menyelamatkan kandungan istri temannya. Setelah Banyu menceritakan garis besarnya, Jessica membawa kabar mengejutkan: ia telah mempertimbangkan tawaran Chef Gordon, dan memutuskan untuk kembali bekerja di majalah kuliner Hell's Kitchen! Dalam dua hari ke depan, ia akan pindah kembali ke New York.
Namun, Jessica meyakinkan Banyu agar tidak perlu mengkhawatirkan nasib peternakan. Ia berjanji akan tetap memantau pembukuan dan arah strategis dari jauh, sementara urusan operasional lapangan telah diserahkan sepenuhnya ke tangan Mark, jadi dijamin tidak akan ada masalah.
Begitu sambungan telepon terputus, Siska yang sedari tadi duduk diam di samping ranjang langsung tersenyum menyindir. "Wah... dari suaranya sih sepertinya perempuan muda, ya? Kau ini benar-benar gesit! Baru mendarat di Amerika beberapa hari, sudah dapat 'mangsa' baru rupanya?"
Sadar bahwa Siska sedang cemburu buta, Banyu buru-buru memasang senyum cengengesan. "Hehe... itu tadi rekan bisnisku, salah satu pemegang saham di peternakanku! Kami cuma bahas urusan kerjaan kok, suer!"
Tentu saja Siska tidak sebodoh itu untuk percaya pada bualan buaya darat di depannya. Ia memelototkan matanya dan bertanya dengan nada panjang yang mengintimidasi, "Oh ya? Benar-benar cuma urusan kerjaan?"
Teringat kembali pada janjinya pada Siska bahwa ia tak akan pernah menyembunyikan rahasia apa pun lagi, Banyu akhirnya menyerah. Dengan senyum canggung ia menggaruk kepalanya. "Ya... tentu saja selain itu... ada sedikit urusan pribadi juga, sih. Yah, bisa dibilang aku dan dia memulai hubungan ini dari kemitraan bisnis yang kemudian berkembang menjadi persahabatan yang 'murni'. Sama persis seperti proses pendekatanku padamu dulu. Hehehe, kamu pasti paham maksudku, kan?"
"Tentu saja aku sangat paham," Siska mendengus pasrah. Ia menggelengkan kepalanya dan menghela napas panjang. "Aku benar-benar tidak tahu kutukan setan macam apa yang merasukiku, sampai-sampai aku bisa jatuh cinta setengah mati pada pria brengsek sepertimu!"
Banyu menganggap omelan Siska sebagai hal yang sangat wajar. Faktanya, fakta bahwa Siska tidak langsung meledak marah dan walk-out dari kamar itu sudah merupakan anugerah yang luar biasa baginya. Memanfaatkan helaan napas Siska, Banyu perlahan menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Siska dan berbisik lembut, "Ini semua memang salahku. Maafkan aku ya, jangan marah lagi."
Siska sebenarnya hanya ingin melampiaskan sedikit rasa kesalnya. Ia sama sekali tak berniat meninggalkan Banyu. Melihat pria arogan ini rela menurunkan egonya demi meminta maaf, secuil ketidakpuasan di hatinya langsung menguap tak berbekas. Embusan napas hangat Banyu yang menyapu telinganya seketika membuat tubuh kaku Siska meleleh. Sepasang matanya yang tajam perlahan meredup, diselimuti kabut gairah yang lembut.
Karena sudah menghabiskan waktu bersama siang dan malam selama sepuluh hari terakhir, Banyu sangat hafal dengan respons fisik wanita itu. Menyadari sang primadona sudah terbakar gairah, Banyu tersenyum nakal. Ia menundukkan kepalanya, melumat bibir Siska yang ranum dengan penuh gairah. Dalam sekejap, suhu di kamar rawat itu melonjak drastis.
Namun, di tengah pergulatan panas bibir dan lidah tersebut, dering ponsel yang nyaring kembali menghancurkan momen itu! Siska yang napasnya sudah terengah-engah langsung melotot sebal ke arah Banyu, seolah menyalahkan pria itu karena terlalu banyak menerima telepon di saat yang tidak tepat.
Menghadapi rajukan manja yang sangat langka dari Siska ini, Banyu buru-buru mengangkat kedua tangannya dengan pose menyerah tanpa dosa. "Sumpah, itu bukan HP-ku! Itu ponselmu yang bunyi!"
Mendengar hal itu, Siska yang tadinya sedang dimabuk kepayang baru tersadar. Dengan wajah semerah tomat, ia mengambil ponselnya dari atas meja nakas dan mengangkat panggilan tersebut.
Awalnya, ekspresi Siska terlihat santai. Namun, hanya dalam hitungan detik, senyum di wajahnya sirna, digantikan oleh raut ketegangan yang sangat pekat. Di akhir panggilan, wajahnya sudah memucat pasi penuh kepanikan. Ia mematikan ponselnya dengan tangan bergetar, lalu menatap Banyu dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Itu tadi dari papaku... Katanya Melati jatuh sakit parah. Aku... aku sepertinya harus segera kembali ke Indonesia hari ini juga. Maaf, aku tidak bisa menemanimu sampai sembuh."
"Melati sakit?!" Banyu tersentak kaget. Rasa khawatir seketika menyergapnya. "Sakit apa? Apakah kondisinya kritis?!"
Siska menggelengkan kepalanya dengan tatapan putus asa. "Belum ada diagnosis pasti, sekarang dia sedang dirawat inap untuk observasi menyeluruh. Aku tidak bisa membuang waktu lagi, aku harus pulang sekarang juga! Aku mau pesan tiket pesawat sekarang!"
"Tunggu!" Banyu langsung menghentikan Siska yang sudah berbalik hendak pergi. "Aku ikut pulang bersamamu!"
"Tapi, lukamu..." Siska sangat ragu. Penerbangan lintas benua belasan jam sangat menguras fisik, ia takut jahitan Banyu akan robek dan kondisinya memburuk.
Banyu sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Ia langsung menyela bantahan Siska, "Fisikku sudah pulih, tidak ada masalah sama sekali! Kau cepat pesan tiketnya sekarang. Aku akan mencari Dr. Grant untuk memaksa minta dipulangkan, lalu mampir ke kantor polisi wilayah untuk melapor. Setelah itu kita langsung meluncur ke bandara!"
Banyu sangat menyayangi Melati gadis kecil yang pintar dan menggemaskan itu. Ia tak ingin hal buruk menimpa bocah malang tersebut. Melihat betapa paniknya Siska, penyakit Melati kali ini pasti bukan penyakit sembarangan. Itulah sebabnya Banyu ngotot ikut pulang. Andaikan penyakit Melati memang sangat aneh dan tak bisa ditangani medis, ia masih bisa diam-diam mencekokinya dengan Cairan Ajaib sebelum terlambat.
Siska langsung bergegas mengurus tiket, sementara Banyu berjalan mencari Dr. Grant untuk meminta izin pulang. Tentu saja, mendengar permintaan konyol itu, Dr. Grant langsung membeberkan segudang argumen medis untuk mencegahnya. Bayangkan, dari operasi pengangkatan dua peluru maut, baru berlalu belasan hari! Sekalipun kecepatan pemulihan Banyu sangat ajaib, ia masih sangat jauh dari standar aman untuk rawat jalan. Berdasarkan protokol penyembuhan yang disusun Dr. Grant, Banyu wajib dirawat inap minimal tiga minggu lagi.
Namun, Banyu sudah keras kepala. Ia sama sekali tidak memedulikan risiko luka dalam. Toh, ia hanya perlu menenggak Cairan Ajaib beberapa kali lagi, dan proses penyembuhannya dijamin bakal lebih cepat daripada diam membusuk di ranjang rumah sakit ini. Menghadapi keras kepalanya pasien aneh ini, Dr. Grant akhirnya menyerah dan menandatangani surat izin pulang paksa.
Keluar dari rumah sakit, Banyu langsung meluncur ke kantor polisi wilayah setempat untuk melapor bahwa ia akan kembali ke negara asalnya.
Tentu saja polisi Amerika bukan institusi bodoh. Dari hasil penyelidikan kasus penembakan brutal di jalan tol itu, sangat jelas bahwa target utama sindikat pembunuh adalah Pak Yapto Liem. Banyu hanyalah warga asing bernasib sial yang tak sengaja berada di kursi penumpang. Statusnya secara hukum tak lebih dari sekadar saksi mata sekunder. Lagipula, seluruh proses BAP dan interogasi sudah rampung. Oleh karena itu, pihak kepolisian dengan sangat cepat memberikan izin bagi Banyu untuk terbang meninggalkan Amerika.
Setelah keluar dari kantor polisi, Banyu tak lupa menelepon Jessica untuk berpamitan. Kebetulan sekali, Jessica juga sedang bersiap-siap terbang ke Eropa untuk tugas liputan perdananya dari redaksi, sehingga ia tak punya waktu luang untuk datang mengantar Banyu. Keduanya hanya bisa bertukar salam perpisahan singkat dan berjanji akan bertemu lagi di lain kesempatan, lalu panggilan pun diakhiri.
Banyu kembali ke rumah sakit secepat kilat untuk bergabung dengan Siska, bersiap meluncur ke bandara. Namun nasib buruk kembali menyapa; jadwal penerbangan reguler komersial rute Amerika-Indonesia sangatlah terbatas. Tiket paling cepat yang bisa Siska dapatkan ternyata baru akan terbang besok pagi! Keduanya yang sudah kalut dan ingin segera pulang langsung dilanda frustrasi berat.
Beruntung, Pak Yapto Liem datang bagai dewa penolong di saat yang tepat! Mengetahui masalah mereka, sang taipan tanpa ragu sedetik pun langsung meminjamkan jet pribadi Bombardier miliknya kepada Banyu! Pesawat eksekutif jarak jauh ini memiliki daya jelajah dan kecepatan jelajah yang mumpuni untuk penerbangan lintas benua. Satu jam kemudian, Banyu dan Siska sudah duduk nyaman di kabin jet mewah tersebut, memulai perjalanan panjang melintasi samudra menuju tanah air.
Di tengah perjalanan, jet Bombardier itu sempat mendarat transit di Hawaii untuk mengisi bahan bakar, lalu kembali melesat menembus awan langsung menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Saat jet itu perlahan menurunkan ketinggiannya dan hamparan gedung pencakar langit kota metropolitan mulai terlihat dari balik jendela, Banyu merenung dalam. Jika bukan karena pinjaman jet pribadi Pak Yapto Liem, ia dan Siska pasti masih luntang-lantung di bandara Amerika sekarang. Realitas ini menampar keras ego Banyu; ia menyadari bahwa selama ini visinya masih terlalu dangkal. Hanya karena bisnis sayurannya mencetak profit miliaran, ia sudah merasa cukup dan puas diri bagaikan katak dalam tempurung. Detik itu juga, duduk di kursi empuk pesawat miliaran rupiah milik orang lain, Banyu mematok ambisi baru dalam hidupnya: ia bertekad untuk mendaki puncak piramida dan menjadi konglomerat kelas dewa yang mampu mengendalikan dunia, selevel dengan Pak Yapto Liem atau Tuan Lin Zukang!
Jet pribadi itu mendarat dengan sangat mulus di landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Namun, tepat ketika Banyu melangkah keluar dari area kedatangan khusus VIP, langkahnya terhenti mendadak. Mulutnya ternganga, dan otaknya mendadak lumpuh tak bisa memproses kalimat apa pun.
Tepat di depannya, berdiri berdampingan dengan wajah penuh kecemasan... Laras dan Sonia sedang menunggunya!!