Alexander Kingsley pernah menjadi seluruh dunia bagi Aurora Quinn. Pria itu mencintainya tanpa syarat dan berjanji menjadikannya bagian dari masa depannya.
Namun tanpa peringatan, Aurora
menghancurkan semuanya. Ia berubah, menjauh, menyakiti Alexander, lalu pergi begitu saja. Sejak hari itu, Alexander membencinya.
Lima tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Namun Alexander yang dulu hangat telah menghilang, berganti menjadi CEO muda yang dingin, angkuh, dan tak tersentuh. Tatapan penuh cintanya kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian.
Sementara Aurora harus menghadapi pria yang tidak pernah tahu bahwa selama lima tahun ini, ia hidup dengan luka yang sama.
Ada rahasia dan kebenaran yang disembunyikan. Ada alasan mengapa Aurora memilih menjadi wanita paling jahat dalam kisah mereka.
"Jika suatu hari kau mengetahui alasan aku pergi, apakah kau masih sanggup membenciku, Alexander?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zanesa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Sampai detik ini, Aurora Quinn masih belum memercayai apa yang baru saja terjadi. Semuanya terasa begitu indah, semu, dan melambung tinggi seperti sebuah mimpi di siang bolong.
Baru beberapa menit yang lalu, ia mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya untuk mengakui perasaan yang selama ini dipendamnya sendiri. Dan sekarang... ia benar-benar sedang berjalan berdampingan dengan seorang Alexander Kingsley di sepanjang trotoar jalanan kampus, sembari membiarkan jemari tangannya bertautan erat di dalam genggaman pria itu.
Rasanya begitu hangat, nyaman, dan terus-menerus membuat debar di dalam dadanya bertingkah di luar kendali.
Aurora melirik ke bawah, menatap tangan mereka yang masih saling menggenggam satu sama lain, sebelum akhirnya buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain karena takut tertangkap basah.
Namun, pergerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Alexander yang sejak awal selalu jeli. "Kenapa? Kamu merasa malu ya berjalan bersamaku?" tanya Alexander menggoda sembari mengeratkan genggamannya.
Akibat pertanyaan spontan itu, langkah kaki Aurora mendadak goyah hingga ia hampir saja tersandung undakan jalan. "Nggak, kok! Siapa juga yang malu!" sangkal Aurora cepat dengan nada ketus yang dibuat-buat.
Alexander terkekeh pelan melihat kepanikan kekasih barunya. "Kamu sangat buruk dalam hal berbohong, Aurora," ujar Alexander meyakinkan.
"Aku nggak bohong, Alex," kilah Aurora lagi, masih mencoba mempertahankan harga dirinya.
Alexander justru tertawa lepas, menganggap respons defensif Aurora sebagai sesuatu yang sangat menggemaskan. "Iya, iya, terserah kamu saja," sahut Alexander mengalah sambil mengangguk-angguk pura-pura percaya.
Aurora mendengus kesal sembari memalingkan wajahnya yang kian memanas. "Pria ini benar-benar menyebalkan sekali," gumam Aurora dalam hati, meski ada secuil rasa bahagia yang membuncah di sana.
---
Langkah kaki mereka akhirnya berhenti tepat di depan gerbang gedung apartemen minimalis milik Aurora.
Biasanya, perjalanan dari kampus menuju ke kediamannya akan terasa cukup memakan waktu. Namun entah mengapa, hari ini perjalanan itu terasa berjalan jauh lebih singkat dari biasanya. Dan entah sejak kapan pula, di dalam sudut hatinya yang terdalam, Aurora menyadari bahwa ia masih belum ingin berpisah dengan pria di sampingnya ini.
Alexander tampaknya bisa merasakan gejolak emosi yang sama. Pria kasta atas itu berdiri bergeming di tempatnya dan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin segera berbalik pergi ke mobil mewahnya.
"Kamu tersenyum lagi," cetus Aurora tiba-tiba saat mendongak dan mendapati gurat kebahagiaan di wajah Alexander.
Alexander menatapnya lekat-lekat dengan binar jenaka. "Kamu juga sedang tersenyum saat ini, Aurora," balas Alexander membela diri.
Alexander terkekeh, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat. "Tentu saja aku punya alasan kuat untuk terus tersenyum hari ini," ujar Alexander misterius.
Aurora mengangkat sebelah alisnya dengan bingung. "Oh ya? Apa alasannya?" tanya Aurora penasaran.
Alexander menatap lurus tepat ke dalam manik mata Aurora, memberikan sebuah tatapan penuh kepemilikan yang mutlak. "Karena mulai detik ini, kamu sudah resmi menjadi pacarku," jawab Alexander gamblang tanpa ragu.
Deg.
Aurora langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dengan gerakan patah-patah, merasakan kedua belah pipinya mendadak memanas hebat seperti terbakar. "Jangan terus-menerus mengatakan hal seperti itu, Alex!" tegur Aurora setengah berbisik.
"Kenapa memangnya?" tanya Alexander memancing.
"Malu, tahu!" cicit Aurora pelan sembari menutup sebagian wajahnya dengan tas.
Alexander tertawa puas menyaksikan reaksi menggemaskan tersebut. Ternyata, membuat seorang Aurora Quinn yang biasanya dingin dan mandiri menjadi salah tingkah adalah sebuah pencapaian baru yang sangat menyenangkan baginya.
---
Tepat di saat Aurora membalikkan tubuhnya dan bersiap untuk melangkah masuk ke dalam lobi gedung, suara rendah Alexander tiba-tiba kembali memanggil namanya.
"Aurora," panggil Alexander dengan nada yang mendadak berubah dalam.
Aurora menghentikan langkahnya dan menolehkan kepala kembali ke belakang. "Hm? Ada apa lagi, Alex?" tanya Aurora menyahut.
Raut wajah Alexander perlahan berubah menjadi jauh lebih serius dan tenang, sebuah ekspresi yang tak pelak membuat Aurora ikut merasa tegang di tempatnya berdiri.
"Ada satu hal yang ingin aku janjikan kepadamu hari ini," ujar Alexander menatapnya penuh dengan keyakinan yang mendalam.
"Janji apa?" tanya Aurora lirih.
Alexander melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara mereka. "Aku berjanji bahwa aku akan selalu menjaga dirimu dengan baik," ucap Alexander dengan ketulusan yang kentara. "Aku akan selalu ada di sampingmu, tepat di setiap waktu di mana kamu membutuhkanku."
Jantung Aurora kembali berdegup dengan ritme yang menggila mendengar untaian kalimat itu.
Alexander belum selesai, ia melanjutkan kalimatnya dengan tatapan mata yang mengunci jiwa Aurora. "Dan aku bersumpah, aku tidak akan pernah membiarkanmu menyesali keputusanmu karena telah memilihku hari ini."
Mata Aurora perlahan terasa memanas dan berkaca-kaca menahan haru. Sudah lama sekali rasanya—sejak kepergian orang tuanya—tidak ada lagi satu pun manusia di dunia ini yang bersedia mengucapkan kata-kata perlindungan seindah dan setulus itu kepadanya.
Aurora mengulas sebuah senyuman yang teramat tulus dari lubuk hatinya. "Aku memercayaimu, Alex," balas Aurora lembut.
Dan mendengar jawaban itu, untuk pertama kalinya di dalam hidupnya yang bergelimang harta, Alexander Kingsley akhirnya merasakan bagaimana rasanya menjadi pria yang paling beruntung di atas muka bumi.
---
Keesokan paginya.
Gedung universitas Hudson University mendadak gempar. Suasana di setiap koridor dan ruang kelas terasa luar biasa bising oleh kasak-kusuk para mahasiswa.
Penyebabnya adalah karena salah satu akun gosip anonim kampus baru saja mengunggah sebuah foto candid yang menampilkan Alexander dan Aurora saat sedang berjalan bergandengan tangan dengan mesra kemarin sore. Unggahan foto itu semakin diperparah dengan sebuah tajuk berita berukuran besar:
"Alexander Kingsley Resmi Berkencan dengan Mahasiswi Penerima Beasiswa?"
Hanya dalam hitungan jam saja, foto tersebut telah menyebar luas layaknya virus ke seluruh penjuru kampus. Aurora yang baru saja tiba di area loker hampir saja pingsan di tempat karena syok saat melihat layar ponselnya sendiri.
"YA TUHAN! Bagaimana bisa ada yang memotret kejadian ini?" pekik Aurora panik dengan wajah pucat pasi.
Lily Parker yang berdiri di sampingnya justru tertawa terbahak-bahak sampai hampir kehabisan napas. "Selamat pagi, calon menantu dari keluarga konglomerat Kingsley!" goda Lily menyenggol bahu sahabatnya dengan riang.
Aurora buru-buru menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangan karena malu. "Aku rasanya mau menghilang saja dari bumi saat ini juga, Lily," keluh Aurora frustrasi.
"Sudah terlambat untuk kabur, Aurora. Namamu sudah telanjur viral di mana-mana," cibir Lily masih asyik menertawakan nasib sahabatnya.
---
Sementara itu, di sudut area kantin khusus fakultas bisnis.
Ryan Walker meletakkan ponsel pintarnya di atas meja kayu, tepat di hadapan Alexander yang sedang asyik membaca buku tabletnya. "Selamat, ya. Hubungan kalian akhirnya resmi go public," ujar Ryan membuka percakapan dengan nada menyindir.
Alexander melirik sekilas ke arah layar ponsel Ryan yang menampilkan fotonya bersama Aurora, lalu ia justru mengulas seulas senyuman santai tanpa beban. "Apa yang aneh?" tanya Alexander tenang.
"Kamu saat ini sudah resmi menjadi pusat berita utama di seluruh koridor kampus, Alex," jelas Ryan mengingatkan konsekuensinya.
Alexander hanya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh, sama sekali tidak peduli dengan opini publik. Karena untuk pertama kalinya dalam hidup, ia tidak keberatan jika seluruh dunia harus tahu bahwa seorang Aurora Quinn kini telah resmi menjadi miliknya.
---
Namun, kepuasan dan kebahagiaan yang dirasakan oleh Alexander berbanding terbalik dengan atmosfer mencekam di salah satu ruang kelas eksklusif.
Sophia Laurent menatap tajam ke arah layar ponselnya yang menampilkan foto mesra yang sama. Kedua belah tangannya mengepal begitu kuat hingga kuku-kuku jarinya yang terawat hampir saja melukai telapak tangannya sendiri. Wajah cantiknya kini tampak mengeras, dipenuhi oleh kobaran rasa amarah dan cemburu yang luar biasa hebat.
"Kau pasti sedang bercanda denganku..." desis Sophia dengan suara yang bergetar menahan amuk.
Teman satu gengnya yang duduk di sampingnya tampak memandang takut-takut dan gugup. "Sophia... kamu baik-baik saja?" tanya temannya berbisik lirih.
Sophia langsung bangkit berdiri dari kursinya dengan kasar. Tatapan matanya berubah menjadi luar biasa dingin dan menusuk. "Aku sudah menyukai dan mengejar Alexander selama dua tahun penuh!" bentak Sophia dengan suara tertahan.
Tidak pernah sekali pun, selama dua tahun itu, Alexander sudi menatap dirinya dengan cara lembut seperti cara pria itu memandang Aurora Quinn di dalam foto tersebut. Tidak pernah sama sekali. Dan kenyataan pahit itu adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa diterima oleh harga diri seorang Sophia Laurent.
"Aurora Quinn..." desis Sophia menyebut nama itu dengan nada penuh permusuhan.
Untuk pertama kalinya, nama Aurora terdengar seperti nama musuh bebuyutan di telinganya. Dan di dalam benak kepalanya yang dipenuhi rasa iri, Sophia mulai merencanakan sesuatu hal yang keji—sebuah rencana matang yang ia yakini akan mampu menghancurkan hubungan asmara mereka berdua hingga berkeping-keping.
---
Sementara itu, di tempat lain.
Aurora sama sekali tidak menyadari bahwa kebahagiaan baru yang baru saja ia dekap dengan erat, dalam waktu dekat akan segera diuji oleh badai yang sesungguhnya.
Sebab, dunia luar yang melingkupi seorang Alexander Kingsley jauh lebih rumit, kelam, dan berbahaya daripada apa yang pernah ia bayangkan di dalam kepalanya selama ini. Dan saat ini, seseorang yang dipenuhi dendam sudah mulai bersiap untuk menghancurkan segalanya.