Arka selalu mengira air mata adalah tanda kelemahan—sampai dia menyadari air matanya bisa membuka pintu menuju masa lalu.
Setiap kali kesedihannya mencapai titik paling dalam, dunia di sekelilingnya luntur, dan ketika dia membuka mata lagi, dia sudah berada di hari yang berbeda—hari-hari sebelum ibunya tiada. Bagi Arka, ini adalah keajaiban yang selama ini dia doakan: kesempatan untuk mengubah segalanya, untuk membuat ibunya tetap hidup.
Tapi waktu tidak memberi tanpa mengambil.
Setiap kali Arka mengubah satu detik di masa lalu, satu orang dari masa depannya menghilang—bukan mati, tapi terhapus, seolah tak pernah ada. Sahabat yang selalu ada untuknya. Seseorang yang dia cintai. Bahkan dirinya sendiri, versi demi versi, mulai memudar dari dunia yang dia kenal.
Arka harus memilih: berhenti sekarang dan menerima kehilangan yang sudah terjadi, atau terus melangkah lebih jauh ke masa lalu—mempertaruhkan semua yang tersisa—demi satu pelukan terakhir dari ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyouketsu no Namie , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Yang Ditinggalkan dan yang Tertinggal
Operasi ibu Arka berjalan lancar pagi itu. Dokter mengatakan pemulihannya akan memakan waktu, tapi prognosisnya baik—jauh lebih baik dari yang dikhawatirkan malam sebelumnya.
Arka menghabiskan beberapa hari berikutnya bergantian menjaga di rumah sakit dengan ayahnya. Di antara waktu-waktu itu, dia mulai berbicara lebih banyak dengan ayahnya—percakapan-percakapan yang, di dunia lama, tidak pernah terjadi karena ayahnya terlalu hancur untuk bicara, dan Arka terlalu marah untuk mendengarkan.
Tapi di dunia ini, ayahnya adalah pria yang berbeda—pria yang masih punya istrinya, yang masih punya alasan untuk tetap utuh.
"Kamu tau," kata ayahnya suatu sore, saat mereka duduk berdua di kantin rumah sakit, "Mama selalu cerita ke aku, soal hari itu—hari pas kamu kecil banget, waktu kamu tiba-tiba jadi aneh banget seharian. Tau-tau meluk dia, nangis, minta maaf buat hal-hal yang nggak pernah kamu lakuin."
Arka mendongak, jantungnya berdebar. "Mama... masih inget itu?"
"Inget banget. Dia bilang itu salah satu hari yang paling dia ingat sepanjang hidupnya. Katanya, hari itu dia ngerasa—buat pertama kalinya—kalau kamu beneran 'lihat' dia. Bukan cuma sebagai mama yang masak, nyuci, ngomelin. Tapi sebagai... orang. Manusia yang punya perasaan."
Arka menatap kopi di tangannya, tidak sanggup berkata apa-apa.
"Dia simpen itu," lanjut ayahnya, "sebagai salah satu kenangan favoritnya. Katanya, kadang kalo lagi capek banget, dia mikirin hari itu, dan ngerasa lebih kuat lagi."
Arka merasakan air mata yang sudah lama tidak dia tangisi—bukan air mata sedih, tapi air mata yang datang dari sesuatu yang terlalu besar untuk ditahan: pengertian bahwa momen yang dia ciptakan, momen yang awalnya hanya tentang dirinya sendiri—rasa bersalahnya, kebutuhannya untuk minta maaf—ternyata memberi sesuatu pada ibunya juga. Sesuatu yang nyata, yang bertahan, yang menjadi sumber kekuatan bagi orang lain.
Mungkin, pikir Arka, itu juga bagian dari "pertukaran" yang nggak pernah aku sadari. Nggak semua yang aku berikan diambil dari orang lain. Beberapa hal... beberapa hal cuma diberikan, tanpa harus ditukar.
Seminggu kemudian, ibu Arka dipindahkan dari ICU ke ruang perawatan biasa. Saat Arka mengunjunginya, dia terlihat lebih lemah dari yang Arka ingat dari kunjungan pertamanya beberapa minggu lalu—tapi matanya tetap sama, penuh kehangatan yang sama.
"Arka," kata ibunya, suaranya lemah tapi penuh senyum. "Ayah bilang kamu hampir nggak pulang dari sini selama seminggu ini."
"Aku khawatir, Ma," kata Arka, duduk di tepi ranjang.
Ibunya menggenggam tangan Arka—genggaman yang lebih lemah dari yang dia ingat, tapi tetap hangat.
"Kamu tau," kata ibunya, "Mama udah hidup lebih lama dari yang Mama kira bakal Mama hidup."
Kalimat itu membuat Arka membeku. "Maksud Mama?"
Ibunya menatap langit-langit, matanya menerawang, seperti mengingat sesuatu dari jauh.
"Pas kamu kecil—mungkin kamu nggak ingat ini—tapi ada satu hari, waktu kamu masih kecil banget, Mama sempet ngerasa... ngerasa kayak hampir kehilangan sesuatu. Mama nggak bisa jelasin gimana. Tapi dari hari itu, Mama selalu ngerasa kayak... kayak Mama dapet 'tambahan waktu' yang nggak seharusnya Mama punya. Aneh, ya?"
Arka menatap ibunya, tidak bisa berkata apa-apa. Apakah ibunya—di dalam dirinya, di tempat yang tidak bisa dijelaskan secara logis—merasakan sesuatu? Gema dari dunia lain, dari kehidupan yang seharusnya berakhir tujuh belas tahun lalu?
"Mama," kata Arka, suaranya bergetar, "kalau... kalau Mama emang dapet 'tambahan waktu'... Mama bersyukur, nggak? Walaupun itu aneh?"
Ibunya menoleh, menatap Arka dengan senyum yang penuh kasih sayang—senyum yang sama, yang selalu sama, di setiap dunia yang Arka kenal.
"Tentu aja, sayang. Setiap hari tambahan itu, Mama bisa liat kamu tumbuh. Bisa liat kamu jadi orang dewasa yang—" ibunya berhenti, menatap Arka lebih dalam, "—yang punya hati yang besar banget. Kamu tau itu? Kamu salah satu orang paling penyayang yang Mama kenal, Arka. Dan Mama bersyukur banget bisa ngeliat itu."
Arka tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia menggenggam tangan ibunya dengan kedua tangannya, menundukkan kepala.
"Makasih, Ma," bisiknya. "Makasih buat... buat semuanya."
Malam itu, sepulang dari rumah sakit, Arka berdiri di balkon apartemennya, menatap kota yang sama—lampu-lampu yang berkilau, hujan yang sudah berhenti, menyisakan udara yang segar dan dingin.
Dia memikirkan kata-kata ibunya. "Tambahan waktu yang nggak seharusnya Mama punya."
Mungkin, pikir Arka, ibunya tahu—dalam cara yang tidak bisa dijelaskan, dalam cara yang melampaui logika—bahwa waktu yang dia jalani sekarang adalah hadiah. Dan mungkin, justru karena itu, ibunya menjalani setiap harinya dengan penghargaan yang lebih dalam.
Mungkin itulah jawabannya, pikir Arka. Bukan tentang berapa lama seseorang hidup. Tapi tentang bagaimana mereka menjalani waktu yang mereka punya—berapa pun itu.
Dia menatap ponselnya, membuka chat dengan Nadia.
"Nad, makasih ya. Buat semuanya. Buat nungguin aku, buat percaya sama aku, walaupun aku sering aneh."
Balasan datang cepat, disertai emoji hati.
"Aneh itu bagian dari kamu yang aku sayang, Arka. Selamat malam."
Arka tersenyum, menyimpan ponselnya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya—dalam dunia mana pun—dia merasa benar-benar, sepenuhnya, cukup.