NovelToon NovelToon
Istriku Memiliki Dua Wajah

Istriku Memiliki Dua Wajah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:238
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Arka tidak pernah menyangka pernikahannya akan runtuh karena sebuah ponsel tersembunyi.
Istrinya yang lembut dan sempurna ternyata menyimpan kehidupan lain yang tidak pernah ia ketahui.
Chat tengah malam. Nama asing. Dan kebohongan kecil yang perlahan berubah menjadi mimpi buruk.
Namun semakin Arka mencari kebenaran… semakin ia sadar bahwa semua orang di sekitarnya menyimpan rahasia.
Karena terkadang— orang yang tidur di sampingmu belum tentu orang yang benar-benar kamu kenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

BAB 18: LOGIKA YANG RUSAK

"Di dunia kebohongan, waktu bukan lagi ukuran yang jujur, fakta bukan lagi bukti yang sah, dan kebenaran hanyalah apa yang diucapkan oleh penguasa. Di sanalah logika menjadi bengkok, rusak, dan tak lagi bisa berjalan lurus—karena semua aturan telah ditulis ulang oleh mereka yang memegang kendali."

Arka bersandar kembali pada batang pohon cemara yang dingin, napasnya panjang dan berat seolah ia baru saja memikul beban berton-ton. Matanya masih menatap jendela yang tertutup tirai rapat itu, namun pikirannya kini berputar kencang, menyusun, membandingkan, dan mempertanyakan segala hal yang pernah ia ketahui selama dua tahun ini. Di sampingnya, Detektif Daniel Sihombing diam saja, memberinya ruang untuk merenung, tahu betul bahwa saat ini Arka sedang berjuang bukan hanya melawan musuh di dalam sana, tapi melawan kekacauan di dalam kepalanya sendiri.

Semua yang dilihat, didengar, dan dibacanya mulai menyatu menjadi satu gambaran besar. Namun semakin ia melihat gambaran itu, semakin ia sadar ada sesuatu yang salah. Ada sesuatu yang ganjil. Ada celah-celah yang tak bisa ditutup, benang-benang yang kusut yang tak bisa disambungkan dengan akal sehat.

Sesuatu yang selama ini ia telan mentah-mentah, ternyata tidak masuk akal sama sekali.

"Pak Daniel..." bisik Arka pelan, suaranya bergetar karena kebingungan yang mendalam. "Ada yang salah. Ada yang sangat salah di sini. Semua cerita mereka, semua alasan Elena... semuanya terasa benar saat diucapkan. Tapi begitu dikumpulkan jadi satu... logikanya rusak. Runtuh sama sekali."

Daniel menoleh, menatap Arka dengan pandangan penuh pengertian. Ia sudah menunggu momen ini. Momen di mana korban akhirnya sadar bahwa ia telah hidup dalam sistem yang dibangun di atas ketidaklogisan.

"Ceritakan apa yang Bapak rasakan, Pak. Mari kita bedah satu per satu. Di sini, di luar sana, kita cari kebenaran dengan akal sehat. Di dalam sana, aturannya berbeda."

Arka mengangguk pelan, lalu mulai berbicara, merunut kembali ingatannya dengan tajam dan teliti.

"Waktu pertama kali kita bertemu, di pameran seni itu. Elena bilang dia tinggal sendiri di Jakarta sudah tiga tahun. Bilang orang tuanya sudah meninggal lama, di Surabaya, karena sakit. Bilang dia tidak punya saudara dekat, cuma bibi jauh yang jarang bertemu."

Arka berhenti sejenak, menunjuk ke arah vila di depannya.

"Tapi Pak Daniel bilang... kebakaran itu baru terjadi lima tahun lalu. Kalau saat kita bertemu dia sudah ditinggalkan orang tua 'lama', lalu siapa yang mati lima tahun lalu? Kenapa ada dua versi kematian keluarga? Kenapa waktunya tidak pernah pas? Kalau dia jadi Elena sejak kebakaran, berarti saat kita bertemu dia baru saja menjadi Elena dua tahun. Tapi dia bercerita seolah-olah dia sudah menjadi Elena seumur hidupnya."

"Itu jebakan pertama," sahut Daniel tenang. "Mereka memutarbalikkan waktu. Mereka mengubah skala masa lalu agar tidak ada yang bisa memverifikasi. Elena yang Bapak kenal adalah sosok yang diciptakan ulang. Masa lalunya dijahit dari potongan-potongan cerita, ada yang benar, ada yang bohong, ada yang dipendekkan, ada yang dipanjangkan. Tujuannya: agar tidak ada garis waktu yang lurus. Agar akal sehat Bapak bingung dan akhirnya percaya saja apa yang dia katakan."

Arka menggelengkan kepalanya tak percaya.

"Ada lagi. Banyak lagi. Elena sering pergi dinas luar kota. Bilang dua hari, tiga hari, seminggu. Tapi Pak Daniel... pernah ada satu kali dia pergi lima hari ke Surabaya. Bilang urusan kantor. Tapi saat aku cek ke kantornya saat dia pulang... bosnya bilang tidak ada perjalanan dinas sama sekali bulan itu. Saat kutanya Elena, dia marah, bilang aku tidak percaya, bilang bosnya yang lupa. Aku percaya waktu itu. Tapi sekarang aku sadar... dia pergi ke sini. Ke Bandung. Ke Adrian."

"Dan logika rusak itu bekerja," sambung Daniel. "Bapak memilih percaya istrinya daripada bukti nyata. Karena di dunia yang dia bangun, kata-katanya adalah hukum. Fakta luar dianggap salah, ingatan Bapak dianggap salah, logika Bapak dianggap salah kalau bertentangan dengan apa yang dia ucapkan."

Arka menarik napas panjang, kepalanya pening.

"Ada hal lain yang lebih gila. Dia sering sekali mengeluh tidak enak badan, sakit kepala, pusing, bilang darah rendah. Tapi setiap kali dia mau pergi bertemu Adrian, dia segar bugar sekali. Dan anehnya... dia selalu tahu jam berapa aku akan pulang. Selalu tahu jam berapa aku ada rapat. Selalu tahu kapan aku sibuk. Dia selalu punya alasan untuk pergi tepat di saat aku tidak bisa menemaninya. Dulu aku pikir itu kebetulan. Dulu aku pikir dia punya insting istri yang kuat."

Arka menatap Daniel dengan mata yang menyala marah.

"Itu bukan insting, Pak Daniel. Itu jadwal. Dia yang mengatur jadwal hidupku sedemikian rupa agar pas dengan jadwal pertemuannya. Dia bertanya tentang pekerjaanku bukan karena peduli, tapi untuk memastikan aku tidak akan pulang tiba-tiba dan memergokinya. Dia membuatku percaya bahwa waktu adalah musuh kita, padahal waktu adalah sekutunya."

"Logika yang rusak, Pak Arka," Daniel menegaskan. "Di dalam rumah tangga kalian, Bapak hidup dalam waktu yang berbeda. Waktu Bapak berjalan lurus dari pagi ke malam. Tapi waktunya dia berjalan melingkar, bolak-balik antara Elena dan Claire. Dia membuat Bapak merasa hari-hari biasa, padahal baginya setiap hari adalah pertunjukan baru."

Arka teringat kembali percakapan tanpa suara tadi. Tatapan mata Claire yang penuh ketakutan dan permohonan maaf.

"Dan soal identitas..." Arka melanjutkan, suaranya makin tajam. "Dia bilang dia Elena Wijaya. Punya akta lahir, punya kartu keluarga, punya paspor. Semua sah. Tapi Pak Daniel bilang jenazah Elena asli ditemukan tanpa jari manis kanan. Dan istriku... istriku punya jari itu. Tapi dia tidak punya bekas luka operasi usus buntu, padahal Elena asli pernah dioperasi sewaktu kecil, ada bekas jahitan besar. Dulu aku pernah tanya soal itu. Dia bilang bekasnya hilang karena dioles krim pemudar. Aku percaya! Aku percaya bekas jahitan bedah besar bisa hilang total!"

Arka tertawa getir, tertawa atas kebodohannya sendiri yang begitu luar biasa.

"Logikanya rusak di sana. Aku tahu bekas luka bedah besar tidak bisa hilang begitu saja. Aku tahu itu. Tapi karena dia bilang bisa, karena dia meyakinkan dengan manja, dengan marah, dengan air mata... aku memaksakan logikaku untuk ikut miliknya. Aku mengubah fakta agar sesuai dengan kata-katanya, bukannya sebaliknya."

Daniel meletakkan tangan berat di bahu Arka, memberinya kekuatan.

"Itulah senjata terbesar mereka, Pak Arka. Kebohongan besar saja tidak cukup. Mereka harus merusak cara berpikir korban. Mereka harus membuat Bapak meragukan ingatan sendiri, meragukan mata sendiri, meragukan akal sehat sendiri. Sampai akhirnya, Bapak lebih percaya apa yang dia katakan daripada apa yang Bapak lihat dan rasakan sendiri."

Arka menunduk, menatap tanah yang basah. Semua hal kecil yang dulu dianggap remeh kini menjadi bukti kejahatan yang besar.

"Dia bilang dia tidak bisa bahasa Sunda. Tapi aku dengar dia bilang 'matur nuwun' ke tukang parkir sekali. Dia bilang dia benci tembakau, tapi bau badan sering ada bau cerutu. Dia bilang dia anak tunggal, tapi pernah mimpi ngomong 'Kak Hendra'. Semuanya tidak nyambung. Semuanya retak. Tapi aku menambal retakan itu dengan cinta. Aku pikir cinta bisa menambal logika yang rusak."

Arka mengangkat wajahnya kembali, menatap vila itu dengan pandangan yang kini jernih dan tajam, bebas dari kabut kebohongan.

"Tapi malam ini logika itu kembali utuh, Pak Daniel. Aku sudah merangkai kembali semuanya. Waktu yang tidak pas, fakta yang berlawanan, bukti yang saling membatalkan... semuanya mengarah ke satu kesimpulan: Wanita di dalam sana itu adalah penipuan berjalan. Segala sesuatu tentangnya adalah rekayasa. Dan aku... aku adalah orang bodoh yang hidup di dalam sistem yang dibangun untuk menghancurkanku."

"Tepat sekali," Daniel mengangguk puas. "Dan sekarang, Bapak punya keuntungan besar. Mereka mengira Bapak masih hidup dalam logika yang rusak itu. Mereka mengira Bapak masih percaya omongan manis. Mereka mengira Bapak masih bisa dibohongi dengan air mata dan janji palsu."

Detektif itu tersenyum miring, senyum seorang pemburu yang kini memegang kendali.

"Mereka tidak tahu, bahwa malam ini... Bapak sudah keluar dari lingkaran gila itu. Bapak sudah membawa kembali akal sehat Bapak. Dan dengan akal sehat itulah, kita akan bongkar semuanya sampai ke akar-akarnya."

Arka meremas tangannya kuat-kuat. Rasa sakit yang dulu ada di dadanya telah berubah menjadi ketajaman yang dingin.

Di dalam sana, Adrian dan Claire mungkin sedang tertawa, sedang menyusun rencana pembunuhan yang sempurna menurut logika mereka yang bengkok. Mereka berpikir mereka menguasai waktu, menguasai fakta, menguasai hidup Arka.

Tapi mereka lupa satu hal penting:

Kebenaran itu lurus. Logika itu teguh. Dan sekeras apa pun mereka mencoba memelintirnya, merusaknya, atau memutarbalikkannya... pada akhirnya, kebenaran akan kembali ke jalurnya. Dan mereka yang hidup dalam kebohongan... akan tersandung oleh benang yang mereka tenun sendiri.

"Malam ini, Pak Daniel," ucap Arka tegas. "Kita akan masuk ke sana. Dan kita akan perbaiki logika yang rusak itu. Kita akan buat mereka sadar... bahwa dunia ini tidak berputar mengikuti kata-kata mereka. Bahwa ada keadilan yang lebih tinggi dari kekuasaan dan uang mereka."

Angin malam kembali berhembus, kali ini terasa lebih segar, seolah membawa aroma keadilan yang mulai mendekat.

Di balik tembok tinggi itu, permainan mereka hampir selesai.

Di luar sini, Arka baru saja memulai permainannya.

Permainan di mana aturannya adalah kebenaran.

Dan di mana kebohongan tidak punya tempat untuk bersembunyi.

— BERSAMBUNG.......

1
Key Kastara
✨🔥😍
MayAyunda
bagus👍
Ana Dww
aku tertarikkk
sena himura: iya,kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!