Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. CALON NYONYA HERMAWAN
"Welcome back, Erina!"
Hampir seluruh staf dan karyawan dari berbagai divisi di PT. Dasim Sakti berkumpul di area depan gudang dan menyambut meriah kemunculan kembali Erina--dua minggu setelah ia menjalani operasi pengangkatan tumor otak di rumah sakit.
"Kalian..."
Erina menutup mulut dengan kedua tangannya, terharu dan tertawa saat rekan-rekan kerjanya heboh meniup terompet dan membawa tumpeng besar lengkap dengan lauk pauk, dan tulisan: "Selamat, Anda kembali jadi budak korporat yang nggak kaya-kaya--sehat-sehat terus yaa, Bu Janda!"
"Anak cantik Mamiii!" Winnie memeluk Erina erat. "Senang akhirnya kamu bisa kembali... habis ini semakin kuat dan sehat yaa, Sayang! Jangan sakit-sakit lagi!"
"Aamiin," Erina tersenyum seraya menyeka sudut matanya yang basah. "Maaf ya ngerepotin Mami... dua minggu ini pasti Mami capek banget karena harus handle kerjaan aku juga..."
"Ah, enggak, kok," Winnie menggeleng. "Bukan Mami yang handle kerjaan kamu, Sayang..."
Erina mengerjap.
"Terus siapa? Nggak mungkin Sarli atau Bonita, kan... masa Harum?"
"Bukan aku juga... kalau aku ngurus kerjaanmu, nggak bakal gajian anak-anak segudang ini ntar," tukas Harum seraya tertawa.
"Terus siapa...?" Erina menekap mulutnya, ngeri. "Jadi nggak ada yang ngerjain? Kerjaanku selama dua minggu belakangan numpuk di meja?!"
"Calm down," kata Harum menenangkan. "Pak Alvin sempat rekrut karyawan baru--namanya Christina. Dia yang gantiin kamu selama nggak masuk karena sakit, Rin..."
"Oooh," Erina mengangguk, diam-diam lega tak perlu menuntaskan pekerjaan yang dikiranya menumpuk sampai menyaingi ketinggian Gunung Himalaya. "Mana dia...?"
Erina seketika celingukan--mencari seraut wajah baru di antara paras-paras yang sudah lama dikenalnya.
"Izin nggak masuk hari ini, katanya muntaber," kata Harum seraya menggulir ponselnya.
Erina meringis. "Mudah-mudahan bukan karena dia stress handle kerjaanku selama dua minggu terakhir ini..."
"Nggak lah. Kerjaanmu udah nggak seberat itu sekarang, Rin. Pak Alvin udah membuat dan menerapkan sistem baru, jadi kita para salesman yang input orderan customer kita lewat aplikasi khusus di ponsel dan bakal langsung diproses anak gudang. Nggak lewat kamu lagi. Tugasmu sekarang cuma print pre-invoice order, dan handle direct call," terang Wawan, salah satu salesman bertubuh tinggi besar dan berambut cepak seperti landak sambil mengambil sepiring nasi tumpeng dan lauk yang sudah dipotong dan dibagi-bagikan Winnie.
"Oooh," gumam Erina. Diam-diam ia juga mengedarkan pandang untuk mencari sosok Alvin yang jangkung dan menawan di antara para karyawan--tetapi nihil.
Sebersit rasa kecewa menghinggapi batin Erina.
"Cyiiin, kalau kamu butuh referensi wig bagus dari akika, bilang yaa!" Bonita tiba-tiba menjawil lengan Erina dan mengedip dengan gaya centil--pagi itu ia memakai wig merah ikal panjang. "Welcome to Bonita Club--Botak Genit Manjalita Club!"
Semua yang mendengar tertawa geli, termasuk Erina sendiri. Kepala Erina memang selicin bola lampu neon sekarang sejak rambutnya dicukur habis pada saat prosedur operasi pengangkatan tumor otak. Tetapi ia tak pernah terpikir mengenakan wig seperti Bonita--ia menutupinya dengan scarf atau topi kupluk rajut.
"Nggak masalah Rina botak--tetap cantik kok," Gery, salah satu staf gudang berperawakan kecil dan pendek dan berkulit sawo matang--mirip Ucok Baba, tersenyum lebar sambil menengadah dan menatap Erina dengan ekspresi memuja.
"Sudahlah, Chocolatos, menyerah saja. Apalagi sejak Pak Alvin dan Pak Derek terang-terangan memperebutkannya seperti waktu itu--kita-kita yang remahan rengginang ini sudah nggak ada harapan!" tukas Salman, staf gudang lain yang penampilannya seperti penyanyi reggae, lengkap dengan rambut gimbal panjang yang khas.
"Jelas tak ada harapan--kau tak pernah keramas. Ketularan lah kita sama aura gembel kau itu!" tuding Asrul, staf pengiriman bertubuh perkasa dengan logat Sumatra Utara-nya yang kental.
Semua orang terbahak.
"Rosalinda ay amor!"
Tawa semua orang seketika terhenti ketika Derek menuruni tangga dari lantai dua dengan suara berdebum berat, wajah bundarnya sumringah.
"Rosalinda, akhirnya kamu kembali! Sudah sehat betul, kan? Suram rasanya gudang ini tanpa pancaran kecantikanmu--"
"Saya sehat, Pak. Maaf saya harus mulai bekerja sekarang... ada suara telepon masuk di meja saya. Pasti customer itu. Permisi!"
Erina bergegas mengambil jurus kaki seribu dan melesat menuju ruangan Divisi Marketing lewat tangga yang lain.
"Lah, suara telepon apanya? Memang suara telepon dari ujung lantai dua itu bisa kedengaran sampai sini? Kalian ada yang dengar?" tanya Derek terheran-heran.
"Iya kedengaran kok Pak," sahut Harum sambil memaksakan senyum, lantas memandang rekan-rekan kerjanya penuh arti. "Sudah waktunya kerja, kawan-kawan. Bubar!"
"Ya... ya," gumam para karyawan sambil berjalan ogah-ogahan menuju pos masing-masing.
"Wahahaha, rajin sekali anak-anak buahku--bagus! Bekerja keraslah supaya bosmu ini semakin tajir--hahaha!" Derek tergelak sampai perut buncitnya berguncang naik turun, lalu berjalan menuju gudang belakang dengan riang.
Sisa pagi itu berjalan tenang dan tanpa hambatan berarti. Bahkan bagi Erina, terlalu sunyi dan tenang, apalagi work load alias beban kerjanya sudah berkurang drastis, dan atasan yang diam-diam dirindukan tak muncul untuk bekerja hari itu.
"Pak Alvin lagi cuti umroh... kamu nggak tahu? Kirain kamu dipamiti sama dia."
Harum menjawab pertanyaan Erina mengenai absennya Alvin saat mereka istirahat makan siang di pantry. Tatapan Harum entah mengapa juga berubah tajam menusuk.
"Aku benar-benar nggak tahu," gumam Erina. "Lagian ngapain juga Pak Alvin pamit ke aku...?"
"Yah, dia kan naksir kamu...," Harum membuang napas dengan muram. "Udah nggak ada harapan lagi aku sekarang... tapi aneh juga, kok kamu nggak dipamiti, ya? Kalian bertengkar?"
Wajah Erina seketika memerah.
"Kamu ngomong apa sih, Rum? Asbun bener deh..."
"Sekalinya aku ngomong bener, malah dikatain asbun... otakmu ditumbuhi jamur apa gimana sekarang, heh?" omel Harum sambil mendelik sebal.
"Gak jelas kamu," gerutu Erina, terus berusaha menyembunyikan perasaannya dan detak jantung yang meningkat.
"Perlu kuperjelas dari sisi mana, calon Nyonya Hermawan?" Harum menggeram seperti kucing rebutan ikan pindang. "Pak Alvin bolak-balik menjenguk dan menungguimu di rumah sakit. Mengurus anak-anakmu. Bahkan menanggung semua biaya pengobatanmu yang setara harga mobilnya itu..."
Erina tersedak teh hangatnya.
"Apa?! Bukannya pengobatanku ditanggung asuransi...?"
"Asuransi kantor plafonnya terbatas--mana bisa menalangi sampai ratusan juta rupiah? Kalau pakai asuransi dari pemerintah, kamu mana mungkin ditangani dan pulih secepat ini... kudu antri, nunggu jadwal, dan lain-lain. Pelayanan sat-set dan tim dokter ahli terbaik yang menanganimu itu cuma bisa terjadi kalau dibayar mandiri, Nyonya!"
Erina hampir goyah di tempat duduknya, saking terguncang saat meresapi fakta baru yang sama sekali tak terpikirkan olehnya.
"Dan kalau bukan karena cinta, kenapa calon suamimu rela menggelontorkan dana pribadi sebesar itu? Coba jawab pakai otak sehatmu--tanpa tumor atau jamur!" cerocos Harum pedas.
Erina hanya bisa terpana tanpa kata. Hatinya tiba-tiba bergetar luar biasa.
Alvin... sungguhkah kamu...
Sisa hari itu berubah jadi kacau bagi Erina dan otaknya yang dituduh Harum kini berjamur. Ia tak bisa berhenti memikirkan tindakan Alvin, yang seperti kata Harum, hanya akan masuk akal jika Alvin memang memiliki perasaan mendalam padanya...
Entah karena mendadak overthinking atau efek pasca-operasi besar, kepala Erina kembali terasa pening dan ia jadi sulit berkonsentrasi pada pekerjaan. Tugasnya yang sebenarnya mudah dan tak begitu banyak jadi sangat lambat diselesaikannya, bahkan belum tuntas semua saat bel berbunyi tepat pukul lima sore.
"Ayo pulang, Rin! Kerjaan sambung lagi besok! Sebagai HRD, aku melarangmu lembur! Jangan sampai kamu tumbang dan masuk rumah sakit lagi gara-gara kecapekan! Kuantar kamu pulang pakai mobilku--jangan membantah! Atau gajimu kupotong!"
Harum menghampiri Erina di mejanya dan merepet seperti bos galak.
"Iya deh iya...," Erina mengalah.
Kepala Erina masih pusing dan seakan berkabut saat ia turun dari mobil Harum di depan gang rumahnya. Ia hampir tak mendengar sapaan tetangga ketika berjalan menuju kontrakannya, dan tak menyadari hanya ada Nala di rumah yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian di kamarnya--Saga belum pulang.
Bahkan setelah jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam, Erina masih tak sadar putra sulungnya tak kunjung pulang, sampai Nala yang sebelum tidur biasanya mengucapkan selamat tidur pada ibu dan kakaknya berkata, "Mama. Mana Kakak?"
Erina seketika dihinggapi rasa terkejut dan panik.
Saga... kenapa belum pulang juga?
***