NovelToon NovelToon
GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: lestari visa

GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)

"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔

Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔

Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥

📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Percakapan di Balik Senyum Palsu

Suasana di dalam ruangan pesta masih tetap meriah dan penuh kegembiraan, namun bagi Aditya dan Luna, setiap detik yang berlalu terasa begitu berat dan menegangkan. Kata-kata Clarissa Tanudjaya yang penuh teka-teki dan tatapan tajamnya yang seolah bisa menembus rahasia terdalam mereka masih terus berputar di dalam pikiran kedua kekasih itu. Mereka sadar sepenuhnya bahwa kehadiran mereka di sana tidak lagi sepenuhnya aman dan tersembunyi, karena mereka telah menarik perhatian salah satu orang paling cerdas dan tajam di keluarga Tanudjaya.

Aditya terus menggandeng tangan Luna dengan erat, membimbing gadis itu berjalan mengelilingi ruangan sambil sesekali menyapa tamu-tamu penting lainnya dengan sikap yang sopan, tenang, namun tetap penuh kewaspadaan. Ia terus memindai sekeliling ruangan dengan pandangannya yang tajam dan waspada, memperhatikan setiap gerak-gerik orang-orang yang ada di sana, terutama pergerakan ketiga pemimpin keluarga Tanudjaya yang menjadi pusat perhatian semua orang.

"Tenang saja, Sayang. Jangan terlalu terlihat cemas atau gelisah. Kita harus bersikap seolah tidak ada yang terjadi dan semuanya berjalan seperti biasa," bisik Aditya pelan di samping telinga Luna, berusaha menenangkan hati dan pikiran kekasihnya yang masih terasa gugup dan takut.

Luna mengangguk pelan, berusaha sekuat tenaga untuk menampilkan senyum yang tenang dan anggun, meskipun jantungnya masih berdegup kencang dan rasa cemas masih terus menyelimuti hatinya. Ia tahu, ia harus bisa mengendalikan diri sebaik mungkin dan tidak boleh melakukan kesalahan sedikit pun yang bisa membongkar rahasia besar mereka.

Namun, seolah takdir memang terus mempertemukan mereka, tiba-tiba saja Julian Tanudjaya berjalan menghampiri mereka berdua dengan senyum manis yang selalu terukir indah di bibirnya. Pria itu berjalan dengan santai dan penuh percaya diri, seolah ia sedang tidak memiliki beban atau kekhawatiran apa pun di dunia ini.

"Wah, ternyata kalian ada di sini rupanya. Saya pikir kalian sudah pergi meninggalkan pesta ini karena terkejut mendengar ucapan Clarissa yang memang seringkali terdengar aneh dan sulit dimengerti itu," ucap Julian dengan nada yang santai dan penuh keramahan, namun matanya yang tajam terus menatap wajah Luna dengan pandangan yang menyelidik dan penuh rasa ingin tahu.

Aditya tersenyum tipis, senyum yang sopan namun terasa dingin dan berjarak, lalu menjawab dengan nada yang tenang dan terukur. "Tentu saja tidak, Tuan Julian. Kami merasa sangat nyaman dan senang berada di sini. Ucapan Nona Clarissa tadi memang agak mengejutkan, tapi kami mengerti bahwa beliau hanya sekadar berandai-andai saja seperti yang dikatakan oleh Tuan Reynold."

Julian tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah dan menyenangkan, namun bagi Aditya dan Luna, tawa itu terdengar penuh dengan makna tersirat dan kelicikan yang tersembunyi.

"Memang begitulah Clarissa. Dia adalah wanita yang sangat cerdas dan tajam, tapi sayangnya pikirannya seringkali melayang ke mana-mana dan seringkali bicara hal-hal yang sulit dimengerti. Tapi jujur saja, saya juga merasa penasaran dengan hal yang sama, lho... Nona Luna, kamu tahu tidak? Wajahmu benar-benar memiliki ciri-ciri yang sangat khas, dan entah kenapa setiap kali saya menatap matamu, saya merasa seolah saya sedang melihat sosok wanita lain yang pernah saya kenal bertahun-tahun yang lalu..."

Darah Luna seketika berdesir hebat mendengar ucapan Julian itu. Ia menatap pria di hadapannya itu dengan mata yang terbelalak kaget dan tak percaya. Ternyata bukan hanya Clarissa yang merasa demikian, tetapi Julian pun merasakan hal yang sama. Hal ini semakin menguatkan dugaan mereka bahwa wajah Luna memang sangat mirip dengan neneknya, Sinta, atau ibunya, Laras, yang dulu memang pernah hidup dan berada di lingkungan keluarga Tanudjaya.

"Maaf, Tuan Julian... Tapi saya rasa Anda salah orang. Saya hanyalah seorang gadis biasa yang berasal dari keluarga sederhana, dan saya yakin Anda belum pernah bertemu dengan saya atau keluarga saya sebelumnya," jawab Luna dengan suara yang tenang namun sedikit bergetar, berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan rasa gugup dan ketakutannya.

Julian tersenyum makin lebar, senyum yang penuh dengan rasa curiga dan rasa penasaran yang semakin memuncak. Ia melangkah selangkah lebih dekat ke arah Luna, membuat Aditya seketika menegang dan secara perlahan melindungi tubuh Luna di belakangnya, menatap Julian dengan tatapan yang tajam dan penuh peringatan.

"Ah, sungguh? Apakah benar-benar begitu? Entah kenapa saya merasa hal ini bukan sekadar kebetulan belaka, Nona Luna. Raut wajahmu, bentuk matamu, bahkan senyummu... semuanya begitu mirip. Kamu tahu tidak, dulu ada seorang wanita yang sangat cantik dan anggun yang pernah menjadi bagian dari keluarga kami, meskipun hubungannya dengan keluarga ini tidak pernah diakui secara resmi. Namanya adalah Laras... Laras Tanudjaya, atau mungkin lebih tepatnya Laras Pratama. Apakah nama itu pernah terdengar di telingamu?"

Napas Luna seakan tertahan seketika. Ia menatap Julian dengan mata yang terbelalak kaget dan nyaris tidak percaya. Pria itu langsung menyebutkan nama ibunya dengan begitu lancar dan jelas, seolah nama itu adalah nama yang sangat akrab dan sering ia sebut-sebut. Jantung Luna berdegup sangat kencang hingga rasanya hampir meledak di dalam dada. Ia menoleh menatap Aditya, mencari dukungan dan petunjuk apa yang harus ia lakukan atau katakan selanjutnya.

Aditya pun merasa sangat terkejut dan waspada, namun ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang dan tidak memperlihatkan ekspresi kaget atau takut sedikit pun di hadapan Julian. Ia segera angkat bicara dengan nada yang tenang, sopan, namun penuh ketegasan dan kewaspadaan.

"Nama yang cukup unik, Tuan Julian. Namun sayangnya, nama itu sama sekali tidak saya kenal dan tidak pernah saya dengar sebelumnya. Sepertinya pasangan saya memang benar, bahwa Anda mungkin salah mengira orang karena banyaknya orang yang memiliki kemiripan wajah satu sama lain di dunia ini. Atau mungkin saja Nona Luna memiliki wajah yang begitu cantik dan anggun hingga mengingatkan Anda pada wanita-wanita cantik lainnya yang pernah Anda temui sebelumnya," ucap Aditya dengan nada yang santai namun tegas, berusaha membelokkan pembicaraan dan menyangkal segala dugaan yang dilontarkan oleh Julian.

Julian menatap Aditya dengan tatapan yang tajam dan menyelidik dalam waktu yang cukup lama, seolah ia sedang berusaha membaca kebenaran atau kebohongan yang ada di balik kata-kata dan ekspresi wajah Aditya. Namun, melihat betapa tenang dan percaya dirinya sikap Aditya, Julian akhirnya hanya mengangkat kedua bahunya dengan santai dan kembali tersenyum manis, seolah ia memang hanya sekadar bercanda atau berandai-andai saja.

"Mungkin saja kamu benar, Tuan Pratama. Mungkin memang hanya perasaan saya saja yang terlalu berlebihan. Maafkan saya jika ucapan saya membuat kalian merasa tidak nyaman atau terganggu. Saya sama sekali tidak bermaksud demikian. Saya hanya merasa sangat tertarik dan penasaran dengan Nona Luna karena kecantikannya yang luar biasa itu," ucap Julian dengan nada yang manis dan penuh pesona, namun matanya masih terus menatap mereka berdua dengan pandangan yang belum sepenuhnya percaya dan masih penuh rasa curiga.

"Tidak apa-apa, Tuan Julian. Kami sama sekali tidak merasa terganggu. Sekarang, mohon izin kami berkeliling sebentar lagi. Kami ingin menyapa beberapa kenalan lain yang ada di sini," ucap Aditya dengan sopan namun tegas, lalu segera menggandeng tangan Luna dan melangkah pergi menjauh dari sana secepat mungkin, menjauh dari sosok Julian yang begitu berbahaya dan penuh teka-teki itu.

Saat mereka sudah berada di tempat yang cukup jauh dan agak sepi di dekat teras belakang kediaman itu, Luna pun akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Ia menatap Aditya dengan wajah yang pucat dan penuh ketakutan yang luar biasa besar.

"Aditya... Kamu dengar kan apa yang dikatakan Julian tadi? Dia tahu nama Ibu Laras! Dia bahkan menyebut nama belakang Tanudjaya! Bagaimana mungkin dia tahu hal itu? Apakah dia benar-benar tahu segalanya? Apakah kita sudah ketahuan, Aditya?" tanya Luna dengan suara yang bergetar dan hampir menangis karena rasa takut yang begitu besar menyelimuti hatinya.

Aditya menghela napas panjang, lalu segera memeluk bahu Luna dan menatap wajah kekasihnya itu dengan tatapan yang lembut namun serius dan penuh perhitungan. Ia sendiri sebenarnya sangat terkejut dan khawatir mendengar hal itu, namun ia harus tetap terlihat tenang dan kuat di hadapan Luna agar gadis itu tidak semakin ketakutan dan panik.

"Tenanglah, Sayang... Tenanglah dulu. Kita belum tahu pasti apa yang sebenarnya diketahui oleh Julian. Namun dari ucapannya tadi, sepertinya dia memang tahu bahwa dulu ada hubungan antara keluarga Tanudjaya dengan Ibu Laras, dan mungkin juga dengan Nenek Sinta. Dia menyebutkan bahwa hubungan itu tidak pernah diakui secara resmi, artinya hal itu memang merupakan rahasia umum yang diketahui oleh anggota keluarga lama, namun tidak pernah dibahas atau diakui secara terbuka. Tapi aku yakin, dia belum tahu bahwa kamu adalah anak kandung dari Ibu Laras. Kalau dia sudah tahu hal itu, dia pasti sudah langsung menuduh atau melakukan sesuatu kepada kita, bukan hanya sekadar bertanya-tanya dan menguji reaksi kita seperti tadi. Dia hanya merasa curiga dan penasaran karena kemiripan wajahmu yang sangat mencolok, jadi dia mencoba menguji kita dengan menyebutkan nama itu untuk melihat bagaimana reaksi kita."

Penjelasan Aditya sedikit banyak membuat rasa takut dan panik di dalam hati Luna berkurang, namun rasa khawatir dan cemasnya belum sepenuhnya hilang. Ia sadar bahwa posisi mereka semakin lama semakin berbahaya dan sulit. Bukan hanya satu, melainkan dua orang dari keluarga Tanudjaya yang mulai curiga dan menaruh perhatian khusus kepada mereka. Dan hal ini tentu saja membuat misi mereka menjadi jauh lebih sulit dan penuh risiko.

"Terus... apa yang harus kita lakukan sekarang, Aditya? Kita harus segera pergi dari tempat ini atau tetap tinggal seperti rencana awal?" tanya Luna dengan nada yang penuh keraguan.

Aditya menatap ke arah ruangan pesta yang masih terlihat ramai dan meriah, lalu matanya tertuju pada sosok Clarissa Tanudjaya yang sedang berdiri sendirian di sudut ruangan dengan tatapan yang kosong dan jauh, seolah wanita itu sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri atau sedang menunggu momen tertentu. Tiba-tiba, Clarissa seolah merasakan tatapan Aditya, ia menoleh dan pandangan mereka berdua saling bertemu. Clarissa hanya tersenyum tipis dan samar, lalu dengan gerakan tangan yang halus dan tak terlihat oleh orang lain, ia memberi isyarat kepada Aditya untuk menemuinya di sebuah ruangan kecil yang agak tersembunyi di sisi lain ruangan itu.

Aditya tertegun sejenak, sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Ia menatap Clarissa dengan penuh rasa kaget dan penasaran, namun wanita itu segera memalingkan wajahnya dan kembali bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, melanjutkan percakapannya dengan beberapa tamu penting yang ada di dekatnya.

"Aditya? Ada apa? Kenapa kamu diam saja dan melihat ke sana?" tanya Luna yang merasa bingung dan penasaran melihat perubahan sikap kekasihnya itu.

Aditya segera menoleh kembali menatap Luna dengan tatapan yang serius dan penuh ketegangan.

"Clarissa baru saja memberi isyarat kepadaku, Sayang. Dia memintaku untuk menemuinya secara pribadi dan rahasia di salah satu ruangan di sisi lain gedung ini. Dia ingin berbicara denganku berdua saja," jawab Aditya dengan suara yang rendah dan penuh rasa takjub sekaligus kehati-hatian.

Mata Luna seketika terbelalak lebar karena kaget dan rasa cemas yang meluap-luap.

"Apa?! Dia memintamu menemuinya sendirian? Tapi kenapa, Aditya? Apa yang sebenarnya dia inginkan? Apakah ini sebuah jebakan? Apakah dia sudah tahu segalanya dan berniat mencelakaimu?" tanya Luna dengan nada yang panik dan penuh ketakutan.

Aditya mengusap lembut pipi Luna untuk menenangkan gadis itu, lalu menjawab dengan nada yang tenang namun penuh perhitungan.

"Aku juga tidak tahu pasti, Sayang. Itulah yang menjadi masalahnya. Clarissa adalah sosok yang sangat misterius, sulit ditebak, dan penuh rahasia. Aku sama sekali tidak tahu apa niat sebenarnya yang dia miliki, apakah dia benar-benar ingin berbicara baik-baik, atau memang ini adalah sebuah jebakan yang berbahaya. Tapi di sisi lain, ini juga merupakan kesempatan emas yang mungkin tidak akan pernah terulang lagi. Jika aku bertemu dengannya, aku mungkin bisa mendapatkan banyak sekali informasi penting, petunjuk, atau bahkan kebenaran yang selama ini kita cari. Dia mungkin adalah satu-satunya orang yang memegang kunci dari semua misteri ini."

"Tapi ini terlalu berbahaya, Aditya! Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padamu? Bagaimana kalau dia berniat menyakitimu atau menangkapmu?" potong Luna dengan nada yang penuh kekhawatiran dan ketakutan.

Aditya tersenyum lembut dan menggenggam tangan Luna dengan erat.

"Aku tahu risikonya sangat besar, Sayang. Tapi aku tidak bisa melewatkan kesempatan ini begitu saja. Jangan khawatir, aku akan sangat berhati-hati dan waspada. Aku tidak akan pergi sendirian tanpa persiapan. Aku sudah membawa alat komunikasi dan pelindung diri yang cukup, dan aku akan memastikan bahwa ada orang yang mengawasi dan menjaga keamanan dari kejauhan. Kamu tunggu saja di sini dan tetaplah berbaur dengan keramaian agar tidak ada yang curiga. Aku akan pergi menemui dia sebentar saja, dan aku berjanji akan kembali kepadamu dengan selamat secepat mungkin. Percayalah padaku, Sayang. Aku akan baik-baik saja."

Luna menatap mata Aditya dengan pandangan yang penuh kekhawatiran, ketakutan, namun juga rasa percaya yang besar. Ia tahu bahwa ia tidak bisa melarang Aditya, karena pria itu punya alasan dan tujuannya sendiri yang sangat penting dan berharga. Namun, hatinya terasa sangat berat dan cemas membiarkan kekasihnya pergi menemui wanita misterius dan berbahaya itu sendirian.

"Baiklah, Aditya... Aku percaya padamu. Tapi tolong... berjanjilah padaku untuk benar-benar berhati-hati. Jangan sampai terjadi apa-apa padamu, karena aku tidak akan sanggup hidup tanpamu," ucap Luna dengan suara yang bergetar dan mata yang mulai berkaca-kaca.

Aditya mengangguk mantap dan mencium kening Luna dengan penuh kasih sayang dan rasa syukur yang besar.

"Aku berjanji, Sayang. Aku akan berhati-hati sekali. Tunggulah aku di sini, ya. Aku akan segera kembali."

Setelah meyakinkan Luna dan memastikan bahwa kekasihnya itu cukup tenang dan aman di tempatnya, Aditya pun akhirnya melangkah pergi menjauh, berjalan menuju arah yang ditunjukkan oleh Clarissa dengan hati yang penuh kewaspadaan, rasa penasaran, dan tekad yang kuat. Ia tahu bahwa pertemuan rahasia ini mungkin akan mengubah segalanya, membawa mereka lebih dekat kepada kebenaran atau justru menjerumuskan mereka ke dalam bahaya yang jauh lebih besar. Namun, ia tidak punya pilihan lain selain melangkah maju dan menghadapi apa pun yang menantinya di sana.

Sementara itu, Luna yang ditinggal sendirian di sana merasa sangat cemas dan gelisah. Ia terus menatap kepergian Aditya hingga sosok kekasihnya itu hilang di balik pintu-pintu besar yang megah, lalu ia kembali menatap sekelilingnya dengan hati yang penuh ketakutan dan kewaspadaan. Ia merasa sangat kesepian dan rentan tanpa kehadiran Aditya di sisinya, namun ia tahu bahwa ia harus tetap kuat dan sabar menunggu kepulangan kekasihnya.

Pertemuan rahasia antara Aditya dan Clarissa Tanudjaya pun akhirnya akan segera terjadi, sebuah percakapan yang penuh misteri, rahasia, dan kejutan besar yang mungkin akan mengubah seluruh jalannya cerita dan takdir mereka selamanya.

(BERSAMBUNG)

📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰

Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷

Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷

1
Ate Ida Rustono
tambah penasaran dehh
Ate Ida Rustono
penasaran jadinya
visa lestari
💪💪💪👍
visa lestari
ceritanya bagus thor semagata
visa lestari
mampir thor💪
Nadia Permatasari
mampir juga thor😍
Eemlaspanohan Ohan
lanjut makin seru
Eemlaspanohan Ohan
lanjut
Eemlaspanohan Ohan
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!