NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:929
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Agenda Terselubung

​Aisya tidak segera menjawab. Ia merapatkan jemarinya di atas map dokumen, mencoba meredam debaran jantungnya yang mendadak berpacu cepat. Suara berat Cassian yang begitu dekat selalu berhasil mengusik ketenangannya.

​"Tempat ini tidak murah, Tuan Noir. Ini adalah fasilitas publik yang terhormat," bisik Aisya, suaranya tetap terjaga rendah namun sarat akan ketegasan dari balik niqabnya. "Dan pria tadi hanya duduk karena tidak ada kursi lain. Kami tidak saling mengusik."

​Cassian hanya mendengus tipis, senyum miring yang samar terukir di wajah tegasnya. Ia tidak berniat memperpanjang perdebatan itu. Pria itu menyandarkan punggungnya dengan santai, lalu mengetuk dokumen berlambang Toronto Islamic Centre yang ada di hadapan Aisya.

​"Aku di sini untuk memastikan dana hibahku dikelola dengan benar oleh staf administrasinya yang keras kepala," ujar Cassian dengan nada profesional yang dingin, mengembalikan alasan keberadaannya di sana pada jalur logis. "Kevin akan mengambil salinan laporan kuartal pertama dari ruangan sekretariatmu besok pagi. Pastikan semuanya rapi, Aisya."

​Aisya mengangguk formal, merasa lega karena pembicaraan ini tetap berada di koridor pekerjaan. "Semua laporan sudah hampir rampung, Tuan Noir. Anda tidak perlu khawatir tentang efisiensi kerja kami."

​Cassian menatap binar mata Aisya yang tampak lega untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia berdiri, merapikan kancing jasnya yang mahal, dan melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Posisinya sebagai pusat perhatian di tempat umum seperti ini memang tidak memungkinkannya untuk berlama-lama.

​Setelah menyelesaikan urusan formalnya dengan dewan kota di aula utama perpustakaan, Cassian melangkah menuju area koridor luar yang lebih sepi. Langkah tegapnya mendadak terhenti saat ia melihat sosok Louis—pria berambut pirang yang diusirnya dari meja Aisya tadi—sedang berdiri di dekat pilar kaca sembari berbicara di ponselnya dengan nada panik.

​Cassian memberi isyarat pelan pada Kevin untuk mundur beberapa langkah. Pria miliarder itu berdiri di balik bayangan pilar, sepasang mata elangnya menajam saat mendengar nama keluarganya disebut dari mulut Louis.

​"Ya, Mr. Alexander Noir... saya sudah melihatnya langsung," bisik Louis dengan suara gemetar ke arah pengeras ponselnya. Rupanya, Louis bukanlah kurator seni biasa yang kebetulan lewat, melainkan salah satu informan yang diutus oleh ayah Cassian untuk mengawasi pergerakan putranya.

​"Dia mendatangi gadis berhijab itu lagi di perpustakaan kota. Hubungan mereka tampaknya... berbeda," lapor Louis dengan napas memburu.

​Suara bariton Alexander Noir terdengar samar namun tegas dari balik pengeras suara ponsel Louis, memotong dengan dingin. "Cassian sedang bermain api. Dia pikir dia bisa mengabaikan Rebecca Winston begitu saja? Sampaikan padanya, Louis... jika dia tetap menolak pernikahan dinasti ini dan memilih mengejar wanita asing yang tidak jelas asal-usulnya, aku tidak akan segan-segan mencabut seluruh hak waris utamanya atas Noir Enterprises. Dewan direksi tidak akan membiarkan seorang pria lajang tanpa pewaris legal memimpin takhta tertinggi."

​Tangan Louis yang memegang ponsel bergetar. "B-baik, Tuan Besar. Saya akan pastikan pesan Anda sampai."

​Di balik pilar, rahang tegas Cassian mengeras sempurna. Sepasang matanya menggelap, memancarkan amarah yang begitu pekat mendengarkan ancaman dari ayahnya sendiri. Kehilangan hak waris dan takhta Noir Enterprises adalah hal terakhir yang akan ia biarkan terjadi dalam hidupnya. Namun di sisi lain, dipaksa menikahi wanita pilihan ayahnya demi selembar kertas legalitas juga merupakan penghinaan besar bagi egonya.

​Cassian melangkah keluar dari bayangan pilar dengan keangkuhan yang mematikan. Langkah kakinya yang berat membuat Louis seketika menoleh, dan dalam sekejap, wajah pria pirang itu memucat pasi seolah-olah baru saja melihat malaikat maut berdiri di hadapannya.

​Louis seketika membeku. Ponsel di genggamannya hampir saja merosot ke lantai marmer ketika sosok Cassian sudah berdiri tepat di hadapannya, menjulang tinggi dengan tatapan yang sanggup menguliti kebEranian siapa pun.

​"Kau sudah selesai menyampaikan laporanmu pada ayahku, Louis?" bisik Cassian, suaranya teramat rendah namun terdengar seperti vonis yang mematikan di telinga Louis.

​"T-Tuan Noir... saya hanya—"

​"Kemasi barang-barangmu dan angkat kaki dari Toronto sebelum matahari terbenam. Jika besok pagi aku masih melihat wajahmu di kota ini, kupastikan kau tidak akan pernah bisa bekerja di industri seni mana pun di dunia ini lagi," potong Cassian tanpa emosi, namun mutlak.

​Tanpa menunggu jawaban, Cassian berbalik dan melangkah lebar menuju mobil Rolls-Royce miliknya yang sudah menunggu di lobi luar perpustakaan. Kevin menyusul dengan langkah seribu, menyadari atmosfer di sekitar bosnya sudah berubah menjadi badai yang siap meledak.

​Begitu pintu mobil tertutup rapat dan kendaraan mewah itu membelah jalanan sibuk Downtown Toronto, keheningan mencekam menguasai kabin. Cassian menyandarkan kepalanya, sepasang matanya menatap tajam ke luar jendela kaca yang gelap.

​Ancaman Alexander Noir terus berdengung di kepalanya. Pewaris legal. Status hukum yang jelas. Hak waris Noir Enterprises.

​Alexander benar tentang satu hal: yang dibutuhkan oleh dewan direksi dan dinasti keluarga Noir hanyalah legalitas hukum. Sebuah pernikahan yang sah di atas kertas untuk mengamankan takhta bisnis. Mereka tidak peduli tentang cinta, dan Cassian pun tidak pernah memercayai hal tidak logis seperti itu. Bagi Cassian, pernikahan adalah transaksi bisnis terbesar dalam hidupnya.

​Jika ini hanya tentang kontrak legalitas, kenapa dia harus menyerahkan kebebasannya dengan menikahi Rebecca Winston yang licik dan penuh tuntutan?

​Otak genius Cassian mulai bekerja dengan kalkulasi yang dingin dan cepat. Sebuah ide gila—namun sangat taktis—mulai terbentuk di kepalanya. Tatapannya mendadak menajam saat bayangan sosok Aisya melintas di benaknya.

​Aisya. Gadis itu tidak peduli pada uangnya, tidak haus akan kekuasaannya, dan yang paling penting, memiliki dinding pertahanan moral yang tidak bisa ditembus. Aisya adalah antithesis dari semua wanita di lingkaran sosial elitnya. Jika Cassian membutuhkan pernikahan kontrak yang murni profesional tanpa drama emosional, gadis berniqab itulah kandidat paling sempurna.

​"Kevin," panggil Cassian memecah keheningan.

​"Ya, Tuan Noir?" Kevin melirik dari kaca spion tengah.

​"Cari tahu semua aturan hukum pernikahan di negara asal Aisya, termasuk hukum pernikahan dalam agamanya. Aku ingin tahu apa saja syarat mutlak untuk melegalkan sebuah hubungan di dunianya."

​Kevin sempat tersentak hingga setir mobilnya sedikit bergoyang, namun dengan profesionalisme tinggi, ia segera menguasai diri. "Pernikahan dalam prinsipnya membutuhkan wali, saksi, dan mahar, Tuan. Dan... ada aturan mutlak tentang kesamaan keyakinan."

​Cassian menyipitkan matanya, senyum miring yang penuh kepatuhan pada egonya sendiri terukir samar. "Urus semua dokumen yang diperlukan. Aku tidak peduli seberapa rumit persyaratannya. Jika dinasti Noir menginginkan sebuah legalitas, aku akan memberikan mereka legalitas yang paling tidak pernah mereka duga sebelumnya."

​Cassian akan mendapatkan takhta Noir Enterprises, dan di saat yang sama, ia akan mengunci gadis yang telah berani menolaknya itu di bawah perlindungan mutlak namanya. Taruhan besar ini baru saja dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!