NovelToon NovelToon
Apa Yang Salah

Apa Yang Salah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 18

Suasana halaman belakang rumah Pak Radit semakin ramai seiring malam yang mulai turun. Lampu-lampu taman menyala hangat, memantulkan cahaya kekuningan di atas meja panjang penuh daging, sosis, jagung, dan berbagai saus BBQ. Aroma daging bakar bercampur asap arang memenuhi udara. Suara tawa para pegawai marketing terdengar bersahut-sahutan tanpa henti. Seolah semua tekanan pekerjaan selama seminggu penuh benar-benar menghilang malam itu. Sementara besok mereka pasti kembali stres mengejar target. Hidup pekerja kantoran memang siklus penderitaan yang dibumbui makan gratis.

Para wanita duduk di satu tikar besar sambil memegang piring masing-masing. Topik obrolan mereka berpindah cepat seperti iklan diskon di media sosial.

“Artis itu benar-benar ketahuan selingkuh ternyata,” kata Rara sambil memegang tusuk sate ayam.

“Padahal istrinya cantik,” sahut Mira.

“Cantik saja tidak cukup. Kalau niat selingkuh ya tetap selingkuh.”

“Laki-laki memang begitu.”

Para pria yang duduk di tikar sebelah langsung pura-pura tidak mendengar. Sebuah kemampuan bertahan hidup yang berkembang alami setelah bertahun-tahun menghadapi kalimat pembuka “aku tidak marah kok.”

Deni yang sedang membalik jagung bakar kemudian melirik Pak Radit.

“Ngomong-ngomong, Pak,” katanya santai. “Silvia sekarang sudah kuliah kan?”

Pak Radit mengangguk sambil menuangkan saus ke daging.

“Sudah semester akhir.”

Deni menyeringai jahil.

“Wah, berarti sekarang pasti banyak yang antre.”

Beberapa pegawai langsung tertawa. Pak Radit mendengus pelan.

“Kalau yang antre modelan kamu, saya usir pakai sapu.”

Tikar langsung pecah oleh gelak tawa.

“Pak, jahat sekali,” protes Deni sambil tertawa.

Pak Radit menunjuk Andika yang sedang duduk santai sambil memegang minuman dingin.

“Kalau seperti Andika masih mending.”

Andika yang tiba-tiba disebut hanya mengangkat alis.

“Kenapa saya dibawa-bawa, Pak?”

“Karena paling tidak kamu masih kelihatan waras.”

“Berarti standar bapak rendah sekali.”

Semua kembali tertawa. Bahkan Bu Salma sampai menggeleng melihat tingkah mereka.

Namun para wanita langsung tertarik ikut masuk ke pembicaraan. Rara menyikut lengan Shinta pelan sambil tersenyum jahil.

“Kalau Pak Radit ambil Andika jadi menantu, kayaknya ada yang merana deh.”

“Ada dua malah,” sambung Mira cepat. “Shinta sama Aqila.”

Shinta yang sedang mengambil saus langsung menoleh tajam.

“Kenapa jadi saya?” protesnya.

Rara tertawa kecil.

“Karena kalian dekat.”

“Teman kantor,” jawab Shinta cepat.

“Nada jawabannya defensif sekali,” goda Mira.

Shinta langsung mendelik.

“Saya memang cuma teman kantor sama dia.”

Andika yang sejak tadi diam malah tersenyum santai. Tatapan jahilnya langsung mengarah ke Shinta.

“Saya juga tidak mau sama perempuan yang masih ingat makanan kesukaan mantannya.”

Beberapa orang langsung bersiul panjang.

Shinta spontan menoleh tajam.

“Itu bukan berarti apa-apa.”

“Oh ya?”

“Iya.”

Andika tertawa kecil sambil menggigit sate.

“Soalnya biasanya yang masih hafal begitu susah move on.”

“Daripada laki-laki yang tidak serius.”

Suasana langsung berubah ramai.

“Wih!”

“Kena!”

“Telak!”

Andika sampai berhenti mengunyah beberapa detik. Kalimat itu jelas sindiran langsung untuknya. Dan terlalu tepat sasaran.

Pak Radit dan Deni saling melirik singkat. Keduanya tahu betul kenapa Shinta berkata seperti itu. Setahun lalu Andika memang putus dengan Shinta karena dianggap terlalu santai soal masa depan hubungan mereka. Namun tidak ada pegawai lain yang tahu. Dan Andika memang meminta semuanya tetap dirahasiakan.

Rara memandang keduanya bergantian dengan curiga.

“Kalian kalau berantem kok kayak pasangan ya?”

“Tidak ada yang bilang kami pasangan,” jawab Shinta cepat.

“Tapi cara kalian saling nyindir itu alami sekali.”

“Karena dia memang menyebalkan,” kata Shinta kesal.

“Dan dia gampang emosi,” balas Andika santai.

Shinta langsung mengambil satu tusuk sate lalu menunjuk ke arah Andika.

“Coba ulangi.”

“Kenapa? Mau nusuk saya?”

“Sangat mungkin.”

Semua langsung tertawa melihat ekspresi kesal Shinta.

Pak Radit yang melihat situasi makin panas akhirnya ikut bicara sambil tersenyum tipis.

“Kadang perempuan salah paham soal laki-laki serius.”

Semua mulai diam mendengarkan.

Pak Radit melanjutkan sambil memutar daging di atas panggangan.

“Laki-laki serius itu tidak selalu yang paling cepat ngajak nikah.”

Beberapa orang langsung mengangguk.

“Kadang laki-laki yang benar-benar serius justru sibuk memastikan masa depannya aman dulu. Memastikan nanti istrinya hidup layak. Memastikan finansial cukup.”

Andika perlahan tersenyum kecil. Shinta hanya diam sambil menatap bara api BBQ.

“Karena menikah itu bukan cuma modal janji,” lanjut Pak Radit. “Kalau cuma janji, anak SMP juga bisa.”

Deni langsung tertawa keras.

“Benar juga, Pak.”

“Yang susah itu tanggung jawab setelahnya.”

Suasana mendadak lebih tenang. Bahkan beberapa pegawai mulai ikut mengangguk setuju.

Andika yang merasa sedang dibela langsung menyeringai puas. Ia melirik Shinta dengan tatapan jahil.

“Dengar tuh.”

Para pria langsung bersorak.

“Nah!”

“Betul itu!”

“Catat, Bu Shinta!”

Shinta langsung mendelik tajam.

“Kalian kompak sekali.”

“Karena kami membela kaum tertindas,” jawab Deni dramatis.

“Kaum tidak modal,” balas Mira cepat.

Tikar langsung kembali ricuh oleh tawa.

Namun Shinta masih terlihat kesal. Ia menatap Andika yang tampak terlalu puas menikmati pembelaan Pak Radit.

“Kalau serius ya kasih kepastian,” katanya.

“Nanti juga.”

“Nanti terus.”

“Daripada buru-buru lalu sengsara.”

“Alasan.”

Andika tertawa kecil.

“Kamu memang sukanya marah-marah.”

Shinta langsung mengangkat tusuk sate ke arah Andika.

“Saya serius bisa lempar ini.”

Beberapa wanita langsung menahan tangan Shinta sambil tertawa.

“Shinta sabar!”

“Nanti Pak Radit kehilangan pegawai terbaik!”

“Walau sebenarnya mulutnya memang pantas dibakar sedikit.”

Andika malah tertawa makin keras.

Pak Radit menggeleng pelan melihat mereka.

“Makanya saya bilang,” katanya lagi. “Laki-laki serius bukan cuma soal omongan. Tapi tindakan juga penting.”

Shinta melipat tangan sambil mendengarkan.

“Misalnya?”

“Misalnya memberi ikatan yang jelas.”

Kini giliran para wanita yang langsung fokus penuh.

“Pertunangan contohnya,” lanjut Pak Radit. “Supaya perempuan tenang. Ada kepastian. Tidak cuma disuruh menunggu.”

“NAH!” seru para wanita bersamaan.

Mira langsung menepuk tangan.

“Dengar itu para lelaki!”

“Jangan modal omong nanti-nanti!”

Rara menunjuk Andika sambil tertawa.

“Terutama yang wajahnya paling santai itu.”

Andika menghela napas panjang.

“Saya merasa diserang massal.”

“Karena memang salah,” balas Shinta cepat.

Andika menatap Shinta beberapa detik. Tatapan mereka membuat beberapa pegawai mulai saling melirik penuh curiga.

Cara mereka berdebat terasa terlalu pribadi.

Terlalu terbiasa.

Terlalu nyaman untuk ukuran “cuma teman kantor.”

Rara menyipitkan mata pelan.

“Saya jadi curiga.”

Deni langsung pura-pura sibuk membalik jagung.

“Curiga apa?”

“Kalian jangan-jangan pernah pacaran.”

Beberapa orang langsung heboh.

“Iya juga!”

“Pantas nyambung terus!”

“Dan berantemnya natural sekali!”

Shinta langsung salah tingkah sesaat sebelum cepat-cepat mengambil minuman.

“Ngaco.”

Andika malah terlihat santai.

“Kalau pernah memang kenapa?”

Semua langsung bersorak heboh.

“Nah kan!”

“Tuh mulai ngaku!”

Shinta langsung melotot ke arah Andika.

“Jangan asal bicara.”

“Saya cuma jawab kemungkinan.”

“Tidak lucu.”

Andika tersenyum tipis melihat Shinta makin kesal. Sementara Pak Radit dan Deni memilih diam sambil menahan tawa. Mereka menikmati kekacauan itu terlalu besar untuk ikut menghentikan.

Bu Salma sampai tertawa kecil melihat suasana.

“Kalian ini seperti anak SMA.”

“Bedanya cicilan mereka lebih banyak,” sahut Pak Radit.

Semua kembali tertawa keras.

Waktu terus berjalan tanpa terasa. Bara api mulai mengecil. Beberapa pegawai sudah sibuk membereskan piring dan gelas plastik. Obrolan pun mulai melambat.

Andika melirik jam tangannya.

Sudah pukul delapan malam.

Ia langsung berdiri sambil mengambil jaketnya.

“Shinta.”

Shinta menoleh.

“Pulang.”

Shinta mengernyit.

“Masih jam delapan.”

“Ibu kamu bilang jangan terlalu malam.”

Beberapa orang langsung bersiul menggoda.

“Waduh.”

“Sudah seperti suami.”

“Perhatian sekali.”

Shinta langsung salah tingkah.

“Ibu saya cuma titip pesan.”

“Iya,” jawab Andika santai. “Dan saya janji memastikan kamu pulang aman.”

Nada suaranya kali ini jauh lebih lembut dibanding sebelumnya.

Shinta terdiam sesaat.

Pak Radit memperhatikan keduanya sambil tersenyum samar. Tatapan itu terlalu familiar untuk sekadar teman biasa. Dan semakin mereka berusaha menyangkal, semakin jelas semuanya terlihat.

Rara bahkan berbisik pelan pada Mira.

“Saya yakin mereka pernah pacaran.”

“Saya juga.”

“Dan kayaknya masih belum selesai.”

Di sisi lain, Shinta akhirnya berdiri sambil mengambil tasnya.

“Saya pamit dulu, Pak. Bu.”

Bu Salma tersenyum hangat.

“Hati-hati di jalan.”

Pak Radit mengangguk pelan.

“Besok jangan telat walaupun habis BBQ.”

“Siap, Pak,” jawab Andika sambil tertawa kecil.

Saat keduanya berjalan keluar halaman bersama, beberapa pegawai masih memperhatikan mereka diam-diam.

Shinta berjalan lebih dulu sambil membawa helmnya. Sedangkan Andika berjalan santai di belakangnya.

“Cepat,” kata Shinta pelan. “Mereka makin aneh lihat kita.”

“Bukan salah saya.”

“Salah kamu tadi bicara sembarangan.”

Andika malah tersenyum kecil.

“Tapi seru.”

Shinta mendecak kesal lalu mempercepat langkahnya menuju motor.

Dan di belakang mereka, anak-anak marketing masih sibuk membuat teori sendiri tentang hubungan dua orang keras kepala yang jelas-jelas belum benar-benar selesai satu sama lain. Karena manusia memang suka bergosip tentang cinta orang lain. Seolah hidup mereka sendiri sudah cukup stabil untuk dijadikan contoh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!