Bagi Elvano Diwantara, hidup adalah tentang Return on Investment (ROI).
Mewarisi ketampanan Kairo dan otak jenius Elena, Elvano tumbuh menjadi "Hiu Muda" yang lebih kejam dari ayahnya. Di usia 27 tahun, dia sudah melipatgandakan aset Diwantara Group. Motonya sederhana: "Kalau tidak menghasilkan uang, buang."
Satu-satunya makhluk di bumi yang bisa membuat Elvano rugi bandar hanyalah Elora, adik perempuannya yang manja dan boros. Elvano rela membakar satu kota demi melindungi sang adik, tapi dia juga akan menagih utang jajan adiknya dengan bunga majemuk.
Namun, kalkulasi Elvano mendadak error ketika dia bertemu wanita itu. Seorang wanita yang berani menawar harga dirinya, mengacaukan neraca keuangannya, dan membuat detak jantungnya berfluktuasi seperti saham gorengan.
"Menikahimu adalah investasi risiko tinggi dengan probabilitas kerugian 90%," kata Elvano dingin.
Wanita itu tersenyum miring, "Kalau begitu, kenapa Tuan Muda tidak berani cut loss dan melepaskan saya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Bukti CCTV
"Diam. Simpan air mata kamu buat sidang di rumah Papa nanti."
Suara Elvano terdengar datar namun tajam, memecah keheningan di dalam kabin mobil sedan mewah yang melaju membelah jalanan Jakarta. AC mobil yang dingin tidak mampu mendinginkan kepala Elvano yang masih berasap.
Elora duduk di kursi penumpang samping kemudi, tubuhnya masih gemetar di balik jas besar milik Elvano yang dipinjamkan paksa. Isak tangisnya semakin kencang mendengar ancaman kakaknya.
"Abang jahat..." cicit Elora di sela tangisnya. Dia meremas ujung jas itu kuat-kuat.
"Abang jahat?" Elvano tertawa sinis, matanya tetap fokus ke jalan. "Abang baru saja jemput kamu dari sarang penjahat, bayar tagihan taksi kamu, dan menyelamatkan muka keluarga kita dari skandal mabuk-mabukan. Dan sekarang kamu bilang Abang jahat?"
"Abang jahat sama Kak Aluna!" seru Elora tiba-tiba, suaranya meninggi.
Elvano mengernyit. "Jangan sebut nama dia. Dia dipecat. Dia gagal melakukan tugasnya. Dia membiarkan kamu ke tempat maksiat. Kamu Adek Abang. Tak ada seorangpun yang boleh membuatmu tersesat Elora."
"Bukan dia yang biarin Elora ke sini!" bantah Elora histeris. Dia memutar tubuhnya menghadap Elvano, tidak peduli lagi kalau kakaknya itu sedang mode singa ngamuk. "Elora yang kabur sendiri! Elora yang manjat lewat jendela kamar setelah jam kerja Kak Aluna habis!"
Kaki Elvano refleks menginjak rem sedikit, membuat mobil tersentak pelan.
"Apa maksud kamu?" tanya Elvano dingin.
"Dia udah pulang, Bang! Dia udah pamit jam sembilan! Elora yang bohong pura-pura tidur, terus kabur lewat jendela samping pas dia udah nggak ada!" Elora menjelaskan dengan napas memburu. Air matanya bercucuran, melunturkan maskara mahalnya. "Kak Aluna nggak salah! Dia nggak tahu apa-apa!"
Elvano terdiam. Cengkeramannya pada setir mengeras. Jam sembilan. Benar. Kontrak kerja Aluna hanya sampai jam sembilan malam. Secara teknis, di atas jam sembilan, Elora bukan lagi tanggung jawab Aluna.
Tapi ego Elvano menolak kalah.
"Tetap saja," Elvano berkilah. "Dia ada di sana. Dia ikut pesta. Dia..."
"Dia nyusul Elora, Bang!" potong Elora frustasi. "Dia tahu Elora kabur entah darimana! Dia lari ke sini pake baju tidur cuma buat nyeret Elora pulang! Dia nggak ikut pesta!"
Elora menarik napas panjang, bayangan kejadian mengerikan tadi kembali berputar di kepalanya.
"Dan kalau nggak ada dia... Elora udah mati atau dijahati orang, Bang," suara Elora melemah, berubah menjadi bisikan ngeri.
Elvano menepikan mobilnya mendadak ke bahu jalan. Dia menyalakan lampu hazard, lalu menatap adiknya tajam.
"Mati? Jangan hiperbola."
"Elora nggak hiperbola! Cowok topi itu..." Elora bergidik. "Cowok itu masukin obat ke minuman Elora pas Elora lagi lengah. Kak Aluna lihat. Dia lari, dia mecahin gelas itu, dia nyiram cowok itu pake air soda. Dia ngelindungin Elora, Bang! Dia pasang badan di depan Elora pas cowok-cowok itu mau mukul!"
Jantung Elvano seakan berhenti berdetak selama satu detik.
Obat?
Adiknya nyaris dibius atau dijebak?
Dan gadis "mata duitan" itu... menyelamatkannya?
"Kamu mabuk, El. Ingatan kamu mungkin bias," Elvano mencoba menyangkal, tapi logikanya mulai goyah. Hatinya mulai tidak enak.
"Elora emang mabuk, tapi Elora sadar pas Kak Aluna teriak! Dia berani lawan preman-preman itu sendirian pake sandal jepit doang!" Elora menangis lagi, kali ini karena rasa bersalah yang menusuk dada. "Dan Abang... Abang malah ngusir dia. Abang nuduh dia macem-macem padahal dia baru aja nyelamatin nyawa adik Abang."
Kata-kata Elora menghantam Elvano telak di ulu hati.
Elvano mengambil ponselnya dari dashboard dengan kasar. Dia membuka kontak, mencari nama pemilik klub malam itu—salah satu kenalan bisnisnya.
"Halo, Rian," ucap Elvano begitu telepon tersambung, suaranya tegang. "Gue butuh rekaman CCTV Club X malam ini. Ruang VIP. Kirim ke gue sekarang. Jangan banyak tanya."
Elvano memutus sambungan. Dia menunggu dengan gelisah. Jarinya mengetuk-ngetuk setir dengan tempo cepat.
Beberapa menit kemudian, sebuah pesan video masuk.
Elvano memutar video itu. Layar ponselnya yang jernih menampilkan rekaman hitam putih dari sudut atas ruang VIP.
Di sana, terlihat jelas Elora sedang tertawa dengan dua pria. Salah satu pria itu menggerakkan tangan di atas gelas Elora dengan cepat.
Rahang Elvano mengeras melihatnya. Itu jelas gerakan memasukkan sesuatu.
Lalu, dari arah tangga, muncul sosok kecil mengenakan jaket kedodoran. Aluna. Dia berlari menerjang meja, menampar gelas itu hingga pecah, dan menyiram wajah pria itu tanpa ragu.
Elvano melihat bagaimana Aluna menarik Elora ke belakang punggungnya. Dia melihat bagaimana gadis kecil itu berdiri menantang dua pria besar, memasang kuda-kuda seolah siap mati demi melindungi adiknya.
Dan di akhir video, Elvano melihat dirinya sendiri datang.
Dia melihat bagaimana dia membentak Aluna.
Dia melihat bagaimana dia mencengkeram lengan gadis itu kasar.
Dia melihat bagaimana Aluna meletakkan kartu debit itu dan pergi dengan harga diri yang terluka parah.
"Bapak boleh hina miskin saya, tapi jangan hina integritas saya!"
Kalimat itu terngiang kembali di telinga Elvano, kali ini terdengar sepuluh kali lebih menyakitkan.
Video berakhir. Layar menjadi gelap.
Elvano melepaskan ponselnya, membiarkannya jatuh ke pangkuan. Dia menyandarkan kepalanya ke jok mobil, menatap langit-langit kabin dengan tatapan kosong.
Dia salah.
Dia—Elvano Diwantara yang selalu membanggakan akurasi dan logikanya—telah melakukan kesalahan perhitungan yang fatal. Dia menuduh orang yang salah. Dia menghina orang yang justru menjadi pahlawan.
"Sial," umpat Elvano lirih, tangannya memijat pangkal hidungnya yang berdenyut.
Rasa itu muncul. Rasa asing yang tidak nyaman, yang mencekik tenggorokan dan memberatkan dada. Rasa yang jarang sekali dia izinkan mampir ke dalam hidupnya yang sempurna.
Rasa bersalah.
"Gue salah hitung," bisik Elvano pada keheningan malam. "Gue bener-bener salah hitung."
makany baru bisa liat Dunia yg nyata ,,
🤭🤭🤭🤭🤭
kutukan sedang berjalan pak bos ,,
kutukan adik mu🤣🤣🤣🤣🤣
nanti cinbu dan bucin mas kalkulator
pinter bener nih yang nulis skenario 😍😍😍😍
Tersepona...... akuhh.....tersepona.....
asyik.... asyiiiikk.....joossss......😁
😭😭😭😭😭😭😭😭
super duper inti kerak bumi ga sih tuh pengiritan nya......🔥