Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.
Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18-kedatangan Pemilik Sekolah
Angin sore yang kian dingin kembali berhembus, menerbangkan dedaunan kering di sekitar kaki Elara. Gadis itu masih berdiri diam di tempatnya, matanya menatap lurus ke depan namun pandangannya kosong, pikirannya melayang jauh tenggelam dalam pusaran rencana dan kebencian yang kini tumbuh subur di hatinya. Kata-kata Arkan masih terngiang jelas di telinganya, bergema berulang kali seolah menjadi pedoman baru baginya. Cari bukti sendiri... cari keadilan sendiri...
Di dalam benaknya, Elara mulai menyusun langkah pertama. Ia harus mulai dari mana? Apa yang harus dicari? Siapa yang bisa dipercaya? Semuanya terasa kabur dan berbahaya, namun tekad di dadanya sudah mengeras menjadi baja. Ia tidak akan membiarkan kematian Dinda menjadi sekadar kenangan kelam yang dikubur bersama tanah pemakaman ini.
Namun, lamunan panjang itu tiba-tiba terputus sepenuhnya saat terdengar suara yang sangat dikenalnya memecah keheningan di samping telinganya. Suara itu terdengar lega sekaligus sedikit cemas.
"Ya ampun, El! Kamu di sini!"
Elara tersentak kaget, seketika ia berbalik badan. Di hadapannya berdiri Keisha, napas sahabatnya itu terlihat sedikit memburu, rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya tampak lega bercampur kekhawatiran yang belum sepenuhnya hilang. Keisha menatap Elara lekat-lekat, lalu melangkah mendekat sambil menghela napas panjang.
"Aku cariin kamu kemana-mana lho, dari tadi!" lanjut Keisha sambil menyeka keringat dingin di pelipisnya. Matanya meneliti wajah Elara yang tampak pucat dan dingin, jauh berbeda dari biasanya. "Dari saat kita mau naik bus tadi aku udah nggak lihat kamu. Aku kira kamu sudah naik duluan, pas aku cek ke dalam, nggak ada. Aku panik banget, lho! Aku pikir ada apa-apa, atau kamu pergi ke mana sendirian."
Elara menatap wajah sahabatnya itu. Di tengah kekacauan dan rahasia besar yang kini ia pikul sendirian, melihat Keisha yang begitu peduli dan khawatir padanya membuat rasa hangat sekilas menyelinap di hati Elara, meski rasa marah dan sakit hatinya masih mendominasi. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh membiarkan Keisha curiga atau ikut terseret ke dalam bahaya ini, setidaknya belum saatnya. Demi keselamatan Keisha, sebagian besar hal harus ia simpan sendiri dulu.
Elara menghela napas pelan, lalu mencoba menyunggingkan senyum tipis yang terasa kaku dan palsu di bibirnya. Ia menggelengkan kepalanya pelan, lalu berbicara dengan nada lembut namun sedikit parau.
"Maaf, Kei... Maaf banget udah bikin kamu khawatir," ucap Elara tulus. Ia menundukkan pandangannya sejenak, memainkan ujung bajunya. "Aku... aku cuma pengen diam sebentar sendirian di sini. Rasanya... rasanya berat banget semuanya, Kei. Aku masih belum bisa percaya kalau Dinda beneran pergi, dan semuanya berakhir begini. Jadi aku sengaja tinggal di belakang sebentar, pengen tenangin diri dan pikiran aku yang kacau ini. Maaf ya, aku nggak bilang kamu duluan."
Keisha menatap Elara dengan pandangan yang penuh pengertian dan rasa iba. Ia tahu betul betapa hancur hati sahabatnya ini, apalagi Elara adalah orang terakhir yang berbicara panjang lebar dengan Dinda sebelum gadis itu hilang. Keisha melangkah mendekat, lalu meraih kedua tangan Elara dan menggenggamnya erat.
"Aku ngerti kok, El... Aku ngerti banget rasanya. Aku juga rasanya sama, kayak mau hancur rasanya," jawab Keisha pelan, suaranya kembali terdengar sedih. Ia menatap sekilas ke arah makam Dinda yang kini mulai samar tertutup jarak dan kabut sore. "Semua orang juga sedih, apalagi kamu. Nggak apa-apa kok, aku cuma khawatir aja kalau kamu terlalu lama sendirian di sini, takutnya kamu kenapa-napa atau sakit hati sendirian."
Keisha kembali menatap Elara, lalu mengusap lengan sahabatnya pelan sambil tersenyum lemah namun menenangkan. "Udah ya, jangan lama-lama di sini. Tempatnya udah makin dingin, hari juga makin gelap. Yuk, kita pulang ke asrama sama-sama. Kita istirahat, ya? Mungkin kalau istirahat, hati dan pikiran kita bakal sedikit lebih enakan. Kita nggak boleh sakit, El. Dinda pasti nggak mau lihat kita sedih terus."
Elara mengangguk perlahan. Ia tahu Keisha benar, dan ia juga sadar bahwa ia harus segera pergi dari tempat ini. Ia butuh waktu, ketenangan, dan privasi untuk merencanakan segalanya lebih matang. Ia butuh berada di tempat di mana ia bisa berpikir jernih tanpa ada yang mengganggu atau mengawasi.
"Iya, kamu bener, Kei," jawab Elara sambil menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan kembali kekuatannya. Ia menatap Keisha dengan tatapan yang kini sedikit lebih tegas. "Ayo, kita pulang ke asrama. Aku juga udah nggak betah di sini lagi. Rasanya berat banget."
"Nah, gitu dong," sahut Keisha lega. Ia langsung mengaitkan lengannya ke lengan Elara, seolah takut sahabatnya itu akan hilang lagi jika dilepaskan. Ia mulai berjalan mengajak Elara bergerak menuju arah gerbang utama tempat bus sekolah dan kendaraan para guru sudah bersiap berangkat.
Mereka berdua pun segera melangkah pergi meninggalkan area pemakaman itu. Langkah mereka beriringan menyusuri jalan setapak yang mulai dihiasi remang cahaya senja.
***
(keesokan Harinya)
Matahari pagi menyelinap masuk melewati celah-celah dinding tinggi Hantage School Academy, menyinari bangunan megah yang kembali tampak sama seperti hari-hari biasa. Namun, bagi mereka yang tahu apa yang baru saja terjadi, sinar matahari itu terasa dingin dan tak lagi ramah. Kabar duka atas kepergian Dinda Kusuma belum sepenuhnya pudar dari ingatan setiap penghuni sekolah itu, namun kehidupan di tempat bergengsi ini seolah berjalan terus tanpa peduli pada duka dan air mata.
Halaman sekolah kembali padat. Para siswa berjalan beriringan menuju gedung kelas masing-masing, seragam mereka rapi dan bersih, namun raut wajah mereka tampak muram dan lesu. Di antara kerumunan itu ada Elara dan Keisha. Langkah mereka terasa berat, setiap langkah yang diambil seolah mengingatkan kembali pada sosok teman yang kini tak ada lagi. Duka yang mendalam masih terasa membekas di hati, namun kewajiban bersekolah seolah memaksa mereka untuk berpura-pura kuat dan melupakan sejenak rasa sakit itu.
Mereka pun masuk ke dalam ruang kelas XII-Magister Scienty. Suasana di dalam cukup riuh, namun bukan keriuhan ceria seperti dulu, melainkan suara bisik-bisik samar yang saling bercerita tentang kejadian kemarin. Elara dan Keisha berjalan menuju bangku mereka di bagian tengah belakang, lalu duduk dengan lesu. Keisha meletakkan tasnya dengan kasar di atas meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menggerutu kesal.
"Gak ngerti aku sama aturan sekolah ini," ucap Keisha cukup keras, menarik perhatian beberapa murid di dekatnya. Wajahnya memerah menahan amarah dan kesedihan yang bercampur jadi satu. "Kenapa sih kita harus masuk sekolah hari ini? Padahal kita semua masih sedih banget, masih berduka atas kematian Dinda... Eh, hari ini kita disuruh belajar kayak nggak ada apa-apa. Gak punya hati banget ya sekolah ini!"
Elara menoleh ke arah sahabatnya, lalu mengangguk setuju sambil menopang dagunya dengan tangan. Matanya menatap kosong ke arah bangku kosong di sudut ruangan, tempat Dinda biasa duduk sendirian.
"Aku juga maunya begitu, Kei. Aku juga pengennya dikasih waktu buat menenangkan diri, atau sekadar mengenang dia dengan tenang," jawab Elara pelan.
Belum sempat percakapan mereka berlanjut, suara langkah kaki berirama yang keras dan angkuh terdengar mendekat. Pintu kelas didorong keras hingga terbuka, dan masuklah Valerie, Selena, dan Calista. Valerie berjalan paling depan, dagunya terangkat tinggi, tatapannya merendahkan semua orang yang dilewatinya. Di belakangnya, Selena dan Calista berjalan mengikuti sambil terkikik-kikik, seolah tidak ada hal serius atau menyedihkan yang baru saja terjadi.
Valerie berhenti tepat di depan meja Elara dan Keisha. Ia menatap mereka berdua dengan tatapan jijik, lalu tersenyum sinis. Ia sengaja berbicara dengan suara keras agar satu kelas mendengar.
"Yah, yah... Ada apa sih suasana kelas kok suram banget sih? Gelap, murung, kayak lagi pesta pemakaman aja," ucap Valerie dengan nada mengejek. Ia melirik sekilas ke arah bangku kosong milik Dinda, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat menusuk hati.
Keisha menatap Valerie dengan mata berapi-api, siap melabrak, namun Elara menahan lengan sahabatnya itu. Valerie menyadari tatapan itu, ia makin tersenyum puas.
"Ah, iya... Gue lupa. Kalian kan masih nangisin si Dinda itu," lanjut Valerie dengan nada ketus dan tak berperasaan. Ia memutar bola matanya malas. "Apa sih yang ribut-ribut sih? Buat apa sih kalian berduka berlebihan kayak gini? Dinda kan nggak penting-penting banget. Cuma anak miskin yang numpang sekolah pakai beasiswa, cuma anak yang selalu bikin keributan dan masalah. Buat apa sih harusnya kita libur atau bersedih cuma buat anak miskin kayak dia? Nggak ada gunanya sama sekali. Sekolah tetep harus jalan, nama baik sekolah harus dijaga, nggak boleh rusak cuma gara-gara satu orang nggak berguna kayak dia."
Kalimat-kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Valerie dengan dingin dan kejam, seolah Dinda bukan manusia yang punya nyawa dan perasaan, melainkan sampah yang tak berharga.
Darah Elara seketika mendidih. Amarah yang sedari tadi ia tahan, rasa sakit hati yang ia pendam, serta rasa bersalah yang menghantuinya, semuanya meledak seketika mendengar kata-kata Valerie yang tak punya hati itu. Dengan gerakan cepat, Elara berdiri tegak dari kursinya, menatap mata Valerie berani-berani. Wajahnya merah padam menahan emosi, namun suaranya terdengar tegas dan bergetar menantang.
"Kaamu keterlaluan banget, Valerie!" bentak Elara keras, membuat seluruh isi kelas seketika hening dan menahan napas. "Kamu bilang dia nggak penting? Kamu bilang dia anak miskin jadi nggak berharga? Ingat ya, walaupun dia anak miskin, Dinda itu jauh lebih berharga, jauh lebih baik, dan jauh lebih punya hati daripada kamu yang cuma punya harta tapi kosong di dalam sini!" Elara menunjuk dadanya sendiri dengan tajam. "Dinda itu manusia, Valerie! Dia teman kita! Dia punya ibu, punya adik yang nungguin dia pulang! Dan kamu berani ngomong dia nggak berguna? Kamu nggak punya hati sama sekali ya?!"
Seluruh kelas terdiam kaget. Tak ada satu pun yang berani menegur Valerie selama ini, tapi hari ini Elara melawannya habis-habisan. Keisha di sampingnya ikut berdiri, mendukung penuh sahabatnya itu dengan tatapan marah.
Valerie tampak terkejut sejenak, namun sekejap kemudian keterkejutan itu berubah menjadi amarah yang meluap-luap. Wajahnya memerah karena malu dan marah, matanya menyala tajam menatap Elara seolah ingin membakar gadis itu hidup-hidup. Ia maju selangkah, mendekatkan wajahnya ke wajah Elara.
"Lo bilang apa ha?! Lo berani banget ya ngelawan Gue? ancam Valerie dengan suara berbisik yang mengerikan, namun cukup terdengar oleh mereka bertiga.
Namun, seketika itu juga senyum angkuh kembali terbit di bibir Valerie. Ia mundur selangkah, memperbaiki kerah bajunya yang sedikit berantakan, lalu tertawa sinis panjang. Ia menatap Elara dengan pandangan merendahkan dan penuh kemenangan, seolah ada kartu as di tangannya yang membuatnya tak perlu lagi takut pada siapa pun.
"Ah, sudahlah... Buang-buang waktu aja ngomong sama Lo," ucap Valerie dengan nada angkuh dan dingin. Ia melirik ke arah Selena dan Calista yang tersenyum sama jahatnya. "Tapi nikmatin aja Keberanian Ko itu. Bentar lagi... Nyokap gue bakal datang ke sekolah ini. Dia bakal ada di sini, bakal ambil alih kendali, bakal atur semuanya. Dan kalau Nyokap gue udah ada di sini, nggak bakal ada satu pun orang di sekolah ini yang berani lagi ngelawan Gue, nggak bakal ada yang berani nyalahin aku, dan nggak bakal ada yang berani ganggu aku. Termasuk Lo, dan siapa pun yang bela-belain anak miskin kayak Dinda itu. Kalian semua bakal tau siapa yang paling berkuasa di sini."
Mata Elara membelalak kaget. Mamanya? Mamanya Valerie yang akan datang? Apakah itu... Nyonya Tamara? Pemilik sekolah yang namanya saja sudah membuat Pak Herman dan polisi gemetar ketakutan?
Belum sempat Elara sempat bertanya atau menanggapi lebih lanjut, Valerie membuang muka dengan kasar, lalu memberi isyarat pada kedua temannya untuk pergi.
"Ayo kita pergi, ngapain lama-lama di sini. Tempat ini jadi bau banget gara-gara orang-orang sok benar kayak mereka," ucap Valerie sinis.
Ketiga gadis itu pun berjalan meninggalkan kelas dengan langkah congkak, meninggalkan Elara dan Keisha yang masih berdiri mematung di tempatnya.
Suasana kelas yang sempat tegang akibat pertengkaran dengan Valerie belum sepenuhnya reda, ketika tiba-tiba terdengar suara riuh rendah yang kian membesar dari arah gerbang utama sekolah. Suara derap langkah kaki yang berlarian, bercampur dengan bisik-bisik penuh kekaguman sekaligus ketakutan, terdengar samar-samar namun semakin jelas terbawa angin hingga masuk ke dalam ruang kelas. Keributan itu terdengar besar, seolah ada sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di luar sana.
Zoey yang duduk di bangku depan langsung menoleh ke belakang dengan wajah penasaran bercampur cemas. Ia menajamkan pendengarannya, lalu berbicara dengan nada bingung.
"Aduh... keributan apalagi sih? Baru aja tenang dikit, udah ada aja lagi yang ribut. Apa sih yang terjadi di luar sana?" tanyanya sambil mengerutkan kening.
Rina yang duduk di sebelahnya langsung bangkit berdiri dengan semangat, rasa penasaran mengalahkan rasa takut yang tadi sempat ia rasakan. Ia menepuk bahu Zoey, lalu memberi isyarat agar segera bergerak.
"Yuk kita lihat! Daripada di sini cuma nebak-nebak, mending kita keluar. Siapa tau ada hal seru atau penting," ajak Rina antusias.
Belum sempat Zoey menjawab, Salsa yang terkenal paling peduli penampilan di kelas itu langsung bereaksi. Ia buru-buru merogoh tas besarnya, mengeluarkan kotak riasan kecil lengkap dengan cermin, lalu mulai mengusap bedak ke wajahnya dengan gerakan cepat dan cekatan.
"Dandan dulu ah, biar makin cantik! Siapa tau ada tamu penting atau orang besar yang datang, kan nggak lucu kalau kita keluar dengan tampang berantakan gini," ucap Salsa sambil sibuk merapikan alis dan bibirnya, sama sekali tidak kalah penasaran namun tetap mengutamakan penampilan. Ia tak peduli keributan apa yang terjadi, yang penting dirinya terlihat sempurna saat keluar nanti.
Di sudut ruangan, Celio hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku teman-temannya itu. Ia berdiri perlahan, wajahnya tampak datar namun ada kilat sinis di matanya. Ia sudah terlalu sering melihat kekacauan di sekolah ini, sehingga rasanya hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari.
"Selalu aja ada masalah nih sekolah... Nggak pernah ada habisnya. Rasanya damai sebentar aja susah banget ya," keluh Celio pelan, namun cukup terdengar oleh teman-temannya di dekatnya.
Rafael yang sedari tadi diam menyandarkan punggungnya di kursi, kini ikut bangkit berdiri juga. Ia menatap ke arah pintu kelas dengan ragu, seolah menduga-duga apa penyebab kegaduhan kali ini.
"Betul kata lo... Tapi kali ini masalah apalagi? Kedengarannya rame banget, kayak semua orang pada lari ke satu arah gitu," sahut Rafael sambil membenahi letak tasnya.
Satu per satu murid mulai bergerak keluar dari bangku mereka, bersiap untuk melihat apa yang terjadi. Di antara kerumunan itu, Arkan juga beranjak dari tempat duduknya. Dengan langkah tenang dan wajah yang selalu datar tanpa ekspresi, ia berjalan menyusuri lorong meja menuju pintu keluar, berniat melihat situasi di luar. Namun, tepat saat ia hendak melangkah keluar ambang pintu, Rio yang berjalan terburu-buru dari arah samping tiba-tiba menabrak bahu Arkan cukup keras.
Rio terhuyung sedikit, lalu segera berhenti dan menoleh ke arah Arkan dengan sedikit kaget.
"Sorry, Arkan! Gue buru-buru nih, nggak sengaja nabrak lo," ucap Rio cepat, sempat tersenyum sedikit seolah kejadian itu hal biasa.
Namun, Arkan sama sekali tidak tersenyum atau memaafkan. Ia berhenti melangkah, lalu menoleh perlahan ke arah Rio. Tatapannya begitu dingin, tajam, dan penuh ketidaksukaan, seolah Rio adalah sesuatu yang menjijikkan dan tidak berharga. Pandangan itu begitu menusuk hingga membuat senyum Rio perlahan luntur dan ia mundur selangkah karena merasa tidak nyaman. Arkan tidak mengucapkan sepatah kata pun, tidak mengangguk, dan tidak memaafkan. Ia hanya menatap tajam beberapa detik, lalu membuang muka dengan kasar dan segera berjalan pergi meninggalkan kelas, menyatu dengan murid-murid lain yang berhamburan keluar.
Rio hanya diam terpaku di tempatnya, mengusap bahu yang tadi ditabrakkan, bergumam pelan, "Aneh banget sih anak satu itu..."
Di bagian belakang ruangan, Elara dan Keisha masih duduk diam mendengarkan dan mengamati segalanya. Elara mengeratkan genggaman tangannya di pinggiran meja. Firasat buruknya semakin menjadi-jadi. Keributan di luar, sikap angkuh Valerie tadi yang menyebut ibunya akan datang, ditambah suasana sekolah yang akhir-akhir ini semakin mencekam... Semuanya terhubung menjadi satu.
Keisha menoleh ke arah Elara, matanya memancarkan rasa khawatir yang mendalam.
"El... kedengaran banget rame di luar. Kalau bener kata Valerie tadi, kalau ibunya yang bakal datang... bisa jadi keributan ini karena kedatangan Tante Tamara," bisik Keisha dengan suara bergetar.
Elara mengangguk mantap, lalu bangkit berdiri dengan tekad yang sama kuatnya seperti saat ia berjanji di makam Dinda kemarin. Ia merapikan bajunya pelan, menatap pintu kelas yang kini sudah hampir kosong.
Mereka berdua pun segera berjalan beriringan, meninggalkan ruang kelas itu dan menyusul kerumunan murid yang bergerak menuju halaman depan, tempat kegaduhan itu berpusat.
Begitu melangkah keluar dari koridor gedung utama, pemandangan di halaman depan sekolah langsung membuat mata seluruh murid terbelalak kaget. Area gerbang utama yang biasanya sunyi dan tertib, kini berubah menjadi lautan manusia yang riuh rendah. Puluhan wartawan dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik, berdesak-desakan di balik pagar besi tinggi pembatas sekolah. Mereka membawa kamera besar yang lensanya mengarah ke mana-mana, mikrofon panjang dengan nama-nama stasiun televisi tercetak jelas, serta alat perekam yang teracung ke depan. Suara mereka saling sahut-menyahut, berteriak meminta izin masuk atau meminta keterangan, menciptakan suasana kacau yang belum pernah terjadi sebelumnya di Hantage School Academy.
Di depan gerbang, para petugas keamanan sekolah berdiri berbaris rapat, menyatukan bahu-bahu mereka menjadi tembok penghalang kokoh. Wajah para satpam itu tegang dan serius, tangan mereka menekan pagar besi agar tidak ada satu pun orang asing yang bisa menyelinap masuk.
"Maaf, Bapak-Ibu sekalian! Dilarang masuk! Ini area sekolah tertutup! Tidak ada izin akses bagi pihak luar saat ini!" seru salah satu kepala keamanan dengan suara lantang, berusaha menembus kebisingan di sekitarnya.
Namun, para wartawan itu tidak bergeming. Justru kedatangan petugas itu membuat mereka makin berdesak-desakan dan makin bersemangat melontarkan pertanyaan.
"Kami hanya ingin wawancara sebentar saja, Pak! Kami ingin konfirmasi soal kabar meninggalnya seorang siswi di sini kemarin sore!" seru seorang wartawan sambil mengacungkan mikrofonnya ke arah petugas.
"Benarkah ada kasus jatuh dari atap gedung?! Apakah itu kecelakaan atau ada unsur lain?! Kami butuh keterangan resmi dari pihak sekolah!" tambah wartawan lain dengan suara keras.
"Apakah benar ada indikasi kekerasan?! Kenapa jenazah langsung dimakamkan secepat itu?! Ada yang ditutupi kah sekolah ini?!"
Pertanyaan demi pertanyaan yang tajam dan menohok terus dilontarkan tanpa henti. Di antara kerumunan murid yang berdiri menonton dari jarak aman, Zoey berbisik dengan nada takjub bercampur ngeri.
"Wah... ternyata keributan ini gara-gara wartawan ya... Gila, banyak banget. Semua pada mau tau soal kematian Dinda ternyata," ucapnya sambil mengerutkan kening.
Salsa yang tadi sibuk berdandan, kini membetulkan posisi HP-nya seolah siap merekam momen itu. "Hebat juga beritanya menyebar ya. Padahal baru kemarin kejadiannya. Tapi kalau dipikir-pikir wajar sih, sekolah ini sekolah elit, kalau ada skandal pasti jadi berita panas."
Celio hanya menggelengkan kepala sambil menatap pemandangan itu dengan pandangan sinis. "Lihat nanti... Pak Herman pasti bakal bingung dan panik. Beliau paling nggak suka kalau nama sekolah jadi bahan pembicaraan publik."
Benar saja, tak lama kemudian Pak Herman beserta beberapa guru senior termasuk Bu Melda, berjalan terburu-buru dari arah kantor utama menuju gerbang depan. Wajah Pak Herman tampak sangat tegang, keringat dingin samar terlihat membasahi pelipisnya, meski ia berusaha menyembunyikannya di balik senyum kaku. Ia berjalan ke depan, diikuti Bu Melda yang tampak gugup, berusaha menenangkan suasana yang makin memanas itu.
"Tenang, Bapak-Ibu sekalian... Tenang, tolong tenang dulu ya..." ucap Pak Herman berulang kali, tangannya melambai-lambai meminta ketenangan. Ia berdiri tepat di depan para wartawan, di belakang barisan petugas keamanan.
Perlahan, suara riuh itu sedikit mereda, semua mata dan kamera kini tertuju lurus ke arah Pak Herman.
"Bapak Kepala Sekolah! Tolong beri penjelasan kepada kami! Benarkah ada siswi bernama Dinda Kusuma meninggal dunia di lingkungan sekolah ini kemarin?!" tanya seorang wartawan langsung pada intinya.
Pak Herman menarik napas panjang, lalu menjawab dengan nada suara yang dibuat setenang mungkin namun terdengar dingin dan tertutup. "Betul... Memang benar ada musibah kemarin. Salah satu murid kami, almarhumah Dinda Kusuma, telah meninggal dunia. Kami semua sangat berduka atas kepergiannya. Namun, saya mohon pengertian Bapak dan Ibu sekalian... Kasus ini dilarang untuk diliput oleh media apa pun."
Kalimat itu langsung memancing kebingungan dan protes dari para pewarta. Suara riuh kembali bangkit.
"Dilarang diliput?! Kenapa begitu, Pak Herman? Ini kan hak publik untuk tahu!" seru seorang wartawan.
Pak Herman mengangkat tangannya lagi, meminta waktu untuk menjelaskan. "Demi keamanan, ketertiban, dan terutama demi reputasi serta nama baik sekolah kami yang sudah dijaga ratusan tahun lamanya. Kejadian ini adalah musibah murni, dan kami tidak ingin berita ini disalahartikan, dilebih-lebihkan, atau menimbulkan kesimpulan yang salah di mata masyarakat. Kami tidak ingin lingkungan belajar murid-murid kami menjadi tidak nyaman atau terganggu. Oleh karena itu, kami tegaskan... Tidak ada keterangan lebih lanjut, tidak ada wawancara, dan Bapak-Ibu sekalian tidak akan mendapatkan apa-apa di sini. Kami sudah menanganinya secara internal dan sudah selesai."
Pernyataan Pak Herman itu terdengar seperti sebuah tembok beton yang tertutup rapat. Ia sengaja menggunakan alasan 'reputasi' dan 'keamanan' sebagai tameng utama, persis seperti yang diperintahkan Nyonya Tamara kemarin.
Namun, jawaban itu justru semakin membuat rasa penasaran dan kecurigaan para wartawan makin memuncak. Mereka bukannya pergi, malah makin maju mendekat ke pagar, pertanyaan-pertanyaan mereka makin tajam dan menuduh.
"Kalau memang musibah biasa, kenapa harus ditutup-tutupi begitu, Pak?!"
"Kami dapat kabar dari warga sekitar bahwa ada bekas darah yang banyak di atap gedung! Itu musibah biasa kah?!"
"Apakah benar ada laporan polisi yang diubah?! Kenapa jenazah langsung dikubur secepat kilat kemarin?!"
"Jawab kami, Pak! Apa yang sebenarnya disembunyikan di sekolah elit ini?!"
Pak Herman mulai terlihat bingung dan kewalahan. Wajahnya makin pucat mendengar pertanyaan-pertanyaan yang mengarah ke sana. Bu Melda di sampingnya tampak sangat gugup, sesekali menarik ujung jas Pak Herman memberi isyarat agar segera masuk kembali.
"Saya sudah bilang, tidak ada yang disembunyikan! Tolong hormati keputusan kami dan rasa berduka keluarga almarhumah! Mohon mundur, Bapak-Ibu sekalian! Mohon mundur!" seru Pak Herman, nadanya kini terdengar sedikit tegas dan marah karena merasa terdesak.
Suasana riuh rendah dan penuh ketegangan di gerbang utama sekolah itu tiba-tiba terhenti seketika, saat terdengar suara klason panjang dan berat dari arah luar, suara yang menggetarkan hati seolah menuntut perhatian dan jalan lebar bagi pemiliknya. Semua orang, baik murid, guru, petugas keamanan, maupun para wartawan, serentak menolehkan kepala. Kerumunan yang tadinya berdesak-desakan seketika terbelah sendiri, memberikan jalan lebar seolah terpisah oleh kekuatan tak kasat mata, membiarkan benda itu lewat tanpa hambatan sedikit pun.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam pekat, berkilauan memantulkan cahaya matahari, berjalan perlahan namun anggun memasuki gerbang utama Hantage School Academy. Mobil itu terlihat begitu istimewa, hingga kehadirannya saja sudah memancarkan aura kekuasaan dan kemewahan yang tak tertandingi. Kendaraan itu melaju pelan menyusuri jalan utama halaman sekolah, lalu berhenti tepat di depan tangga utama gedung, tempat Pak Herman dan para guru sedang berdiri kaku menunggu dengan penuh rasa hormat sekaligus ketakutan.
Suara mesin mati, dan keheningan mencekam menyelimuti seisi halaman. Pintu samping kanan mobil itu terbuka secara otomatis, dan perlahan keluarlah sosok yang ditunggu-tunggu itu.
Seorang wanita dengan penampilan sangat anggun dan cantik, berusia sekitar 40 tahun, melangkah turun dengan gerakan yang sangat terlatih dan berkelas. Setiap helai rambutnya tersusun rapi, wajahnya cantik dan tajam, dibalut riasan tebal namun terlihat sempurna. Ia mengenakan pakaian rancangan merek terkenal yang harganya pasti selangit, serta menggenggam sebuah tas tangan bermerek yang berkilauan. Aura yang dipancarkannya begitu kuat, memikat semua pandangan mata yang ada di sana, namun di balik kecantikannya itu tersimpan tatapan mata yang dingin, tajam, dan penuh wibawa yang menakutkan.
Keisha yang berdiri di samping Elara seketika menutup mulutnya dengan tangan, matanya terbelalak kaget dan berbisik pelan namun jelas terdengar oleh Elara.
"Tante Tamara..."
Elara tersentak hebat, seolah ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia menatap lekat-lekat wanita itu, ingatannya langsung melayang kembali ke percakapan telepon Pak Herman di atap sekolah, dan ancaman yang disampaikan Arkan. Napasnya tercekat di tenggorokan.
"Jadi... jadi itu Nyonya Tamara?" tanya Elara dengan suara berbisik yang bergetar tak percaya.
Keisha mengangguk cepat, wajahnya pucat pasi. "Iya, El... Itu dia. Tante Tamara. Pemilik sekolah ini. Wanita paling berkuasa, paling kaya, dan paling ditakuti di sini... Ternyata benar, dia datang."
Ya, wanita anggun nan cantik itulah Nyonya Tamara. Wanita yang namanya saja sudah cukup untuk membuat Pak Herman patuh, polisi diam, dan keadilan dikubur begitu saja.
Nyonya Tamara berjalan melangkah perlahan menyusuri jalan setapak menuju tangga utama. Langkahnya begitu tenang, wajahnya tersenyum tipis, namun matanya mengamati sekeliling dengan pandangan penguasa yang sedang meninjau wilayah kekuasaannya. Para wartawan yang awalnya sibuk berteriak, kini kembali aktif mengarahkan kamera dan alat perekam mereka, bersemangat meliput kedatangan sang pemilik sekolah yang misterius namun sangat berpengaruh itu.
Belum sempat Nyonya Tamara melangkah lebih jauh, sesosok gadis berjalan bergegas dari arah koridor depan, wajahnya berseri-seri penuh kebahagiaan dan kebanggaan. Itu Valerie. Ia berlari kecil menuju ibunya, lalu langsung memeluk erat lengan wanita itu dengan manja dan bangga.
"Mami! Akhirnya Mami datang juga!" seru Valerie dengan suara yang terdengar sangat lembut dan manja, sangat berbeda jauh dari nada bicaranya yang kasar dan angkuh saat berbicara dengan Elara tadi.
Nyonya Tamara langsung membalas pelukan itu, mengusap lembut pipi putri tunggalnya itu sambil tersenyum penuh kasih sayang dan kebanggaan. Ia menatap Valerie lekat-lekat.
"Anak Mami yang paling cantik... Mami kangen banget sama kamu, Sayang," ucap Nyonya Tamara dengan nada lembut, namun tetap terdengar berwibawa.
Valerie tersenyum lebar, bersandar bahu pada ibunya dengan penuh kemenangan. "Aku senang banget Mami datang ke sini. Sekarang semuanya bakal beres kan, Mi? Nggak bakal ada lagi yang berani ngomong macem-macem atau ngelawan aku di sini."
Nyonya Tamara tertawa kecil, suara tawanya renyah namun entah mengapa terasa mengerikan. Ia mengangguk mantap. "Mami juga senang banget bisa ke sini, Valerie sayang. Tenang saja... Selama Mami ada di sini, dan selama Mami yang pegang kendali sekolah ini, nggak ada satu pun orang yang berani menyakiti kamu atau melawan keinginan kamu. Mami pastikan itu."
Di kejauhan, Elara dan Keisha hanya bisa diam mematung melihat pemandangan itu. Jadi benar... Valerie adalah anak kandung Nyonya Tamara. Itulah alasan mengapa Valerie bisa bertindak semena-mena, itulah alasan mengapa ia merasa paling berkuasa. Dan sekarang, perlindungan mutlak bagi Valerie sudah berdiri tepat di depan mata mereka.
Namun, suasana hangat itu tidak berlangsung lama. Puluhan wartawan yang sejak tadi menunggu kesempatan, kini bergerak maju serentak mendekati Nyonya Tamara, berusaha melontarkan pertanyaan-pertanyaan tajam mereka. Namun, sebelum mereka sempat mendekat, beberapa pria berbadan besar berpakaian seragam hitam yang ternyata adalah pengawal pribadi Nyonya Tamara, segera melangkah maju dan membentuk lingkaran pelindung rapat di sekeliling ibu dan anak itu, menghalangi siapa pun agar tidak terlalu dekat.
"Mohon mundur! Jangan mendekat!" perintah salah satu bodyguard dengan suara keras.
Meski terhalang, para wartawan tetap bersemangat meneriakkan pertanyaan mereka, sebagian besar masih berpusat pada kasus kematian Dinda.
"Nyonya Tamara! Bagaimana pendapat Ibu mengenai kasus kematian siswi bernama Dinda kemarin?!"
"Benarkah ada indikasi kekerasan atau pembunuhan di sekolah ini?!"
"Kenapa kasus ini ditutup dan jenazah langsung dimakamkan?! Apa yang sebenarnya terjadi?!"
"Apakah sekolah menutupi sesuatu demi nama baik?!"
Pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan bertubi-tubi. Nyonya Tamara mengangkat tangannya perlahan, memberi isyarat agar semua orang diam dan mendengarkan dirinya. Senyum tipis masih terukir di bibirnya, sama sekali tidak terlihat gugup atau ketakutan sedikit pun.
"Tenang, Bapak dan Ibu wartawan sekalian. Saya tahu apa yang ingin kalian tanyakan, dan saya di sini justru ingin memberikan penjelasan yang jelas dan terbuka kepada publik," ucap Nyonya Tamara dengan nada meyakinkan. Ia menghela napas seolah berduka, lalu melanjutkan. "Mengenai kejadian menyedihkan kemarin... Almarhumah Dinda Kusuma. Saya tegaskan sekali lagi di sini: Itu sama sekali bukan kesalahan sekolah kami, dan bukan pula kelalaian kami. Itu sepenuhnya kesalahan Dinda sendiri."
Suasana hening seketika. Semua orang mendengarkan lekat-lekat.
"Berdasarkan keterangan yang kami terima dan hasil pemeriksaan medis, almarhumah memiliki masalah pribadi dan tekanan batin yang cukup berat. Ia dinyatakan meninggal akibat tindakan bunuh diri, karena masalah yang ia hadapi sendiri, bukan karena ada paksaan atau perlakuan buruk dari pihak sekolah maupun teman-temannya," jelas Nyonya Tamara dengan lancar dan terstruktur, sama sekali tidak ada keraguan.
Ia melanjutkan lagi, nada bicaranya berubah menjadi nada pembelaan yang menyedihkan.
"Memang benar kami menutupi beberapa fakta awal dan meminta polisi untuk menangani ini secara tertutup. Tapi kami melakukan itu bukan karena kami bersalah atau menyembunyikan kejahatan... Kami melakukan itu semata-mata karena kami tidak mau nama baik dan reputasi sekolah kami yang sudah dibangun ratusan tahun ini menjadi buruk dan rusak gara-gara kejadian yang sangat menyedihkan ini. Kami tidak ingin sekolah ini dicap buruk di mata masyarakat hanya karena musibah dan masalah pribadi seorang siswi. Kami ingin menjaga nama baik lembaga pendidikan ini demi murid-murid lain yang berprestasi."
Nyonya Tamara menundukkan wajahnya seolah sedih, lalu mengangkatnya kembali dengan tatapan tulus.
"Dan satu hal lagi yang harus kalian ketahui... Sebagai bentuk rasa belas kasih dan tanggung jawab moral kami terhadap almarhumah, kami sudah memberikan santunan yang sangat besar dan layak kepada keluarga Dinda. Kami sudah memastikan ibu dan adiknya akan hidup cukup dan terjamin ke depannya. Kami sudah melakukan semua kewajiban kami dengan sangat baik dan manusiawi."
Begitu penjelasan itu selesai dilontarkan, suasana di antara para wartawan berubah drastis. Mereka yang tadinya curiga dan menuduh, kini mulai saling pandang dan mengangguk-angguk. Beberapa dari mereka bahkan mulai menulis catatan dengan wajah kagum.
"Wah, ternyata begitu ceritanya... Berarti sekolah ini sama sekali tidak bersalah ya," gumam seorang wartawan.
"Benar juga... Wajar kalau mereka jaga nama baik. Lagian korban memang punya masalah sendiri," tambah yang lain.
"Hebat juga Nyonya Tamara, meski bukan salah mereka, mereka tetap kasih santunan besar ke keluarga. Baik banget hatinya," ucap salah satu wartawan sambil tersenyum kagum. "Sekolah elit memang beda, sangat bertanggung jawab dan manusiawi."
Pujian-pujian mulai terdengar bergema dari kalangan media. Nyonya Tamara tersenyum puas melihat reaksi itu. Ia berhasil memutarbalikkan fakta, mengubah pembunuhan menjadi bunuh diri, mengubah penutupan kasus menjadi tindakan menjaga reputasi, dan mengubah suap penutup mulut menjadi tindakan kebajikan. Semuanya tertelan mentah-mentah oleh media dan publik yang ada di sana.
Di sudut halaman yang agak jauh, Elara berdiri kaku, seluruh tubuhnya gemetar hebat karena amarah yang tertahan. Matanya menatap tajam ke arah wanita itu, matanya memerah menahan air mata dan rasa benci.