Kristella Duan tak menyangka jika pekerjaannya sebagai penulis novel erotis membawanya terjebak dalam pusaran obsesi mafia kejam Dominic Stralerr. Ketua klan mafia terbesar yang hanya bisa bergairah karena membaca novel yang dia buat.
Bagaimana Kristella di tekan untuk membuat cerita- cerita hanya untuknya, dan demi membangkitkan gairahnya yang telah mati. Hingga sebuah ide gila muncul yang Kristella kira bisa membuatnya lepas dari tekanan tersebut, namun justru membuatnya semakin terjerat dan tak bisa lepas.
"Bagaimana kalau kita praktekan saja secara langsung, Tuan?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenah adja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Akan Lepas Dengan Mudah
"Tunggu, Tuan. Ini pertama kalinya untukku."
"Apa!"
Dominic mengernyit dalam. "Kau hanya berusaha menghindar?" Siapa yang akan percaya penulis novel erotis tidak pernah melakukannya?
"A—ku memang tidak pernah melakukannya." Wajah Ella yang sejak tadi merah, semakin merona.
Usianya 24 tahun memang terdengar memalukan saat dia belum pernah bercinta. "Aku ... bahkan baru berciuman denganmu."
Dominic semakin tak percaya, saat ciuman Ella seperti gadis berpengalaman.
"Dan kau pikir aku percaya melihat caramu itu?"
Ella mencebik. "Kau tahu aku penulis erotis."
"Lalu dari mana kau tahu caranya?"
"Itu reaksi alami manusia. Lagi pula, aku juga sering menonton ... Film 'itu' untuk referensi novelku."
Dominic mendesah, menepuk permukaan kasur, lalu terkekeh.
"Sial!"
Pria itu mengumpat lalu bangkit dan mendudukkan dirinya.
"Pergilah!" katanya masih tak mau melihat Ella.
Ella yang masih tertegun mengerjapkan matanya. "Kau yakin ... tuan? Jadi, kau tidak akan membunuhku, kan?"
"Pergi sebelum aku berubah pikiran!" Mendengar nada tinggi itu Ella beringsut turun, mengambil pakaiannya lalu mengenakannya dengan cepat.
Langkah Ella yang terburu-buru tersandung hampir terjatuh andai tak dengan cepat berpegangan, lalu dengan cepat lari kembali menutup pintu kamar Dominic.
Dominic memejamkan matanya tangannya yang menyangga tubuhnya di atas kasur mengepal erat. Intinya masih bereaksi hingga bahkan saat Ella sudah tak terlihat.
Pria itu terkekeh campuran frustasi juga lega. Ternyata dia bukan pria yang tidak mampu.
Sekarang bagaimana? Reaksi tubuhnya masih ada, dan dia tetap tak bisa mengungkapkan hasratnya.
Dominic bangkit dan masuk ke kamar mandi, dia harus mendinginkan tubuhnya yang masih bereaksi. Dia memilih mandi air dingin, dari pada merasa bersalah sebab melakukannya dengan gadis yang baru pertama kalinya. Bukan apa- apa Dominic juga tak ingin terikat dengan gadis hanya karena mereka melakukannya untuk pertama kalinya. Mereka akan menuntut lebih dan akan sangat merepotkan.
Ella sendiri berlari ke arah kamarnya, lalu mengunci pintu. Jantungnya berdebar kencang dengan tubuh yang bersandar di pintu. Ella menatap dirinya, pakaiannya berantakan sebab terburu-buru mengenakannya.
"Astaga! Apa yang terjadi barusan?" Ella menyentuh bibirnya, lalu berjalan ke arah cermin untuk melihat dirinya, dan makin terkejut saat melihat di lehernya banyak bercak merah.
Seolah tak sadar Ella bahkan seperti menikmati cumbuan Dominic.
"Tapi, tunggu! Kenapa dia berhenti saat aku bilang ini pertama kalinya?" Ella menggigiti kukunya masih dengan menatap cermin di depannya.
"Apa karena aku masih perawan dia tak berani melakukannya?"
Bukannya Ella berharap Dominic benar-benar menyentuhnya, tapi apa dia memang tidak pantas karena masih perawan?
Ella mencebik. "Bagaimana kalau sampai nanti tidak ada yang mau denganku?" Hidup di Negera yang membolehkan hidup bebas memang membuat Ella semakin terlihat tertinggal sebab dia yang memang tak pernah ada yang mendekatinya bahkan untuk sekedar pacaran.
Orang-orang akan memilih wanita yang sudah pernah melakukannya dibanding dengan yang belum pernah sama sekali sebab dari yang Ella tahu mereka para lelaki memang tak mau di repotkan dengan sesuatu yang menuntut nantinya.
Ella menghela nafasnya, "Tidak masalah kalau memang aku harus hidup sendiri. Lagi pula aku sudah terbiasa." Namun dalam hati dia tetap merasa sedih, membayangkan dia akan berakhir seorang diri.
"Setidaknya masalahnya sudah selesai. Bukankah aku bisa keluar dari rumah ini?" Ella duduk di depan cermin masih menatap ke depan namun kali ini justru tatapannya kosong.
Entah kenapa dia justru merasa sedih.
Ella menyentuh matanya dimana kaca mata bulatnya telah hilang sebab di lempar Dominic tadi.
Mengingat itu Ella jadi teringat keganasan Dominic, dan membayangkannya lagi Ella kembali berdebar- debar dan wajah yang memerah.
"Berhenti membayangkannya, Ella. Kau sudah seperti wanita murahan." Ella mencebik lalu pergi ke arah ranjang dan membaringkan dirinya. Dia butuh istirahat agar pikirannya kembali jernih. Lagi pula dia juga harus mulai berpikir untuk segera pergi. Toh Dominic juga terbukti bukan pria yang tidak mampu. Jadi sudah pasti dia akan diijinkan pergi.
....
Pagi hari Ella bersiap untuk menemui Dominic, saat baru keluar koridor matanya mengernyit saat melihat siluet seorang pria yang berjalan dari arah berlawanan. Hingga semakin dekat pria itu semakin nampak jelas Ella pun segera menghampiri.
"Tuan, Bobby, kau akan menemui Tuan Dom?" Bobby berhenti dengan dahi mengernyit.
"Nona Ella?" Bobby memperhatikan wajah Ella. "Dimana kacamatamu?"
Ella meringiskan senyuman. "Hehe... tertinggal di kamar tuan semalam. Bisakah kau ambilkan, dan juga aku juga harus segera pergi—"
"Tunggu!" Potong Bobby dengan cepat. "Jadi, kau bisa melihat tanpa kaca mata? Lalu kenapa kau harus mengenakan itu? Kau tahu itu sangat mengganggu pandanganku?" Kalau di lihat tanpa kaca mata besar itu penampilan Ella nampak lebih baik.
"Aku tidak buta. Lagi pula aku rabun jauh." Ella mencebik. "Jadi, bisakan aku mendapatkannya kembali sebelum pergi?"
Bobby menggaruk dahinya. "Tentu, tapi kemana kau akan pergi?"
Ella melihat sekitarnya lalu meminta Bobby mendekat untuk berbisik, "Aku sudah berhasil membuktikan kalau Tuan Dom bisa 'melakukannya'. Jadi, aku sudah bisa pergi, kan?"
Kerutan di dahi Bobby menghilang berganti dengan raut terkejut sesaat sebelum kembali ke raut datarnya. "Dari mana kau berani menyimpulkan jika kau sudah boleh pergi?" Tentu saja dia harus menanyakannya pada Dominic lebih dulu, apa yang gadis ini katakan benar atau tidak.
"Tapi—"
"Tugasmu adalah menulis. Menulislah lagi, Nona," ucap Bobby penuh penekanan.
Ella menghentakkan kakinya dengan kesal lalu kembali ke arah kamarnya.
Melihat kepergian Ella Bobby melanjutkan langkahnya untuk memasuki kamar Dominic.
Dia harus memastikan kebenarannya jika Dominic benar-benar bisa 'melakukannya'.
Tok!
Tok!
Tok!
Pintu terketuk tegas namun tidak terburu- buru. Beberapa menit dia berdiri namun tak juga pintu terbuka.
Bobby menekan handel pintu, namun saat pintu terkunci dia tak punya pilihan lain selain kembali mengetuk. Barulah di ketukan ketiga pintu benar-benar terbuka.
Dominic muncul masih dengan handuk yang membalut tubuhnya dan tubuh basah menadakan jika pria itu baru selesai mandi.
Setelah membuka pintu Dominic kembali dan masuk ke arah walkin closet. Sementara Bobby menatap punggung Dominic hingga tertelan ruangan ganti tersebut.
"Tuan, Nona Ella menanyakan kacamatanya yang tertinggal di ruangan anda." Bobby melihat kaca mata Ella tergeletak diatas nakas. Rasa penasaran membuatnya mengerutkan keningnya. Dia tak tahu apa yang terjadi semalam. Dia juga belum sempat bertanya pada kepala pelayan sebab semalam setelah pekerjaannya selesai dia juga kembali ke kamar tanpa menghiraukan hal lainnya.
Beberapa saat Bobby menunggu reaksi Dominic hingga pria itu keluar dengan mengancing kemejanya.
"Nona bilang di juga akan pergi karena sudah membuktikkan jika anda bukan pria 'tidak mampu'."
Dominic menaikan alisnya namun tetap melanjutkan kegiatannya.
"Anda yakin akan melepaskannya setelah yang dia ketahui terlalu banyak?"
"Siapa bilang aku akan melepaskannya?" Dominic menyeringai.
"Gadis itu pikir setelah apa yang terjadi dia akan lepas dengan mudah?"
...
Pengumuman! Bab selanjutnya gak akan up sebelum like mencapai 30. Tiga Bab menuju penilaian retensi, karena kalau retensi gagal artinya buku ini tidak akan selesai disini. Mohon bantuannya ya teman- teman. Karena keberlangsungan buku ini juga tergantung kalian 🙏
kan kamu yg ngawalin....
jadi ketagihan kan itu Dom..🤭
ada musuh atau emang sengaja diledakin sama Dom buat ngehapus jejak 🤔🤔
kamu malah bikin Ella jadi takut sama kamu..
bakal kangen dunks kak ....
aq dah vote kamu nih..
semoga retensi kamu bagus ya..