NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Reinkarnasi Sang Kaisar Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Epik Petualangan
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Lima ratus tahun yang lalu, Lin Chen adalah Kaisar Pedang Ilahi yang berdiri di puncak Alam Dewa. Namun, saat ia mencoba menembus batas tertinggi kultivasi, ia dikhianati oleh tunangannya, Dewi Teratai Salju, dan saudara seperjuangannya, Kaisar Naga Hitam. Tubuhnya hancur, dan jiwanya tercerai-berai.
​Kini, lima ratus tahun kemudian, jiwa Lin Chen terbangun di Benua Langit Biru, di dalam tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama. Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Terbesar" di Kota Daun Musim Gugur karena meridiannya cacat sejak lahir. Namun, mereka tidak tahu bahwa di dalam lautan jiwanya, Lin Chen membawa Sutra Pedang Kehampaan, sebuah teknik kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap energi alam semesta.
​Dimulailah perjalanan Lin Chen untuk merangkai kembali takdirnya, menginjak jenius arogan, menaklukkan naga suci, dan kembali ke Alam Dewa untuk menuntut darah para pengkhianatnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Pembantaian di Lembah Angin Berbisik

​Malam turun menyelimuti Jalur Angin Berbisik dengan sangat cepat. Suara angin yang berhembus melewati celah-celah tebing terdengar seperti rintihan hantu, memberikan nama yang pas untuk lembah mematikan tersebut.

​Karavan Keluarga Su mendirikan kemah di sebuah area datar yang dikelilingi formasi bebatuan. Para penjaga berjaga-jaga dalam formasi melingkar, wajah mereka tegang. Meskipun mereka selamat dari serangan Raja Serigala Darah kemarin, lembah ini masih menyimpan seribu satu bahaya lain.

​Di atas atap kereta utama, Lin Chen duduk bersila layaknya patung dewa yang tak tergoyahkan. Pedang Berat Penelan Bintang tergeletak di pangkuannya. Di telapak tangannya, lima buah Batu Spiritual Menengah memancarkan cahaya biru lembut yang menerangi wajahnya yang tenang.

​"Energi di dalam batu spiritual menengah ini sangat murni, setidaknya sepuluh kali lipat lebih padat dari batu tingkat rendah. Dengan lima batu ini, aku bisa menembus kemacetan kultivasiku saat ini."

​Lin Chen menutup matanya dan membentuk segel purba dengan tangannya.

​Sutra Pedang Kehampaan mulai berputar di dalam Dantian-nya, menciptakan pusaran energi tak kasat mata. Seketika, cahaya biru dari kelima batu spiritual itu ditarik keluar menjadi aliran benang-benang cahaya yang masuk ke dalam hidung, mulut, dan pori-pori Lin Chen.

​Jika kultivator biasa mencoba menyerap lima Batu Spiritual Menengah sekaligus, meridian mereka akan meledak karena kelebihan kapasitas. Namun, meridian Lin Chen telah diperluas dan diperkuat hingga sekeras baja oleh Cairan Penempa Tubuh dan Mata Air Roh Es. Energi itu mengalir masuk tanpa hambatan, diubah menjadi Qi pedang yang tajam dan ganas.

​Satu jam... dua jam berlalu.

​Cahaya kelima batu spiritual itu perlahan meredup, lalu hancur menjadi debu putih yang tertiup angin malam.

​KRAK!

​Sebuah suara retakan halus terdengar dari dalam tubuh Lin Chen. Aura yang sebelumnya tertahan di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 6, kini meledak keluar bak bendungan yang jebol, menyapu dedaunan kering di sekitar kereta kuda.

​Ranah Kondensasi Qi Tingkat 7!

​Lin Chen membuka matanya. Ada kilatan pedang emas yang melintas di kedalaman pupilnya, membelah kegelapan malam sejenak. Ia mengepalkan tinjunya, merasakan kekuatan yang jauh melampaui sebelumnya. Di Tingkat 7, Qi di dalam tubuhnya mulai memadat dan berubah wujud dari gas menjadi tetesan cair, membuat setiap serangannya nanti akan mengandung daya hancur berlipat ganda.

​"Sayang sekali, masih terlalu lemah," gumam Lin Chen tidak puas. Di kehidupan masa lalunya, ia bisa menghancurkan bintang hanya dengan jentikan jari. "Tapi untuk saat ini, cukuplah untuk membunuh beberapa lalat besar."

​Tepat ketika Lin Chen baru saja menstabilkan auranya, telinganya yang tajam menangkap suara gesekan di atas tebing yang berjarak ratusan meter dari kemah.

​"Awas! Serangan musuh!"

​Lin Chen belum sempat memperingatkan, ketika Kapten Su Li di bawah sana telah berteriak keras. Insting bertarung sang kapten sebagai veteran menyelamatkannya dari sebuah anak panah hitam yang menancap tepat di tanah tempat ia berdiri sedetik yang lalu.

​WUSH! WUSH! WUSH!

​Hujan panah berapi tiba-tiba melesat turun dari atas tebing, menerangi malam yang gelap. Para penjaga karavan segera mengangkat perisai mereka, membentuk formasi pertahanan di sekeliling kereta Nona Su Ruoxue.

​Suara tawa serak dan kasar menggelegar dari atas bukit pasir, bergema ke seluruh lembah.

​"Hahaha! Karavan Keluarga Su! Tinggalkan semua harta, kereta, dan para wanita kalian, maka Kakek Kuang ini akan mempertimbangkan untuk membiarkan para penjaga anjing ini hidup!"

​Sekitar lima puluh orang pria berwajah bengis yang mengenakan zirah kulit melompat turun dari formasi bebatuan, mengepung karavan tersebut. Mereka memegang berbagai senjata yang meneteskan darah kering. Lambang tengkorak dengan belati bersilang tergambar di dada mereka.

​Wajah Su Li seketika pucat pasi. "Perompak Tengkorak Berdarah... Dan itu... Kuang San!"

​Di tengah kerumunan perompak itu, melangkah maju seorang pria bertubuh raksasa dengan bekas luka sayatan melintang di wajahnya. Ia memanggul sebuah gada berduri yang terbuat dari baja hitam seberat ratusan kilogram. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar pelan.

​Aura yang dipancarkan oleh Kuang San membuat seluruh penjaga karavan putus asa.

​Ranah Kondensasi Qi Tingkat 9 Puncak!

​Hanya tinggal setengah langkah lagi bagi pria buas ini untuk menembus Ranah Pembentukan Fondasi. Di jalur pinggiran ini, ia adalah raja absolut.

​"Kapten Su, apa yang harus kita lakukan?" salah satu penjaga bertanya dengan suara gemetar. Menghadapi monster Tingkat 9, mereka hanyalah domba yang menunggu disembelih.

​Su Li menggertakkan giginya hingga berdarah. Ia menatap ke arah kereta kuda utama. Harapan satu-satunya adalah pemuda misterius yang menyelamatkan mereka kemarin. Namun, ketika ia mengingat bahwa Kuang San berada di Tingkat 9, harapannya kembali redup. Lin Chen masih terlalu muda, mungkinkah dia bisa melawan seseorang di puncak Kondensasi Qi?

​"Gadis di dalam kereta itu... bau harum perawannya bisa kucium dari sini!" Kuang San menjilat bibirnya yang kering. Ia mengayunkan gada berdurinya, menghasilkan angin badai yang menerbangkan beberapa penjaga Tingkat 4. "Bunuh para pria, tangkap para wanita! Jangan biarkan satu pun lolos!"

​"HIAAAH!" Para perompak bersorak buas dan bersiap menerjang.

​Tring!

​Di tengah keributan yang memekakkan telinga itu, sebuah suara dentingan pedang yang sangat pelan dan jernih tiba-tiba terdengar. Suara itu tidak keras, namun entah bagaimana menembus hiruk-pikuk dan bergema langsung di dalam lautan jiwa setiap orang yang hadir.

​Semua pergerakan mendadak berhenti.

​Kuang San mengerutkan dahi, menatap ke arah kereta utama. Di atas atap kereta itu, sesosok pemuda berjubah hitam perlahan bangkit berdiri. Tangannya memegang sebuah pedang raksasa hitam yang disandarkan santai di bahunya.

​"Kau berisik sekali," suara Lin Chen terdengar datar, menyebar ke seluruh lembah bagai bisikan dewa kematian. "Baru saja aku menyelesaikan kultivasiku, dan kalian datang mengotori udara dengan bau busuk kalian."

​Kuang San menyipitkan matanya, menggunakan indra spiritualnya untuk memeriksa kultivasi Lin Chen. Ketika ia mendapati bahwa pemuda itu berada di Ranah Kondensasi Qi Tingkat 7, tawanya meledak.

​"Bocah Tingkat 7? Hahaha! Kapten Su, apakah ini kartu asmu? Seorang bocah ingusan berbaju hitam?!" Kuang San meludah ke tanah. Ia menunjuk Lin Chen dengan gada berdurinya. "Hei, Iblis Kecil! Kulihat pedang di bahumu itu cukup bagus. Serahkan padaku, lalu potong lehermu sendiri. Itu akan menghemat waktuku!"

​Lin Chen menghela napas panjang. Ia menunduk menatap Kuang San dari atas kereta, seolah sedang menatap seekor semut yang mencoba menantang naga.

​"Orang-orang bodoh di dunia ini selalu mengulang kalimat yang sama," ucap Lin Chen. "Kalian mengukur langit dari dasar sumur. Karena kau sangat menyukai pedangku... mari kita lihat apakah kau sanggup menahannya."

​DUAAAR!

​Lantai atap kereta itu sama sekali tidak retak, namun tubuh Lin Chen melesat hilang dari pandangan layaknya teleportasi. Ia menggunakan teknik gerak dasar yang ditenagai oleh ledakan Qi Tingkat 7.

​"Cepat sekali!" Pupil mata Kuang San menyusut tajam. Insting bertarungnya selama puluhan tahun berteriak bahaya.

​Ia segera menyalurkan seluruh Qi Tingkat 9 miliknya ke dalam gada berdurinya, mengangkatnya ke atas untuk menangkis. "Gada Penghancur Bumi!"

​Tepat di atasnya, Lin Chen muncul di udara, diselimuti cahaya bulan yang pucat. Ia menggenggam Pedang Berat Penelan Bintang dengan dua tangan dan menebaskannya ke bawah. Ia tidak menggunakan teknik apa pun, hanya membiarkan berat 500 kilogram pedang itu dikombinasikan dengan kepadatan Qi murni dari Sutra Pedang Kehampaan.

​BZZZTTT... KLAAANG!

​Bilah pedang hitam legam itu menghantam gada baja berduri milik Kuang San.

​Hening sejenak.

​Lalu, sebuah ledakan gelombang kejut yang mengerikan menyapu area sekeliling mereka. Tanah di bawah kaki Kuang San ambles sedalam satu meter, membentuk kawah raksasa.

​KRAAAK! PRANG!

​Gada baja berduri yang diklaim terbuat dari Besi Meteorit itu hancur berkeping-keping seolah terbuat dari kaca murahan!

​"TIDAK MUNGKIN!" Kuang San menjerit histeris. Ia merasakan sebuah kekuatan yang menentang surga merobek pertahanan Qi-nya.

​Pedang hitam raksasa itu tidak berhenti sedikit pun setelah menghancurkan gada tersebut. Dengan momentum yang tak terbendung, bilah tumpul itu meluncur ke bawah, menghantam tepat di tengah kepala Kuang San.

​BAM!

​Suara memuakkan terdengar. Tubuh raksasa Kuang San... hancur meledak menjadi kabut darah! Bahkan tulang-tulangnya berubah menjadi debu di bawah tekanan Pedang Penelan Bintang. Seorang ahli puncak Tingkat 9 terhapus dari eksistensi hanya dalam satu tebasan frontal!

​Angin malam kembali berhembus, menerbangkan kabut darah yang tersisa.

​Lin Chen berdiri perlahan di dasar kawah, mengibas sisa darah dari bilah pedangnya. Ia mengangkat kepalanya dari balik topi bambu, menatap ke arah lima puluh perompak yang kini membeku seperti patung.

​"Siapa selanjutnya?" tanya Lin Chen tenang.

​Para perompak itu saling berpandangan, wajah mereka seputih kertas. Bos mereka yang tak terkalahkan... mati meledak dalam satu serangan!

​"M-MONSTER!!!"

​"Lari! Selamatkan diri kalian!"

​Kelompok perompak yang ganas itu seketika membuang senjata mereka dan lari tunggang-langgang ke berbagai arah, menjerit ketakutan layaknya melihat dewa iblis turun ke bumi.

​Lin Chen tidak repot-repot mengejar mereka. Ia mengembalikan pedangnya ke sarung di punggung, lalu melompat kembali ke atas atap kereta dengan ringan.

​Di bawah sana, Su Li dan para penjaga karavan menatap Lin Chen dengan rahang yang nyaris lepas. Bahkan Su Ruoxue yang sempat membuka tirai keretanya, menutupi mulutnya karena terkejut melihat pembantaian sepihak barusan.

​Tingkat 7 membunuh puncak Tingkat 9 dalam satu pukulan! Dan dia melakukannya semudah bernapas!

​"T-Tuan Muda Lin..." Su Li menelan ludah, suaranya bergetar hebat penuh rasa hormat. "A-Anda telah menembus Tingkat 7?"

​Lin Chen hanya mengangguk pelan, menyilangkan tangannya dan kembali memejamkan mata.

​"Terus berjalan," perintah Lin Chen singkat. "Aku ingin tiba di ibu kota besok pagi."

​"B-Baik! Laksanakan, Tuan Muda Lin!" Su Li langsung memberi hormat secara militer, berbalik dan meneriaki pasukannya dengan semangat yang menggebu-gebu. Kehadiran pemuda ini benar-benar membuat mereka merasa seperti sedang dikawal oleh seekor naga!

​Keesokan harinya.

​Setelah melewati sisa malam tanpa ada satu pun hewan buas atau perompak yang berani mendekat karena aura sisa pembantaian, karavan Keluarga Su akhirnya keluar dari Jalur Angin Berbisik.

​Saat matahari pagi menyinari daratan yang membentang luas, di ujung cakrawala, sebuah pemandangan yang megah mulai terlihat.

​Tembok raksasa setinggi ratusan meter yang terbuat dari batu hitam kelabu menjulang membelah awan. Formasi pelindung berwarna keemasan menyelimuti langit di atasnya seperti mangkuk terbalik yang raksasa. Menara-menara istana yang menembus awan dan ribuan kapal terbang spiritual melintas masuk dan keluar dari gerbang kota.

​Itulah Ibu Kota Kerajaan Api Biru, pusat peradaban dan pusat pembantaian para jenius.

​Lin Chen berdiri di atas kereta, menatap kemegahan kota raksasa di depannya. Matanya memancarkan cahaya dingin yang antusias.

​"Akademi Bintang Jatuh..." sudut bibir Lin Chen melengkung ke atas. "Bersiaplah untuk menyambut kaisarmu."

1
Eddy S
kecewa cerita tanpa kelanjutan episode nya
Anonim: sabar lah bos ya kali langsung tamat
total 1 replies
Eddy S
pasti cerita ga ada kelanjutan nya 🤣🤣🤣cape deh
Albiner Simaremare
lanjut thor
Zero_two
👍👍👍👍
Zero_two
Dewi teratai udah terpesona sama 'kekuatan' terpendam si naga hitam kayaknya/Doge//Doge//Doge//Blush/
Romansah Langgu
Mantap thor,,, bar bar..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!