Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.
Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.
Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.
Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Amira ikut menangis lagi melihat keadaan ibu mertuanya. Namun kalimat berikutnya membuat dadanya terasa sesak sekaligus hangat.
“Ya Allah…” isak perempuan tua itu pecah, “Tolong bahagiakan Amira…” Tangannya masih terangkat gemetar ke langit-langit rumah. “Berikan dia pengganti yang jauh lebih baik!" Air mata beliau jatuh tanpa henti. “Lelaki yang benar-benar mencintainya…”
Amira langsung menutup mulutnya sambil menangis keras.
“Yang menjaga dia…”
“Yang memuliakan dia…”
“Yang tidak menyakitinya seperti anak hamba…” Tangisan di rumah itu kembali pecah bersama.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi Amira merasa ada seseorang yang benar-benar berdiri di pihaknya sepenuh hati. Bukan sebagai menantu. Tetapi sebagai perempuan yang layak dicintai dengan benar.
***
Luka di hati Amira terasa terlalu dalam. Terlalu kotor oleh pengkhianatan.
Setiap kali memejamkan mata, wajah Mirza dan Nurul terus muncul di kepalanya. Sahabat dan suami. Dua orang yang dulu paling dekat dalam hidupnya. Dan sekarang justru menjadi sumber luka terbesar yang pernah ia rasakan.
Amira duduk diam di teras rumah menjelang sore. Tatapannya kosong memandangi jalan depan rumah. Tubuhnya masih lemah karena demam dan nifas yang belum selesai. Namun pikirannya terasa jauh lebih lelah daripada badannya. Ia merasa sesak berada di rumah ini. Karena di setiap sudutnya ada kenangan tentang Mirza. Tentang harapan-harapan kecil yang dulu ia bangun sendiri. Dan semuanya kini terasa seperti ejekan.
“Ibu…” Suara Amira lirih memecah kesunyian.
Ibu Mirza yang sedang melipat pakaian di dekatnya langsung menoleh. “Iya, Nak?”
Amira menunduk beberapa detik sebelum akhirnya bicara pelan, “Aku mau minta izin.”
Perempuan tua itu langsung menghentikan pekerjaannya. “Izin apa?”
Amira menggenggam jemarinya sendiri kuat-kuat. “Aku ingin kembali ke pondok.”
Tatapan ibu mertuanya langsung berubah sedih.
Amira buru-buru melanjutkan sebelum beliau salah paham. “Bukan karena aku enggak nyaman di sini…” Air matanya mulai menggenang lagi. “Aku cuma…” napasnya bergetar pelan, “Aku butuh menenangkan diri.” Ia memejamkan mata sebentar. “Kalau terus di sini…” suaranya makin lirih, “aku takut enggak bisa tetap waras. Apalagi sudah terdengar kabar bahwa mas Mirza dan Nurul akan menikah. Jarak rumah kita terlalu dekat dengan mereka. Aku takut tak sengaja melihat mereka bersama. Aku belum sanggup." Amira menunduk sedih.
Kalimat itu membuat dada ibu Mirza terasa nyeri. Karena beliau tahu Amira memang sudah terlalu hancur. Apalagi dalam kondisi nifas seperti ini, perempuan memang lebih rapuh secara fisik dan hati.
“Aku juga masih nifas, Bu…” Amira tersenyum kecil pahit. “Aku takut sakit.”
Ibu Mirza langsung mengusap mata yang kembali basah. Beliau mengerti. Di pondok, setidaknya Amira bisa jauh dari semua bisik-bisik warga. Jauh dari bayangan Mirza dan Nurul. Dan mungkin dekat dengan satu-satunya hal yang membuat hatinya sedikit tenang akhir-akhir ini. Habibi.
Perempuan tua itu akhirnya menggenggam tangan Amira erat. “Kalau itu yang membuat hatimu lebih baik…” suara beliau bergetar lembut, “Pergilah, Nak.”
Tangis Amira langsung jatuh lagi. Namun kali ini berbeda. Karena untuk pertama kalinya ia merasa sedang melangkah pergi bukan sebagai istri yang kalah. Melainkan perempuan yang sedang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.
***
Pagi harinya Amira kembali ke pondok naik angkot. Jarak rumahnya memang tidak terlalu jauh, hanya beberapa menit perjalanan. Namun rasanya begitu panjang bagi Amira yang sepanjang jalan hanya diam memeluk tas kecilnya. Wajahnya pucat. Matanya masih bengkak akibat terlalu banyak menangis.
Sesekali ia menoleh keluar jendela angkot, membiarkan angin pagi menerpa wajahnya yang terasa panas. Tetapi luka di dadanya tetap tidak berkurang sedikit pun.
Ketika sampai di depan gerbang pesantren, Amira menarik napas panjang pelan. Ia berharap suasana pondok masih sepi. Mungkin hanya ada beberapa khadimah dan santri yang mulai beraktivitas pagi. Setidaknya ia ingin menenangkan diri dulu sebelum kembali menghadapi siapa pun.
Namun baru beberapa langkah masuk ke area ndalem, Amira mendengar suara tangis bayi. Jantungnya langsung berdegup cepat. Ia sangat mengenali suara itu.
“Habibi?” Amira mempercepat langkah refleks. Dan benar saja.
Di teras ndalem, Tiur sedang menggendong Habibi yang menangis cukup kencang sambil berjalan mondar-mandir kebingungan. Sementara beberapa khadimah lain tampak panik menyiapkan barang.
“Lho, Mbak Amira?” Tiur langsung terlihat lega begitu melihatnya. “Alhamdulillah panjenengan sudah datang.”
Amira mengernyit bingung sambil mendekati mereka. “Bukannya baru dua hari?” Ia ingat jelas Umi Salma bilang mereka mungkin akan tinggal di Mlati selama tiga hari. Makanya ia juga minta izin pulang selama tiga hari.
Tiur langsung mengangguk cepat. “Iya, harusnya begitu.”
“Terus kenapa pulang?”
Belum sempat Tiur menjawab, Habibi kembali menangis keras sampai wajah kecilnya memerah. Dan anehnya begitu bayi itu melihat Amira tangisnya langsung berubah.
Tangannya bergerak-gerak kecil ke arah Amira seolah mengenali seseorang yang ia cari sejak tadi. Hati Amira langsung mencelos. Refleks ia mengulurkan tangan. “Ke sini…”
Begitu berpindah ke pelukan Amira, tangis Habibi perlahan reda. Bayi kecil itu masih sesenggukan kecil sambil menempel di dada Amira dengan tenang.
Tiur sampai menghela napas lega. “Dari tadi Gus Habibi nangis terus, Bu.”
Amira mengusap punggung bayi itu pelan. “Kenapa pulangnya cepat?”
Tiur menurunkan suaranya sedikit. “Karena Gus Habibi enggak mau minum.”
Amira langsung menatapnya.
“ASIP-nya diminum sedikit-sedikit, habis itu nangis terus.” Tiur tampak kasihan. “Semalam juga susah tidur.”
Tatapan Amira perlahan turun ke wajah kecil dalam pelukannya. Bayi itu kini mulai tenang. Bahkan jemarinya menggenggam ujung jilbab Amira kecil-kecil. Dan entah kenapa di tengah hatinya yang sedang hancur pelukan kecil itu justru terasa seperti satu-satunya tempat yang masih membuatnya ingin bertahan.
Amira membawa Habibi masuk ke kamar dengan langkah pelan. Bayi itu masih menempel di dadanya dengan mata setengah terpejam. Sesekali terdengar suara sesenggukan kecil sehabis menangis terlalu lama.
“Kasihan…” lirih Amira sambil mengusap punggung mungilnya.
Tiur ikut masuk sambil membawa tas perlengkapan Habibi. “Malam tadi semua panik, Mbak.” katanya pelan. “Umi Salma sampai enggak tidur.”
Amira menoleh. “Karena Habibi?”
Tiur mengangguk. “Biasanya masih mau ASIP walaupun sedikit.” Ia menatap bayi itu kasihan. “Tapi kemarin benar-benar susah.”
Amira perlahan duduk di tepi ranjang Habibi. Begitu ia mencoba menjauh sedikit, bayi itu langsung merengek kecil sambil menggeliat mencari dadanya lagi. Hati Amira langsung terasa hangat sekaligus nyeri. Seolah bayi kecil ini benar-benar mengenali dirinya.
Tiur tersenyum kecil melihat itu. “Kayaknya Gus Habibi kangen.”
Amira menunduk cepat. Entah kenapa kalimat sederhana itu justru membuat matanya kembali panas. Karena setelah semua yang terjadi ada seseorang yang masih mencarinya. Masih membutuhkannya. Walaupun hanya seorang bayi kecil yang belum mengerti apa-apa.