Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.
Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.
Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Tamu Yang Tidak Diundang
Pagi ini, udara terasa sedikit lebih sejuk, namun suasana di SMA 1 Nusa Bangsa justru mendadak memanas. Cinta berangkat sekolah dengan perasaan yang jauh lebih mantap setelah curhat panjang lebar dengan Sarah semalam. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi menghindar. Jika Rian adalah awal yang baru, maka Cinta harus berani berdiri di sana, menyambut apa pun yang datang.
"Cin, ingat ya, jangan kabur lagi. Kalau dia senyum, balas saja dengan senyum paling manis. Biar dia yang salah tingkah!" goda Sarah sambil menyenggol bahu Cinta saat mereka berjalan melewati koridor menuju kelas XI MIPA 1.
Cinta hanya tertawa kecil. "Iya, Sar. Aku usahakan."
Namun, langkah mereka terhenti saat melihat kerumunan murid di depan papan pengumuman dekat ruang kepala sekolah. Bisikan-bisikan penasaran terdengar riuh. Cinta dan Sarah saling pandang, lalu ikut merapat untuk melihat apa yang sedang menjadi pusat perhatian.
"Eh, katanya ada murid pindahan baru ya?"
"Iya, cewek. Cantik banget katanya, kayak artis Jakarta."
Jantung Cinta mendadak berdegup kencang. Sebuah firasat buruk mulai merayap di benaknya. Ia mencoba menepis pikiran itu. Jakarta itu sangat jauh. Tidak mungkin seseorang senekat itu.
Saat mereka masuk ke kelas, suasana di dalam pun tak kalah heboh. Murid-murid lelaki tampak antusias, sementara murid perempuan sibuk bergosip. Rian sudah duduk di bangkunya, namun ekspresinya terlihat sangat tegang. Matanya menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras, dan tangannya mencengkeram pulpen hingga buku-buku jarinya memutih.
Cinta duduk di sampingnya. "Rian? Kamu tidak apa-apa?"
Rian menoleh pelan. Ada kilatan kecemasan di matanya yang biasanya tenang. "Cinta, ada sesuatu yang harus aku—"
Belum sempat Rian menyelesaikan kalimatnya, pintu kelas terbuka. Wali kelas mereka masuk dengan senyum lebar. Di belakangnya, berdiri seorang gadis yang membuat seluruh kelas seketika senyap.
Gadis itu mengenakan seragam putih abu-abu yang tampak sangat pas di tubuhnya yang proporsional. Rambut panjang kecokelatannya dibiarkan tergerai indah. Wajahnya yang dipoles riasan tipis namun berkelas terlihat sangat menonjol di antara murid-murid lainnya.
Cinta merasa dunianya seolah berhenti berputar. Gadis itu... adalah Clarissa.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru. Dia pindahan dari salah satu SMA ternama di Jakarta. Silakan, perkenalkan dirimu, Nak," ucap wali kelas.
Gadis itu tersenyum manis, sebuah senyuman yang tampak sangat terlatih. "Halo semuanya. Nama aku Clarissa. Aku baru saja pindah ke kota ini karena ada urusan keluarga, dan aku berharap bisa berteman baik dengan kalian semua."
Mata Clarissa menyapu seisi ruangan, dan saat matanya mendarat di kursi pojok belakang, senyumnya semakin lebar. Ia menatap Rian dengan tatapan yang sangat dalam, seolah-olah hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
"Nah, Clarissa, kebetulan di barisan tengah ada satu kursi kosong. Kamu bisa duduk di sana," tunjuk wali kelas.
Cinta merasakan remasan di dadanya. Ia menatap Rian, namun cowok itu kini justru menundukkan kepala, memijat keningnya dengan frustrasi. Cinta tahu, ini bukan sekadar kebetulan. Clarissa sengaja pindah ke sini. Dia benar-benar melakukan hal yang gila demi mengejar Rian.
Selama jam pelajaran berlangsung, Cinta tidak bisa fokus sama sekali. Ia merasa ada sepasang mata yang terus mengawasi barisannya. Clarissa duduk hanya berjarak dua baris di depan mereka.
Sesekali, gadis itu sengaja menoleh ke belakang, pura-pura meminjam sesuatu atau menanyakan halaman buku, namun tujuannya jelas yaitu mencari perhatian Rian.
...****************...
Saat jam istirahat tiba, Clarissa tidak menunggu lama. Begitu wali kelas keluar, ia langsung berdiri dan berjalan menuju meja Rian.
"Rian! Kamu kaget, kan?" suara Clarissa terdengar manja, mengabaikan keberadaan Cinta di samping Rian.
"Aku bilang juga apa, aku tidak akan bisa jauh dari kamu. Papah akhirnya izinin aku pindah kesini supaya bisa satu sekolah sama kamu lagi."
Rian berdiri, wajahnya terlihat sangat marah namun ia mencoba menahannya. "Clarissa, ikut aku. Kita bicara di luar."
Rian menarik lengan Clarissa dan membawanya keluar kelas dengan tergesa-gesa. Seluruh kelas seketika heboh. Mereka mulai bertanya-tanya siapa gadis cantik itu dan apa hubungannya dengan cowok misterius seperti Rian.
Cinta hanya bisa terpaku di kursinya. Tubuhnya terasa lemas. Rahasia yang ia simpan semalam, bahwa ia mulai menyukai Rian kini terasa seperti beban yang sangat berat.
"Cin... Cin!" Sarah mengguncang bahu Cinta.
Wajah Sarah penuh dengan tanda tanya. "Itu siapa sih? Kok dia berani banget sama Rian? Terus Rian kayak kenal banget sama dia."
Cinta menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Ia menoleh ke arah Sarah dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Sar... dia itu Clarissa," bisik Cinta lirih.
Sarah mengernyitkan kening. "Clarissa? Maksud kamu..."
Cinta mengangguk pelan. "Iya. Dia mantan Rian yang aku ceritain semalam. Gadis yang kemarin sore datang menangis di gerbang."
Sarah terperangah. Ia menutup mulutnya dengan tangan. "Hah?! Serius?! Jadi dia nekat pindah sekolah ke sini cuma buat ngejar Rian? Gila... itu cewek bener-bener gila!"
Cinta menunduk, memainkan ujung rambutnya. "Aku nggak tahu harus gimana, Sar. Baru semalam aku bilang aku mau berjuang, tapi sekarang... dia malah ada di sini. Di kelas yang sama dengan kita. Dia punya masa lalu yang kuat sama Rian, Sar. Aku gak punya apa-apa buat bersaing sama dia."
"Heh, dengerin aku!" Sarah memegang kedua bahu Cinta, memaksa sahabatnya itu untuk menatapnya. "Jangan menyerah sebelum perang dimulai. Justru karena dia nekat begini, itu tandanya dia yang merasa terancam. Dia tahu Rian mulai berubah karena kamu, makanya dia panik dan pindah ke sini."
"Tapi Rian tadi langsung bawa dia keluar, Sar. Rian kelihatan... gak enak sama dia," bantah Cinta.
"Rian itu bawa dia keluar karena nggak mau buat keributan di kelas, Cinta. Dia itu marah, bukan senang," Sarah mencoba menenangkan.
"Kamu lihat sendiri kan muka Rian tadi? Dia kayak mau meledak. Percaya sama aku, Rian nggak akan segampang itu balik lagi kalau dia udah bilang selesai."
Cinta mencoba mencerna kata-kata Sarah, namun bayangan Clarissa yang cantik dan percaya diri terus membayangi pikirannya. Ia merasa seperti karakter figuran dalam sebuah novel romansa, sementara Clarissa adalah tokoh utama wanita yang datang untuk merebut kembali pahlawannya.
Sepanjang sisa hari itu, suasana menjadi sangat canggung. Clarissa terus berusaha mendekati Rian di setiap kesempatan. Saat di kantin, dia sengaja duduk di dekat Rian. Saat pergantian jam, dia selalu punya alasan untuk berbicara dengan Rian.
Rian sendiri terlihat sangat tertekan. Ia terus mencoba menjaga jarak, namun Clarissa dengan gigih terus menempel. Yang paling menyakitkan bagi Cinta adalah ketika ia melihat Rian berbicara dengan Clarissa di koridor saat jam pulang. Meski Rian tampak dingin, namun Clarissa tidak berhenti tersenyum dan menyentuh lengan Rian.
Cinta berjalan menuju gerbang sekolah dengan langkah gontai. Sarah sudah pulang lebih dulu karena ada urusan mendadak. Kini, Cinta sendirian menghadapi kenyataan pahit ini.
"Cinta!"
Suara itu membuat Cinta menoleh. Rian berlari kecil mengejarnya. Di belakangnya, Clarissa tampak berdiri dengan wajah cemberut.
"Cinta, tunggu. Aku mau jelasin soal tadi," ucap Rian terengah-engah.
Cinta mencoba tersenyum, meski rasanya hambar. "Tidak perlu jelasin apa-apa, Rian. Aku mengerti kok. Dia kan mantan kamu."
"Aku gak tahu kalau dia bakal nekat pindah ke sini. Tolong, jangan berpikiran yang macem-macem," Rian memohon, matanya menatap Cinta dengan penuh kejujuran.
Belum sempat Cinta menjawab, Clarissa sudah sampai di samping mereka. Ia langsung merangkul lengan Rian dengan posesif.
"Rian, ayo pulang," ucap Clarissa dengan nada manja yang dibuat-buat. Matanya menatap Cinta dengan pandangan meremehkan.
"Oh, ini teman sebangku kamu ya, Rian? Hai, aku Clarissa. Maaf ya kalau Rian jadi sibuk sama aku, soalnya kita emang gak bisa dipisahin."
Cinta merasakan perih yang luar biasa di dadanya. Ia hanya mengangguk sopan pada Clarissa. "Hai. Aku Cinta. Yasudah, Rian, Clarissa... aku pulang duluan ya."
Cinta segera berbalik dan berjalan cepat tanpa menoleh lagi. Ia tidak ingin Rian melihat air matanya yang mulai jatuh. Di dalam hatinya, ia merasa sangat kecil. Awal yang baru yang ia impikan semalam kini terasa sangat jauh.