Maharani, gadis manis tapi pemalu yang menyukai seorang laki-laki anak kepala desa yang tampan bernama Andrean.
cinta yang tulus tapi dibalas oleh sebuah kejahatan.
maharani hanya menuntut tanggung jawab, tapi dia dijebak, lalu di rud*p*ksa oleh Andrean bersama dua rekannya.
maharani di tolong oleh seroang nenek yang kemudian memberinya ilmu kanuragan untuk balas dendam pada orang-orang yang menyakitinya.
akankah para pelaku ditangkap atau berakhir tragis, yuk simak kisahnya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
mencari petunjuk
Tio berhenti disisi jalan tepi hutan pinus.
Hari sudah menunjukkan pukul 9 malam setelah dirinya mengantar Hasan kerumahnya.
Jalanan itu lebih sepi dari sebelumnya.
Siapapun yang melewatinya pasti merinding, bukan karena dingin melainkan oleh sebab lain.
Terdengar suara langkah dan bunyi dedaunan yang diinjak.
Diiringi aroma kuat melati dan bau anyir d*rah.
"Jangan ikut campur jika kau ingin selamat!" tegas suara perempuan yang berdiri di kegelapan malam.
"Tolong hentikan dendam mu ini... Kasihan kedua orangtua dan juga adikmu yang jadi korbannya" seru Tio dingin.
"Aku tidak punya orangtua apalagi adik...! Kau jangan ikut campur!"
"Kau memang tidak punya tapi tubuh dan jiwa yang kau tempati ini punya keluarga... Mereka merindukan putrinya"
"Ha..ha...ha... Omong kosong! Maharani hanya ingin melampiaskan dendamnya... Dendam pada orang-orang yang menyakiti dirinya dan aku hanya ingin memberi wadah serta kesempatan...."
"Berhentilah sebelum kau benar-benar lenyap dari bumi ini!" kali ini Tio tidak hanya sekedar menggertak.
Dirinya memang bukan keturunan biasa.
Mendiang kakek dan ibunya adalah seorang dukun sakti dan walaupun Tio tidak ingin tapi warisan ilmu itu telah menyatu dalam raga dan mengalir dalam darahnya.
Dirinya bisa sangat peka terhadap hal-hal mistis.
Tak jarang beberapa kasus yang sedang ia tangani kebanyakan berhasil dipecahkan karena mendapatkan bisikan-bisikan dari alam ghoib.
Bukan curang tapi para jin yang menyerupai korbanlah yang datang ke mimpinya atau menyapanya dikala sendirian dan sedang termenung.
"Laki-laki itu harus membayar semua rasa sakitku!" teriak makhluk tersebut murka.
"Apa dia yang melakukannya padamu?" tanya Tio.
"Dia harus mat* ditanganku... Dendam ini harus aku yang membalasnya....!"
Angin bertiup cukup kencang hingga mampu menggoyangkan dedaunan.
Udara makin dingin dan menusuk tulang.
Mata makhluk itu memancar merah.
Dia marah.
"Maharani..." seru Tio yang berhasil menghentikan aksi makhluk dan meredam amarahnya.
Wajah yang tadi berubah ngeri perlahan berubah kembali cantik.
Ada kesedihan terpancar dimata indahnya.
"Izinkan aku menyelidikinya... Aku janji kamu akan mendapat keadilan..." bujuk Tio berusaha mendekat.
Rani bergeming.
Sisi manusianya cukup tersentuh tapi sepersekian detik wajah cantik itu kembali murka.
"Tidak!! Kau sama saja dengan mereka... Kalian para lelaki hanya bisa bermulut manis!! Aku akan menyelesaikan dendam ini sendiri..."
Itulah kalimat terakhir Rani sebelum dirinya menghilang ditelan kabut tebal yang entah darimana datangnya.
Tio berusaha mengejar tapi dirinya hilang jejak.
"Aku berjanji akan menghukum mereka dengan tangan hukum... Kamu harus melepas dendam ini jika ingin jiwamu damai... Maharani...." lirih Tio.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bagas baru saja pulang dari puskesmas ketika dirinya berpapasan dengan mobil Andre.
Mobil putih doble cabin itu berhenti tepat disisinya.
"Gas... Motornya kenapa?" teriak Andre dari dalam mobil.
Bagas mendongak lalu berdiri disisi mobil Andre.
"Mogok mas... Maklum, motor butut" ringis Bagas.
"Kamu mau kemana, aku antar" ajak Andre.
"Mau pulang ambil pakaian bapak lalu kembali ke puskesmas..." tutur Bagas.
"Ayo naik.. Motornya ditinggal, nanti aku minta orang buat dibawa ke bengkel"
Bagas menimang-nimang ajakan Andre barusan dan tak lama dia akhirnya mengangguk setuju.
Bagas duduk di kursi penumpang sebelah Andre.
Matanya kagum menatap interior mobil.
"Kamu kagum dengan mobilku?" tebak Andre tersenyum.
"Iya mas.. Nanti kalau aku udah dewasa dan bekerja, aku akan beli mobil kayak gini buat bantu bapak angkut hasil panen" tutur Bagas dengan wajah riang khas remaja.
"Nggak perlu tunggu dewasa Gas... Jika kamu mau, aku bisa belikan buatmu nanti" ujar Andre tanpa beban.
Bagas menoleh cepat.
Keningnya berlipat.
"Iya.. kalau kamu mau, aku bisa belikan buatmu satu... Gimana?" ujar Andre sekali lagi.
Bagas tertawa sumbang.
"Nggak usah mas... Aku juga belum bisa nyetir dan yang lebih penting, aku belum punya KTP untuk buat SIM..." tolak Bagas halus dan benar adanya.
Andre manggut-manggut saja.
Mobil Andre berhenti tepat di halaman rumah sederhana yang asri.
"Kamu ambil pakaian pak Rahman, aku tunggu disini!" ujar Andre.
"Memangnya mas Andre nggak kerja?"
"Aku lagi luang. Nanti juga mau cek jalanan yang menuju perbatasan desa... Sudah sana,aku tunggu..."
Bagas tak lagi bertanya, dia langsung masuk kedalam rumah meninggalkan Andre yang masih berada di dalam mobil.
Sembari menunggu, Andre berjalan mengitari rumah kediaman pak Rahman tersebut.
Pandangannya terpaku pada jendela kayu yang mulai rapuh dimakan usia.
Kenangan lama kembali berputar ketika dirinya sering masuk kekamar Rani lewat jendela saat lewat tengah malam demi sebuah hasrat yang membumbung dalam dirinya.
"Andai kamu nurut Ran... Aku nggak akan ngelakuin itu sama kamu.... Damai disana dan jangan mengganggu lagi...." gumam Andre dalam hati.
Bagas yang sudah selesai terlihat mencari keberadaan laki-laki yang mengantarnya. Baru saja Bagas hendak memanggil namun suaranya kembali tertahan ditenggorokan.
Matanya menyipit kala memperhatikan tingkah Andre yang berdiri memandang tepat dekat jendela kamar Rani kakaknya.
Bagas menerka-nerka didalam kepalanya. Ada sesuatu antara Rani kakaknya dan laki-laki yang masih menatap jendela kamar.
Tak ingin berlama-lama menunggu, Bagas meneriakkan nama Andre.
"Mas Andre" panggil Bagas hingga mengejutkan Andre yang tengah melamun dengan isi pikirannya.
"Oh, kamu sudah selesai?" tanya Andre menghampiri Bagas.
"Sudah..." sahut Bagas singkat.
"Mas Andre ngapain disamping kamar mbak Rani?" selidik Bagas ketika keduanya dalam perjalanan menuju puskemas.
Andre gugup mendapat pertanyaan tersebut.
Dan sikap Andre tak luput dari perhatian Bagas yang menatapnya menunggu jawaban.
"Hmmm, aku tadinya cuma mau cari udara segar..." sahut Andre dengan sebuah alasan klise.
"Oh..."
"Sudah lama jendela itu nggak dibuka oleh ibu... Dulu, ketika ada mbak Rani, jendela itu selalu terbuka dan dia suka sekali berdiri lama-lama disana meskipun sekedar menatap pohon jambu yang berbuah..." Bagas membuang nafas kasar. "Andai mbak Rani nggak mengilang, mungkin saat ini kami semua nggak akan sakit... Jahat banget orang yang membuat mbak Rani pergi" rutuk Bagas mengeram kesal.
Andre menekan stir hingga urat ditangannya terlihat menonjol.
Kupingnya yang putih bersih ikut memerah seketika.
Lagi, semua itu tak luput dari pantauan Bagas yang terus memperhatikannya dalam diam.
Bukan tanpa alasan Bagas mencurigai Andre yang merupakan atasan kakaknya itu.
Ada feeling kuat jika dalang utama hilangnya sang kakak adalah Andre.
Tapi untuk membuktikan hal itu, Bagas harus menahan diri demi sebuah petunjuk yang terus ia gali.
Bagas memang masih remaja, tapi jiwa detektifnya meronta-ronta. Mungkin karena sering bermain game atau membaca komik detektif Conan yang sering kali di cela oleh Rani karena Bagas bisa menghabiskan waktu berjam-jam demi menamatkan komik tersebut yang banyak jilid dan serinya.
"Sudah sampai... Titip salam buat pak Rahman. Maaf, aku belum bisa jenguk karena masih banyak urusan, tapi setelah ini aku akan luangkan waktu buat jenguk pak Rahman..." ujar Andre ketika mobil berhenti didepan halaman puskesmas.
"Iya mas... Nanti aku sampaikan. Terima kasih atas tumpangannya. Hati-hati dijalan..." sahut Bagas dan langsung turun dari mobil.
Mobil Andre melaju kembali kejalan raya dibawah tatapan Bagas yang masih berdiri di teras lobi puskesmas.
Karena di desa ini belum ada rumah sakit besar, jadinya para warga desa yang ingin berobat atau rawat inap dipuskesmas yang buka 24 jam. Minusnya puskesmas ini hanya memiliki kamar terbatas dan juga alat yang minim. Jika pasien cukup serius dan perlu penangangan ekstra, maka pihak puskesmas akan merujuk kerumah sakit di kota.
Bagas berjalan menyusuri lorong puskesmas dengan isi kepala campur aduk.
"Aduh...." ringis Bagas ketika tak sengaja menabrak seseorang.
Bagas terpaku ketika melihat siapa yang menabrak bahunya barusan.
Perempuan itu tak menyapa atau meminta maaf padanya. Hanya berlalu begitu saja dan menghilang di ujung lorong.
"Mbak Rani...."
Bersambung....