IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Anin, sepertinya saya butuh kamu tidak hanya menjadi manajer di kafe saya. Karna saya lihat dari cara kamu, kamu sudah terbiasa dengan suasana seperti kami ini. Bagaimana kalau kamu sekalian jadi personal asisten saya?" Tawar Paulina, yang sejak tadi diam-diam memperhatikan sikap dan gestur badannya Anin yang nampak terbiasa dengan suasana high class.
Anin yang masih menyimpan kobaran api, belum terlalu fokus dengan apa yang di tawarkan Paulina. Tapi ia mendengar dengan jelas.
Naufal yang mendengar, dan tidak setuju jika pacarnya itu menjadi PA untuk Paulina karna khawatir dia akan jadi lebih sibuk nantinya, menggeleng-gelengkan kepala. Berharap Anin tahu maksudnya.
"Naufal, tadi itu nomer kamu kan? Aku save ya?" Lagi-lagi Elena, berusaha.
Anin yang kepalang terbakar, dan tahu kalau Naufal pasti tidak setuju dengan keputusannya. Akhirnya memilih menyetujui tawaran Paulina.
"Baik Bu Paulina, saya siap sebagai Personal Asistennya Bu Paulina, kapan saja." ujar Anin, dengan sengaja menatap Naufal tajam.
"Saya senang sekali, gajih kamu akan saya naikan tiga puluh persen dari gaji yang saya tawarkan sebagai manajer. Dua puluh lima juta, satu bulan." timpal Paulina.
Naufal tidak bisa berbuat apa-apa. Ingin, ingin sekali ia teriak untuk mencegah. Tapi apa daya, teriakannya hanya sampai di kerongkongan saja.
Anin yang tidak menyangka kalau gajihnya akan di bayar sebesar itu oleh Paulina, sontak tersenyum senang. Bagai di guyur es dan di tiup angin sepoi, hati yang berkobar mendadak berubah bagai hamparan salju Antartika. Ia meraba pipinya, sudah tidak hangat seperti tadi. Karna apinya telah padam, mungkin.
"Aku rasa memang Anin, orang yang tepat untuk kamu jadikan PA, Paulina" sahut Megan.
"Iya, dia terlihat jujur dan bisa di andalkan" Regina ikut menimpali.
Anin senang, kali ini yang di puji calon mertua adalah dirinya. Tapi mengingat Elena, hati Anin kembali sakit.
"Oh ya, Tante semua, sudah mendapat undangan runaway koleksi terbaru D'Chars di Paris Minggu depan?" Sela Elena, seolah ingin mengalihkan perhatian agar mereka semua kembali memperhatikannya.
"Diana mengirim undangannya tadi malam, tapi rasanya aku tidak bisa hadir." sahut Megan.
"Kenapa tidak bisa hadir?" Paulina bertanya.
"Aku kira ini bisa jadi moment penting, untuk kita sekalian berlibur di Paris." timpal Regina.
"Iya, sudah lama kita tidak berlibur bersama-sama. Bolehlah luangkan waktu saat menghadiri D'Chars nanti." Frans ikut menimpali.
"Aku setuju, aku ingin sekali mengunjungi Le Marais, duduk santai di kafe kecil di sana, sambil menikmati angin sore." Imbuh Fredrick.
"Aku sebenarnya juga ingin sekali. Tapi Megan harus menghadiri Persidangan sebagai saksi ahli di hari yang sama." terang Jeremy.
"Ini kasus besar, korbannya salah satu anak pengusaha tambang, sedang tersangka anak seorang petinggi negara. Jadi aku tidak bisa pergi, dan melewatkan begitu saja." timpal Megan.
"Ah...sayang sekali. Tapi ya mau gimana lagi. Semoga di lain waktu kita bisa berlibur bersama." sahut Regina.
Elena mengerlingkan mata, bagai mendapatkan sebuah ide brilian, ia pun tersenyum bangga pada dirinya. "Aku akan hadir di acara itu Tante, bagaimana kalau Naufal juga ikut ke sana. Jadi kita bisa berlibur bersama. Iya kan Naf?"
Naufal menggedikkan bahunya. "Nggak, aku sibuk!" sanggahnya cepat.
Regina menatap Naufal, bergantian dengan Elena. "Ide bagus, sekalian kalian bisa lebih saling mengenal." tuturnya.
"Ma, kenapa sih maksa-maksa Naufal terus? Kan aku udah bilang nggak." keluh Naufal.
"Naf, satu atau dua hari di Paris tidak akan membuatmu kehilangan pekerjaan. Ambil cuti dan berlibur bersama kami. Apa masalahnya?" terang Regina.
"Iya Ma, tahu. Tapi Naufal nggak mau. Sama seperti Tante Megan, profesionalitas itu bukan karna takut kehilangan pekerjaan. Tapi tentang dedikasi. Iya kan Tan?" Naufal meminta dukungan Megan.
Megan tersenyum, bingung ingin membela Naufal atau Regina.
"Anin, nanti kamu ikut saja ke Paris. Kamu tenang saja, ini tidak akan mengganggu gajih bulanan mu. Anggap saja bonus, sebagai personal asisten saya yang baru." ujar Paulina sambil menepuk pelan tangan Anin.
Tentu ini mengejutkan bagi Anin. Ke Paris? Luar Negeri? Ini pengalaman berharga yang belum pernah terpikirkan olehnya. Mana mungkin Anin menolak.
"Baik Bu, terimakasih" jawab Anin kalem.
Naufal terlonjak, menatap Anin dengan nanar. "Aku ikut ke Paris!" pekik Naufal serta merta.
Semua yang berada di sana, sontak menatap Naufal tak mengerti. Bukankah tadi ia bicara tentang profesionalitas dan dedikasi? Lantas kenapa mendadak setuju begini?
"Maksud kamu apa? Bukannya tadi..." sela Regina.
"Nggak, tadi itu aku belum berpikir banyak." sahut Naufal cepat.
"Sekarang kamu udah mikir banyak?" goda Fredrick sambil terkekeh.
"Sudah, dan aku sudah putuskan untuk ikut ke Paris!" ujar Naufal dengan tatapan lurus pada Anin.
Frans memperhatikan, diam-diam ia menarik benang merah atas sikap anak laki-lakinya. Persis dirinya saat jatuh cinta.
Di tatap seperti itu oleh Naufal, Anin sampai meremang. Mendadak perutnya mual, dan ingin segera ke toilet.
"Maaf, permisi. Saya izin ke toilet" pamit Anin sopan. Dan jangan lupakan tatapan Naufal padanya, sedetik pun tak pernah lepas. Bahkan sampai Anin hilang di balik tembok ia masih menerawang keberadaannya.
Sekembalinya dari toilet, Anin melihat keluarga itu dari kejauhan. Lantas ia menghela nafas panjang.
"Yang begitu baru pantes di sebut keluarga. Bukan kayak keluarga gue!" keluhnya.
"Lagian, kenapa juga gue ada di antara keluarga itu. Mana pantes, gue yang begini berada bersama mereka. Elena justru lebih pantes, dia kelihatan mahal, strata dengan kelasnya Naufal. Tapi gue? Apalah gue yang cuma modal tampang doang." Anin terus bergumam pada dirinya sendiri.
"Tasnya mahal, bajunya mahal, kacamatanya aja, juga mahal. Lah gue? Baju mahal ini juga karna Naufal yang beliin. Di lihat dari segi mana juga, gue akan kalah sama si Elena."
"Harusnya, waktu sebelum lahir tu gue milih di lahirkan di keluarga yang begitu. Kan enak jalanin hidupnya. Mau deket sama siapa juga terserah, meskipun ada istilah kalo Lo cakep Lo aman, kayanya ini nggak berlaku buat gue deh."
"Cakep doang, tapi keluarga lu kaya bajingan juga bikin nggak aman! Sial banget Deah gua ah!"
Anin merutuki nasib hidupnya, ia membandingkan dirinya dengan Elena yang terlihat sangat kontras.
"Terbukti, dunia ini di isi oleh orang-orang aneh. Ada yang ngomong sendirian padahal di sini lagi banyak orang."
Anin terkejut, siapa yang bicara seperti itu barusan?
"Kalau keterusan hati-hati di sangka punya gangguan jiwa, dari pada depresi kamu berlanjut, mending kamu hubungi psikiater segera deh." imbuh orang itu.
Anin segera menoleh. Dan tidak menyangka, kalau yang berbicara tadi adalah seorang pria.
Pria beralis tebal, dengan hidung mancung dan kulit putih bersih. Kalau di lihat-lihat mirip aktor layar lebar yang sering muncul di televisi.
Siapa pria ini?
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍