Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.
Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.
Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.
Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Kamu Tahu Kesalahanmu?”
Setelah dirayu dengan berbagai cara, Arkan masih saja enggan berdamai.
Akhirnya Nayla menggunakan cara yang cukup membuatnya ciut.
“Ya sudah… kalau Arkan masih ngambek, kakak pergi ya,” ancam Nayla tegas.
Arkan langsung terdiam.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Namun ia tetap tidak bergerak.
Nayla pun pura-pura bergegas mengemasi barang-barangnya.
Dan seketika—
“Kakak! Kakak, jangan… huhuhu… hiks…”
Tangis Arkan pecah.
Ia langsung berlari dan memeluk Nayla erat.
Nayla pun berjongkok, mengusap air matanya pelan.
“Udah… cup cup, jangan nangis ya,” ucapnya lembut menenangkan.
“Kakak di sini kok… tapi Arkan jangan gitu lagi ya,” lanjutnya pelan.
Arkan mengangguk cepat.
Lalu kembali memeluk Nayla erat, seolah takut ditinggalkan.
**
Setelah drama tadi, Arkan sudah kembali seperti biasa.
Saat ini, di meja makan hanya ada mereka bertiga.
Oma masih sibuk—mungkin baru pulang tengah malam.
Tapi yang membuat suasana terasa berbeda…
Ayahnya Arkan ikut duduk di sana.
Padahal biasanya, ia selalu sibuk.
Pulang pun paling sebulan sekali, dan itu hanya menginap dua hari.
Namun kali ini berbeda.
Belum genap seminggu di luar kota… ia sudah kembali.
Nayla berdecak kesal dalam hati.
Apalagi jika mengingat kejadian tadi.
Suasana makan malam terasa agak tegang.
Sunyi… dan canggung.
Sebetulnya, Nayla sempat berpikir ayahnya Arkan tidak akan ikut makan malam.
Namun ternyata—
ia tetap di sini.
Entah kenapa, Nayla merasa seperti dimusuhi oleh ayahnya Arkan.
Mungkin… karena kejadian tadi di teras depan, batinnya mengeluh.
Tanpa sadar, ingatannya kembali pada momen itu.
...----------------...
“Kamu ngapain pulang? Urusan keluarga apa?” tanyanya penuh selidik.
Nayla bengong, terheran.
Memang apa urusannya… batinnya menggerutu sinis.
“Ya… urusan keluarga lah,” jawabnya santai.
“Urusan apa?” suaranya menegang.
Nayla menghela napas.
“Aku bingung ngejelasinnya…”
Ia sempat berpikir sejenak.
“Emm… apa ya…” gumamnya sambil menggaruk kepala.
“Kayak… ta’aruf gitu, Pak.”
Hening.
Ayah Arkan terdiam, matanya menyipit.
“Zaman sekarang masih ada yang namanya ta’aruf?” ucapnya, nada mengejek.
Nayla langsung menegang.
“Kamu gak laku, ya?” lanjutnya dengan mimik seolah kasihan.
Deg.
Dada Nayla langsung bergemuruh.
“Apaan sih, Pak! Ikut campur banget!”
“Lagian ya, mau aku gak laku juga bukan urusan Bapak.”
“Dan satu lagi—Bapak jangan terlalu kepo deh. Aku masih bertanggung jawab kok sama Arkan.”
“Oma juga gak keberatan. Dan aku kerja di sini karena Oma yang minta.”
“Jadi… Bapak gak usah terlalu ikut campur.”
Hening.
Tatapannya berubah.
“Kamu… nada bicaramu !!!.”
“Kenapa emang?” balas Nayla, masih tersulut emosi. “Bosku itu Oma, bukan Bapak.”
“Kalau mau pecat saya… ya pecat saja!”
Suasana langsung membeku.
Wajah pria itu memerah.
Urat di pelipisnya terlihat jelas.
“Kamu…” ucapnya tertahan.
Namun ia tidak melanjutkan.
Ia hanya berbalik.
Dan melenggang pergi begitu saja.
...----------------...
Kembali ke meja makan.
Arkan sudah menghabiskan makan malamnya. Nayla mengurusnya—mengelap mulutnya pelan, lalu bertanya dengan suara lembut.
Sementara itu, seseorang di seberang meja menatapnya lekat. Wajahnya masih menyisakan kekesalan.
Apalagi saat Nayla sesekali melirik notifikasi di ponselnya.
Tap… tap…
Suara langkah kaki terdengar dari kejauhan.
Nayla sempat berpikir itu Oma. Namun ternyata, Kak Danu.
Nayla tersenyum ramah.
“Kak…”
Namun—
“Kamu gak usah kegenitan. Fokus saja sama ta’aruf-anmu itu.”
Suara itu terdengar lantang.
Deg.
Nayla langsung menoleh.
Arkan ikut mendongak, bingung melihat papanya tiba-tiba marah.
Kak Danu hanya menggeleng pelan, memberi isyarat agar Nayla tidak menanggapi.
Namun Nayla tidak mengerti.
“Bapak kenapa sih? Dari tadi marah-marah terus… gak jelas lagi.”
Ia mendengus pelan.
“Kayak orang habis putus cinta saja…”
Hening.
“Kamu…” ucapnya sambil menunjuk Nayla. “Benar-benar!”
Tatapannya semakin tajam.
“Sebetulnya apa yang kamu lihat, Arkan? Perempuan puber emosian begini juga?” ucapnya dingin.
Arkan tersentak.
Wajahnya langsung berubah takut.
Ia segera turun dari kursi dan bersembunyi di belakang Nayla.
Danu langsung bergerak, mencoba menenangkan suasana.
“Pak—”
“Diam kamu, Danu! Gak usah ikut campur!” potongnya penuh emosi.
Danu terdiam.
Hanya menghela napas pendek.
Sejak tadi sore, mood bosnya memang tidak baik—semenjak menelpon Oma.
Nayla menatapnya sengit.
Seakan ingin membalas, tapi menahan diri.
“Nayla.”
Suara itu tegas.
Membuat suasana langsung terjeda.
“Ikut saya. Saya tunggu di ruang kerja.”
Tanpa menunggu jawaban, ia langsung pergi.
Langkahnya cepat. Tegas.
Danu dan Nayla sama-sama menghembuskan napas panjang.
“Kak Danu… ayahnya Arkan kenapa sih?” tanya Nayla pelan.
Danu mengedikkan bahu.
“Dari tadi sore memang lagi gak bagus mood-nya. Aku saja kena semprot terus,” ucapnya santai.
“Emang suka gitu ya?” tanya Nayla, sambil mengusap kepala Arkan.
“Kadang… tapi baru kali ini yang paling parah,” jawab Danu.
Ia menatap Nayla, sedikit serius.
“Yang penting kamu, Nay… dengerin saja. Angguk-angguk.”
Nayla mengangguk pelan.
Lalu menoleh ke Arkan.
“Arkan mau ikut, atau tunggu sama Om Danu?” tanyanya lembut.
Arkan langsung menggeleng.
“Gak mau… nanti kena marah,” gumamnya pelan.
“Ya udah, kakak tinggal ya,” ucap Nayla sambil mencubit gemas pipi Arkan.
Danu menatapnya, lalu mengangguk kecil, seolah memberi semangat.
Seakan Nayla akan pergi berperang.
Nayla melangkah menuju ruang kerja ayahnya Arkan.
Sesampainya di depan pintu, ia menarik napas panjang… lalu menghembuskannya perlahan.
Tangannya terangkat.
Tok… tok…
Belum sempat mengetuk lagi, pintu sudah terbuka.
Menampilkan sosok itu—
dengan wajah yang justru terlihat lebih marah.
“Kenapa lama sekali, hah?” ucapnya mengintimidasi.
Nayla menelan ludah.
Lama apanya sih… baru juga tiga menit, batinnya kesal.
“Maaf, Pak,” ucapnya sambil menunduk.
Ia ingat betul pesan Kak Danu.
Jangan melawan.
Pria itu berbalik.
“Masih berdiri? Masuk!”
Nayla langsung bergegas masuk dengan langkah kecil.
“Tutup pintunya, Nayla,” ucapnya tegas.
Deg.
Nayla menelan ludah, lalu melangkah mundur dan menutup pintu perlahan.
Klik.
Hening.
Sekejap, bayangan-bayangan buruk melintas di kepalanya.
Katanya orang kaya suka nyiksa orang… kalau aku dicambuk gimana…
Kamu juga, Nayla… tadi berani banget lawan. Sekarang ciut sendiri.
Peluh mulai terasa di telapak tangannya.
“Duduk.”
Nayla tersentak, lalu langsung menurut.
Ia duduk kaku.
“Kamu tahu apa kesalahan kamu?”
Tatapannya tajam.
Seolah menembus langsung ke dalam dirinya.
Deg.
Nayla terdiam.
"Aku,,