Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.
Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.
Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.
Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Langkah Sandi terasa ringan saat meletakkan karung beras dan bungkusan plastik terakhir di bagasi mobil Mama Anggita. Keringat bercucuran di pelipisnya, namun napasnya tetap teratur, terbiasa dengan beban berat setiap Minggu pagi.
"Sudah semuanya, Tante," ucap Sandi sembari menyeka keringat dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya.
Mama Anggita tersenyum hangat, lalu merogoh dompetnya dan menyodorkan selembar uang sepuluh ribu rupiah—nominal yang sangat besar untuk jasa panggul di tahun 2002. "Ini buat kamu, San. Terima kasih ya."
Sandi melihat uang itu, lalu meraba saku celananya yang hanya berisi beberapa koin dan uang ribuan lusuh. "Maaf Tante, Sandi nggak punya kembaliannya. Uang pas saja Tante, dua ribu rupiah."
"Sudah, ambil saja San. Itu bonus karena kamu ternyata sahabat dekatnya Anggita. Anggap saja Tante berbagi rezeki sama teman anak Tante," balas Mama Anggita lembut.
Namun, raut wajah Sandi berubah. Keramahannya tetap ada, tapi ada ketegasan yang muncul di matanya. "Maaf Tante, itu beda ceritanya. Sandi di sini mencari uang, bukan mencari belas kasihan. Prinsip Sandi, keringat Sandi ada harganya, tapi persahabatan Sandi nggak bisa dibeli. Tante tunggu di sini sebentar ya, Sandi tukar dulu uangnya di warung depan."
"Sudah, kamu nggak usah repot-repot nuker uangnya. Ambil saja! Tante kasih uang itu bukan karena kasihan, tapi memang karena Anggita yang memintanya," cegah Mama Anggita lagi.
Sandi menoleh tajam ke arah Anggita. Di samping mobil, Anggita berdiri dengan tangan bersedekap, melototi Sandi dengan tatapan mengintimidasi seolah berkata, 'Ambil atau lo bakal menyesal!'
Sandi menggelengkan kepalanya pelan, sebuah senyum tipis tersungging di bibirnya. "Gini saja deh, kalau ini soal bonus... Sandi juga mau kasih bonus ke Tante. Khusus hari ini, karena Tante mamanya sahabat Sandi, jasa angkutnya Sandi kasih gratis. Anggap saja hadiah dari Sandi."
Anggita yang sudah tidak tahan dengan keras kepala Sandi langsung menghampiri. Ia berdiri tepat di depan Sandi, menatapnya lurus-lurus. "Lo ambil uang ini, atau persahabatan kita putus sekarang juga, San! Gue nggak bercanda!"
Sandi hanya tersenyum melihat kemarahan sahabat tomboinya itu. Alih-alih meraih uangnya, ia justru meraih tangan Mama Anggita dan menyaliminya dengan sangat takzim sebagai tanda hormat. Setelah itu, dengan gerakan yang sangat cepat namun lembut, ia menepuk puncak kepala Anggita sekali—sebuah gestur yang biasa ia lakukan untuk menenangkan "Si Oneng" Saskia.
Tanpa sepatah kata lagi, Sandi berbalik badan. Ia melangkah pergi meninggalkan mereka, menembus kerumunan pasar yang semakin padat, tanpa menyentuh uang sepeser pun dari tangan Mama Anggita. Ia menghilang di antara tumpukan lapak sayur, kembali ke dalam hiruk-pikuk pasar untuk mencari pelanggan lain.
Anggita mematung di samping mobilnya. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, matanya menatap punggung Sandi yang kian menjauh. Rasa kesal karena ditolak bercampur dengan rasa bersalah yang menyesakkan dadanya. Ia baru sadar, Sandi mungkin tidak punya uang sebanyak dirinya, tapi harga diri cowok itu jauh lebih tinggi dari menara masjid di depannya.
Setelah menghilang dari pandangannya Anggita dan Mamanya Anggita, Sandi berdiri mematung di pinggir aspal yang mulai terasa panas, menatap mobil sedan keluarga Anggita yang perlahan membelah kerumunan pengunjung pasar dan menghilang di tikungan jalan raya. Udara di sekitarnya penuh dengan kepulan asap knalpot Metromini dan aroma khas pasar yang menyengat, namun pikiran Sandi justru terasa kosong.
Ia menghela napas panjang, sebuah embusan napas yang berat namun penuh ketegasan. "Sori, Nggi," gumamnya lirih pada angin yang berembus pelan. "Lebih baik persahabatan kita putus daripada gue harus menerima belas kasihan lo. Persahabatan kita itu setara, dan gue nggak mau lo atau siapa pun melihat gue cuma dari sudut rasa kasihan."
Sandi bukan bermaksud sombong, ia hanya ingin menjaga satu-satunya harta yang paling berharga di tengah kemiskinannya: harga diri. Baginya, setiap tetes keringat yang jatuh di lantai pasar adalah bukti bahwa ia sanggup berdiri di atas kakinya sendiri.
Ia kemudian melirik jam tangan digital hitam di pergelangan tangannya. Jarum menunjukkan pukul 10.15 WIB. Matahari sudah cukup tinggi, dan ia tidak boleh membiarkan ibunya menunggu terlalu lama untuk bahan sayur asemnya.
Sandi segera melangkah gesit menuju lapak sayur langganan ibunya. Dengan cekatan, ia memilih jagung manis yang bulirnya penuh, kacang panjang yang masih renyah, melinjo, serta labu siam yang segar. Tak lupa, ia membeli asam jawa dan bumbu-bumbu pelengkap lainnya. Setelah memastikan semua bahan lengkap dan membayarnya dengan uang hasil jualan koran tadi pagi—uang yang murni dari hasil keringatnya—ia bergegas kembali ke warteg tempat Ninja hijaunya dititipkan.
Sandi menghidupkan mesin Ninja 150RR miliknya. Suara garing mesin 2 tak itu menderu, seolah ikut merasakan semangat pemiliknya. Dengan bungkusan plastik sayuran yang dicantolkan di setang motor, Sandi memacu kendaraannya membelah kepadatan Jatinegara menuju rumah.
Deru mesin Ninja 150RR milik Sandi membelah aspal Jatinegara yang mulai dipenuhi debu siang. Tak butuh waktu lama bagi motor hijau itu untuk bermanuver di antara gang-gang sempit hingga akhirnya terhenti tepat di depan teras rumahnya yang bersahaja. Sandi mematikan mesin, menyampirkan kantong plastik berisi bahan sayur asem di lengan, dan melangkah masuk dengan sisa tenaga yang ada.
"Bu, Sandi pulang. Ini bahan-bahannya sudah lengkap, ada jagung manis sama labu siam yang bagus tadi di pasar," seru Sandi sambil meletakkan belanjaan di atas meja kayu di dapur.
Ibu Sandi, yang punggungnya tampak basah oleh peluh, menoleh sekilas dari balik tumpukan cucian pelanggan yang sedang dibilasnya di bak besar. Suara gesekan papan gilas dan sikat terdengar berirama. "Iya, Sandi. Taruh saja dulu di meja. Ibu tanggung sedikit lagi selesai nyuci pakaian pelanggan dulu. Kamu istirahat dulu, nanti kalau Ibu sudah selesai, baru kamu mandi ya."
"Iya, Bu. Sandi ke kamar dulu sebentar," jawab Sandi lemas. Rasa pegal di bahunya akibat memanggul karung beras di pasar tadi kini benar-benar terasa menusuk.
Sandi merebahkan tubuhnya di atas kasur tipis yang tertutup sprei bermotif garis yang sudah memudar. Niatnya hanya ingin memejamkan mata sejenak menunggu gilirannya mandi, namun kelelahan fisik setelah terjaga sejak jam tiga pagi—mulai dari menjajakan koran hingga menjadi kuli panggul—ternyata lebih kuat dari tekadnya. Dalam hitungan menit, Sandi terlelap dalam tidur yang sangat pulas, bahkan tanpa sempat melepas kaosnya yang masih beraroma keringat matahari.
"Sandi... Sandi... Bangun, Nak. Sudah siang."
Suara lembut dan tepukan pelan di bahunya membuat Sandi mengerjap-ngerjakan mata. Ia melihat ibunya sudah berdiri di samping tempat tidur dengan wajah yang sudah segar dan aroma sabun yang tercium samar.
"Ibu... sudah selesai nyucinya?" tanya Sandi dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Ibunya terkekeh kecil. "Sudah selesai nyuci, sudah selesai jemur, bahkan sudah selesai masak juga. Ayo bangun, mandi sana supaya segar. Kita makan siang sama-sama, mumpung sayur asemnya masih panas."
Sandi tersenyum, segera bangkit dan menyambar handuknya. Guyuran air sumur yang dingin seketika mengembalikan energinya. Tak lama kemudian, di atas meja makan kecil, keduanya duduk berhadapan menikmati sayur asem spesial dengan potongan jagung manis, kacang tanah, dan aroma terasi yang menggugah selera, ditemani sambal terasi dan tempe goreng garing. Hari Minggu itu ditutup dengan kehangatan obrolan ringan dan tawa kecil yang menyelinap di antara dinding-dinding rumah mereka yang sederhana, sejenak melupakan kerasnya hidup di jalanan Jakarta.
Keesokan harinya, Senin pagi yang sibuk telah tiba. Sandi sudah rapi dengan seragam putih birunya yang tersetrika licin hasil karya tangan ibunya. Sembari memanaskan mesin motornya, Sandi memastikan kembali rencana sore nanti.
"Ibu, jadi kan sore ini kita ke rumah Saskia?" tanya Sandi memastikan.
Ibu Sandi yang sedang melipat jemuran pagi mengangguk pelan. "Iya, San. Ibu sudah siapkan baju yang paling rapi buat nanti. Kamu pulang dulu ke sini kan sehabis sekolah?"
"Iya, Bu. Sandi pulang dulu, kita siap-siap sebentar, baru berangkat ke Pondok Indah. Biar Ibu nggak capek nunggu di sekolah," jelas Sandi. Ibunya hanya tersenyum dan memberikan restu, "Ya sudah, hati-hati di jalan ya."
Sandi meraih tangan ibunya, menciumnya dengan takzim sebagai ritual wajib sebelum berangkat. Namun, sebelum benar-benar memacu motornya, ia mengambil beberapa plastik besar berisi pakaian bersih yang sudah rapi disetrika. Inilah rutinitas Sandi: berangkat sekolah sekalian menjadi "kurir" pengantar cucian pelanggan.
Dengan kantong plastik besar yang diletakkan di jok belakang yang diikat, Sandi membelah kemacetan pagi menuju sekolah. Pikirannya terbagi antara materi pelajaran yang akan diterimanya dan debaran aneh memikirkan bagaimana reaksi ibunya saat melihat kemewahan rumah Saskia sore nanti.
Udara pagi di area sekolah masih terasa lembap dan dingin, menyisakan embun yang menempel di pucuk-pucuk daun mahoni. Sandi memacu Ninja 150RR hijaunya membelah jalanan yang masih lengang, hingga akhirnya ia tiba di parkiran sekolah tepat pukul 06.02 WIB. Suasana masih sangat sepi, hanya ada beberapa motor guru dan penjaga sekolah yang sudah nampak. Sandi memarkirkan motornya dengan presisi di bawah naungan pohon peneduh, lalu merapikan seragam putih-abunya sejenak sebelum melangkah menuju gedung kelas.
Namun, saat kakinya baru saja hendak menapak anak tangga pertama menuju lantai dua, sebuah bayangan muncul dari balik pilar beton. Sebelum Sandi sempat menyapa, sebuah gerakan kilat menyambar wajahnya.
Plak!
Tamparan yang cukup keras mendarat telak di pipi kiri Sandi. Suara tamparan itu menggema di koridor yang sunyi. Sandi terdiam. Ia tidak membalas, tidak juga memegang pipinya yang mulai terasa panas dan memerah. Ia hanya menatap datar sosok di depannya: Anggita.
"Lo... lo kebangetan banget, San!" Suara Anggita bergetar hebat. Nafasnya memburu, dan matanya sudah digenangi air yang siap tumpah.
Anggita melanjutkan dengan nada yang naik satu oktaf, "Lo lebih memilih persahabatan kita putus daripada ngambil uang pemberian nyokap gue?! Segitunya harga diri lo?!"
Satu tetes air mata jatuh membelah pipi sang ketua kelas yang biasanya dikenal tangguh dan tak tergoyahkan itu. "Lo jahat, San! Lo jahat banget! Kenapa lo nggak ambil saja uang itu dan anggap itu sebagai upah biasa? Kenapa lo justru lebih memilih mengakhiri persahabatan kita hanya gara-gara uang sepuluh ribu? Kenapa, San?!"
Anggita mulai kehilangan kendali. Ia maju selangkah dan memukul-mukul dada tegap Sandi dengan kepalan tangannya yang kecil. Pukulan-pukulan itu tidak menyakitkan secara fisik bagi Sandi, namun suara isakan Anggita yang semakin keras membuat ulu hatinya ikut terasa nyeri.
Sandi tidak membiarkan drama itu berlanjut di tangga yang bisa saja sewaktu-waktu dilewati orang. Dengan tenang, ia menangkap kedua pergelangan tangan Anggita, mengunci gerakannya, lalu membimbing gadis itu naik ke lantai dua menuju kelas mereka yang masih kosong melompong. Ia ingin memastikan tidak ada sepasang mata pun yang melihat sang ketua kelas sedang hancur seperti ini.
Setiba di dalam kelas, Sandi membantu Anggita duduk di bangkunya. Ia menarik kursi di depan Anggita dan duduk menghadapnya.
"Sori, Nggi," ucap Sandi pelan, suaranya berat namun penuh penekanan. "Dengerin gue. Persahabatan kita itu setara. Sejak awal kita bentuk Kelompok Sableng, gue selalu merasa kita berdiri di pijakan yang sama. Gue nggak mau lo, atau siapa pun, melihat gue dan menerima gue jadi teman hanya dari sudut rasa kasihan."
Sandi menghela napas, menatap mata Anggita yang masih sembab. "Gue nggak beneran mutusin persahabatan kita, Nggi. Kemarin gue cuma diam kan? Gue nggak bilang 'kita putus' kan? Gue hanya tersenyum saat lo ancem gue. Jadi, lo nggak usah nangis lagi. Gue masih di sini, masih jadi Sandi yang sama."
Anggita menyeka air matanya dengan kasar, sesenggukan. "Tapi kenapa sih lo harus jual mahal begitu, San? Nyokap gue cuma mau berbagi rezeki, nggak ada niat merendahkan lo sama sekali."
Sandi terkekeh kecil, sebuah tawa getir yang dipaksakan. "Gue jual mahal? Kata siapa, Nggi? Asal lo tahu, jasa angkut gue itu yang paling murah di Pasar Jatinegara. Kuli lain pasang tarif dua ribu lima ratus atau tiga ribu, gue cuma minta dua ribu per rit. Gue nggak pernah jual mahal soal tenaga gue."
Sandi memajukan tubuhnya, menatap Anggita dengan tatapan yang sangat dalam dan jujur. "Tapi ada satu hal yang harus lo tahu, Nggi. Gue memang nggak punya harta apa-apa selain motor peninggalan bokap gue. Gue nggak sekaya lo, nggak seberada Saskia, Vino, atau Andra. Tapi satu-satunya harta yang mati-matian gue jaga dalam kemiskinan gue adalah harga diri."
"Gue punya tangan dan kaki yang lengkap. Gue masih bisa berjalan, bahkan berlari kalau perlu. Gue masih punya otak buat berpikir gimana caranya bertahan hidup tanpa harus menengadahkan tangan. Gue nggak mau jadi peminta-minta di pinggir jalan selama gue masih punya keringat buat dijual. Kalau gue ambil uang sepuluh ribu itu karena alasan 'sahabat', maka esok hari hubungan kita nggak akan murni lagi. Lo akan selalu melihat gue sebagai objek yang perlu ditolong, bukan sebagai teman yang bisa diajak gila-gilaan."
Anggita terdiam seribu bahasa. Isakannya mereda, berganti dengan tatapan takjub sekaligus perih. Ia baru menyadari bahwa di balik keceriaan dan kekonyolan Sandi selama ini, tersimpan prinsip baja yang tak tergoyahkan oleh nominal uang mana pun. Kebanggaan Sandi bukan terletak pada apa yang ia miliki, melainkan pada apa yang mampu ia kerjakan dengan tangannya sendiri.