Laura Hiraya yang baru berusia 20 tahun harus rela di jodohkan dengan putra konglomerat. Keputusan egois keluarganya menjadikan ia alat tukar di dalam bisnis. Keluarga konglomerat itu menjanjikan sebuah kerjasama bisnis, dan sebagai imbalannya mereka menginginkan calon istri untuk putra mereka, Gaharu Gardapati.
Gaharu, pria cacat yang sialnya sangat tampan. Kecelakaan tragis 2 tahun lalu membuatnya harus terduduk di atas kursi roda. Ia kehilangan kedua fungsi kakinya. Itu, bersifat sementara. Ia masih menjalani perawatan.
Lalu.. bagaimana kisah rumah tangga si gadis ceria dan aktif seperti Laura Hiraya yang di hadapkan dengan Gaharu Gardapati si pria arogan yang pemarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanesa Dintiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Ponsel cadangan
Laura berjalan dengan santai mengelilingi mall yang baru saja ia masuki. Dari lantai atas ke lantai bawah, dari lantai bawah menelusuri banyak toko dan terus berlanjut sampai lima belas menit berlalu.
“Nyonya sebenarnya apa yang sedang Anda cari?” Gabriel yang menemani Laura sedari tadi bertanya. Jujur saja ia bingung harus mengikuti langkah lincah Laura yang tidak ada tujuan.
“Aku ingin membeli ponsel,” balas Laura santai.
“Toko ponsel baru saja Anda lewati tadi, Nyonya.”
“Oh, iya kah?”
“Benar, Nyonya.” Gabriel menyahut dengan sabar.
“Hahahaha, aku tahu kok. Aku sengaja, anggap saja untuk latihan otot kakimu. Karena untuk kedepannya, aku akan lebih aktif lagi, hehe.” Laura berbalik dengan santai. Di tempatnya Gabriel menghela nafas, entah apa yang sedang di rencanakan Laura kedepannya.
Laura masuk ke dalam salah satu store ponsel di mall tersebut. Ia memperhatikan setiap jenis ponsel yang berada di sana. Dari mulai bentuk dan harga. Sebenarnya Laura tidak terlalu perduli dengan bentuk fisiknya, ia lebih memperdulikan harganya.
Harganya harus sama dengan budget yang ia bawa, tidak boleh kurang dan tidak boleh lebih. Lagipula ini hanya ponsel cadangan, hanya akan di gunakan saat ia membutuhkannya saja.
“Bukankah Anda sudah memiliki ponsel, Nyonya?”
“Benar, tapi aku membutuhkannya untuk cadangan.”
“Kenapa?”
Laura berbalik menatap Gabriel yang sedari tadi terus mengekorinya seperti anak bebek.
“Karena ponsel yang di berikan si sekertaris prosedur sudah di setting. Sudah terpasang penyadap dan hal semacamnya. Benar-benar tidak ada privasi!” kesalnya.
Tadi sebelum ia pulang, ia menyempatkan diri untuk datang ke perpustakaan. Rahel hari ini tidak masuk karena sakit, ia sedikit kesepian karena tidak ada teman cerewetnya. Biasanya, sahabatnya itu akan terus merecokinya dengan berbagai pertanyaan random, namun hari ini sangat sunyi.
Tapi, walaupun begitu ada hal lain sebagai gantinya. Kating fakultas hukum datang menghampirinya. Tanpa permisi duduk di depan mejanya sambil bertopang dagu. Laura hanya diam, merespon dengan lirikan sekilas yang terlihat sedikit sinis.
Abizar yang mendapatkan respon tersebut malah terkekeh pelan. Merasa lucu dengan ekspresi yang di keluarkan oleh Laura.
“Hai,” sapa pria itu.
Laura menghela nafas, menutup bukunya dan beralih menatap pria di depannya. Sial, dalam kondisi ini ia membutuhkan Owen, Arlo dan juga Zero untuk mengusir manusia jadi-jadian di depannya ini.
“Kakak butuh sesuatu?”
Abizar tersenyum manis, “bisa makan siang bersama?” tanyanya tanpa basa-basi.
Tentu saja, Laura akan langsung menolaknya. Namun gadis itu tidak akan mengatakannya secara gamblang.
“Ah.. kebetulan aku ada kegiatan setelah ini.” Berusaha menolak dengan halus.
“Benarkah? Tapi kamu tidak ada kelas setelah ini.” Abizar masih gencar mencari celah, sedikit paksaan ya. Pria itu cukup hafal dengan jadwal kelasnya, agak ngeri juga jika di fikir-fikir.
Laura menghela nafas pelan. “Aku ada kegiatan di luar, Kak. Mungkin lain kali,” balasnya.
Tidak ada lain kali. Setiap ia menerima ajakan makan siang dari pria di depannya, Laura selalu mengatakan alasan dan kata 'mungkin lain kali'. Namun keesokannya Laura akan menghindar agar tidak menerima ajakan yang sama.
Dari mulai ia menjadi mahasiswa baru di kampus ini, Abizar memang gencar mendekatinya. Namun Laura memiliki 1001 cara untuk menghindar dan bersembunyi dari makhluk jadi-jadian di depannya.
“Lain kali, atau tidak ingin sama sekali?” Abizar bertanya dengan nada bergurau. Tapi Laura tahu, perkataan pria itu mengandung sedikit sindiran.
Laura menarik sudut bibirnya, membentuk senyum tipis yang tampak manis. “Kalau Kakak sudah tahu jawabannya, kenapa masih bertanya?” jawab Laura tenang, matanya menatap tepat pada manik mata Abizar.
Abizar sedikit tertegun. Ia sudah biasa menghadapi penolakan, tapi keberanian Laura yang tidak berbasa-basi dan berbicara secara frontal seperti ini selalu berhasil membuatnya semakin penasaran. “Jujur sekali, hahaha.”
Pria itu membenarkan posisi duduknya. “Baiklah, lupakan perihal makan siang. Ada yang ingin aku tanyakan.” Kali ini terlihat serius. Laura mengerutkan keningnya.
“Akhir pekan kemarin aku mengirimkan pesan, ingin mengajakmu ke mall pusat kota untuk melihat pameran seni. Tapi kenapa pesanku hanya di baca? Kamu tidak membalasnya. Kamu anak seni tidak mungkin tidak tertarik bukan?”
Pesan? Laura selalu mengecek ponselnya. Namun tidak ada satupun pesan yang di kirimkan oleh pria di depannya.
Melihat keterdiam Laura, Abizar menjentikkan tangannya di depan gadis itu. Laura mengerjapkan matanya pelan. Ia lalu membereskan barang-barangnya dengan cepat.
“Ah.. sepertinya aku akan pergi sekarang, Kak. Maaf,” Laura langsung saja berlalu meninggalkan tempatnya. Tidak mengindahkan panggilan pria di belakangnya. Gadis itu terus fokus berjalan sambil memikirkan perkataan katingnya tadi.
Ia menerka-nerka, apakah ini ada hubungannya dengan ponsel baru yang di berikan oleh si sekertaris prosedur? Bukankah itu keterlaluan? Ia merasa tidak memiliki hak dan privasi di kehidupannya.
Pantas saja ia tidak mendapatkan pesan dari sahabatnya. Apa si sekertaris prosedur sudah menghapusnya? Rahel selalu memberitahukan apapun tentang kehidupannya. Selalu bercerita banyak hal, dan selalu memberikan info jika ia tidak akan masuk kuliah.
Ia tidak peduli jika pesan yang di berikan Abizar di hapus, namun jika sampai si sekertaris prosedur itu menghapus pesan dari sahabatnya, itu benar-benar keterlaluan.
Kembali ke masa sekarang, di dalam toko ponsel yang dingin oleh AC, Laura menghela nafas panjang saat mengingat kemungkinan-kemungkinan yang ia pikirkan tadi sebelum keluar dari gerbang kampus. Memilih mengesampingkan hal itu, Laura kembali fokus pada deretan ponsel di depannya, lalu menunjuk sebuah ponsel berwarna gelap yang terlihat sangat biasa.
“Yang ini saja,” ucap Laura pada penjaga toko.
Gabriel yang sedari tadi menyimak diam-diam, akhirnya bersuara lagi. “Nyonya, jika Anda membutuhkan privasi, kenapa Anda tidak coba meminta sekertaris Juan untuk mematikan sistem penyadapnya?”
Laura menoleh, menatap Gabriel di sampingnya. “Hey, kamu fikir segampang itu? Dia hanya patuh pada Tuannya, seperti yang tidak tahu saja.”
Gabriel hanya bisa terdiam, mengakui dalam hati bahwa ucapan Laura ada benarnya. Loyalitas Juan memang seperti tembok beton yang tidak memiliki celah untuk negosiasi, kecuali perintah itu datang langsung dari atasannya.
“Lalu bagaimana dengan Tuan?” tanya Gabriel hati-hati. “Jika beliau tahu Anda memiliki ponsel rahasia, bukankah itu akan menjadi masalah baru?”
“Itulah gunanya kamu di sini, Kak Riel. Kamu pengawal pribadiku, 'kan? Tugasmu melindungiku, termasuk melindungi privasiku dari mata-mata si sekretaris prosedur itu.”
Ia melirik Gabriel dengan tatapan tajam namun penuh selidik. “Atau... kamu juga salah satu dari mereka yang akan melapor setiap kegiatanku?”
Gabriel terbelalak, menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tentu saja tidak, Nyonya. Saya berada di pihak Anda.”
“Bagus, ini rahasia kita berdua. Hanya kamu yang tahu, oke?” Laura tersenyum tipis.
Gabriel menelan ludah, tenggorokannya terasa kering melihat senyum tipis yang tersungging di bibir Laura. Ia tahu, sekali ia mengiyakan, berarti ia telah resmi menjadi rekan 'kejahatan' sang majikan. Baru kemarin ia dan teman-temannya mendapatkan gelar Kakak dadakan, sekarang ia mendapatkan gelar resmi menjadi rekan 'kejahatan'.
Tapi tidak bisa di katakan jahat juga 'kan? Ini hanya untuk ketenangan batin Laura saja.
“Hanya kita berdua, Nyonya?” Gabriel memastikan sekali lagi dengan suara rendah. “Jika Tuan sampai mencium hal ini, saya tidak yakin punggung saya cukup kuat untuk menahan amarahnya.”
“Kamu ini takut sekali dengan pria jelek itu. Jika dia memukulmu aku akan memukulnya balik, tenang saja, oke? Aku akan menjadi adik yang melindungi Kakaknya.” Ujarnya penuh semangat.
Laura tertawa kecil, suara renyahnya terdengar kontras dengan suasana hatinya yang tadi sempat keruh. Ia menerima bungkusan ponsel dari pelayan toko setelah melakukan pembayaran secara tunai. Tentu saja tunai, agar tidak meninggalkan jejak transaksi di kartu yang ia pakai.
Mana tahu si sekertaris prosedur itu juga memantau rekeningnya juga.
Laura kembali memperhatikan riak wajah Gabriel yang terlihat gusar. “Tenang saja, Kak Riel. Selama kamu tutup mulut, dia tidak akan tahu. Lagi pula, aku butuh ini agar bisa tetap waras. Kamu mau lihat aku jadi gila karena terus-menerus diawasi?” Laura mulai melangkah keluar dari toko, gerakannya lincah seolah beban di pundaknya baru saja terangkat.
“Saya mengerti, Nyonya. Apa ada yang ingin Anda beli lagi?”
“Tidak ada, hanya ponsel yang aku butuhkan saat ini,” balasnya cepat. “Eh! Kartu perdana! Tolong belikan kartu perdana diam-diam. Aku membutuhkan kartu SIM agar dapat menjalankan ponsel baruku.”
“Tentu, Nyonya.
***
Jauh sebelum hari Senin datang. Pada malam hari akhir pekan, Juan sedang fokus dengan pekerjaannya. Namun fokusnya terpecah belah saat suara notifikasi terdengar.
Juan tersenyum miring, ia membuka dua pesan dari dua aplikasi yang berbeda. Satu dari pesan WhatsApp, satu lagi dari Instagram. Tanpa banyak berfikir, Juan langsung saja menghapus kedua pesan itu.
Pria itu sempat membaca isi pesan dari direct message account Instragram Nyonya mudanya. Sebuah pesan yang dapat Juan artikan sebagai ajakan kencan. Menjadikan 'pameran seni' sebagai alasan.
“Saya hanya menjalankan apa yang seharusnya saya lakukan.”
“Semua harus berjalan dengan lancar tanpa kekacauan sedikitpun.”
***
Jum'at, 24 April 2026
Published : Jum'at 24 April 2026