Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.
Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Jasmine masih berdiri di samping sofa, menatapnya dengan tatapan cemas dan serba salah. Ia hendak berbalik untuk membawa gelas kosong itu kembali ke dapur, memberikan privasi pada Aksa untuk menenangkan diri.
Namun, sebelum Jasmine sempat melangkah, Aksa membuka matanya. Tanpa peringatan, Aksa mengulurkan tangannya, mencekal pergelangan tangan Jasmine dengan lembut namun erat.
"Tuan..." Jasmine tersentak pelan.
Aksa tidak menjawab. Dengan satu sentakan pelan, ia menarik tangan Jasmine hingga tubuh wanita itu limbung dan jatuh terduduk di sampingnya di atas sofa empuk itu. Jasmine terpekik kecil karena terkejut.
Ia menyandarkan kepalanya di bahu Jasmine, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu.
Jasmine membeku. Tubuhnya menegang, tak tahu harus berbuat apa. Ia bisa merasakan embusan napas hangat Aksa di kulit lehernya, dan getaran halus dari tubuh pria kokoh itu. Aksa tidak menangis, namun kerapuhan yang terpancar dari sikapnya jauh lebih menyayat hati.
"Tuan Aksa..." bisik Jasmine ragu, tangannya terangkat di udara, bimbang.
"Sebentar saja, Jasmine," gumam Aksa dengan suara parau, nyaris tak terdengar.
"Biarkan aku seperti ini sebentar saja. Aku sangat lelah."
Aksa tidak bergerak dari bahu Jasmine. Ia memejamkan mata, membiarkan kehangatan tubuh wanita itu menjadi jangkar bagi kewarasannya yang nyaris runtuh. Suaranya terdengar parau dan rendah.
"Aku menghabiskan sepuluh tahun terakhir untuk mencari tahu ke mana Ibuku pergi," bisik Aksa, jemarinya tanpa sadar meremas ujung gaun Jasmine.
"Sonia... dia sangat rapi menutupi jejaknya. Dia membuat seolah-olah Ibuku berselingkuh dan pergi meninggalkan aku demi pria lain. Ayahku percaya, dan aku pun dipaksa percaya selama bertahun-tahun."
Jasmine menahan napas, tangannya yang tadi ragu kini perlahan mendarat di lengan Aksa, mengusapnya pelan untuk memberikan kekuatan.
"Tapi tiga tahun lalu, tepat sebelum kita... sebelum perpisahan itu, aku menemukan surat-surat lama di brankas pribadi Ayah yang sudah meninggal. Surat-surat ancaman dari Sonia kepada Ibuku. Sonia mengancam akan melenyapkan aku jika Ibuku tidak pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun," lanjut Aksa.
Jasmine tersentak. "Tuan... jadi selama ini..."
"Aku mulai menyewa penyelidik di luar negeri. Aku mendapatkan bukti transfer gelap dari rekening Sonia ke sebuah panti asuhan di desa terpencil tempat Ibuku disekap secara mental selama bertahun-tahun agar dianggap gila. Dan saat aku tahu betapa berbahayanya Sonia..."
Aksa terdiam sejenak, ia mengangkat kepalanya sedikit, menatap Jasmine dengan mata yang kemerahan.
"Itu alasan kenapa dulu aku melepaskanmu, Jasmine. Kenapa aku membiarkanmu pergi dan tidak menahanku saat Sonia mengusirmu."
"Dia mengancam akan menghancurkan mu, jika aku tidak menjauh darimu. Aku pengecut, Jasmine. Aku takut kamu terseret ke dalam lubang hitam ini. Aku takut kamu berakhir seperti Ibuku dihilangkan jejaknya oleh wanita itu. Melepaskanmu adalah satu-satunya cara yang kupikirkan untuk menjagamu tetap hidup, meski itu artinya aku harus mati rasa sendirian di sini."
Jasmine terdiam cukup lama, membiarkan kebenaran yang baru saja ia dengar mengendap di hatinya. Jasmine menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya.
Ia perlahan melepaskan diri dari dekapan Aksa, lalu menangkup wajah pria itu dengan kedua tangannya yang masih sedikit basah. Matanya menatap lembut, mencoba menyalurkan ketenangan yang ia miliki.
"Tuan... biarkanlah masa lalu kita menjadi masa lalu. Tak perlu dipikirkan lagi. Semua sudah terjadi, dan kita tidak bisa memutar waktu," ucap Jasmine.
Aksa menggeleng pelan, ia menggenggam pergelangan tangan Jasmine yang berada di pipinya, seolah takut wanita itu akan menghilang jika ia melepaskannya.
"Bagaimana aku tak memikirkannya, Jasmine?" sahut Aksa.
"Tiap malam hanya penyesalan yang kurasakan. Penyesalan karena membiarkanmu pergi, penyesalan karena aku tidak cukup kuat melindungimu saat itu. Aku merasa gagal menjadi pria untukmu."
Jasmine tersenyum tipis, sebuah senyum sedih namun tulus. Ia mengusap air mata yang menggenang di sudut mata Aksa dengan ibu jarinya.
"Penyesalan tidak akan mengubah apa pun, Aksa. Kamu sudah melakukan apa yang menurutmu benar saat itu untuk melindungiku," ujar Jasmine, untuk pertama kalinya ia memanggil nama Aksa tanpa embel-embel Tuan.
Jasmine menjeda kalimatnya, menatap dalam ke manik mata Aksa yang gelap. "Aksa, kamu harus bangkit. Sekarang kamu sudah punya bukti, kamu sudah bebas dari bayang-bayang wanita itu. Pergilah, temui ibumu. Beliau sudah menunggu sangat lama untuk melihat putranya kembali."
Jasmine menunduk sejenak, menelan kepahitan yang tiba-tiba muncul di tenggorokannya sebelum melanjutkan.
"Setelah itu... mulailah hidup yang baru. Carilah perempuan yang lebih baik dariku. Seseorang yang sederajat denganmu, yang bisa membanggakan keluarga Mahendra.
Mendengar kalimat terakhir Jasmine, rahang Aksa kembali mengeras. Ia tidak terima dengan ucapan Jasmine yang seolah-olah sedang berpamitan selamanya.
Tanpa peringatan, Aksa menarik tangan Jasmine hingga wanita itu kembali jatuh ke dalam dekapannya. Ia memeluk Jasmine dengan sangat erat.
"Jangan pernah katakan itu lagi, Jasmine," desis Aksa tepat di telinga Jasmine.
"Jangan pernah menyuruhku mencari wanita lain."
"Bagiku, tidak ada yang lebih baik darimu. Tidak akan pernah ada," lanjut Aksa dengan suara parau yang sarat akan janji.
"Selama tiga tahun ini, aku sudah mencoba mematikan rasaku, tapi setiap kali aku memejamkan mata, hanya kamu yang aku lihat. Kamu pikir aku bisa mencintai orang lain setelah semua yang kita lalui?"
......................
Di kediaman mewah keluarga Mahendra, suasana terasa mencekam. Suara pecahan kaca dan benda-batu berat yang beradu dengan lantai marmer terdengar bersahut-sahutan. Sonia tidak lagi mempedulikan keanggunannya. Wajahnya merah padam dengan napas yang memburu tak beraturan.
Prang!
Sebuah vas bunga kristal mahal hancur berkeping-keping setelah dihantamkan Sonia ke dinding. Ia seolah sedang membayangkan wajah Jasmine di balik setiap benda yang ia hancurkan.
"Sialan memang anak itu! Benar-benar tidak tahu terima kasih!" teriak Sonia.
"Aku yang membesarkannya, aku yang memberikan dia tahta Mahendra Group, tapi dia berani mempermalukan aku di depanku sendiri!"
"Mengapa dia tidak sebodoh ayahnya?! Mengapa dia harus secerdas ini sampai bisa melacak masa lalu yang sudah kukubur dalam-dalam!"
Di sudut ruangan, Clarissa duduk meringkuk di sofa dengan wajah sembab. Ia menatap nanar serpihan kristal di lantai, hatinya jauh lebih hancur karena bayangan pernikahan impiannya kini di ambang kegagalan total.
"Terus kita harus apa, Tante?" tanya Clarissa.
"Aksa sudah memutus akses kita. Dia mengancam akan menghancurkan bisnis papaku juga. Aku malu jika pertunangan ini sampai batal... semua teman-temanku sudah tahu! Orang tuaku juga sudah mengancam akan mengusirku kalau aku gagal menjadi menantu Mahendra!"
Sonia menghentikan gerakannya sejenak. Ia berdiri mematung di tengah kekacauan yang ia buat sendiri. Rambutnya yang biasanya tersanggul rapi kini terurai berantakan. Perlahan, ia menoleh ke arah Clarissa, lalu sebuah tawa sinis keluar dari bibirnya.
"Aksa pikir dia sudah menang karena memegang rahasiaku? Dia lupa bahwa selama tikus kecil itu masih bernapas, dia akan selalu punya kelemahan."
Sonia berjalan mendekat ke arah Clarissa, sorot matanya berkilat penuh kebencian yang mematikan. Ia mencengkeram bahu Clarissa dengan sangat kuat.
"Kita harus singkirkan wanita murahan itu, Clarissa. Selamanya," desis Sonia pelan namun tajam.
"Jika Jasmine menghilang, Aksa tidak akan punya alasan lagi untuk melawan. Dia akan kembali menjadi putraku yang penurut karena dia tidak punya pilihan lain."
tuh singanya muaraaah😄😄😄
Suka Ceritax Seruuuuu....