Riyanti Aryani adalah seorang gadis dari keluarga berada. Ia terpaksa jauh dari keluarganya lantaran ingin memenuhi cita-citanya. Sebelum tinggal di Surabaya, Riyanti atau lebih akrab dipanggil Riri itu sebelumnya kuliah di salah satu universitas di Malang. Setelah lulus, Riri diterima kerja di Surabaya. Ia ngekos di salah satu tempat kos yang cukup elit. Sebenarnya orang tuanya bisa saja membeliksnnya rumah di Surabaya, namun mereka khawatir Riri akan semakin betah di sana dan akan lupa pulang ke Lombok. Namun siapa sangka Riri bertemu dengan jodohnya di sana.
Sultan Ahmed Alfahrezi, anak sulung dari pasangan Windi dan Javier. Kegabutannya menjadi seorang driver ojek membuat dirinya akhirnya bertemu dengan jodohnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latar belakang Riri
Setelah selesai makan malam, Sultan pamit ke kamar duluan. Sampai di kamarnya, ia merenungkan perihal ucapan bapak di Masjid tadi.
"Apa iya Riri jodohku?" Gumamnya.
Setelah cukup lama berpikir, Sultan memutuskan untuk shalat Isya'. Setelah selesai shalat, Sultan menelpon Leo untuk mencari tahu latar belakang Riri dan keluarganya. Kebetulan Leo sedang ngedate dengan pacarnya.
"Ehem... tumben bos nanya soal karyawan sampai sedetail ini? Apa lagi ini pegawai di cabang. Kalang cuma untuk menaikkan jabatan atau menariknya ke kantor pusat tidak mungkin sampai segitunya, kan?"
"Cerewet! Kerjakan saja apa yang aku pinta, Leo. Kamu mau aku potong gajimu?"
"Eh, jangan dong bos! Iya iya saya akan laksanakan sesuai perintah dan akan tutup mulut."
" Bagus, dari tadi kek! Ya sudah, aku mau istirahat dulu, lanjutkan kegiatanmu."
"Iya, bos."
"Ingat, besok aku tunggu kabarnya."
"Siap."
Sultan merebahkan diri di tempat tidurnya sambil merenungi perasaannya. Tidak terasa Sultan pun ketiduran.
Beralih ke rumah sakit.
Papa Riri baru saja sampai di rumah sakit. Dan ternyata ia tidak sendirian, tetapi bersama Arga. Riri sangat menyayangkan hal itu. Karena kehadiran Arga sangat tidak ia harapkan. Arga langsung mendekati brangkar Riri dan memberi perhatiannya kepada Riri. Sedangkan Riri malas menanggapinya. Namun karena Riri masih memiliki hati nurani, ia menghargai orang yang sudah mau menjenguknya.
Mama menyeret papa keluar kamar. Saat ini di dalam kamar tinggal Riri, Arga dan Sisi.
"Papa, kenapa kamu bawa Arga ke sini?" Bisik mama yang tahu bagaimana ekspresi wajah Riri saat ini.
"Orangnya maksa, ma. Ya sudahlah, paling juga nanti dia langsung pulang. Lagi pula seharusnya Riri bersyukur ada orang yang mencintainya sampai sejauh ini."
"Hem... masalahnya Riri kita nggak cinta. Papa ini gimana?"
"Mau sampai kapan dia menolak Arga?"
"Riri sudah punya pacar di sini."
"Apa, yang benar saja ma?"
"Iya."
"Mama tahu dari mana?"
"Ya tahu lah. Kan, pacarnya selalu jengukin."
Mama terpaksa berbohong agar papa tidak memaksa Riri dengan Arga lagi, karena mama tahu Riri benar-benar tidak bisa menerima Arga.
"Kalau begitu, papa mau ketemu sama pacar Riri. "
"Dia sibuk sekali."
"Memang dia kerja apa? Kata mama tiap hari dia jenguk Riri?"
"Nggak tahu kerja apa. Ya, iya emang. Mungkin besok dia jenguk lagi ke sini. Sudahlah, ayo kita masuk ke dalam."
Mama mengajak Arga duduk di sofa karena dari tadi mama lihat Riri kurang nyaman saat Arga duduk di samping brangkarnya. Dan saat ini yang duduk di samping Riri adalah papanya.
"Papa akan laporkan orang yang sudah bikin kamu celaka."
"Jangan, pa! Orangnya tidak sengaja dan sudah minta maaf ke sini tadi. Lagipula salah ojeknya juga."
"Oh ya, lalu apa orangnya bertanggung jawab?"
"Iya sudah."
"Jangan terlalu mudah memaafkan orang, dek. Nanti kebaikanmu disalahgunakan." Sahut Arga.
Riri tidak menanggapinya.
"Om, tante, biar aku yang temani dek Riri malam ini." Sahut Arga.
Riri mendelik mendengarnya. Demi apa pun laki-laki yang satu itu sangat percaya diri sekali. Padahal sudah jelas Riri tidak meresponnya.Riri memberi kode kepada mamanya, agar menanggapi permintaan Arga.
"Mana bisa begitu, Arga? Kalian belum mahram. Riri masih tanggung jawab kami. Mungkin kamu sebaiknya istirahat di hotel saja. Iya kan, pa?"
"Ah iya, Arga kita menginap di hotel saja. Di dekat sini ada hotel. Biarkan mama dan adiknya yang menjaga."
Riri bersyukur papanya bisa diajak kompromi. Ia tidak bisa membayangkan jika seandainya Arga benar-benar menjaganya malam ini. Saat ini saja ia sudah merasa sesak.Namun ia masih bisa menahannya.
Papa dan Arga pun pamit untuk beristirahat di hotel.
Setelah kepergian mereka, Riri dapat bernafas lega. Riri meluapkan kekesalannya karena papanya membawa Arga. Mama hanya bisa menenangkan Riri.
"Sudahlah, papa juga nggak mau Jak dia kok. Tapi kan kamu tahu sendiri Arga itu seperti apa."
"Udah tahu orangnya kayak gitu, masih saja papa tanggapi. Ah males! Riri mau tidur."
"Ya sudah tidur saja. Jangan diambil pusing! "
Mama tidak berani berkata jujur soal kebohongannya kepada papa. Kalau sampai mama jujur, pasti Riri juga akan bertambah pusing.
Riri terbangun di pertengahan malam. Ia mengalami sesak lagi. Mama segera memanggil perawat. Dan perawat segera memasang oksigen atas arahan dari dokter.
Sedangkan di tempat lain, Sultan terbangun karena mimpi buruknya.
"Astaghfirullah, semoga tidak terjadi sesuatu dengannya."
Sultan melihat jam di handphone nya. Jam 00.05.
Ia pun memutuskan untuk shalat istikharah.
Keesokan harinya.
Pagi sekali setelah selesai shalat Shubuh, Sultan sudah mendapatkan data latar belakang Riri dan keluarganya Riri dari Leo. Leo mengirimkan sebuah file ke email Sultan. Sultan pun langsung membukanya. Ia membaca dengan teliti.
"Hem... benar dugaanku dia bukan orang biasa. Orang tuanya cukup terpandang di sana. Dan bisnisnya lumayan. Itu artinya dia tidak mau berdiri di atas nama besar orang tuang. Cukup menarik." Gumam Sultan sambil menganggukkan kepalakepala sambil mengulum senyum.
Sekitar jam 8 pagi, dokter kembali memeriksa keadaan Riri. Sepertinya Riri belum bisa pulang hari ini, karena ternyata ia merasakan sesak lagi. Dokter menyarankan kepada mamanya agar Riri jangan terlalu diajak banyak bicara atau pun jangan membicarakan sesuatu di dekat Riri yang bisa menyebabkan beban pikirannya.
Mama pun berpikir jika penyebabnya adalah tekanan batin karena kehadiran Arga yang tak terduga.
Akhirnya mama menghubungi papa dan meminta agar Arga tidak datang lagi ke rumah sakit bagaimana pun caranya.
"Lalu papa harus beralasan apa, ma?"
"Nggak tahu, terserah papa. Kan papa yang bawa dia."
"Jangan gitu lah, ma! Bantu kasih papa solusi."
"Masa bodoh! Saat ini kesehatan Riri yang paling utama. Papa urus saja itu si Arga. Papa pulang deh sama dia!"
"Lha kok malah papa juga diusir."
Mama tidak menanggapi lagi. Karena kesal, mama pun langsung mematikan handphone.-nya.
Papa hanya bisa menghela nafas panjang.
Akhirnya setelah berpikir cukup lama, papa memutuskan untuk mengajak Arga pulang dengan alasan papa ada kepentingan mendadak.
"Tapi hari ini hari minggu, Om. Om ada urusan bisnis?"
"Iya, om mau kedatangan tamu asing. Kalau masalah hotel kan gak nunggu hari aktif. Ayo cepat kita pulang!"
"Om pulang duluan saja deh. Saya nanti sore."
"Nggak bisa begitu, ga! Kamu kan berangkat bareng om. Pulangnya juga, dong. Gimana sih?"
"Gitu ya, Om?"
"Iya."
Dari pada di black list jadi calon menantu, akhirnya agar menurutinya. Ia segera membereskan barang-barangnya karena satu jam lagi mereka akan cek out.
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
udah pada GK sabar