NovelToon NovelToon
GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

GADIS MALANG DENGAN TAKDIRNYA(CEO)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:663
Nilai: 5
Nama Author: lestari visa

GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)

"Hayu siapa yang penasaran sama kisah Aruna, gadis malang yang terpaksa menyerahkan hidupnya jadi milik seorang pria yang sangat tampan, kaya raya, tapi dikenal sangat kejam dan berhati dingin? 😯💔

Dipaksa menikah cuma demi bertahan hidup, dihina, diremehkan, dan dianggap cuma barang milik semata. Namun Aruna berjanji dalam hatinya, dia bakal buktikan kalau dia juga punya harga diri yang tak boleh diinjak. Apakah dia sanggup hadapi sifat angkuh dan kejam Aris Baskara? Bagaimana nasibnya hidup di antara kemewahan yang ternyata penuh dengan penghinaan dan rasa sakit? 🤔

Baca yuk ceritanya! Kisah cinta penuh luka, amarah, air mata, dan takdir yang bikin hati campur aduk. Dijamin bikin penasaran dari bab pertama sampai akhir 📖🔥

📖 Judul: GADIS MALANG dengan takdirnya (ceo)
(Penulis: Lestari Visa)"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lestari visa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Perjanjian di Balik Air Mata

Suasana di jalan kecil yang sepi itu mendadak jadi hening banget, cuma ada suara napas Luna yang tersengal-sengal campur isak tangis yang ditahan, sama suara detak jantungnya sendiri yang rasanya kedengeran sampai ke telinga. Di depan dia, Aditya Pratama berdiri tegak bak raja yang lagi menghakimi rakyat kecil yang bersalah. Wajahnya masih dingin, matanya tajam menusuk, dan senyum miring di bibirnya itu bikin bulu kuduk merinding ketakutan.

Dua pilihan itu menggantung berat di udara, sama-sama mengerikan, sama-sama bikin nyawa melayang.

Luna menatap laki-laki di depannya itu dengan mata berkaca-kaca, air matanya mengalir deras membasahi pipi putih bersihnya. Dia gemetar hebat, kakinya rasanya udah nggak kuat lagi menahan berat badannya. Pikirannya kacau balau, rasanya mau pingsan aja menghilang dari dunia ini.

Masuk penjara?

Bayangan itu bikin Luna bergidik ngeri. Dia tau di dalam penjara itu gimana rasanya. Semua orang bilang tempat itu tempat paling gelap, paling kejam, paling bikin orang hancur masa depannya. Dia cewek, dia masih muda, dia punya mimpi besar yang belum terwujud. Kalau dia masuk penjara, habis sudah segalanya. Nama dia bakal buruk selamanya, harapan dia buat balas dendam sama pembunuh Ayah dan Ibu bakal lenyap, dan dia bakal mati pelan-pelan di dalam sana.

Tapi pilihan satunya pun nggak kalah menyeramkan: jadi pelayan pribadi Aditya Pratama.

Luna inget semua cerita orang soal laki-laki ini. Dingin, kejam, nggak punya hati, nggak kenal ampun. Orang yang bisa ngeremukkan masa depan orang lain cuma dengan jentikan jari aja. Jadi milik dia? Kerja buat dia? Berarti dia harus ikut dia, tinggal sama dia, nurutin semua perintah dia apa pun itu... entah seberat apa pun, sekejam apa pun.

Rasanya sama aja kayak masuk penjara, tapi penjara emas.

"Ke... kejujuran saya, Tuan... saya beneran nggak sengaja..." isak Luna pelan, suaranya pecah. Dia berusaha buat terakhir kali minta belas kasihan, berharap laki-laki ini punya sedikit rasa kemanusiaan. "Saya cuma anak miskin... saya nggak punya apa-apa... maafin saya ya Tuan... saya janji saya bakal hati-hati banget lain kali... jangan hukum saya..."

Aditya cuma tertawa sinis, suaranya rendah dan dingin banget. Dia maju selangkah lagi, mendekatkan wajah gantengnya yang menakutkan itu ke depan muka Luna sampai jarak mereka cuma beberapa senti aja. Dia lihat air mata yang jatuh satu per satu dari mata bening itu, dia lihat ketakutan yang nyata di sana. Tapi anehnya, makin cewek itu takut, makin ada rasa puas aneh di hati Aditya. Dia suka ngerasa punya kuasa penuh atas cewek ini.

"Maaf? Hati-hati? Itu kata-kata murah banget, Nona," jawab Aditya ketus dan tajam. Tangannya terulur, jari-jarinya yang panjang dan halus itu mengangkat dagu Luna paksa supaya natap dia. Sentuhan itu kasar tapi nggak nyakitin, tapi bikin jantung Luna mau copot saking kaget dan takutnya.

"Dengerin baik-baik ya, Luna..." Aditya ngomong pelan tapi berisi ancaman berat, matanya menatap tajam lurus ke manik mata cewek itu. "Di dunia ini, aturannya simpel aja. Kalau kamu bikin salah, kamu harus tanggung jawab. Nggak ada kata maaf buat orang selevel aku. Kerusakan yang kamu bikin itu harganya ratusan juta. Uang yang mungkin nggak bakal bisa kamu kumpulin seumur hidup meskipun kamu kerja mati-matian."

Aditya diam sebentar, biarin kata-katanya itu ngena banget di hati Luna. Dia lihat wajah cewek itu makin pucat, makin hancur.

"Jadi sekarang, aku ulang pertanyaan aku sekali lagi, dan ini terakhir kali aku tanya. Kamu mau pilih yang mana? Dikirim ke penjara hari ini juga, atau ikut aku, jadi pelayan pribadi aku, kerja sampai hutang lunas? Pilih cepet, aku nggak punya banyak waktu buang-buang waktu sama kamu."

Luna menutup wajahnya dengan kedua tangan, nangis makin keras. Rasanya dunianya runtuh total. Pagi ini dia bangun dengan hati penuh harap, bawa mimpi indah mau buka usaha, mau jadi orang sukses kayak janji dia sama Ayah Ibu. Tapi sekarang? Semuanya hancur lebur cuma gara-gara satu kesalahan kecil, cuma gara-gara nyelamatin kucing, cuma gara-gara ketemu orang yang salah.

Dia inget pesan Ibu Sumi dulu: "Luna, kamu anak kuat. Jangan nyerah cuma karena jatuh sekali. Apapun yang terjadi, teruslah hidup, teruslah berjuang."

Masuk penjara berarti akhir dari segalanya. Berarti dia nyerah, berarti dia mati hidup-hidup. Tapi kalau dia pilih ikut laki-laki kejam ini... setidaknya dia masih hidup. Setidaknya dia masih punya kesempatan buat napas, buat bergerak, buat suatu saat nanti mungkin kabur atau bayar hutang itu. Setidaknya dia masih punya kesempatan buat balas dendam sama orang yang udah bunuh orang tuanya.

Luna hapus kasar air matanya, dia angkat muka menatap Aditya dengan sisa-sisa keberanian yang dia kumpulin dari dasar hati. Matanya masih merah banget, pipinya basah, tapi ada kilat tekad di sana.

"Ba... baiklah..." jawabnya terbata-bata, suaranya parau banget. "Saya... saya ikut Tuan. Saya bakal jadi pelayan pribadi Tuan. Saya bakal kerja keras sampai hutang saya lunas."

Aditya senyum lebar, senyum kemenangan. Di dalam hatinya ada rasa puas yang meluap-luap, rasa senang yang aneh dan nggak dia ngerti kenapa. Dia dapet apa yang dia mau. Dia dapet cewek ini masuk ke dalam kekuasaannya sepenuhnya.

"Bagus. Pilihan yang bijak," ucap Aditya puas. Dia mundur selangkah, lalu memberi isyarat sama sopirnya yang dari tadi diam aja di pinggir. "Bawa dia masuk ke mobil."

Sopir itu langsung mendekat, membukakan pintu belakang mobil lebar-lebar. Luna berdiri diam, natap mobil mewah itu dengan tatapan kosong. Di sana, di dalam mobil itu, dimulailah hidup barunya yang penuh tantangan dan penderitaan. Dia natap sekeliling buat terakhir kali ke jalanan ini, tempat dia berjuang, tempat dia punya mimpi. Dia natap arah kamar kontrakan kecilnya, tempat dia simpan semua kenangan dan perjuangannya. Dia natap arah kios yang mau dia sewa, mimpi yang baru aja hilang.

"Maaf ya, Ayah... Ibu... Luna gagal wujudin mimpi itu dulu..." bisiknya lirih dalam hati. "Tapi Luna nggak nyerah. Luna bakal hidup. Luna bakal berjuang jalan lain. Tungguin Luna ya..."

Dengan langkah berat dan gontai, Luna naik masuk ke dalam mobil mewah itu. Aroma wangi mahal langsung menyambutnya, dingin ber-AC langsung bikin dia menggigil. Dia duduk di ujung bangku paling pinggir, menjauh dari Aditya yang duduk santai di sebelahnya. Dia menekuk lututnya, memeluk kakinya sendiri, menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha bikin dirinya sekecil mungkin biar nggak diperhatikan.

Pintu ditutup rapat, mobil itu pun melaju meninggalkan jalan kecil itu, meninggalkan masa lalu Luna, dan membawanya masuk ke dunia baru yang sama sekali nggak dia kenal.

Sepanjang perjalanan, suasananya hening banget. Nggak ada yang ngomong. Aditya cuma duduk bersandar malas, matanya menatap keluar jendela dengan wajah datar, tapi sesekali melirik ke arah Luna yang gemetar diam-diam di sebelahnya. Dia tau cewek itu takut setengah mati. Dia tau cewek itu sedih banget. Tapi entah kenapa, dia malah senang dia ada di sini, di samping dia, milik dia.

Luna sendiri tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia inget uang tabungan dia yang masih aman terselip di baju dalamnya. Ratusan juta hutang... sedangkan dia cuma punya beberapa juta. Berarti dia harus kerja berpuluh-puluh tahun, mungkin seumur hidup, buat bayar itu. Dia bakal jadi budak Aditya selamanya? Dia bakal terjebak sama laki-laki kejam ini selamanya?

"Nama kamu Luna kan?" tanya Aditya tiba-tiba memecah keheningan. Suaranya bikin Luna kaget sampe loncat dikit.

"i... iya, Tuan..." jawabnya pelan tanpa berani angkat muka.

"Inget baik-baik peraturan aku ya, Luna," ucap Aditya berat dan tegas. "Mulai detik ini, kamu bukan lagi anak jalanan, bukan lagi pembantu warung. Kamu pelayan pribadi aku. Artinya, setiap detik, setiap langkah, setiap napas kamu, semuanya ada di bawah perintah aku. Kamu harus nurut apa pun yang aku bilang, seberat apa pun, seaneh apa pun. Nggak boleh bantah, nggak boleh nanya kenapa, nggak boleh ngeluh. Ngerti?"

Luna mengangguk pelan, air matanya mau jatuh lagi tapi dia tahan mati-matian. "Ngerti, Tuan."

"Bagus. Dan satu lagi..." Aditya mendekatkan badannya ke arah Luna, bikin cewek itu makin ngerenyuk ketakutan. "Jangan pernah kamu mikir buat kabur. Atau nyari masalah. Di kota ini, aku punya kuasa penuh. Mau kamu sembunyi di ujung dunia sekalipun, aku bakal nemuin kamu. Dan kalau kamu kabur... hukumannya bukan lagi penjara, tapi sesuatu yang jauh lebih mengerikan. Kamu nggak bakal mau tau apa itu."

Ancaman dingin itu menusuk tepat ke ulu hati Luna. Dia tau laki-laki ini nggak main-main. Dia tau dia terjebak udah, nggak ada jalan keluar lagi selain nurut dan bertahan.

Mobil itu akhirnya masuk ke dalam gerbang perumahan elit yang dijaga ketat, jalan masuknya panjang dan banyak pohon besar rimbun di kiri kanannya. Di ujung sana, nampaklah sebuah rumah besar yang bentuknya kayak istana. Megah, luas, mewah banget, temboknya putih bersih, halamannya luas banget penuh bunga warna-warni, ada kolam renang besar di sampingnya, dan pintu gerbangnya tinggi besar dari besi tempa indah.

Itu kediaman pribadi Aditya Pratama. Tempat tinggal orang terkaya dan paling berkuasa di kota ini. Dan sekarang... itu juga bakal jadi tempat tinggal Luna.

Mobil berhenti di halaman depan yang beraspal bersih. Pintu dibukakan oleh pelayan rumah yang udah menunggu hormat. Luna turun dengan kaki gemetar, menatap rumah besar itu dengan mata terbelalak kagum sekaligus takut. Rumah ini lebih besar dari pasar desa dia dulu. Lebih mewah dari gedung pemerintahan di kota.

Aditya turun di sebelahnya, merapikan jasnya yang rapi, lalu menatap Luna yang kelihatan makin kecil dan rapuh di tengah kemegahan itu.

"Masuk," perintahnya singkat dan dingin.

Luna mengikuti dari belakang, langkahnya pelan dan ragu. Dia masuk ke dalam rumah itu, dan seketika itu juga dia ngerasa kayak masuk ke dunia lain. Lantainya marmer putih berkilau banget sampe bisa kelihatan bayangan diri sendiri. Perabotannya mahal banget, ada lukisan-lukisan indah di dinding, lampu gantung kristal besar berkilauan di langit-langit tinggi, baunya wangi dan sejuk banget.

Beberapa pelayan lain yang ada di ruang tengah langsung menunduk hormat pas Aditya lewat. Mereka natap Luna dengan pandangan bingung dan penasaran, heran ada cewek asing pake baju sederhana masuk bareng majikan mereka.

Aditya berhenti di tangga besar di tengah ruangan, dia berbalik menghadap Luna yang berdiri canggung dan takut di depan pintu.

"Bu Rina!" panggil Aditya keras.

Seorang wanita paruh baya berpenampilan rapi, tegas, dan berwibawa langsung datang mendekat, menunduk hormat. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan Aditya?"

"Dia ini Luna. Mulai hari ini dia kerja di sini jadi pelayan pribadi aku. Urus dia. Kasih tau semua aturan di rumah ini, kasih tau tugas-tugasnya, kasih baju seragam baru, taruh kamarnya di sebelah ruang kerja aku. Pastikan dia ngerti posisi dia. Dan inget... dia punya hutang gede sama aku, jadi pastikan dia kerja keras dan nggak macem-macem."

Bu Rina natap Luna dari ujung kaki sampai kepala, wajahnya datar tanpa ekspresi, cuma mengangguk tanda ngerti. "Siap, Tuan. Saya bakal urus semuanya."

Aditya natap Luna terakhir kali dengan tatapan tajam yang bikin merinding. "Inget ya, Luna. Kamu sekarang milikku. Kerja yang bener, kalau nggak... akibatnya kamu tau sendiri."

Setelah ngomong gitu, Aditya langsung naik ke atas meninggalkan mereka berdua. Suara langkah kakinya makin menjauh sampai akhirnya hilang di ujung lorong atas.

Tinggallah Luna sendirian sama Bu Rina di ruang tengah yang luas dan dingin itu. Luna natap Bu Rina dengan mata berkaca-kaca, penuh harap minta belas kasihan, tapi Bu Rina cuma natap dia dingin dan ketus.

"Ayo ikut saya, Luna. Saya kasih tau aturan main di sini. Di rumah ini, nggak ada tempat buat orang malas, orang nangisan, atau orang yang cuma modal cantik. Di sini aturan Tuan Aditya itu hukum tertinggi. Kalau kamu salah sedikit aja... habis sudah riwayatmu."

Luna menelan ludah susah payah, dia ikut Bu Rina melangkah pelan ke dalam lorong panjang rumah itu. Air matanya udah kering, diganti rasa takut dan tekad bertahan hidup yang makin kuat. Dia nggak tau apa yang bakal dia hadapi ke depannya. Dia nggak tau seberapa berat kerjaan dia. Dia cuma tau satu hal: dia harus kuat. Dia harus bertahan. Dia harus cari cara buat bayar hutang ini dan bebas.

Perjalanan panjang dan berat baru aja dimulai. Di istana dingin milik Aditya Pratama ini, Luna bakal belajar banyak hal. Belajar tentang kemewahan, belajar tentang kekejaman, belajar tentang perbedaan kelas, dan tanpa sadar... perlahan mulai belajar mengenal sosok dingin yang ternyata menyimpan banyak luka di balik sifat kejamnya itu.

(BERSAMBUNG)

📖 SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA! 🤗🩷

Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk membaca cerita ini! Semoga kalian menikmati setiap halaman dan setiap momen kebahagiaan, tawa, bahkan emosi yang terasa dalam setiap babnya ya. 🥰

Jangan lupa tinggalkan komentar dan berikan suka pada setiap bab yang kalian baca, ya! Jika kalian menyukai ceritaku, silakan tuliskan pendapat kalian — misalnya "Lanjutkan dong, ceritanya keren banget!" atau "Ceritanya bagus dan menyentuh hati!" — karena setiap kata dukungan dari kalian akan menjadi semangat terbesarku untuk terus menulis dengan lebih baik lagi. 🩷

Sekali lagi terima kasih banyak atas perhatian dan dukungannya. Sampai jumpa lagi di bab selanjutnya ya! Selamat membaca dan sampai bertemu kembali! 👋👋🤗🌷

1
Ate Ida Rustono
tambah penasaran dehh
Ate Ida Rustono
penasaran jadinya
visa lestari
💪💪💪👍
visa lestari
ceritanya bagus thor semagata
visa lestari
mampir thor💪
Nadia Permatasari
mampir juga thor😍
Eemlaspanohan Ohan
lanjut makin seru
Eemlaspanohan Ohan
lanjut
Eemlaspanohan Ohan
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!