Setelah kehilangan bayinya saat melahirkan, hidup Amira tak lagi sama. Luka di hatinya belum sembuh ketika keluarga seorang kyai besar datang menawarkan kontrak sebagai ibu susu untuk cucu mereka yang mengalami kuning karena menolak susu formula.
Awalnya ia menolak, tetapi rasa iba pada bayi kecil itu membuatnya luluh. Apalagi suaminya sendiri yang menyuruhnya menerima tawaran dengan bayaran besar dan misi sang suami agar bisa masuk ke pesantren.
Sejak tinggal di ndalem pesantren, Amira mulai dekat dengan putra kyai itu. Tangisan bayi tersebut hanya reda dalam pelukannya. Pertemuan dengan kyai juga membuka sebuah rahasia antara Amira dan kyai muda tersebut.
Di saat Amira berusaha menjaga kehormatan dan rumah tangganya, ia justru dikhianati oleh lelaki yang paling ia percaya. Suaminya berselingkuh. Dan perempuan itu adalah sahabatnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
“Aku akan kerja lebih keras.” Mirza bicara cepat seperti orang yang takut semuanya benar-benar hilang. “Aku yang akan menafkahi penuh keluarga nanti.”
Kalimat itu justru membuat ibu Mirza tertawa sinis penuh amarah. “Kamu?” Beliau menunjuk anaknya sendiri. “Kerja apa?”
Mirza langsung terdiam.
“Selama ini saja kamu hidup numpang dari penghasilan istrimu dan aku!” suara ibunya makin tajam. “Sekarang mau sok jadi laki-laki bertanggung jawab?”
“Bu, aku serius!”
“Serius dari mana?!” bentak beliau lagi. “Ngurus satu rumah tangga saja kamu gagal!”
Amira memejamkan mata. Kepalanya mulai sakit mendengar semuanya.
Sementara Mirza masih terus memandangnya dengan mata memohon. “Aku bisa berubah, Mira…”
Namun kali ini Amira perlahan menarik ujung gamisnya dari genggaman Mirza. Dan gerakan kecil itu terasa seperti jawaban yang jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata.
“Aku akan ngajar di pesantren!” Ucapan Mirza terdengar cepat dan penuh harapan putus asa.
Semua orang langsung menoleh padanya.
Mirza buru-buru melanjutkan, “Karena Amira menyusui bayi kyai, pasti mereka enggak keberatan kalau aku masuk mengajar di sana.”
Wajah Amira langsung berubah.
Dan Mirza masih terus bicara tanpa sadar kalimatnya semakin melukai. “Aku tahu gaji di pondok itu besar, Bu.” Matanya mulai hidup lagi seolah menemukan jalan keluar. “InsyaAllah cukup buat menafkahi dua istri.”
Plak! Tamparan keras mendarat di wajah Mirza sampai kepalanya terlempar ke samping. Belum selesai, bugh! Ibunya langsung memukuli pundak dan punggung anaknya berkali-kali dengan tangan kosong. “Anak enggak tahu malu!”
“Bu… ampun… Bu!” Mirza sampai menunduk melindungi kepalanya sambil menerima pukulan bertubi-tubi.
Namun perempuan tua itu seperti benar-benar murka sekarang. “Kamu ini otaknya di mana?!” pukulannya makin cepat. “Bisa-bisanya punya ide kayak begitu!”
“Bu, sakit…”
“Sakit rasain!”
Amira sampai terpaku melihat ibu mertuanya memukul Mirza tanpa henti sambil menangis.
“Kamu sudah menyakiti menantuku…” suara beliau pecah penuh marah dan kecewa, “Sekarang malah mau memanfaatkan dia?!”
Mirza langsung memeluk kaki ibunya juga. “Aku cuma mau bertanggung jawab…”
“Bertanggung jawab dari mana?!” bentak ibunya lagi. “Kamu malah mau numpang hidup dari pengorbanan Amira!”
Tangis Nurul makin keras di sudut ruangan.
Sementara Amira dadanya terasa makin sesak. Karena ternyata benar. Bahkan di tengah kekacauan ini pun Mirza masih memikirkan keuntungan yang bisa ia dapatkan dari dirinya.
“Astaghfirullah…” ibu Mirza akhirnya berhenti memukul karena kelelahan sendiri. Napasnya memburu. Tangannya gemetar. Ia menatap anak lelakinya dengan mata penuh kecewa. “Aku gagal mendidik kamu. Maafkan ibu Amira, maaf ... Ya Allah. Maaf ... Maaf ... maaf!" berulang kali ibunya Mirza mengucapkan maaf karena ia merasa sangat gagal.
Kalimat itu membuat Mirza langsung menangis lagi. Namun kali ini tidak ada lagi yang terasa menyentuh. Karena semua orang di ruangan itu mulai sadar akar masalahnya bukan sekadar khilaf. Tetapi karena Mirza terlalu terbiasa memikirkan dirinya sendiri.
Melihat Mirza justru semakin dimarahi, Nurul akhirnya memberanikan diri melangkah maju. Mungkin ia sadar hati ibu Mirza sudah terlalu kecewa pada anaknya sendiri. Dan satu-satunya orang yang masih bisa memberi keputusan sekarang hanyalah Amira.
Nurul mendekat perlahan dengan wajah penuh air mata. Lalu tiba-tiba, bruk. Ia ikut berlutut di depan Amira. “Amira…” Suaranya pecah.
Amira langsung menegang.
“Aku salah…” Nurul menangis sambil menangkupkan kedua tangan memohon. “Maafkan aku…”bAir mata perempuan itu jatuh deras sampai bahunya ikut bergetar. “Aku mohon belas kasihmu…”
Amira memalingkan wajah, tetapi suara Nurul terus terdengar menyakitkan di telinganya.
“Aku sedang hamil…” Kalimat itu tetap terasa seperti luka yang disayat ulang. Nurul memegang perutnya sendiri sambil menangis semakin keras. “Ibuku bahkan belum tahu…” Napasnya tersengal. “Entah apa yang akan beliau katakan kalau tahu aku hamil anak suami orang. Kau tau kan Amira, betapa kerasnya keluargaku. Mungkin aku akan dicincang oleh mereka.”
Ruangan kembali dipenuhi tangis. Dan untuk pertama kalinya sejak tadi Nurul tampak benar-benar ketakutan. Bukan lagi soal cinta. Bukan lagi soal Mirza. Tetapi tentang kenyataan bahwa hidupnya mungkin akan hancur setelah ini.
“Aku takut…” bisiknya lirih sambil menangis. “Aku benar-benar takut…”
Amira menatap sahabatnya lama. Sahabat yang dulu selalu ada bersamanya. Yang pernah makan sepiring berdua dengannya. Yang dulu memeluknya saat ayahnya meninggal. Dan sekarang perempuan itu justru menghancurkan rumah tangganya.
“Kenapa, Nurul…?” suara Amira akhirnya keluar pelan penuh luka. “Kenapa harus suamiku?”
Nurul langsung menutup wajah sambil menangis sesenggukan. “Aku enggak bisa berhenti mencintai dia. Kamu tau kan, Amira. Aku sulit untuk jatuh cinta, padahal banyak laki-laki yang mendekat. Itu karena Mirza. Jauh sebelum kalian kenal, aku sudah mencintai dia!"
Kalimat itu membuat mata Amira langsung kembali berkaca-kaca. Karena ternyata bahkan sampai sekarang pun Nurul masih mencintai Mirza.
Amira tertawa kecil. Pelan. Namun tawa itu terdengar jauh lebih menyakitkan daripada tangisan. Air matanya masih terus jatuh, tetapi wajahnya kini terlihat kosong. Seperti seseorang yang terlalu lelah untuk terus mempertahankan sesuatu yang sudah hancur. “Kamu ingin aku melakukan apa, Nurul?” Suaranya lirih.
Nurul langsung menangis makin keras.
Amira menatap sahabatnya lama sekali sebelum akhirnya berkata, “Kamu mau Mirza?” Dadanya naik turun menahan sesak. “Ambillah.”
“Amira…” suara Mirza langsung panik.
Namun Amira tidak memandangnya lagi. “Sejak tadi sudah aku bilang.” Ia menghapus air matanya kasar. “Aku sudah melepas dia.”
Ruangan mendadak terasa dingin. Mirza langsung bangkit dari lantai dengan wajah pucat. “Mira, jangan ngomong begitu,”
“Aku capek, Mas.” Kalimat itu keluar begitu pelan. Tetapi justru membuat semua orang terdiam.
“Aku capek mempertahankan rumah tangga sendirian.” Air mata Amira jatuh lagi. “Aku capek jadi perempuan baik sementara kalian diam-diam menghancurkan aku.”
Nurul menutup wajahnya sambil menangis histeris.
Namun Amira tetap melanjutkan dengan suara yang mulai lebih tegas. “Secepatnya aku akan urus gugatan cerai ke pengadilan agama.”
“Jangan!” Mirza langsung mendekat panik. “Mira, aku mohon!”
Amira mundur cepat. Tatapannya dingin sekarang. “Bukankah itu lebih baik buat kalian?”
“Nggak!” suara Mirza pecah. “Aku enggak mau cerai!”
Amira tersenyum sinis penuh luka. “Tapi kamu bisa tidur dengan perempuan lain.”
Kalimat itu membuat Mirza langsung kehilangan suara lagi.
“Aku enggak akan jadi penghalang kalian.” Napas Amira mulai gemetar lagi. “Menikahlah.” ia berhenti sesaat. “Rawat anak kalian. Dan jangan pernah datang mencari aku lagi.”
Tangis Mirza langsung pecah semakin keras.
Sementara ibu Mirza hanya bisa duduk lemas sambil menangis diam-diam melihat rumah tangga yang dulu ia perjuangkan kini runtuh di depan mata.
Amira berdiri perlahan. Tubuhnya masih terasa lemah setelah semua tangis dan pertengkaran panjang hari ini. Namun berbeda dari tadi kali ini sorot matanya terlihat jauh lebih tenang. Bukan karena rasa sakitnya hilang. Melainkan karena ia akhirnya mengambil keputusan. “Keputusanku sudah bulat.”