Malam itu hidup Alena hancur setelah tanpa sengaja menumpahkan minuman ke tubuh Kael Ardion, mafia paling kejam di kota. Satu malam kelam merenggut segalanya, lalu pria itu membuangnya tanpa belas kasih saat Alena datang membawa kabar kehamilan.
Delapan tahun berlalu.
Alena hidup susah membesarkan putranya seorang diri hingga takdir mempertemukannya kembali dengan Kael. Namun pria yang dulu menghancurkannya itu kini justru terobsesi mendekati putra kecil Alena, tanpa tahu bahwa anak tersebut adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Uang Yang Terkumpul Belum Sepenuhnya Cukup
Hari-hari berlalu begitu cepat.
Sudah tiga hari keempat wanita itu berjuang tanpa mengenal lelah demi satu mimpi kecil milik Kai.
Alena hampir saja terjatuh dari motor karena menahan kantuk luar biasa setelah pulang-pergi mengantar pesanan seharian penuh. Senna mulai sering memegangi pinggangnya akibat terlalu banyak melakukan pekerjaan berat yang tidak biasa ia lakukan sebelumnya.
Sementara Anne beberapa kali harus diam sejenak untuk mengatur napas karena sejak pagi terus mondar-mandir melayani pelanggan tanpa henti.
Dan di kota besar sana tanpa mereka sadari, Rina juga ikut berjuang dengan caranya sendiri. Selain mengambil pekerjaan tambahan setiap malam, wanita itu bahkan rela menjual kacamata kesayangannya demi membantu biaya festival Kai.
Semua orang sedang berusaha sekuat tenaga. Dan tanpa mereka sadari Kai melihat semuanya.
Siang itu suasana rumah terasa cukup sepi. Hanya suara debur ombak dan hembusan angin laut yang terdengar samar dari kejauhan.
Kai duduk sebentar di teras rumah, setelah pulang sekolah. Matanya terangkat memandangi langit siang yang cerah. Wajah kecilnya terlihat diam, namun pikirannya penuh sesak oleh banyak hal.
Tentang orang-orang terdekatnya yang pulang semakin malam, wajah lelah mereka yang mulai sulit disembunyikan, membuat hati kecilnya tercubit. Entah kenapa meskipun terbilang masih bocah pemikiran Kai sudah sejauh itu.
Tidak hanya itu saja bayangan festival yang tinggal menghitung hari, juga memenuhi pikirannya. Perlahan anak itu menggenggam tali tas sekolahnya erat.
Ia tidak mau hanya diam. Tidak ingin membiarkan empat wanita yang paling ia sayangi berjuang sendirian demi dirinya.
Karena itulah… selama tiga hari terakhir Kai diam-diam membantu para nelayan yang baru pulang melaut.
Matahari sudah cukup tinggi saat anak itu tiba di bibir pantai sepulang sekolah. Seragamnya bahkan belum sempat diganti, hanya tasnya saja yang sudah ia tinggalkan di rumah.
Kai berdiri di tepi laut sambil menunggu perahu-perahu nelayan kembali sandar, sesekali ia menghayal. Jika nanti ia bisa ikut festival. Pastinya layang-layang Kai akan banyak dilihat orang, namun seketika khayalannya buyar begitu saja saat sebuah perahu mulai terlihat mendekat dari kejauhan.
Senyum kecil langsung muncul di sudut bibirnya.
“Kai! Bantu kami!” teriak salah satu nelayan dari atas perahu.
“Iya Om!” jawabnya cepat.
Anak itu langsung berlari kecil menerjang pasir pantai. Tangannya dengan sigap membantu menarik tali perahu hingga ke bibir daratan bersama beberapa nelayan lainnya.
Tenaganya jelas terkuras. Bahkan telapak tangannya mulai terasa perih saat tali kasar itu bergesekan dengan kulitnya yang masih kecil.
Namun Kai sama sekali tidak mengeluh. Keringat mulai membasahi pelipisnya, napasnya pun terdengar berat. Tapi setiap kali mengingat empat ibunya yang bekerja tanpa kenal lelah… semangatnya kembali muncul.
Karena di dalam hati kecilnya, Kai hanya punya satu pikiran sederhana.
“Aku harus bantu mereka."
☘️☘️☘️☘️
Malam mulai datang bersama semilir angin laut yang masuk melalui celah-celah jendela rumah kayu sederhana itu.
Tubuh Alena terasa begitu lelah setelah seharian bekerja tanpa henti. Namun langkahnya tetap berjalan menuju kamar mandi saat matanya tanpa sengaja menangkap sesuatu di sudut lantai.
Seragam sekolah Kai yang penuh pasir. Alena sedikit mengernyit heran sambil mengambil baju itu perlahan.
“Tumben sekali anak ini…” gumamnya pelan.
Ia tidak berpikir macam-macam. Mungkin Kai terlalu asyik bermain sepulang sekolah hingga lupa mengganti pakaiannya dengan benar.
Meski tubuhnya terasa remuk, Alena tetap mencuci seragam itu perlahan. Tangannya mengucek pasir-pasir yang menempel tanpa tahu… bahwa anaknya diam-diam juga sedang berjuang mengumpulkan uang untuk mimpinya sendiri.
Beberapa menit kemudian, Alena akhirnya keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Namun belum sempat ia masuk kamar—
Cklek.
Pintu rumah tiba-tiba terbuka. Ternyata Senna dan Anne datang bersamaan.
“Mbak, nggak capek?” tanya Alena heran melihat kedua sahabatnya masih sempat datang malam-malam seperti ini.
“Untuk anakku?” Senna langsung mendengus kecil sambil menjatuhkan tubuhnya ke kursi kayu. “Nggak ada istilah capek.”
Anne hanya tersenyum kecil mendengar ucapan sahabatnya itu.
Sementara Kai yang sejak tadi duduk di lantai langsung mendekat lalu menyandarkan kepalanya di paha Senna manja.
“Kai…” tegur Alena pelan. “Ibu Senna lagi capek, Nak.”
“Gak apa-apa,” potong Senna cepat sambil mengusap rambut anak itu lembut.
Kai tersenyum kecil lalu mendongak jahil.
“Ibu… kepala Kai berat ya?”
Senna langsung menggeleng pelan. “Enggak kok.”
“Jangan bohong,” goda Kai kecil sambil tertawa. “Kai tahu kepala Kai berat.”
Seketika tawa kecil memenuhi ruang tamu sederhana itu. Untuk beberapa saat… suasana terasa begitu hangat.
Lelah mereka seperti menghilang hanya karena mendengar suara tawa satu sama lain. Hingga akhirnya percakapan mulai mengarah pada satu hal yang sejak tadi memenuhi pikiran mereka.
Festival.
Malam ini bos akhirnya membayarkan seluruh upah tambahan mereka selama tiga hari terakhir. Dan sekarang… uang itu sedang tergeletak di atas meja.
Alena mulai menghitung lembar demi lembar uang lusuh itu perlahan. Anne ikut membantu merapikan pecahan kecil, sementara Senna terus menghitung ulang dengan wajah serius.
“Satu… dua… tiga…”
Suasana perlahan berubah hening.
Hingga beberapa menit kemudian— “Pas tujuh ratus ribu.”
Deg.
Ketiganya langsung saling menatap. Ada rasa lega yang begitu besar menyusup ke dada mereka. Akhirnya… uang pendaftaran festival berhasil terkumpul.
“Ya Tuhan…” Senna sampai menutup wajahnya sendiri. “Anakku akhirnya bisa daftar festival.”
Anne tersenyum lega sambil mengembuskan napas panjang. Sementara Alena hanya menunduk diam, matanya mulai terasa hangat.
Namun kebahagiaan itu ternyata tidak bertahan lama. Karena beberapa detik kemudian, senyum mereka perlahan memudar.
Benang premium.
Mereka benar-benar lupa kalau masih ada satu kebutuhan penting yang belum terbeli. Dan harganya tidak murah.
Lima ratus ribu.
Seketika suasana kembali hening. Tidak ada yang bicara. Karena mereka tahu… tanpa benang itu, peluang Kai di festival akan jauh lebih sulit.
Kai yang sejak tadi diam memperhatikan perlahan menundukkan pandangannya. Lalu tanpa berkata apa-apa, anak itu tiba-tiba berdiri kecil dan berlari masuk ke dalam kamar.
“Kai?” panggil Alena bingung.
Tidak lama kemudian anak itu kembali keluar sambil membawa sebuah kaleng kecil bekas biskuit.
Kai duduk kembali di lantai lalu membuka kaleng itu perlahan. Isinya uang receh. Beberapa lembar lusuh. Dan koin-koin kecil.
“Aku juga punya tabungan…” ucapnya pelan.
Satu per satu uang itu mulai ia keluarkan dan disusun rapi di atas meja. Hasil membantu nelayan selama tiga hari terakhir. Tangannya bahkan masih terlihat kemerahan karena sering menarik tali kapal.
Anne langsung menahan napasnya. Sementara Senna perlahan menggigit bibirnya sendiri. Kai mulai menghitung uang itu pelan.
“Seratus dua puluh ribu…”
Suaranya terdengar kecil. Sangat kecil. Dan entah kenapa… angka itu justru terasa begitu menyakitkan di telinga mereka.
Karena itu bukan sekadar uang. Melainkan hasil kerja keras seorang anak delapan tahun yang diam-diam ikut berjuang.
Kai tersenyum kecil meski matanya terlihat sedikit redup.
“Tidak apa-apa kok kalau nggak pakai benang itu,” ucapnya pelan mencoba terdengar biasa saja.
Tatapannya perlahan beralih pada layang-layang biru miliknya. “Yang penting layang-layang Kai masih bisa terbang.”
Seketika dada ketiga wanita itu terasa sesak. Karena mereka tahu… Kai sedang berpura-pura kuat.
Padahal anak itu sendiri sangat mengerti… bahwa benang premium itulah yang akan menentukan apakah layang-layangnya bisa bertahan di langit festival nanti atau tidak.
Bersambung ...