Pada malam hari Aletta tengah berjalan santai menikmati udara malam yang begitu dingin sambil mau makan buah jeruk. Ya Aletta sangat menyukai jeruk mereka seperti sahabat sejati sebab jika Aletta kemana-mana dirinya selalu membawa jeruk. "Tinggal 5 butir dan bijinya ada 7 makan aja deh semuanya." Ucapnya semangat. Aletta langsung memasukkan 5 butir jeruk ke dalam mulutnya saat sedang asyik maunya tiba-tiba Aletta mengalami sesak nafas dan langsung terjatuh.
Uhukkkk....uhukkkk.
"Sesak banget dada gue."
"Sialan ya kali gue metong karena keselek 7 biji jeruk yang bener saja lelucon macam ini." Ucapnya kesal.
Kesadaran Aletta mulai menghilang dan Aletta berdoa kepada Tuhan untuk meminta kehidupan yang kedua.
"Tuhan jika akhir hidupku aku minta ke pada mu kehidupan untuk kedua kalinya aku ingin memperbaiki semuanya dan aku ingin minta maaf sama Mommy, Daddy dan para Abang lucknut." Ucapnya lirih tersenyum lebar di akhir kesadarannya dan sisa hembusan nafas terakhirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Putri Arabella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Liburan
Aretta terus saja menelusuri koridor rumah sakit untuk mencari keberadaan ruang operasi, beberapa saat kemudian Aretta telah berhasil menemukan ruang operasi sampainya Aretta di depan ruangan itu kebetulan seorang dokter yang menangani Kaivan keluar.
Dokter itu tersenyum ke arah Aretta. "Apa kamu temennya tuanmuda?" Tanya dokter itu.
Aretta mengernyitkan dahinya bingung, kenapa dokter ini memanggil Kaivan dengan sebutan tuan muda? Memangnya siapa Kaivan sebenarnya? Apa hubungannya dengan dokter ini? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang bermunculan di otak Aretta tapi Aretta menepisnya karena ini bukan saatnya untuk menanyakan hal seperti itu.
Aretta mengangguk. "Bagaimana keadaan Kaivan dok? Apa dia baik-baik saja? Apa parah? Kaivan baik-baik aja kan dokter?" Tanya Aretta beruntun yang membuat dokter itu meringis, sebab ia bingung harus menjawab yang mana dulu.
Sebelum dokter itu menjawab pertanyaan Aretta, Navarez dan Alex Dateng dengan nafas yang ngos²an karena mereka berlari dari parkiran menuju ruang operasi.
"Dek." Panggil Alex yang berlari ke arah Aretta.
Sampainya mereka ber dua di dekat Aretta Navarez dan Alex mengatur nafasnya, setelah di rasa nafasnya sudah stabil Navarez dan Alex menatap dokter itu yang tentu saja di pahami oleh dokter itu.
Dokter yang menangani Kaivan menghela nafasnya panjang, memang sangat butuh kesabaran ekstra menghadapi manusia² es kek Navarez dan Alex ini pikirannya.
"Dasar kulkas." Batin dokter itu.
"Tidak usah mengumpati ku papa." Ucap Navarez yang memang tau isi pikiran dokter itu yang tak lain dan tak bukan adalah Zavier orang tua dari sahabatnya yang bernama Aries.
Sedangkan Zavier mendengus kesal mendengarnya, Navarez dan Kaivan memang tau isi pikiran orang-orang yang sedang mengumpatinya. Insting mereka berdua memang tidak bisa di ragukan.
"Kondisi tuan muda ini cukup stabil, dan tuan muda saat ini sedang istirahat ekstra. Sebab tuan muda tadi kehilangan banyak darah dan membuat tuan muda kritis, tapi tuan muda begitu kuat sehingga dapat melewati masa kritisnya dengan cepat." Jelas Zavier yang membuat Aretta, Alex dan Navarez terkejut sekaligus merasa lega karena kondisi Kaivan saat ini baik-baik saja.
"Kira-kira kapan Kaivan akan sadar dokter?" Tanya Aretta yang masih terlihat cemas di mata mereka semua.
Yaps Aretta memang masih mencemaskan Kaivan, walaupun kondisi Kaivan saat ini baik-baik saja tapi Kaivan belum sadar dan itu membuat Aretta semakin cemas dan takut sekaligus merasa bersalah.
Zavier itu tersenyum melihat Aretta mencemaskan Kaivan. "Tuan muda sadar sekitar 2 jam lagi nona jadi tenanglah semua akan baik-baik saja." Ucapnya ramah.
"Jangan khawatir dek Kaivan akan baik-baik aja." Ucap Alex menenangkan Aretta.
Alex melihat Aretta sangat mencemaskan keadaan Kaivan bahkan waktu masih ada di dalam tubuh Aletta yang asli adiknya ini tidak akan mencemaskan orang lain secemas ini kecuali kepada keluarganya.
"Apa boleh kamu menjenguknya dok?" Tanya Aretta lagi.
Zavier mengangguk. "Tentu saja kalian boleh menjenguknya, tapi tunggu tuan muda di pindahkan ke ruang rawat yah." Ucap Zavier yang di angguki oleh Aretta.
"Baiklah dok." Ucap Aretta.
"Kalo gitu saya permisi dulu, setengah jam lagi tuan muda akan di pindahkan ke ruang rawat." Ucap Zavier yang memberitahukan Kaivan akan di pindahkan sebentar lagi.
Lalu Zavier pergi meninggalkan Aretta, Alex dan Navarez untuk mengurus perpindahan Kaivan ke ruang rawat.
_o0o_
Kediaman Wilson...
Keluarga besar Wilson saat ini tengah berkumpul membicarakan rencana mereka berlibur ke luar negeri esok hari, kenapa cepat sekali? Karena Rachel sudah sadar dari komanya dan ia merengek meminta untuk berlibur ke luar negeri. Para orang tua yang melihat Rachel merengek seperti itu menjadi tidak tega, mau gak mau mereka menuruti permintaan Rachel untuk berlibur ke luar negeri esok hari
Tentu saja Rachel dan Melissa sangat senang, karena itu yang mereka inginkan. Rachel dan Melissa melompat² seperti seorang anak kecil yang di belikan mainan kesayangannya. Para orang tua yang melihat kelakuan anak mereka sangat gemas begitupun dengan para Abang yang juga tak kalah gemas melihat tingkah adik² mereka.
Mereka memang sangat menyayangi Rachel dan Melissa bahkan mereka rela melakukan apapun dan menuruti permintaan Rachel dan Melissa, apapun itu permintaannya mereka akan dituruti agar Rachel dan Melissa tetap senang, bahagia dan merasa puas.
"Opah berapa lama kita akan berlibur ke luar negeri?" Tanya Melissa antusias dengan mengerjap²kan ke dua bola matanya yang terkesan menggemaskan di mata para orang tua dan para Abang.
Matthew mengusap kepala Melissa dengan gemas, ia mencubit pipi Melissa dan menarik idung Melissa. Tentu saja hal itu membuat Melissa cemberut.
"Opahhh sakit tauuu." Ucap Melissa dengan mata berkaca-kaca. Hal itu membuat para orang tua panik dan menatap Matthew dengan tatapan yang tajam.
Matthew mengacuhkan para anak²nya yang menatap dirinya dengan tatapan tajam. "3 Minggu kita akan di sana princess." Ucap Matthew lembut mengusap² puncak kepala Melissa.
Mata Melissa langsung berbinar mendengarnya, tentu saja ini tidak boleh di sia-siakan sebab keluarga Wilson jika liburan paling banyak hanya 2 Minggu dan paling sedikit 1 Minggu.
"Opah serius gak tipu-tipu kan?" Ucap Melissa dengan suara yang imut, eh lebih tepatnya di imut-imutin sih wkwkwk.
"Serius dong, kita akan liburan di sana dan kita harus menikmati liburan di sana dengan tenang dan damai." Ucap Wilson yang tersenyum manis. Itu bagi orng lain yang melihatnya tapi bagi Melissa senyum itu adalah senyum penuh arti.
Melissa tersenyum manis ia sangat bahagia karena akan berlibur panjang dan tidak masuk sekolah lagi lias cuti, dan hal itu tidak sulit baginya sebab mereka mempunyai orang dalam yang bekerja untuk mereka. Lebih tepatnya bekerja untuk Matthew.
"Yes liburan lama dong." Ucap Rachel heboh.
Rachel menatap Melissa. " Mel kita harus buat rencana gasih buat tempat yang akan kita kunjungi di sana nanti biar gak bingung² nyari tempatnya." Ucap Rachel antusias dengan mata yang berbinar cerah.
Melissa menganggukkan kepalanya. "Lo benar kita harus list tempat yang akan kita kunjungi di sana."
"Yaudah yuk kita ke kamar." Ajak Rachel yang di anggukkan oleh Melissa.
"Semuanya kita ke kamar dulu ya." Pamit Melissa kepada para orang tua dan abang²nya.
Setelah Melissa dan Rachel pergi meninggalkan ruang keluarga suasana di sana menjadi hening. Mereka di sibukkan dengan pikiran mereka masing-masing.
"Apa kita gak ajak Aretta." Celetuk Revan. Tentu saja ucapan itu membuat atensi mereka mengarah kepadanya seolah bertanya kenapa tiba-tiba ngomong kek gitu.
"Buat apa sih ngajak anak sialan itu." Ucap Robert sinis yang memang tidak suka jika ada orang yang menyebut nama itu.
"Lo ngapa bang tiba-tiba ngomong kek gitu?". Ucap Renan yng menyipitkan matanya menatap Revan penuh selidik.
"Gak usah ajak anak sialan itu dia itu hanya anak pembawa sial, kalo kita mengajaknya nanti kita akan dapat sial." Cibiru Alina yng memang sangat sensitif mendengar nama Aretta.
Revan menghela nafas panjang, sepertinya keluarganya memang sangat susah untuk berdamai, mereka lebih memilih memusuhi Aretta dengan tuduhan kalau dia yang membunuh Omah. Padahal yang Revan tau kalau bukan Aretta yang membunuh Omah tapi sepupunya.
Yaps Revan sudah tau semua fakta yang sebenarnya. Sakit, kecewa, marah, sedih, frustasi, itu yang Revan rasakan saat ini mengetahui fakta yang sebenarnya. Bodoh, sangat bodoh dan Revan mengakuinya kalau dirinya memang sangat bodoh karena tidak mencari bukti itu dari awal.
Setelah Revan melihat semua bukti itu dan mengetahui fakta itu yang membuat hatinya hancur, Revan berjanji akan meminta maaf kepada Aretta dan membantu mengungkapkan dalang dari semua ini dan termasuk dalang yang sudah menabrak Aretta hingga koma.
"Yasudahlah kalo gitu aku ke kamar dulu." Pamit Revan tanpa menghiraukan mereka semua.
"Kita juga pamit Opah." Ucap Robert dan Renan.
"Baiklah kalian langsung istirahat." Ucap Matthew dengan suara yang lembut.
Begitupun dengan para orang tua yang ikut meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya masing-masing. Kini di ruang tamu hanya ada Matthew yang pasti i memikirkan sesuatu yang akan membuatnya merasa puas.
"Aku gak sabar liburan nanti ingin bermain dengan mu." Batin Matthew dengan senyum menyeringainya