NovelToon NovelToon
Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Ratu Di Antara Tiga Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Cinta Istana/Kuno / Fantasi Isekai
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Hz. ceria

Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.

ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.

Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.

tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rayuan Gagal Harem

Suara biola dari sayap timur itu terus bergema di kepalan Floren sepanjang malam. Melodi yang sedih, teknis sempurna, namun hampa. Itu adalah cerminan dari pria yang memainkannya: Kael. Indah di luar, kosong di dalam—atau setidaknya, itulah yang ingin dipercayai Floren.

Pagi harinya, Floren bangun dengan headache (sakit kepala) yang berdenyut-denyut. Ia tidak tidur nyenyak. Mimpi-mimpi buruk tentang darah dan lautan menghantuinya.

"Yang Mulia," suara Nyonya Elara terdengar lembut dari balik pintu kamar mandi. "Sarapan telah disajikan. Dan... para penghuni Sayap Timur meminta audiensi."

Floren membasuh wajahnya dengan air dingin, mencoba menyegarkan pikirannya. "Audiensi? Untuk apa?"

"Mereka... mereka ingin menunjukkan bakat mereka, Yang Mulia. Sebagai tanda terima kasih atas kemurahan hati Anda memberikan mereka makanan dan tempat tinggal, meskipun... meskipun tanpa 'tugas' tradisional mereka."

Floren mengeringkan wajahnya dengan handuk linen. Ia tahu ini jebakan. Atau setidaknya, upaya putus asa. Para pria di harem itu dibesarkan untuk percaya bahwa nilai mereka ditentukan oleh kemampuan mereka menyenangkan wanita berkuasa. Tanpa itu, mereka merasa tidak berguna, tidak valid.

"Biarkan mereka menunggu di Aula Musik," kata Floren datar. "Saya akan datang setelah sarapan. Tapi ingatkan mereka: Jarak dua meter. Jika ada yang melanggar, audiensi dibatalkan dan mereka dikirim kembali ke Zenthoria atau keluarga asal mereka."

"Siap, Yang Mulia."

Aula Musik adalah ruangan berbentuk setengah lingkaran dengan akustik yang sempurna. Dindingnya dilapisi kayu cedar yang menyerap suara berlebih, menciptakan keheningan yang intim.

Saat Floren masuk, dua puluh pria itu sudah berbaris rapi. Mereka mengenakan pakaian seragam sederhana yang disediakan istana—tunik putih dan celana hitam. Tidak ada lagi sutra transparan atau perhiasan mencolok. Mereka terlihat seperti siswa sekolah, bukan mainan harem.

Di barisan depan, berdiri Kael. Wajahnya datar, matanya menatap lurus ke depan. Di sebelahnya, beberapa pria lain tampak gugup, keringat dingin mengalir di pelipis mereka.

Floren berjalan menuju kursi khusus yang diletakkan tepat di tengah, menghadap para pria. Kursi itu berada di atas podium kecil, yang secara alami menciptakan jarak vertikal dan horizontal.

"Duduk," perintah Floren.

Para pria duduk bersila di lantai, sesuai instruksi sebelumnya. Mereka menjaga jarak satu sama lain, membentuk formasi setengah lingkaran yang rapi.

Floren duduk, menyilangkan kakinya dengan anggun. Kaelia berdiri di samping podium, tangan di pinggang, waspada seperti elang.

"Kalian mengatakan ingin menunjukkan bakat," kata Floren, suaranya menggema di ruangan yang sunyi. "Mulailah."

Seorang pria muda dengan rambut keriting cokelat maju sedikit, tetap menjaga jarak aman. Ia memegang seruling kayu.

"Yang Mulia, hamba bernama Elian. Hamba akan memainkan lagu rakyat dari Provinsi Utara, 'Angin Musim Semi'."

Elian mulai meniup serulingnya. Melodinya ringan, ceria, mengingatkan pada padang rumput dan langit biru. Tekniknya bagus. Nadanya bersih.

Floren mendengarkan dengan ekspresi netral. Ia tidak tersenyum. Ia tidak bertepuk tangan. Ia hanya mendengarkan, menganalisis.

Saat Elian selesai, ia menunduk rendah. "Terima kasih, Yang Mulia."

Floren mengangguk singkat. "Teknikmu baik. Tapi emosimu dangkal. Kamu bermain untuk impresion, bukan untuk menyampaikan cerita. Lanjutkan latihan."

Wajah Elian memerah karena malu, tapi ia mundur ke barisan tanpa membantah. semua para pria-pria di harem sedikit bingung karena ratu Floren memahami tentang seni.

Pria berikutnya adalah seorang penyair. Ia membacakan puisi cinta yang klise, penuh dengan metafora bunga mawar dan bulan. Floren menghentikan di tengah bait ketiga.

"Cukup," kata Floren dingin. "Puisi itu plagiat dari karya penyair abad ke-12. Dan bahasanya terlalu berlebihan. Jika kamu ingin menulis, tulislah tentang kenyataan. Tentang kelaparan. Tentang harapan. Bukan tentang cinta palsu yang tidak kamu rasakan."

Penyair itu tertegun, lalu mundur dengan wajah pucat. malu karena ketahuan oleh sang ratu di depan pria lainnya.

Satu per satu, mereka tampil. Penari, pelukis, pemahat. Semua ditolak atau dikritik dengan tajam oleh Floren. Ia mencari sesuatu yang lebih dari sekadar keahlian teknis. Ia mencari jiwa. Ia mencari pria-pria yang punya pikiran, bukan hanya tubuh yang terlatih untuk menyenangkan.

Hingga giliran Kael.

Kael tidak membawa alat musik. Ia tidak membawa buku puisi. Ia hanya berdiri, lalu berjalan perlahan ke tengah ruangan, berhenti tepat di batas dua meter dari podium Floren.

"Apa bakatmu, Kael?" tanya Floren, matanya menyipit.

"Hamba tidak bernyanyi, Yang Mulia. Hamba tidak menari," kata Kael, suaranya rendah dan serak. "Tapi hamba bisa bercerita."

"Bercerita?"

"Ya. Sebuah fabel. Tentang seekor rubah dan seekor elang."

Kaelia di samping Floren menegang, tangannya bergerak sedikit ke arah gagang pedang. Floren mengangkat tangan, memberi isyarat agar Kaelia tenang.

"Ceritakan," perintah Floren.

Kael mulai berbicara. Suaranya memiliki ritme hipnotis.

"Dahulu kala, di puncak gunung tertinggi, hiduplah seekor elang yang sombong. Elang itu percaya bahwa dia raja langit, karena sayapnya kuat dan cakarnya tajam. Suatu hari, seekor rubah datang ke kaki gunung. Rubah itu tidak bisa terbang, tapi dia licik. Rubah berkata pada elang, 'Aku bisa memberimu harta karun di dasar jurang, jika kau mau mendengarkanku.'

Elang tertawa. 'Apa gunanya harta bagiku? Aku punya langit.'

Rubah tersenyum. 'Tapi langit itu sepi, Tuan Elang. Dan suatu hari, sayapmu akan lelah. Saat itu, kamu akan butuh tanah untuk mendarat. Dan saat kamu mendarat, kamu akan butuh teman yang mengerti bumi, bukan hanya angin.'

Elang mengabaikan rubah dan terbang lebih tinggi. Tapi badai datang. Sayapnya patah. Dia jatuh. Dan saat dia jatuh, dia menyadari bahwa tanah itu keras, dan dia sendirian. Tidak ada rubah yang menunggu. Hanya batu-batu tajam."

Kael diam. Ruangan hening total.

Cerita itu sederhana. Tapi implikasinya jelas. Elang adalah Floren. Tinggi, kuat, tapi terisolasi. Rubah adalah... siapa? Diri Kael sendiri? Atau peringatan bahwa isolasi akan menghancurkannya?

Floren menatap Kael. Matanya gelap.

"Moralku," lanjut Kael pelan, "adalah bahwa kekuatan tanpa koneksi adalah kelemahan. Bahwa bahkan elang pun butuh tanah."

Floren tersenyum tipis. Senyuman yang tidak mencapai matanya.

"Cerita yang menarik, Kael. Tapi kamu lupa satu hal."

Kael mengangkat alis. "Apa itu, Yang Mulia?"

"Elang itu tidak jatuh karena badai. Elang itu jatuh karena dia memilih untuk mengejar mangsa yang terlalu besar untuk ditanggungnya. Keserakahan, bukan kesepian, yang membunuhnya."

Floren berdiri. Jubahnya berkibar.

"Dan rubah? Rubah itu tidak menawarkan bantuan tulus. Dia menawarkan jebakan. Dia ingin elang mendarat agar dia bisa memakan elang yang terluka."

Kael terdiam. Topeng ketenangannya retak sejenak. Floren telah membongkar metaforanya. Dia melihat melalui manipulasi halus Kael.

"Kamu pandai bercerita, Kael," kata Floren dingin. "Tapi saya tidak tertarik pada fabel. Saya tertarik pada fakta. Fakta pertama: Kamu bukan penyanyi biasa. Fakta kedua: Kamu menyembunyikan sesuatu. Fakta ketiga: Saya tidak butuh teman yang mengerti bumi. Saya butuh subjek yang setia pada hukum."

Floren melangkah mundur, menjauh dari tepi podium.

"Keluar. Semua dari kalian. Kembali ke kamar masing-masing. Besok pagi, sekolah dimulai. Julian akan mengajar kalian alfabet. Jika kalian tidak bisa membaca huruf 'A', kalian tidak akan makan siang."

Para pria terkejut. Sekolah? Lagi-lagi?

Mereka bangkit, bingung, dan keluar dari aula dengan langkah gontai. Kael adalah yang terakhir keluar. Saat ia melewati ambang pintu, ia menoleh sekali lagi. Tatapannya kali ini tidak lagi main-main. Itu adalah tatapan seorang pemain catur yang baru saja menyadari bahwa lawannya bukan pemula, tapi grandmaster.

Pintu tertutup.

Floren menghembuskan napas panjang. Kakinya gemetar. Konfrontasi verbal dengan Kael menguras energinya lebih daripada pertarungan fisik. Pria itu berbahaya. Otaknya cepat. Lidahnya tajam.

"Hebat," kata Kaelia tiba-tiba, memecah keheningan.

Floren menoleh. "Apa yang hebat?"

"Cara Anda membongkar metaforanya. Kebanyakan orang akan tersentuh oleh cerita sedih itu. Anda melihat pisau di baliknya."

"Saya belajar dari pengalaman buruk," gumam Floren. "Orang-orang seperti Kael tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Cerita itu adalah uji coba. Dia ingin melihat seberapa jauh dia bisa memanipulasi emosi saya."

"Dan gagal," kata Kaelia.

"Untuk sekarang," koreksi Floren. "Dia akan mencoba lagi. Dengan cara lain."

Floren berjalan keluar dari Aula Musik, menuju koridor utama.

"Kaelia, perintahkan penjaga untuk memeriksa latar belakang Kael. Dari mana asalnya? Siapa keluarganya? Mengapa dia masuk ke harem Zenthoria sebelum dikirim ke sini? Saya ingin tahu semuanya."

"Akan saya lakukan," jawab Kaelia. "Tapi Yang Mulia... apakah Anda tidak khawatir? Jika dia benar-benar mata-mata tingkat tinggi, menyelidikinya bisa memicu insiden diplomatik dengan Zenthoria."

"Zenthoria sudah bermusuhan dengan kita secara diam-diam," kata Floren. "Lebih baik saya tahu sekarang daripada nanti, saat pisau sudah di tenggorokan saya."

Mereka berjalan menyusuri koridor. Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara keributan. Suara teriakan, benturan benda, dan tangisan.

Suara itu berasal dari arah perpustakaan.

Floren dan Kaelia saling pandang.

"Julian," bisik Floren.

Mereka berlari menuju sumber suara.

Saat mereka tiba di depan pintu perpustakaan, mereka melihat pemandangan yang kacau. Buku-buku berserakan di lantai. Beberapa rak buku terguling.

Di tengah kekacauan itu, Julian berdiri, melindungi tumpukan buku dengan tubuhnya. Di hadapannya, tiga pria dari harem—pria-pria yang tadi tampil di Aula Musik—sedang mengejeknya.

"Lihat si Pangeran Mainan!" ejek salah satu pria, seorang bangsawan rendahan bernama Darius. "Dia pikir dia guru sekarang? Dia hanya putra pengkhianat! Ibunya dipermalukan, dan dia bermain sekolah-sekolahan!"

"Menyedihkan," ejek pria lain. "Ratu bahkan tidak mau melihat wajahnya. Dia membuang kalung pemberianmu, Julian. Apakah hatimu hancur? Atau kau memang tidak punya hati?"

Julian tidak melawan. Wajahnya pucat, bibirnya berdarah karena digigit. Tapi matanya... matanya bersinar dengan kemarahan yang tertahan.

"Cukup!" suara Floren mengguntur di ambang pintu.

Ketiga pria itu berbalik, wajah mereka pucat ketakutan saat melihat Ratu dan Jenderal Kaelia berdiri di sana.

"Yang... Yang Mulia..." gagap Darius.

Floren melangkah masuk, menginjak buku-buku yang berserakan. Ia tidak peduli. Matanya terkunci pada Julian.

"Apakah kamu terluka, Julian?" tanya Floren, suaranya lebih lembut dari sebelumnya, meski masih tegas.

Julian menggeleng, berusaha berdiri tegak. "Tidak, Yang Mulia. Hanya... kecelakaan kecil."

"Kecelakaan?" Floren menoleh ke Darius dan kawan-kawannya. "Menyerang Kepala Sekolah Kerajaan adalah tindak pidana. Hukumannya adalah kerja paksa di tambang garam selama satu bulan."

Darius berlutut, gemetar. "Ampun, Yang Mulia! Kami hanya... kami hanya bercanda! Kami frustrasi! Kami tidak tahu apa yang harus dilakukan di sini! Kami bukan pelajar! Kami pria!"

Floren menatap mereka dengan dingin.

"Kalian adalah manusia," kata Floren. "Dan manusia bisa belajar. Jika kalian tidak bisa menghormati guru kalian, kalian tidak pantas mendapat hormat sebagai manusia. Bawa mereka ke sel bawah tanah. Satu minggu kurungan. Tanpa makanan, hanya air. Biarkan mereka merenungkan arti 'kehormatan'."

Penjaga yang berjaga di luar segera masuk dan menyeret ketiga pria itu yang meronta-ronta.

Saat mereka pergi, hening kembali turun.

Floren berjongkok—tetap menjaga jarak aman dari Julian—dan membantu membereskan beberapa buku.

"Maafkan kekacauan ini, Yang Mulia," kata Julian pelan, suaranya serak. "Saya seharusnya bisa mengendalikan mereka."

"Anda tidak perlu mengendalikan mereka dengan kekerasan, Julian," kata Floren, berdiri lagi. "Anda mengendalikan mereka dengan contoh. Jika mereka melihat Anda lemah, mereka akan menginjak Anda. Jika mereka melihat Anda kuat—meski secara intelektual—mereka akan ragu."

Julian menatap Floren. Ada air mata di matanya, tapi dia tidak membiarkannya jatuh.

"Saya kuat, Yang Mulia," bisik Julian. "Saya akan membuktikan itu. Saya akan membuat sekolah ini berhasil. Bahkan jika saya harus mengajar batu untuk berbicara."

Floren menatap pemuda itu. Untuk pertama kalinya, ia melihat bukan Julian sang kekasih yang menyedihkan, tapi Julian sang calon pemimpin. Ada baja di dalam dirinya. Baja yang selama ini tersembunyi di balik kelembutan.

"Bagus," kata Floren. "Karena besok, murid pertama Anda akan datang. Dan dia bukan bangsawan manja. Dia adalah anak jalanan dari Distrik Bawah."

Julian terkejut. "Anak jalanan? Tapi... mereka tidak bisa bayar."

"Pendidikan di sekolah ini gratis," kata Floren tegas. "Karena pengetahuan adalah hak, bukan privilese. Dan jika kita ingin mengubah Mobelle, kita harus mulai dari yang paling bawah."

Julian tersenyum. Senyuman kecil, tapi tulus.

"Seperti yang Anda perintahkan, Yang Mulia."

Floren mengangguk. Ia berbalik untuk pergi, tapi sebelum itu, ia berhenti sejenak.

"Julian."

"Ya, Yang Mulia?"

"Jangan biarkan mereka menginjak Anda lagi. Pertahankan diri Anda. Dengan kata-kata, jika perlu. Dengan buku, jika perlu. Tapi jangan pernah membiarkan harga diri Anda diinjak-injak."

Julian menelan ludah, lalu membungkuk dalam-dalam.

"Terima kasih, Yang Mulia."

Floren berjalan keluar dari perpustakaan, meninggalkan Julian di antara tumpukan buku.

Di koridor, Kaelia menunggu.

"Anda melunak," komentar Kaelia.

"Saya realistis," koreksi Floren. "Julian adalah aset. Jika dia hancur, sekolah itu gagal. Jika sekolah itu gagal, reformasi saya kehilangan simbol utamanya."

"Tapi Anda juga peduli padanya," desak Kaelia.

Floren tidak menjawab. Ia terus berjalan.

Mungkin, batinnya. Tapi kepedulian adalah kelemahan. Dan saya tidak boleh lemah.

Namun, di sudut hatinya yang paling dalam, Amel merasakan sesuatu yang asing. Rasa bangga. Bukan karena kekuasaan, tapi karena melihat seseorang bangkit dari keterpurukan.

Dan itu menakutkan. Karena jika ia mulai peduli, ia mulai rentan. Dan di dunia ini, kerentanan adalah undangan bagi kematian. dunia yang masih suka mengandalkan kekerasan dan peperangan untuk memperluas kekuasaan, Ratu Floren sebelumnya merebut kekuasaan dengan cara menumpahkan darah.

kekejamannya tersebar di seluruh negeri, monster berdarah dingin. jika sampai ada perbedaan besar di antara keduanya, itu artinya pedang sudah ada di depan matanya.z

1
Musim
Menarik dan menginspirasi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!