Ziva kembali ke keluarga kandungnya setelah dua puluh tahun terpisah, namun ia harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai bos mafia yang kejam.
Di sana, ia bertemu Arsen—pria yang dikenal sebagai pengusaha sukses, tapi ada aura bahaya yang tak bisa dibohongi oleh naluri Ziva.
Mereka saling tertarik, tapi sama-sama memakai topeng.
Saat rahasia terbongkar, akankah cinta mereka bertahan... atau justru menjadi alasan untuk saling menghancurkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyanathan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun Iri & Penyelamat di Ujung Malam
Setelah perdebatan panjang yang menguras emosi, akhirnya Ziva pergi menemani Daniel ke pesta bisnis malam itu. Meski hatinya masih panas karena bentrokan dengan Kevin, ia tidak tega menolak permintaan kakak sulungnya itu, apalagi setelah Daniel berjanji akan menjaganya sepenuhnya. Dengan penampilan yang mempesona berkat sentuhan tangan ajaib Zea, Ziva melangkah masuk ke dalam gedung mewah tempat acara digelar, menggandeng lengan Daniel dengan anggun namun tetap terasa kaku dan dingin.
Begitu keduanya melangkah masuk ke ruang pesta yang luas dan megah, suasana seketika berubah. Percakapan terdengar mereda, dan ratusan pasang mata serentak tertuju ke arah mereka. Cahaya lampu gantung berkilauan memantul di gaun biru langit yang melekat indah di tubuh Ziva, membuatnya tampak bercahaya bagai dewi yang turun ke bumi. Di sampingnya, Daniel tampil gagah dan berwibawa, pasangan yang serasi dan memukau.
Para tamu saling berbisik, penuh tanya dan kekaguman.
"Siapa wanita cantik di samping Tuan Daniel itu? Pacarkah? Calon istrinya?"
"Wah, cantik luar biasa! Belum pernah aku melihatnya sebelumnya. Dia pasti bukan orang sembarangan."
"Kalau dia pasangannya Tuan Daniel, berarti dia wanita paling beruntung sekaligus paling hebat di kota ini."
Belum ada satu pun yang tahu bahwa wanita cantik yang kini menjadi pusat perhatian itu adalah adik kandung Daniel yang baru saja kembali ke keluarga.
Namun, di antara tatapan kagum dan iri itu, ada sepasang mata yang memancarkan api kebencian yang membara. Di sudut ruangan, berdiri seorang wanita berpakaian ketat berwarna merah menyala, dengan riasan wajah yang terlalu tebal. Dia adalah Novi, sekretaris pribadi Daniel yang selama ini menyimpan perasaan terpendam pada atasannya itu.
Novi mengepal tangannya erat hingga kuku menancap ke telapak tangan, wajahnya berubah masam penuh cemburu buta. Sudah bertahun-tahun ia bekerja di samping Daniel, melayaninya siang dan malam, berharap pria itu akan meliriknya, namun tak pernah sekalipun Daniel menaruh hati. Dan sekarang, tiba-tiba muncul wanita asing yang begitu cantik, begitu anggun, dan langsung bisa menggandeng lengan Daniel seolah itu hak miliknya.
"Sialan! Dasar jalang tidak tahu malu!" geram Novi dalam hati, matanya menatap tajam penuh niat jahat. "Berani-beraninya kamu merebut perhatian Tuan Daniel dariku? Kamu pikir kamu siapa? Tunggu saja, aku akan membuatmu hancur malam ini juga! Aku akan singkirkanmu selamanya dari sisi Tuan Daniel!"
Gelap mata karena rasa iri dan cinta tak terbalas, Novi pun menyusun rencana jahatnya dengan cepat dan licik. Ia memanggil salah satu pelayan yang sedang lewat di dekatnya, lalu menyodorkan sebuah gelas berisi minuman berwarna merah muda yang tampak segar, namun di dalamnya sudah ia campurkan obat perangsang dosis tinggi yang bekerja sangat cepat.
"Bawa minuman ini ke sana, berikan pada wanita yang berdiri di samping Tuan Daniel. Katakan ini sebagai sambutan dari panitia acara," perintah Novi dengan wajah manis namun hatinya penuh racun.
Pelayan itu pun menurut, berjalan mendekat dan menyodorkan gelas itu pada Ziva.
"Nona, silakan, ini minuman selamat datang dari panitia," ucap pelayan itu sopan.
Ziva menunduk sejenak, menghirup aroma minuman itu dengan tajam. Sebagai mantan pemimpin organisasi bawah tanah, indra penciumannya sangat peka terhadap segala jenis zat berbahaya. Bau samar yang khas itu... Ziva langsung mengenalinya. Itu bau obat perangsang yang kuat, jenis yang sering digunakan untuk mengecohkan musuh.
Tanpa ragu, Ziva segera menggeleng dan menolak dengan sopan namun tegas. "Terima kasih, tapi aku tidak haus."
Namun, Daniel yang tidak tahu apa-apa, justru tersenyum dan menatap Ziva lembut. Ia mengira adiknya hanya canggung atau takut mabuk.
"Ambilah, Ziva. Tidak apa-apa, hanya minuman buah kok. Ada Kakak di sampingmu, tenang saja, tidak akan ada yang berani mengganggu. Kalau kamu merasa pusing atau mau mabuk, Kakak langsung bawa pulang, janji," bujuk Daniel dengan nada lembut yang sulit ditolak.
Ziva terdiam. Ia tidak tega menolak di depan umum dan membuat Daniel malu. Mengingat ia sedang berusaha menjaga citra sebagai gadis baik-baik, ia pun akhirnya mengalah. Dengan ragu ia menerima gelas itu, lalu meminumnya sedikit demi sedikit hingga tandas.
"Baguslah," puji Daniel tersenyum.
Begitu cairan itu masuk ke kerongkongan, Ziva langsung merogoh tas kecil yang selalu ia bawa. Di sana, ia selalu menyimpan obat penawar segala jenis racun dan obat perangsang, kebiasaan yang sudah melekat bertahun-tahun. Namun tangannya meraba-raba seisi tas dan tidak menemukan apa-apa.
"Astaga! Kenapa tidak ada?!" batin Ziva panik. "Ah iya! Tadi pagi tasnya sempat diacak-acak Kevin, dan aku lupa memasukkan kembali persediaan obatku! Sialan! Obat ini jenis yang sangat kuat, efeknya datang sangat cepat!"
Belum sempat pikirannya melangkah lebih jauh, rasa panas mulai menjalar dari perut menyebar ke seluruh tubuhnya. Kepalanya terasa berat, pandangannya mulai kabur dan berputar, kakinya melemah tak bertulang. Ziva segera mencengkeram lengan baju Daniel dengan erat, berusaha bertahan agar tidak jatuh.
"Ziva? Ada apa? Wajahmu pucat sekali... kamu sudah mulai mabuk ya?" tanya Daniel khawatir, menyentuh dahi adiknya yang mulai terasa hangat.
Melihat momen itu, Novi yang sedari tadi mengawasi segera melangkah mendekat dengan wajah pura-pura cemas dan penuh perhatian, seolah ia adalah orang yang paling peduli.
"Tuan Daniel, sepertinya Nona ini sudah terlalu banyak minum dan mulai tidak enak badan. Biar saya yang mengantarnya beristirahat dulu di kamar yang sudah disiapkan panitia. Tuan Daniel lanjutkan saja bincang-bincang dengan tamu penting, urusan Nona ini biar saya yang tangani," tawar Novi dengan nada lembut namun penuh rencana busuk.
Daniel mengangguk setuju, merasa lega ada yang mau membantu. Ia menatap Novi dengan serius. "Baiklah Novi, aku titip dia kepadamu. Tolong jaga dia sebaik kamu menjagaku sendiri. Jangan sampai ada hal buruk yang menimpanya, mengerti?"
"Tentu saja Tuan, saya mengerti sepenuhnya," jawab Novi dengan senyum lebar yang menyembunyikan kemenangan di dalam hatinya.
Novi pun segera memapah Ziva yang sudah hampir tidak sadarkan diri keluar dari ruang pesta, menuju lift yang mengarah ke kamar-kamar hotel di lantai atas.
Sesuai rencananya, Novi memasukkan Ziva ke dalam salah satu kamar yang sudah ia pesan sebelumnya. Ia meletakkan tubuh lemas itu di atas ranjang empuk. Lalu dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat pada seseorang yang sudah disewanya sejak tadi—seorang pria brengsek yang siap merusak kehormatan Ziva, agar gadis itu hancur dan tidak layak lagi berada di lingkungan mereka.
'Cepat masuk kamar 508, target sudah siap. Kerjakan tugasmu, bayaran akan kuserahkan setelah selesai.'
Novi tersenyum puas melihat Ziva yang terbaring lemah tak berdaya. "Selamat menikmati malam terakhirmu sebagai gadis mulia, Nona Cantik. Besok kamu akan menjadi sampah yang tidak berharga," bisiknya sinis lalu bergegas keluar kamar, mengunci pintu dari luar.
Namun, Novi sama sekali tidak menyadari bahwa sejak ia memberikan minuman itu, ada sepasang mata yang mengawasi setiap gerak-geriknya dari kejauhan. Sosok itu diam-diam mengikuti langkahnya dari jarak aman sampai ke kamar ini.
Begitu Novi pergi, pintu kamar kembali terbuka perlahan tanpa suara.
Masuklah sosok pria dengan wajah penuh kekhawatiran dan amarah yang terpendam. Itu adalah Arsen. Ia datang ke pesta ini karena mengetahui Daniel akan hadir, berniat mencari kesempatan bertemu Ziva, tapi yang ia temukan justru pemandangan mengerikan ini.
Arsen segera berlari mendekati ranjang, melihat keadaan Ziva yang wajahnya memerah padam, napasnya memburu, dan keringat dingin membasahi tubuhnya.
"Sayang... Ziva? Sadarlah, ada apa ini? Siapa yang berani melakukan ini padamu?!" tanya Arsen lembut namun penuh amarah, tangannya mengelus pipi Ziva yang terasa panas membara.
Merasakan sentuhan yang akrab dan hangat itu, kelopak mata Ziva perlahan terbuka. Di dalam pandangannya yang kabur, ia melihat wajah Arsen yang cemas. Rasa rindu dan rasa butuh perlindungan meledak seketika.
"Arsen..." gumam Ziva lirih, suaranya melemah namun penuh kerinduan. Ia langsung mengangkat tangannya yang lemas, mengalungkannya erat ke leher Arsen, menarik pria itu mendekat. "Arsen... aku butuh kamu... tolong aku..."
Arsen mencoba menahan diri, berusaha menyadarkan Ziva. "Aku di sini sayang, aku di sini. Tenang, aku akan bawa kamu berobat sekarang juga."
Namun, obat yang diberikan Novi itu bukan sekadar obat bius, melainkan obat yang memicu gairah luar biasa, membuat akal sehat hilang dan tubuh tak bisa dikendalikan. Ziva tidak mendengar kata-kata Arsen, tubuhnya hanya merespons rasa panas dan rindu yang membara.
Tangan mungil Ziva bergerak liar, membelai dada bidang Arsen yang tertutup kemeja, turun perlahan melewati perut hingga menyentuh bagian bawah pinggang pria itu. Sentuhan itu begitu lembut namun penuh godaan yang mematikan, membuat pertahanan diri Arsen yang sudah tipis seketika runtuh. Darahnya mendidih, napasnya menjadi berat dan kasar.
"Ziva... kamu yang memulai ini... jangan salahkan aku kalau aku tidak bisa menahan diri," bisik Arsen parau, matanya mulai memancarkan api gairah yang tak lagi bisa dikendalikan.
"Arsen... tolong aku... rasanya tidak nyaman sekali... panas sekali..." rintih Ziva lirih, matanya memandang Arsen penuh permohonan.
Tanpa sadar, tangan Ziva bergerak kasar merobek dan membuka resleting gaun indah yang dikenakannya, hingga bagian atas tubuhnya yang putih mulus dan sempurna terekspos sepenuhnya di hadapan mata Arsen.
Pria itu terpana, napasnya tertahan, matanya terbelalak tak percaya melihat pemandangan indah di hadapannya. Semua rasa marah, rasa khawatir, dan akal sehatnya seketika lenyap digantikan oleh hasrat yang meledak-ledak. Ia tidak lagi bisa menahan dirinya.