"Pe-periksa Hadiah Aktivasi Sistem…" kata Liam dengan sedikit keraguan dalam suaranya.
Ding!
[Selamat telah berhasil memperoleh Sistem Tamparan Wajah. Berikut adalah hadiah aktivasi satu kali]
[1.000.000 Dolar (Silakan periksa sakumu untuk detailnya)]
Liam, seorang mahasiswa miskin yang hidup sederhana dan sering dipandang rendah oleh orang lain. Hidupnya berubah drastis setelah ia dikhianati oleh pacarnya, Bella, yang memilih pria kaya dan berkuasa. Dalam kondisi hancur dan putus asa, Liam tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem misterius yang memberinya kekuatan untuk membalas hinaan orang lain dengan cara mempermalukan mereka.
Dengan bantuan sistem tersebut, Liam memperoleh kekayaan, kekuatan, dan berbagai kemampuan luar biasa. Dari seorang pemuda lemah yang diremehkan, ia perlahan bangkit menjadi sosok yang percaya diri, kuat, dan bertekad untuk mengubah nasibnya serta membalas semua orang yang pernah merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZHRCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Dipecat?
"Apa maksudnya aku dipecat?" suara kesal Liam terdengar di bagian belakang restoran.
Berdiri di depannya adalah seorang pria paruh baya bertubuh gemuk yang mengenakan seragam abu-abu muda. Sebuah nametag bertuliskan ‘Benjamin’ dan ‘Manager’ tepat di bawahnya dengan huruf tebal terpasang di dada kanannya.
Sebelumnya, Liam baru saja mengetuk pintu di bagian belakang restoran ketika Benjamin keluar dan langsung mengatakan bahwa dia dipecat.
Awalnya, Liam ingin mengundurkan diri, tetapi mengundurkan diri sangat berbeda dengan dipecat. Yang satu sukarela sementara yang lain dipaksakan. Hal itu tidak bisa diterima oleh Liam. Dia ingin pergi dengan baik-baik, tapi kenapa harus jadi seperti ini?
"Ya begitulah, nak!" Benjamin mengangkat bahu dengan dingin.
"Cari saja pekerjaan baru. Kau anak yang pekerja keras, aku tahu kau pasti bisa menemukan pekerjaan dengan mudah." lanjutnya sambil mengeluarkan rokok untuk dihisap.
"Kenapa kau memecatku?" tanya Liam.
Dipecat begitu saja terlalu mendadak baginya. Sejauh yang dia tahu, dia tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Tidak ada yang terlalu serius, nak. Hanya saja kau menyinggung seseorang yang tidak mampu kau lawan," tambah Benjamin dengan nada datar sambil menghembuskan asap dari mulutnya.
Bau rokok menyerang hidung Liam. Mendengar apa yang dikatakan Benjamin, wajah seseorang tiba-tiba muncul di pikirannya.
"Itu pasti Chester, kan?"
Benjamin menoleh ke arahnya, menghembuskan asap sebelum berkata, "Tentu saja dia. Siapa suruh kau menyinggungnya? Ngomong-ngomong, aku dengar pacar barunya yang menyuruh dia agar aku memecatmu. Sebenarnya apa yang kau lakukan sampai membuat mereka marah?"
Liam tidak menjawab pertanyaan itu, malah mengajukan pertanyaannya sendiri, "Berapa banyak mereka membayarmu?"
"Bayar? Seolah-olah aku akan merendahkan diriku untuk hal seperti itu. Dengarkan, nak, restoran cepat saji tempat kita berdiri ini hanyalah salah satu properti mereka. Kalau Chester mengatakan dia ingin memecat seseorang di sini, kami tidak punya pilihan selain melakukannya."
Benjamin tertawa sambil menggelengkan kepala, "Meskipun hubungan kita baik, kau tidak berharap aku menanggung semuanya untukmu, kan?"
"Dengarkan, aku kenal seseorang yang mungkin punya pekerjaan untukmu. Siapkan saja ponselmu, aku akan menghubungimu segera.”
"Satu nasihat, nak, jangan sampai membuat marah orang-orang kaya itu. Mereka bisa sangat picik. Mereka hanya akan membiarkan uang mereka bekerja, dan kita, orang biasa, bahkan tidak akan tahu apa yang akan menimpa kita."
"Baiklah, istirahat sudah selesai," Benjamin berjalan kembali ke dalam restoran sambil membuang rokok yang sudah habis ke tempat sampah.
Alis Liam berkerut saat melihat punggung Benjamin yang menghilang.
Wajah penuh kebencian Bella muncul di pikirannya saat itu. Namun, tidak ada lagi rasa hormat yang tersisa, hanya kebencian yang memenuhi pikirannya saat dia mengingat wajah jelek itu.
Siapa sangka Bella bisa sekejam itu sampai memecatnya dari satu-satunya pekerjaan yang dia miliki.
Kalau saja dia tidak kebetulan membangkitkan sistem pada saat yang tepat, ke mana dia akan pergi setelah kehilangan satu-satunya pekerjaan itu?
Saat itulah Liam menyadari bahwa selama ini dia telah memanjakan seorang putri, padahal sebenarnya seekor ular. Dan sekarang, ular itu telah membalikkan kepalanya dan memutuskan untuk menggigitnya, bukan sekali, bukan dua kali, tapi berkali-kali.
"Kau sangat kejam, Bella! Apa kau benar-benar ingin aku jatuh ke dalam lumpur dan menjadi gelandangan?!"
Bella sangat tahu tentang keadaannya, tentang betapa miskinnya dia. Dia tidak menyangka Bella akan sekejam ini sampai-sampai mendesak Chester agar Benjamin memecatnya.
Yang juga tidak dia duga adalah bahwa restoran cepat saji ini ternyata juga merupakan salah satu bisnis milik keluarga Chester.
Liam berbalik. Tidak lagi memikirkan soal mengundurkan diri. Pikirannya sudah bulat, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akn pernah lagi ia membiarkan dirinya diintimidasi seperti ini.
Orang kaya bisa melakukan apa saja karena uang mereka? Nah kebetulan, dia juga punya banyak uang sekarang.
Kebetulan sekali, Liam memang sedang mempertimbangkan untuk memulai bisnis agar memiliki sumber penghasilan sendiri. Dia sudah memiliki sedikit kurang 1.000.000 Dolar di rekening banknya, lebih dari cukup untuk memulai bisnis restoran cepat saji yang bisa menyaingi bisnis mereka.
Mata ganti mata. Dia tidak akan berhenti sampai keluarga Chester bangkrut. Mereka hanya bisa menyalahkan Chester karena memilih ular sebagai pacarnya.
Lalu bagaimana dengan ular itu sendiri? Waktunya juga akan tiba.
Liam yakin, dengan bantuan sistem, apa yang tidak bisa dia capai?
Kehilangan pekerjaan karena Chester dan Bella? Bukankah itu akan menjadi tamparan besar bagi mereka jika dia membuka bisnis yang sama tepat di depan bisnis mereka?
Dengan tekad yang sudah bulat, Liam mengeluarkan ponselnya dan menelepon John yang nomornya sudah ditambahkan sebelumnya.
"Tuan John, kau di mana sekarang?"
"Saat ini aku sedang berada di apartemen sewaanmu, Tuan. Apakah ada instruksi untukku, Tuan?"
Liam terkejut saat mendengarnya. Dia baru saja sampai di sini bersama Sylvie beberapa saat lalu, dan John sudah sampai di apartemen sewaan itu?
Cepat sekali dia?
"Apakah kau naik transportasi umum ke sini?” Liam tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Tidak, Tuan. Seperti yang kau ketahui, ada satu mobil BMW yang disertakan saat kau membeli mansion. Saat ini aku menggunakan mobil tersebut, Tuan." jawab John dengan nada datar, seolah-olah Liam sudah tahu bahwa ada mobil gratis.
Namun, dari pertanyaan Liam, John sudah menebak bahwa dia sebenarnya tidak tahu sama sekali. Tapi sebagai kepala pelayan yang baik, dia harus menjaga perasaan tuannya dan memilih kata-katanya dengan baik.
"Ah, begitu. Baiklah, kalau begitu beri tahu aku kalau kau sudah dalam perjalanan pulang. Tolong jemput aku di universitas nanti setelah kau selesai," kata Liam.
Dan John memang benar. Dia benar-benar tidak tahu bahwa ada BMW yang disertakan saat mansion dibeli oleh sistem. Dia juga tidak melihatnya saat mereka berkeliling tadi, Liam jadi penasaran dimana mobil itu diparkir sebelumnya.
"Baik, Tuan." jawab kepala pelayan John.
"Baik, terima kasih!"
"Dengan senang hati, Tuan."
Setelah Liam mengakhiri panggilan, dia mencari toilet umum karena merasa sudah waktunya untuk membeli Ramuan Peningkatan Jiwa.