Audrea Dena Prasella, siswi yang terkenal sebagai ratu bully sekolah sekaligus pacar ketua geng motor ternama, suatu hari melakukan kesalahan fatal setelah merundung seorang siswi pindahan yang ternyata adalah adik dari pemilik sekolah yang baru.
Grerant Alvaro Yubel, CEO muda tampan yang baru sebulan membeli sekolah itu, ternyata mengetahui rahasia besar Dena yang selama ini terus ditutupinya, dan karena kasus Dena yang telah merundung adiknya. Alvaro memberinya pilihan mengejutkan: menikah diam-diam dengannya, atau identitas rahasianya terbongkar?
Dena tak menyangka satu kesalahan bisa membuat hidupnya jadi semakin rumit. Di saat ia harus menjalani peran sebagai istri sah Alvaro demi menjaga rahasianya. Sementara Dyo Artha—pacarnya, selama ini hanya memanfaatkanya.
Dan di antara dua rahasia besar itu, manakah yang akan lebih dulu terbongkar... status Dena sebagai istri rahasia sang CEO, atau sifat Dyo sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duluan Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pantas Dibuang
Pas siangnya, di ruang kerja Alvaro.
Laki-laki itu duduk sambil bersangga dagu seperti sedang mikirin sesuatu. Entah apa, ya cuma dia sendiri yang tau.
Jemarinya bergerak-gerak seirama dengan detak jarum jam, kakinya bergoyang pelan.
Lalu tak lama pintu terdengar diketuk.
"Masuk."
Pelan.
Satu orang datang, membawa secangkir kopi hitam yang Alvaro pesan belum lama.
"Silakan, Pak," ucap perempuan itu sambil menaruhnya dengan hati-hati, di atas meja.
Alvaro mengangguk. Perempuan itu lalu pamit pergi.
Slurp...
Alvaro menyesap kopinya. Pahit! Itu memang sengaja. Sebab, hari ini dia lagi pingin minum yang tanpa gula. Sesuai dengan perasaannya sekarang. Hambar!
Sambil tangannya memencet remote. Televisi besar di satu sisi dinding ruang itu menyala—menampilkan siaran berita.
Tentang, tragedi kericuhan antar kelompok preman jalanan. Imbas dari perebutan wilayah di beberapa titik.
kericuhan yang terjadi di sekitar jalan...
"Ck!" Alvaro berdecak, malas menonton berita beginian. Apalagi tentang kericuhan antar preman.
Bosan.
Alvaro memilih siaran lain. Kebetulan, satu stasiun televisi ada yang sedang menayangkan film. Yang daripada Alvaro mematikannya, menonton film jadi pilihan terakhirnya.
Walau, Alvaro tidak benar-benar menontonnya juga, hanya sekadar suara itu untuk menemaninya bekerja.
"Lusi sialan!" umpatnya tiba-tiba.
Sambil laki-laki itu sibuk mengotak-atik data di dalam komputer, mengerjakan semuanya yang seharusnya tidak perlu ia lakukan.
Andai, orang yang sebelumnya ia sebut namanya, ada bersamanya sekarang.
Ester Lusiana Dwynsi—asisten sekaligus sekretaris pribadinya, sudah sejak seminggu lalu izin cuti. Katanya, pulang kampung ke Surabaya. Nengokin kakaknya yang lahiran anak pertama.
Dan sampai hari ini Lusi belum juga kembali. Kabarnya sih gara-gara di Surabaya ia malah sakit radang tenggorokan, nggak bisa buat ngomong, tapi Alvaro nggak percaya.
Alah, palingan juga lagi ngabisin waktu sama cowoknya itu, pikir Alvaro. Ia tau, Lusi biasanya memang begitu.
Satu hari, Lusi pernah ketahuan berbohong dan berakhir ketahuan. Eh, Lusi nggak ada kapok-kapoknya.
Alvaro jadi kesal, lalu melampiaskan kekesalannya itu dengan sengaja tidak memberi tahu Lusi kalau sekarang ia sudah menikah.
Biar Lusi kaget, biar Lusi kesel, setelah tau bosnya itu udah punya istri, padahal Lusi adalah salah satu orang terdekatnya.
Lagipula salah siapa? Minta cuti nggak tau diri.
Alvaro mendengus.
Di sebelah keyboard—ponsel genggam itu terlihat anteng. Nyaris, tak ada notifikasi pesan yang masuk, atau apapun itu yang membuat layar sesekali menyala.
Tumben!
Padahal, biasanya ramai.
Penasaran, Alvaro lalu mengambilnya, sekalian menulis satu pesan untuk Lusi.
Buat ngasih peringatan.
Lo jangan kelamaan pacaran di Surabaya, nanti lo hamil.
Tulis Alvaro asal, lalu mengirimnya di detik yang sama.
Tak lama setelah Alvaro meletakkan kembali ponselnya.
Drtt! Drrt!
Terdengar satu panggilan masuk.
Awalnya, Alvaro pikir itu Lusi—biasanya perempuan itu memang tidak membalas melalui pesan, tetapi langsung menelfon di detik yang sama, terutama jika yang menghubunginya Alvaro.
Namun, setelah Alvaro mengecek, rupanya bukan Lusi.
"Dicky?"
Alvaro langsung menjawabnya.
"Ya?" ucap Alvaro singkat begitu panggilan terhubung.
"Var, semalam yang lo tanyain, gue udah tau dua orang itu siapa!" ujar laki-laki bernama Dicky itu dari seberang udara, langsung ke inti apa yang ingin dia katakan.
"Mereka yang dibayar Aura buat nyari Dena, ternyata cuma receh di sekitaran wilayah gue," lanjut Dicky bahkan nggak pake basa-basi.
Alvaro juga langsung ngerti, kepalanya ngangguk-ngangguk sambil jari telunjuknya berputar-putar di bibir cangkir.
Mendengarkan Dicky yang melapor. Tentang dua orang preman yang semalam dibawa Aura—ibu tiri Dena, yang sepertinya sudah mulai kehabisan cara. Sampai-sampai harus menggunakan tangan orang lain untuk mendapatkan Dena.
Alvaro jadi penasaran.
"Siapa?"
"Lo nggak kenal," sahut Dicky, langsung.
Alvaro mengerinyit, "Anak baru?"
"Baru lahir malah, jauh dari era lo," kata Dicky, terkekeh pelan.
Alvaro diam sejenak, sambil sebelum kopinya dingin, ia sesap lagi perlahan-lahan.
"Masih anak baru tapi berani terima job level atas?" gumamnya kesal.
"Apa perlu mereka gue bawa ke tempat sepi?" tawar Dicky, kebetulan tangannya emang lagi gatel banget. Rasanya pengen bikin gigi orang rontok.
Alvaro menghela napas, "Mau lo bikin nggak bisa ngomong?"
"Kalau boleh..."
"Nggak perlu!" tahan Alvaro.
"Pantau dulu aja!"
"Selalu," balas Dicky tak lama.
"Dan, apapun pergerakan Aura yang melibatkan orang-orang di jalan," tambah Alvaro.
"Gue mau tau lebih dulu!" tegasnya.
"Siap," sahut Dicky.
"Intinya gue mau Dena aman!"
"Beres, Bos!"
Hening.
Alvaro mendadak diam.
Namun, panggilan itu masih terhubung, nggak langsung Dicky tutup, segan katanya.
"Oh iya..." Dicky tiba-tiba ngomong.
"Soal yang kemarin, gue minta maaf," ujarnya.
Mendengar itu Alvaro mengerinyit.
"Apaan?"
"Yang kemarin gue nggak bisa datang ke pernikahan lo," sahut Dicky.
"Gue jadi nggak enak."
Hening sejenak, Alvaro menghela napas ringan, tersenyum malas.
"Nggak perlu minta maaf," jawabnya santai. "Lo nggak dateng juga nggak bikin pernikahan gue batal."
Dari seberang, terdengar Dicky tertawa kecil.
"Justru, gue yang harus bilang makasih ke lo," balasnya tak lama.
Dicky yang masih tertawa pelan, langsung diam. Wajahnya langsung laku.
"Untuk apa?"
"Info dari lo... soal Aura yang lagi ngincer Dena," sahut Alvaro pelan.
"Itu yang bikin gue jadi punya alasan untuk nikahin Dena," lanjutnya.
Sambil nada suaranya berubah. Agak terdengar lebih dalam. Lebih dingin.
Tapi, Alvaro terdengar serius.
Alvaro melanjutkan, "Setidaknya, itu membuat Aura jadi nggak mudah buat bisa nyentuh Dena lagi."
"...dan sekalian," tambahnya lebih pelan, nyaris seperti bisikan.
"Membalas apa yang dulu pernah dia lakuin ke gue!" kata Alvaro.
Di sana Dicky sempat terdiam. Tapi mengerti, apa maksud perkataan Alvaro.
"Lo masih dendam—"
"Nggak perlu dibahas di sini!" tukas Alvaro.
Dicky langsung diam, tapi di sana dia terlihat nyengir. Lalu nyeletuk lagi.
"Kalau lo mau, gue bisa bantu jagain Dena di jalan. Seenggaknya, biar dia lebih aman," tawarnya.
Alvaro langsung geleng, walau Dicky nggak bisa lihat. Tapi, dari helaan napas panjang yang terdengar. Dicky mengerti, tawaran pasti ditolak.
"Nggak usah."
Nah kan!
"Di jalan, Dena udah ada yang ngawasin selama dua puluh empat jam penuh," kata Alvaro.
"Siapa?" tanya Dicky penasaran.
"Mereka..."
"...teman-teman lama lo di terminal."
Dicky sempat dahinya mengerut, tapi tak lama kemudian ia langsung paham.
Mereka, teman-teman lamanya di terminal. Dicky tau siapa yang Alvaro maksud.
"Donald, Douglas, Denis?" Dia yakin tidak salah tebak.
"Ya."
"Bangsat! Jadi mereka masih hidup?" kagetnya sedikit rindu. Maklum, sudah lama Dicky tak saling jumpa dengan mereka.
"Gimana kabar mereka sekarang?" tanya Dicky.
Alvaro nyengir. "Baik..."
"...lo datang aja ke rumah. Mereka di sini setiap hari," ujarnya.
"Sekarang mereka kerja buat gue," imbuh Alvaro.
Di sana Dicky tertawa, kikikan itu terdengar di telinga Alvaro.
"Ngetawain apa?!"
"Bukannya itu sama saja?" kekehnya lagi.
"Apa?"
"Dulu, di terminal, mereka juga kerja buat lo kan?" kata Dicky.
"Jadi apa bedanya?"
Namun, tidak ada tanggapan. Alvaro mendadak diam. Bahkan, sorot matanya sedikit berubah, ketika tiba-tiba saja ia merasa seperti terlempar ke masa lalu.
Ke tempat dimana dulu Alvaro pernah hidup.
Terminal.
"Dick!"
"Ya?"
"Gue mau tau, siapa yang pegang terminal sekarang?" tanya Alvaro tiba-tiba.
Tak kurang dari sedetik, Dicky langsung menjawab.
"Rangga."
Alvaro mengernyit, lama. Nama itu terdengar asing baginya.
"Rangga?"
"Gue nggak kenal, dia siapa?"
"Mungkin lo cuma lupa," Dicky tertawa pelan.
"Dia udah ada di terminal pas lo masih di sana, cuma dulu dia masih receh," lanjutnya.
"Receh?"
Alvaro terdiam. Sejenak mengingat-ingat sosok receh terminal yang bernama Rangga. Hingga, Alvaro akhirnya mengingat wajahnya.
"Oh..."
"Jadi dia yang sekarang pegang terminal?" Alvaro baru tau.
"Ya."
"Cepet juga naiknya."
"Dia naik karena situasi..."
"Semenjak terminal lo tinggal... terminal nggak ada yang pegang. Nggak lama dari itu Bos kita semua kemudian pergi jauh. Ya secara otomatis dia naik," jelas Dicky.
"Dan untuk menjaga, tempat yang pernah lo bikin rapi," imbuhnya.
Alvaro sedikit merutuk penjelasan Dicky. Menurutnya itu tidak perlu.
"Itu udah lama, nggak ada yang perlu diingat!" sergah Alvaro.
"Nggak akan ada yang bisa lupa," kata Dicky.
"Lupain aja!" dengus Alvaro.
Dicky tertawa lagi, masih saja pelan.
Lalu, nyeletuk dengan santainya, tapi dengan nada yang terdengar agak menusuk, dalam.
"Kenapa lo nanyain itu?" tanya Dicky.
"Lo mau balik pegang terminal lagi, Var?" tekanya.
Kalimat itu terdengar bukan seperti pertanyaan yang menjurus ke arah bercanda. Dari nadanya aja udah ketahuan. Dicky sepertinya serius bertanya.
Sedangkan Alvaro mendadak melotot, lalu tanpa peduli, panggilan itu kemudian ia akhiri—sepihak, tanpa kompromi. Tanpa jawaban.
Tut!
"Bacot lo!"
Dan ponsel itu Alvaro letakan kembali di tempat semula.
Setelahnya, Alvaro kemudian bersandar santai di kursi, lama...sambil menatap satu foto, terpajang rapi pada bingkai kecil di atas meja kerjanya.
Bingkai itu—berisi foto Dena.
Istrinya.
Dan Alvaro... menatapnya lama, menatap seseorang yang ingin ia lindungi sekarang, lalu tersenyum kecil.
"Suka nggak suka, lo udah jadi milik gue... artinya, sekarang lo aman..."
"... sedangkan Aura—" ucapnya tertahan.
Lalu melirik ke satu bingkai foto yang digantung secara terbalik, berada tepat di atas tempat sampah.
Alvaro lalu berdiri, mendekat ke arah di mana bingkai foto Aura berada, membawa gunting di tangannya.
Sambil tersenyum sinis.
Sret...
Alvaro menggunting tali yang menahan bingkai itu dengan sengaja.
Prak!
Bingkai foto Aura terjun bebas. Alvaro menatapnya tersenyum puas, foto Aura di sana—terlihat di matanya setara dengan sampah.
"Memang pantas dibuang!"