Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. WATACI
Elano nampak ketakutan. Nafasnya tersengal dengan mata yang berkaca-kaca. Bibirnya bergerak namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Ia sadar jika apa yang dilakukannya salah. Karena mendengar kata sang kakak untuk tidak lemah, ia memilih melawan dan memukul mereka menggunakan balok kayu.
Saat jam istirahat, teman-temannya menyeretnya---membawanya ke atap gedung dan mulai menghajarnya. Kesal dan tak terima ia meraih balok kayu dan mulai memukul dengan membabi buta.
"Ma ... maafkan aku Kak. Aku memang salah, tidak seharusnya aku melakukan itu," ungkapnya.
Salah seorang ibu maju dengan menunjuk ke arahnya kasar. "Memang anak kurang ajar! Sekarang kau dengar kan? Dia sudah mengakuinya, jadi cepat Pak Polisi penjarakan dia."
Nika tersenyum puas. "Bagus. Seharusnya kamu lakukan itu dari dulu. Kenapa baru sekarang kamu lakukan itu. Bahkan jika mereka semua babak belur sampai masuk rumah sakit, itu lebih baik."
Seketika semua membelalak, termasuk Elano. Ia pikir kakaknya itu akan marah besar padanya.
"Aku memang tidak mengizinkan kamu melakukan hal kekerasan. Tapi mereka," Nika menghentikan ucapannya sambil menunjuk ke arah teman sekolah Elano. "Mereka, memang pantas mendapatkan semua itu."
"Dasar tidak tahu diri. Kau malah membela adikmu itu, hah! Dia jelas salah, tapi kau justru senang dia melakukan hal tercela seperti itu," sahut ibu yang lain.
Mereka terlihat semakin geram. Dengan cepat melangkah ke arah Nika, dengan keras melayangkan tamparan ke arahnya. Namun, Adnan segera menangkap tangan itu.
"Hentikan. Tapi apa yang dikatakan klien saya ini ada benarnya. Korban bully memang harus melawan," tungkas Adnan tegas, ia menepis tangan ibu itu dengan kasar.
Dengan mata melotot ibu itu terkejut tak percaya. "Apa maksudnya itu. Siapa yang membully anak itu, jelas-jelas dia yang sudah membuat anak kami babak belur."
Adnan mengangkat sebuah flashdisk di tangannya. "Ini adalah semua bukti pembully an yang mereka lakukan. Jadi kita akan tahu siapa diantara mereka yang salah."
Seketika wajah anak-anak yang membully Elano terdiam dengan wajah pucat. Mereka segera menghampiri ibu mereka dengan memelas seolah mereka korban.
"Tidak Bu. Mereka bohong. Aku tidak mungkin melakukannya," ujar salah satu dari mereka.
"Benar. Elano tiba-tiba saja memukuli kami dengan balok itu," timpal yang lain.
Terlihat ibu mereka memeluknya dengan erat seolah mengatakan semua akan baik-baik saja.
Mereka berfikir pihak Elano tak akan memiliki bukti. Sebab saat mereka melakukan pembully an tak ada camera CCTV di tempat itu.
"Masih kecil, tapi kalian begitu berani, ya?" sahut Nika.
Tanpa menunggu lama Adnan menyerahkan flashdisk itu ke polisi. Sang polisi yang menerima itu segera mengmbil laptop dan memutar bukti rekaman Video.
Saat Video diputar barulah mereka tahu semua kebenarannya. Dan para pembully Elano mematung ketakutan. Pasalnya di dalam video itu wajah mereka terekam jelas.
Diam-diam ada seseorang yang mengambil video itu. Bahkan bukan cuma satu Video namun, banyak.
"Tidak! Itu bukan kami, Bu."
Mereka teriak histeris ke arah ibu mereka.
Namun bukannya merasa bersalah dan meminta maaf justru mereka semakin angkuh dan terlihat tak terima dengan bukti Video itu.
"Ini pasti akal-akalan kalian, kan? Anakku tidak mungkin melakukan itu semua. Bahkan dia tak tega membunuh nyamuk, jadi mana mungkin dia memukul teman sekolahnya begitu," sangkalnya.
"Benar. Lihatlah otot lemahnya itu, anakku sangat lemah dan ini semua IA. Ngaku kalian, kalian sengaja mau menjebak anak kami, kan?" tambah yang lain.
Nika sampai di buat geleng-geleng dengan pembelaan ibu mereka. Tak habis fikir bagaimana bisa mereka tetap membela anak mereka padahal sudah ada bukti kuat.
"Sudahlah pak, cepat penjara kan anak gak tau diri itu!" seru mereka serempak.
"Mohon maaf semuanya. Semua ada prosesnya, kami juga harus meneliti, apakah bukti rekaman ini asli atau palsu, jadi kami tidak bisa langsung sembarangan bertindak," ungkap salah seorang anggota polisi.
Akhirnya pihak dari kepolisian memproses video rekaman itu. Diserahkan pada anggota yang ahli dalam hal itu.
Adnan menatap Nika dengan tatapan heran dan penuh tanya. Bagaimana dia bisa setenang itu menghadapi semua cacian mereka.
"Tenanglah Bu. Kita pasti akan membebaskan adik Anda dari tuduhan," ucapnya seraya menenangkan.
Nika hanya melirik singkat. "Itu sudah tugasmu, Tuan Adnan."
Nika lalu duduk di kursi tunggu sambil memainkan ponselnya dengan santai.
Hingga beberapa saat datang seorang lelaki dengan setelan jas rapi, rambut klimis botak di area depan. Masuk dan berjalan ke arah mereka.
"Siapa yang berani memukuli anakku, hah!" pekiknya dengan mata membelalak.