Delina Azzahra Gustia, gadis 21 tahun yang paling anti dengan yang namanya duda, harus menghadapi kenyataan pahit... ancaman dari ayahnya.
"Kalau kamu masih bangun siang terus, Bapak nikahkan kamu sama duda!"
Ancaman itu selalu ia anggap angin lalu.
Sampai suatu hari... semuanya berubah.
Sebuah kejadian konyol yang tak pernah ia bayangkan-kepeleset, lalu jatuh tepat di atas seorang pria asing-membuat hidupnya jungkir balik.
Lebih parahnya lagi, warga memergoki mereka dalam posisi yang... tak bisa dijelaskan.
Pria itu adalah Muhammad Agam Alfariz. Seorang gus berusia 30 tahun.
Dan sialnya... dia adalah tipe pria yang paling Delina benci. Namun karena fitnah yang terlanjur melebar, satu keputusan harus diambil.
Menikah...
Dalam semalam, Delina yang anti duda... justru sah menjadi istri seorang gus mantan duda.
Hidupnya yang dulu bebas, kini berubah total.
ig: adelgustian_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
DI DALAM KAMAR.
Seorang perempuan dengan rambut yang disanggul dihias melati disekelilingnya hingga menjutai di bawah pinggang.
Ia menangis terharu, di ikuti Mak Nurlela dan kedua kaka iparnya berada didalam kamar. Setelah ijab kabul diucapkan.
" Gak nyangka, anak gadis mamak sudah jadi istri orang."
" Takut, mak! Bisa gak dibatalin lagi?"
PLAK...
" Awww, sakit mbak!"
" Sembarangan aja mulutnya, gak boleh begitu." Delina mendengus saat mendapat tabokan dibahunya.
" Sudah-sudah, ayo kita keluar. " Ucap Mak Nurlela menengahi.
Delina keluar dari dalam kamar, dibantu Pak Rosan yang sudah ada didepan pintu kamarnya. Menutun anaknya dengan digandeng Mak Nurlela dan juga Pak Roslan menuju pelaminan, dimana.... Agam berdiri menanti kedantangan nya.
Ada rasa deg-degan, padhal ini bukan pertama kalinya Agam melangsukan pernikahan tapi tetap saja ada sensasi yang berbeda, begitu juga dengan Delina merasakan hal yang sama.
Semua pasang mata tertuju pada Delina, ibu-ibu yang sempat menghujat dan menggosipkan miring tentangny tak mampu berkata-kata. Melihat betapa panglingnya Delina saat ini.
" Masya allah, bojone Agam. Manlingi pisan..." Ucap salah satu keluarga Agam disana.
" Itu beneran Delina? Cantik anget, gak salah lihat kah kita?"
" Biasanya urakan, giliran di dandani anggun kemayune..."
Bisik-bisik tetangga mulai terdengar, Agam. Tidak berhenti tersenyum sama sekali, melihat Delina di apit kedua orang tua dikanan kirinya. Mendekat.
Delina berdiri disamping Agam setelah Pak Roslan menyerahkan nya. Prosesi selanjutnya bersalaman sebagai tanda sah kepada mempelai pria dan wanita.
Delina menyalami tangan Agam,dan pria itu meletakan tangan nya yang sebelah di ubun-ubun Delina yang tidak terkena sanggulnya.
" Bismillahirrahmanirrahim, Allahumma inni As'aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha'alaihi,wa a'udzu bika min Syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaihi. "
Setelahnya ia meniupkan pelan dan mengangkat wajah Delina, keduanya saling menatap ada perasaan aneh dalam diri Delina.
Dan rangkaian acara pun dimulai, bagsound yang mereka pilih adalah tema Gambus. Dan disini saatnya Delina beraksi...
Tepat pukul, 13.00 para tamu undangan berbondong bondong berdatangan sampai-sampai Delina dan Agam tidka berhentinya berdiri terus menerus.
Diliriknya Delina, sepertinya tidak nyaman dengan high heels yang dipakainya.
" Kenapa? Kaki mu lecet?" Tanya Agam.
" Iya, Om..." Jawab Delina ia melepas high heels nya.
" Coba liatkan Om, lecet kayaknya ya tumit ku?" Tanya Delina, ia tidak bisa menunduk karena jarik yang dipakainya teramat ketat.
Agam memperhatikannya dna memang benar, terdapat kemerahan di tumit belakang kaki wanita itu dikeduanya.
"Biar saya ambilkan, sandal jepit untuk kamu." ucap Agam hendak pergi.
" Gak usah, Om. Aku telepon Aldo aja."
" Emangnya dia mau?" Tanya Agam menaikkan sebelah alisnya.
" Pasti maulah om." Jawab Delina sangat yakin.
TUT...
TUT...
TUT...
" Halo, apaan Lin? "
" Ambilkan sandal bulu -bulu gue, dirumah. " Perintah Delina.
" Males,suruh aja lakik lo."
" Oh gitu, gak bakal gue maafin lo Do."
" Eh, iya-ya gue ambilin dulu." Pasrah Aldo.
" Gitu dong." Ucap Delina senang.
Aldo terpaksa melakukannya,sebab jika ia jalan bersama pacarnya. Selalu Delina ia jadikan kambing hitam, dan Tante Gita percaya-percaya saja jika ia pergi bersama Delina.
Jika Delina sampai membongkar rahasia, habislah sudah.... Nasib Aldo, mungkin ia akan dikeluarkan dari Kartu keluarga.
Aldo mendekat kearah panggung pelaminan, dimana Delina dan Agam masih menyalami orang-orang.
" Nih, sandalnya." Ucap Aldo wajah pria itu tampak melengos.
" Tumben, kamu mau disuruh-suruh.kalau saya suruh gak pernah mau." Ucap Agam.
" Biasalah Om, diakan pengecut." Ejek Delina mengmbil sandalnya.
Wajah aldo sudah melengos mendengarnya. " Jadi ini yang lo maksud Lin? Tega bener. " Ucap Aldo memegang dadanya ia mengusap matanya seolah menangis.
" Dih, dramatis banget." Jijik Delina.
" Sana, gue eneg liat muka lo. Rasanya pengen muntah, huekk." Ucap Delina memperagakan nya.
"Lo dibuntingin paman gue yaa?" Tanya Aldo.
" Hah!? Kamu hamil Lin?"
Delina yang mendengarnya, ingin sekali melemparkan bunga yang dipegangnya ke kepala dua pria berbeda usia itu rasanya, sayangnya mereka adalah sahbat dna suamianya.
" Ck, kalian becandanya gak asikk-ahh..." Kesal Delina ia berjalan menuruni panggung.
" Loh,loh,loh...kenapa dia kok ngambek." Tanya Aldo heran menoleh pada Agam yang ikutan bingung.
" Mana saya tahu." Jawab Agam cuek.
" Ck, sana datangin istrinya. Kok malah bngong,awas gak dikasih jatah malper hari ini." Ucap Aldo.
pLETAK...
" AWWW!"
" Kenapa pala gue yang di getok." Kesel Aldo.
" Kau masih kecil, belum cocok mikr yang gituan." Ucap Agam menjitak ponakan nya itu lalu ia pergi menyusul Delina.
" Lah, kok jadi gue semua yang disalahkan. Dasar pengantin gak jelas." Dengus Aldo.
----
MALAM HARINYA.
Mereka berkumpul di ruang tamu, keluarga besar dari pihak kedua orang tua mereka sudah pulang semua. Hanya menyisakan orang Tua Agam dan Orang tua Aldo, serta Mak Nurlela dan Pak Roslan.
Sedangkan si pengantin baru? Mereka ada didalam kamar, keduanya sama-sama terlelap. Saking lelahnya kegiatan hari ini. Sampai-sampai mereka tidak sempat makan malam.
" Dimana pengantin baru nya ini? Kok gak keluar kamar?"
" Mungkin lagi persiapan malam pertama."
Semuanya tertawa mendengar penuturan Om gio.
" Sudah sana, cek dulu Do. Mereka sudah makan atau belum." Suruh Abah Ahmad.
Aldo beranjak dari duduknya menuju kekamar Delina.
" Lin, lo didalam kan?"
Aldo mengetuk tetapi tidak ada yang sama sekali. Saat diputar ternyata pintunya terbuka.
Di intip sama Aldo, sesuai dugaan nya diawal. ia kembali menutup dan menghampiri yang lain diruang tengah.
" Gimana? Sudah kamu tanyakan?"
" Tiduran mereka Om, pintunya saja tidak dikunci." Jawab Aldo.
" Biarkan saja, mereka pasti kelelahan. Setelah acara hari ini, apalagi Delina mulai seminggu sebelum acara sudah mandi pijat lulur, pakai pacar siraman dna lain-lain." Ucap Pak Roslan.
" Ya sudah, kami juga mau pamit pulang."
" Iya, saya juga pamit." Ucap Abah Ahmad.
Mereka berpamitan pulang, hanya menyisakan Pak Roslan dan Mak Nurlela saja.
" Pasti rmah ini akan sepi Pak, kalau Delina sudah ikut pergi bersama suaminya." Ucap mak Nurlela.
" Iya Mak, tinggal kita berdua aja lagi."
" Gak kerasa ya, anak-anak cepet sekali sudah besarnya. Sudah pnya pasangan masing-masing."
" Tinggal kita saja, yang menikmati waktu masa tua Mak. Nunggu anak-anak menjenguk kita disini main sama cucu."
" Mamak masih gak nyangka, kita bisa ditahap sekarang. "
" Iya Mak, mudahan kita berumur panjang bisa lihat anaknya Delina dan Agam."