Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Mentari pagi di Jakarta kali ini terasa begitu hangat, namun bagi Anindya, kehangatan itu adalah tanda dimulainya hitungan mundur paling krusial dalam hidupnya.
Ia berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun panjang berwarna pastel yang elegan namun praktis. Wajahnya dipoles riasan tipis, menciptakan topeng ketenangan yang sempurna.
Tidak ada getaran di tangan, tidak ada keraguan di mata. Hari ini, ia bukan lagi mangsa yang gemetar, ia adalah seorang ibu yang sedang menjemput takdir.
Di ruang makan, Tuan Praditya sudah duduk dengan koran pagi dan tablet di samping piringnya. Wajahnya tampak sedikit lebih cerah meski matanya masih menunjukkan sisa kelelahan dari drama bursa saham kemarin.
"Kau terlihat lebih segar pagi ini, Anindya," komentar Tuan Praditya tanpa mengalihkan pandangan dari layar tabletnya.
Anindya tersenyum lembut sembari menuangkan teh untuk mertuanya. "Udara pagi tadi sangat bagus, Pa. Aku rasa aku mulai bisa menerima keadaan."
Tuan Praditya mendongak, menatap menantunya dengan saksama. "Baguslah. Kenzo akan pulang lusa. Dia sangat khawatir padamu sampai mengabaikan beberapa urusan di London. Pastikan kau menyambutnya dengan sikap seperti ini. Jangan memancing kemarahannya lagi."
"Tentu, Pa," jawab Anindya singkat sembari mengunyah roti panggangnya dengan tenang. Di dalam hatinya, ia berbisik, 'Lusa, Kenzo hanya akan menemukan kamar kosong dan kenangan pahit.'
Setelah Tuan Praditya berangkat ke kantor dengan pengawalan ketat seperti biasa, Anindya segera bergerak. Ia tidak menyentuh koper satu pun. Ia tidak ingin ada pelayan yang curiga melihat barang-barang besar dipindahkan.
Ia masuk ke kamar Elang. Bocah itu sedang duduk manis sembari memakai sepatu ketsnya. Anindya mengambil sebuah tas ransel berukuran sedang, tas yang biasanya digunakan untuk membawa perlengkapan Elang saat mereka pergi ke mal.
Di dalamnya, ia sudah menyelipkan beberapa pakaian ganti Elang, botol susu, dan yang paling penting, semua dokumen aset yang diberikan Bimo serta beberapa perhiasan berharga milik pribadinya yang bisa dicairkan kapan saja.
"Siska, aku akan membawa Elang ke rumah teman lamaku. Hanya sebentar untuk silaturahmi karena dia akan segera pindah ke luar negeri," ucap Anindya pada sang babysitter.
"Perlu saya ikut, Nyonya?" tanya Siska sigap.
Anindya menggeleng dengan senyum meyakinkan. "Tidak perlu, Siska. Temanku ini sangat tertutup, dia hanya ingin bertemu denganku dan Elang. Kau istirahat saja di rumah, oke?"
Siska mengangguk patuh. Tidak ada satu pun orang di rumah megah itu yang mencurigai bahwa tas ransel yang dibawa Anindya berisi masa depan.
Anindya melangkah keluar gerbang, masuk ke dalam taksi dengan jantung yang berdegup kencang namun tangan yang tetap stabil memeluk Elang. Anindya juga mematikan semua alat komunikasi.
Ponsel pemberian Kenzo dan ponsel pribadinya yang sudah ia atur agar tetap berada di rumah, ia tinggalkan begitu saja di atas ranjang. Kini, ia benar-benar terputus dari jaringan radar keluarga Praditya.
Tempat pertemuan yang dijanjikan Bimo adalah sebuah pangkalan udara kecil di pinggiran kota, tempat yang biasanya digunakan untuk penerbangan kargo dan jet pribadi yang sangat rahasia.
Bimo sudah berdiri di sana, di samping sebuah mobil SUV hitam, wajahnya tampak tegang namun lega saat melihat mobil Anindya mendekat.
"Semuanya sudah siap, Anin," ucap Bimo tanpa basa-basi begitu Anindya turun.
Bimo menyerahkan sebuah map kulit tebal. "Ini semua berkas asli. Sertifikat apartemen di Dubai, kepemilikan saham perusahaan cangkang, dan paspor baru untukmu dan Elang. Namamu di sana adalah 'Dian Rahardjo'. Pastikan kau tidak menggunakan nama aslimu selama di Dubai."
Anindya menerima map itu dengan tangan gemetar. "Bimo... aku tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikanmu."
"Balaslah dengan hidup bahagia bersama Elang, Anin. Itu wasiat terakhir Arlan padaku," jawab Bimo tulus.
Bimo mengantar Anindya hingga ke depan tangga pesawat jet kecil yang sudah menderu di landasan. Pilot sudah menunggu di pintu.
Di bandara ini, tidak ada pemeriksaan imigrasi publik yang ketat, semua sudah diatur oleh Bimo melalui jalur diplomatik dan bisnis yang sah.
Sebelum melangkah naik, Bimo menyelipkan sebuah amplop kecil ke saku tas Anindya.
"Bacalah ini saat kau sudah di atas awan. Aku sudah menulis nomor pribadiku yang tidak bisa dilacak Kenzo di sana. Jika kau butuh sesuatu di Dubai, hubungi aku. Tim di sana juga sudah menunggumu."
Anindya memeluk Bimo sekilas, sebuah pelukan persahabatan yang penuh rasa syukur. Ia menggendong Elang menaiki tangga pesawat.
Begitu pintu pesawat tertutup dan ia duduk di kursi penumpang yang nyaman, Anindya merasa beban seberat gunung perlahan luruh dari pundaknya.
Pesawat mulai bergerak, melaju di landasan, lalu perlahan hidungnya mendongak ke langit biru. Anindya menatap ke luar jendela, melihat kota Jakarta yang semakin mengecil.
Di bawah sana, Kenzo mungkin sedang bermimpi tentang kemenangannya, namun di sini, di ketinggian ribuan kaki, Anindya akhirnya bisa bernapas.
Saat pesawat sudah stabil di ketinggian jelajah, Anindya membuka amplop dari Bimo. Di dalamnya terdapat sebuah surat tulisan tangan dan sebuah foto kecil.
Foto itu adalah foto dirinya, Arlan, dan Bimo saat wisuda dulu, wajah-wajah yang penuh tawa tanpa beban.
"Anin, saat kau membaca ini, kau sudah berada di jalur menuju kebebasanmu. Arlan pernah bilang padaku, 'Bim, jika suatu saat aku tidak ada, pastikan Anin tidak pernah merasa sendirian'. Di dalam map itu, ada satu kunci kecil berwarna emas. Itu adalah kunci brankas harta Arlan untuk Elang di dalam apartemen Dubai. - Hiduplah dengan kuat, Dian Rahardjo. Masa lalumu sudah selesai. Dubai adalah lembaran barumu."
Anindya mendekap surat itu di dadanya, air mata kebahagiaan mengalir deras. Ia menoleh ke arah Elang yang sudah tertidur lelap di kursi sampingnya karena ayunan lembut pesawat.
Ia kini bebas. Tidak ada lagi ancaman satu tetes air mata, tidak ada lagi ciuman paksa dalam kegelapan mobil, dan tidak ada lagi aroma sandalwood yang menyesakkan.
...----------------...
To Be Continue ....