NovelToon NovelToon
Duda Menikahi Gadis Polos

Duda Menikahi Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Duda
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.

***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seperti anak kecil

“Tadi malam bajunya sebenarnya mau aku jadikan kain lap karena aku nggak suka. Tapi Om Rajendra larang. Katanya dia suka baju kayak gitu… tapi anehnya cuma disimpan di lemari, nggak dipakai,” jelas Cya santai.

Glek!

Rajendra langsung meneguk ludahnya.

Rasa malu menjalar begitu saja.

Ia sampai beberapa kali meneguk air putih, berusaha menenangkan diri.

Kepalanya menunduk, tak berani menatap siapa pun.

Sementara itu, senyum Bu Diana perlahan memudar.

Ia sempat mengira Rajendra menyukai jika Cya mengenakan pakaian itu.

Ternyata—justru hampir dijadikan kain lap.

Ia menggeleng pelan, tak habis pikir dengan tingkah putrinya. “Ya ampun, Cya…Baju itu buat kamu pakai, bukan buat suami kamu. Ya jelas dia gak mau pakai,” ucap Bu Diana sedikit menggebu.

Ia sampai menahan diri agar tidak mencubit Cya karena gemas.

“Tapi aku nggak suka, Mi,” jawab Cya ringan. “Dan kebetulan Om Rajendra yang suka. Jadi nggak apa-apa dong aku kasih ke dia. Hitung-hitung dapat pahala.”

Bu Diana menarik napas dalam. “Rajendra memang suka bajunya… tapi bukan untuk dia pakai.” Ia menatap Cya lekat. “Dia suka kalau kamu yang pakai.”

Cya berkedip.

“Kalau kamu pakai, kamu juga dapat pahala,” lanjut Bu Diana. “Benar, kan, Rajendra?”

Rajendra langsung meneguk ludahnya lagi. “I-iya, Mi…” jawabnya pelan, suara berat menahan canggung.

Cya menoleh ke arahnya. “Tadi malam kamu gak bilang kalau kamu sukanya aku yang pakai,” protesnya polos.

Rajendra terdiam.

Ia benar-benar kehabisan kata-kata.

Bu Diana lalu menatap suaminya. “Itu anak kamu, Mas.”

Pak Adit langsung membalas santai “Anak kamu juga, Sayang.”

“Tapi kayaknya begonya ngikutin kamu, deh mas…” ucap Bu Diana.

Pak Adit menggeleng. “Cya itu bukan bego. Dia cuma polos.”

“Polos sama bego… ya, tipis bedanya, sebelas duabelas," balas Bu Diana.

Cya yang mendengar langsung mengerucutkan bibirnya. “Iya, Mi… aku memang bego. Nggak bisa dibanggain,” ucapnya pelan.

Nada suaranya berubah.

Lebih lirih.

“Aku juga lagi nyari tempat yang ada lomba panjat pinang, kok.”

Tanpa menunggu respons, Cya langsung berdiri dan pergi dari meja makan.

“Cya…”

Namun gadis itu sudah lebih dulu menghilang.

Pak Adit menghela napas. “Tuh kan… jadi ngambek. Makanannya juga belum habis.”

Ia mengernyit. “Lagi pula… apa hubungannya sama lomba panjat pinang?”

Bu Diana mengangkat bahu. “Nggak tau. Mungkin cuma ngomong asal.”

“Kamu bujuk sana,” ujar Pak Adit.

“Iya.” Bu Diana pun segera berdiri dan menyusul putrinya—yang jelas-jelas sedang terluka, meski berusaha menyembunyikannya dengan cara yang aneh.

***

Bu Diana mengetuk pintu kamar Cya berkali-kali, namun tidak ada jawaban dari dalam.

“Sayang… buka pintunya. Tadi Mami cuma bercanda waktu bilang kamu begitu,” ucapnya, berusaha lembut.

Ia terus mengetuk, berharap putrinya luluh. “Mami minta maaf, Nak. Mami gak bermaksud bikin kamu sakit hati…”

Namun tetap saja—sunyi.

Bu Diana tidak berhenti mengetuk pintu kamar putrinya berharap putrinya mau memaafkannya.

"Cya sayang, mami minta maaf, nak. Kamu boleh minta apa aja, sayang, mami pasti akan menuruti keinginan kamu."

"Cya mau cerai." Akhirnya Cya menyahut.

Bu Diana menghela nafas berat. "Jangan ngomong kaya gitu, sayang. Nanti kalau suami kamu dengar, dia bisa sakit hati."

Cya tidak membalas lagi ucapan Bu Diana. Entah apa yang gadis itu lakukan di dalam sana.

"Mi, Cya masih ngambek?" Beberapa menit kemudian Rajendra akhirnya muncul di belakang Bu Diana.

Untungnya Rajendra tidak datang di saat Cya mengatakan ingin bercerai. Bu Diana tidak ingin menantunya itu sakit hati untuk yang kedua kalinya. Sudah cukup Rajendra menderita kehilangan Aurel, jangan sampai ia kehilangan Cya juga.

“Iya, Nak…” jawab Bu Diana lelah.

“Mami istirahat saja. Nanti biar saya yang bujuk Cya.”

Bu Diana menatapnya ragu. “Kamu yakin bisa?”

“Insya Allah, Mi. Kalau gak bisa, nanti saya bilang.”

Akhirnya Bu Diana mengangguk. “Baiklah… Mami ke kamar dulu.”

Setelah Bu Diana pergi, Rajendra berdiri di depan pintu kamar Cya.

Tok tok.

“Cya, buka pintunya.”

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi, kali ini sedikit lebih keras. “Ayo, buka. Saya mau ke toilet.”

Sebenarnya itu hanya alasan.

“Di bawah juga ada!” sahut Cya dari dalam.

Rajendra tersenyum tipis. “Iya, tapi saya nggak kuat turun. Nanti keburu pipis di celana.”

“Ke kamar sebelah aja!”

“Gak bisa. Saya gak tau kuncinya.”

Ia kembali mengetuk. “Ayo, Cya… kamu mau cuci celana saya kalau saya pipis beneran?”

Cya langsung menjawab cepat. “Gak mau!”

“Makanya buka pintunya.”

Beberapa detik kemudian—

Klik.

Pintu terbuka.

Rajendra langsung masuk, lalu menutup kembali pintu di belakangnya.

Ia menatap Cya.

Pipi gadis itu memerah, matanya sembap.

Jelas—habis menangis.

“Kenapa malah liatin saya? Katanya mau ke toilet,” protes Cya.

“Oh… iya.” Rajendra langsung masuk ke kamar mandi, sekadar menjalankan alasan yang ia buat sendiri.

Beberapa menit kemudian, ia keluar.

Cya sudah duduk di dekat jendela, menatap ke luar dengan tatapan kosong.

Tanpa permisi, Rajendra duduk di sampingnya. “Kenapa melamun?”

Cya hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap keluar.

Tidak menjawab.

Rajendra berpikir sejenak. “Mau makan es krim?”

Biasanya kalau Aurel sedang sedih, Rajendra selalu menawarkan es krim untuk gadis itu. Ide itu sepertinya tidak buruk bila ia terapkan pada cya, buktinya sekarang cya kembali menoleh ke arahnya,

"Om punya es krim memangnya?" Tanya Cya dengan wajahnya yang masih terlihat sendu.

"Gak punya sih, tapi kalau kamu mau kita bisa ke minimarket sekarang."

Cya menghembuskan nafas panjang. "Saya mau belajar aja."

"Belajar?" Rajendra mengangkat sebelah alisnya.

"Iya belajar supaya gak bego lagi."

Cya sepertinya benar-benar sakit hati dikatai bego oleh maminya.

"Tadi mami itu cuma bercanda ngomong kaya gitu. Kamu gak usah masukin ke dalam hati."

"Om gak usah hibur saya. Saya sudah sering kok dibilang begitu."

Ya, ini memang bukan pertama kalinya Cya dibilang bego, tapi baru kali ini Cya ngambek seperti itu dan penyebabnya ialah karena Rajendra ada disana, ketika Bu Diana mengatainya. Cya jadi malu pada Rajendra.

“Kalau sering dibilang begitu, bukan berarti itu benar,” balas Rajendra pelan. “Orang tua kamu tetap sayang sama kamu.”

Cya menggeleng. “Saya tau Mami lagi bercanda atau serius. Tadi… Mami serius.”

Rajendra terdiam sejenak. “Kalau begitu, kamu buktiin saja kalau kamu bukan seperti yang dibilang.”

"Iya sabar, ini aku juga lagi muter otak. Semoga aja Serena cepet dapat info tentang lomba panjat pinang yang gak terlalu jauh dari sini."

Sampai sekarang cya masih menganggap perkataan Rajendra beberapa waktu lalu itu srius bahwa orang tua Cya akan bangga kalau Cya menang lomba panjat pinang.

"Gak harus lomba panjat pinang juga cya."

"Gak, pokoknya aku harus ikut lomba panjat pinang. Kalau om gak mau dukung aku, mending om keluar aja deh!"

Rajendra menghela napas. "Oke, saya akan dukung kamu."

Daripada cya merajuk juga padanya, mending Rajendra ikuti saja kemauan gadis itu, lagipula Rajendra yakin Cya tidak akan mendapatkan orang yang mengadakan lomba seperti itu dalam waktu dekat ini.

Wajah Cya langsung berubah cerah. “Yeay! Gitu dong!”

Tiba-tiba, ia memeluk Rajendra dari samping.

Rajendra sempat kaku, tapi tidak menolak.

Perlahan, tangannya terangkat dan mengelus puncak kepala Cya.

Entah kenapa—rasanya nyaman.

“Om… jadi kan makan es krim?”

“Tadi katanya mau belajar.”

“Gak jadi. Mau es krim aja,” rengek Cya.

Rajendra tersenyum tipis. “Oke. Tapi kamu ganti baju dulu.”

“Kenapa? Baju saya masih bersih.”

“Di luar panas. Nanti kulit kamu terbakar.”

Alasan yang cukup masuk akal—meski sebenarnya ia hanya tidak nyaman melihat Cya keluar dengan pakaian pendek.

“Iya juga ya…” Cya langsung mengangguk. “Saya ganti baju dulu.”

Cya langsung bergegas ke ruang ganti tanpa menunggu tanggapan Rajendra.

Rajendra memperhatikan kepergiannya sejenak..“Dia… sangat berbeda dengan Aurel.”

Pikiran itu muncul begitu saja.

Tanpa bisa dicegah.

Ia menghela napas pelan.

Aurel selalu terlihat dewasa, tenang, dan tau bagaimana bersikap.

Sedangkan Cya—polos, keras kepala, dan terkadang seperti anak kecil.

Mood-nya pun mudah berubah, sesuka hatinya.

Namun, Rajendra tidak bisa sepenuhnya menyalahkan.

Usia Cya bahkan belum genap sembilan belas tahun.

Masih wajar jika sifatnya seperti itu.

“Om, ayo!”

Lamunan Rajendra buyar saat Cya tiba-tiba menarik tangannya.

Ia sedikit terkejut.

Ternyata gadis itu sudah selesai berganti pakaian.

Kini Cya mengenakan celana kulot panjang dipadukan dengan blouse berwarna pink.

Bandana senada menghiasi rambutnya—membuatnya terlihat manis dan… sangat menggemaskan.

Rajendra sempat terpaku sesaat. “Iya… iya.”

Ia berdehem kecil, lalu mengikuti langkah Cya keluar kamar.

***

Sesampainya di supermarket, Cya langsung berbinar.

Namun beberapa menit kemudian—Rajendra hanya bisa menggelengkan kepala.

Pasalnya, gadis itu hampir mengambil semua varian es krim yang ada.

“Cya… itu sudah kebanyakan,” tegurnya sambil melirik keranjang di tangan Cya yang hampir penuh—dan isinya didominasi es krim.

“Ih, Om pelit banget. Katanya orang kaya, masa ngasih es krim aja dihitung-hitung?”

Tanpa merasa bersalah, Cya tetap memasukkan satu lagi es krim ke dalam keranjang.

Rajendra menghela napas pelan. “Bukan soal pelit. Kalau kamu kebanyakan makan es krim, nanti kamu sakit. Makan itu secukupnya.”

Bukan karena uangnya tidak cukup—justru karena ia tidak ingin Cya kenapa-kenapa.

Apalagi gadis itu baru saja menangis.

Cya yang semula fokus memilih es krim, kini berdiri tegak.

Ia menatap Rajendra dengan mata menyipit.

“Kamu kenapa?” tanya Rajendra heran.

Cya menunjuk wajahnya. “Om… sudah mulai cinta ya sama saya?” tuduhnya santai.

Rajendra langsung menurunkan tangan Cya dari wajahnya. “Ayo. Kita bayar saja es krimnya,” ucapnya, mengalihkan pembicaraan.

“Kalau gak dijawab, berarti iya,” sahut Cya cepat.

Rajendra tetap diam.

Alih-alih menjawab, ia justru mengambil keranjang dari tangan Cya dan berjalan ke arah kasir.

Cya mendengus pelan.

Namun tetap mengekor di belakangnya.

Daripada ditinggal lagi.

***

Sesampainya di rumah, Cya langsung menikmati es krim yang dibelikan Rajendra. Ia duduk santai di halaman belakang.

“Pelan-pelan makannya, Cya,” tegur Rajendra saat melihat sudut bibir gadis itu sudah belepotan es krim.

“Iya, Om,” jawab Cya patuh—meski cara makannya tetap sama.

Rajendra menghela napas kecil.

Tanpa banyak bicara, tangannya terulur, mengusap sudut bibir Cya dengan lembut hingga kembali bersih.

Cya terdiam.

Perlakuan itu terlalu tiba-tiba.

Apalagi saat tatapan mereka bertemu dan saling bertahan lebih lama dari yang seharusnya.

Hingga akhirnya—“Eh…”

Cya tersentak saat merasakan dingin di pahanya. “Yah… es krimnya meleleh.”

Rajendra menggeleng pelan. “Kamu ini benar-benar seperti anak kecil.”

"Apanya yang seperti anak kecil?" Cya tudak Terima dibilang seperri itu.

"Semuanya. Tingkah kamu, cara bicara kamu, cara makan kamu dan juga...." Rajendra menatap dada Cya.

Cya membelalakkan matanya. Reflek ia memukul Rajendra menggunakan tangannya yang masih memegang stik es krim hingga es krim ditangannya jatuh dan mengotori baju Rajendra.

"Dasar om mesum. Dada saya gede tau, gak kecil." Ucap cya dengan menggebu-gebu. Dengan sengaja ia membusungkan dadanya ingin membuktikan kalau dadanya itu tidak kecil sepertti yang dikatakan Rajendra.

Rajendra ingin marah karena bajunya kotor karna Cya, tapi ia tidak bisa, ia malah mengalihkan wajahnya tak sanggup menatap dada cya yang sebenarnya memang tidak kecil seperti yang dikatakan oleh Rajendra.

Cya melempar stik es krim yang tersisa ditangannya lalu menangkup wajah Rajendra membuat laki-laki itu memandangnya.

"Nih... Coba liat! Dada saya gak kecil kan?"

Rajendra meneguk ludahnya kasar, matanya terpaku menatap dada Cya yang tepat berasa di depan wajahnya. Bisa-bisanya Cya serandom itu melakukan hal yang bisa membuat Rajendra sakit kepala.

"Cukup, Cya. Iya dada kamu besar." Ucap Rajendra dengan suara serak. Mau tidak mau laki-laki itu terpaksa mengakui kalau dada cya besar agar cya melepaskan wajahnya.

"Huh..." Rajendra mengelus dadanya begitu cya melepaskan tangannya dari wajah Rajendra dan menjauhkan dadanya dari wajah Rajendra.

Sementara itu, Cya justru menatapnya heran. “Kenapa muka Om merah?”

Rajendra mengalihkan pandangan.

Ia sendiri tau jawabannya dan itu semua gara-gara gadis di depannya.

“Om demam ya?” Tangan Cya terangkat, menyentuh kening Rajendra.

Namun belum sampai beberapa detik—Rajendra langsung berdiri cepat, membuat tangan Cya terlepas begitu saja.

“Om kenapa—”

Belum sempat Cya menyelesaikan kalimatnya, Rajendra sudah berjalan cepat—hampir berlari—masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang.

Cya hanya bisa menatap punggungnya dengan bingung. “Dia kenapa sih…?” gumamnya pelan.

1
Aidil Kenzie Zie
ibunya Jendra mana sih kok nggak nongol-nongol🤔🤔
Fegajon: sabar. bentar lagi😛
total 1 replies
aku
plot twist cya udh nyiapin bukti cctv dr awal ortu aurel pindah buat jd pisah sm jendra. mampusss 🙏🙏
Nifatul Masruro Hikari Masaru
cya kok gak mau sih diajak pindah
Aidil Kenzie Zie
ngapain pulang sih Cya biar Jendra pusing nyari kamu
Aidil Kenzie Zie
Cya minggat aja kerumah ortumu dari pada nggak dianggap
Nifatul Masruro Hikari Masaru
di rekam aja cya biar ada bukti
Adinda
pergi cya buat apa juga bertahan kalau gak dihargai
Fegajon
tenang... masih ada bu kiran, mertuanya cya. tunggu aja 😍
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh. pulang aja kerumah sendiri cya daripada sakit hati
Aidil Kenzie Zie
jangan dikasih dulu Cya sampai bisa terima pernikahan ini tanpa bayangan masa lalunya lagi
Aidil Kenzie Zie
betul nggak sih kalo Bela itu Aurel
Fegajon: bener gak yaaa😛
total 1 replies
anakkeren
jujur,lebih suka kalo authornya buat cerita bertema pesantren.tapi cerita ini bagus juga kok
Aidil Kenzie Zie
kok kamar yang ditempati sama Aurel tor bukannya mereka belum pernah tinggal disana
Fegajon: iya. itu rencana saat masih proses pengerjaan rumah Rajendra.
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
si mama egois
apa Bela itu sebenarnya Aurel
Aidil Kenzie Zie
ngapa nggak delivery aja Cya
Aidil Kenzie Zie
Rajendra udah tua masak nggak bisa hargai perasaan Cya dikit-dikit Aurel
Buddy Aprilianto
kedepannya bisa lebih menarik alur cerita nya 🙏
Fegajon: iya kak terimakasih masukannya🙂
total 1 replies
just a grandma
aku ska karakter cya
cutegirl
semangat berkarya
Anak manis
lucu ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!