"Tidak peduli apa yang akan terjadi nanti, selamanya kita akan tetap bersama" kata-kata itu terus terngiang dalam pikiran seorang gadis cantik yang berasal dari pinggiran kota.
Dan tempat itu menjadi saksi sejarah dari janji yang pria tampan itu ucapkan.
Dia yang sempat tinggal disana karena sebuah kecelakaan yang merenggut ingatannya, hingga ia ditampung oleh salah satu keluarga dengan kedua putri cantik yang selama ini selalu membantu kedua orang tuanya merawat pria yang entah berasal dari mana.
"Kalau penasaran silahkan ikuti kisahnya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erny Su, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
"Honey aku harus segera berangkat" ucap Alex.
"Ikan nya belum matang mungkin tiga puluh menit lagi baru matang apa tidak bisa menunggu sedikit lebih lama lagi"ucap Dian.
"Ada urusan penting yang tidak bisa ditunda lagi"ucap Alex yang kini menatap lekat wajah cantik Dian yang sibuk menghindari tatapan nya.
Dian pun bangkit dan berjalan menghampiri Alex yang masih berdiri di ambang pintu belakang rumah Dian.
Dian pun melewati Alex begitu saja tanpa bicara pada pria yang kini mengikuti langkah Dian.
"Honey, apa ada masalah?" tanya Alex.
"Tidak ada," lirih Dian yang terus melangkah menuju kamar yang ditempati oleh Alex.
"Honey,"lirih Alex.
"Tuan saya bukan siapa-siapa anda.jadi tolong jangan panggil saya dengan panggilan itu. Saya akan bantu anda berkemas, tapi sebagian baju anda belum kering harap sabar saya cari tasnya dulu"ucap Dian.
"Siapa yang bilang kita bukan pasangan, kamu calon istri saya. Saya janji tidak akan lama lagi saya akan kembali dan kita akan menikah"ucap Alex.
"Tidak tuan perbedaan diantara kita terlalu jauh, saya tidak akan bisa melewati batas itu."ucap Dian yang kini terlihat menundukkan kepalanya sambil menatap kearah lain sementara tangannya sendiri saat ini sibuk merapikan barang-barang Alex kedalam kopernya.
"Honey,"ucap Alex yang kini menghentikan pergerakan Dian yang juga menatap kearahnya.
"Apa itu soal keyakinan ku?"ujar Alex.
"Sudahlah, karena bukan hanya itu saja. Perbedaan kita terlalu jauh tuan, mungkin anda bisa memilih gadis lainnya"ucap Dian yang kini membuat Alex menatap tajam kearah nya.
"Dian saya hanya ingin kamu yang menjadi istriku"balas Alex.
Dian tidak membalas perkataan Adam dia fokus pada barang-barang Alex yang kini sudah tertata rapi di dalam koper.
Sementara Alex masih duduk di tepi ranjang dengan tatapan yang sama sejak tadi.
"Honey"panggil Alex.
"Tuan"ujar Dian yang kini balas memanggil Alex.
"Maaf saya tidak bisa"lirih Dian yang langsung berjalan meninggalkan Alex, tapi baru saja berjalan menuju pintu tiba-tiba pintu itu tertutup karena Alex menutup nya dengan cepat.
"Tuan saya masih harus mengemas pakaian Anda"ucap Dian yang masih menghindari tatapan mata Alex.
Sementara Alex sendiri saat ini semakin mendekat kearah Dian yang juga berusaha menghindari Alex dengan langkah mundur.
"Tuan saya mau ke"ucapan Dian terhenti saat Alex membungkam bibir gadis cantik itu dengan bibirnya.
"Eum...eum...."Dian sama sekali tidak diberikan kesempatan untuk bicara ataupun melepaskan diri sampai saat ciuman paksa itu berubah menjadi ciuman lembut yang kini membuat hati Dian terasa perih.
Bayangan wajah dari pria masa lalunya yang kini membuat Dian seperti seorang pengkhianat karena tidak bisa menghindari ciuman Alex.
Sampai saat air matanya menetes deras, Alex baru melepaskan ciumannya itu sambil terus menatap lekat mata indah itu.
"Aku tau kamu masih memikirkan dia hingga saat ini. Tapi aku bersumpah aku tidak akan pernah melepaskan mu"ucap Alex.
"Tuan terlalu mengada-ada.
"Tapi itu kenyataannya honey!"potong Alex yang kini terlihat sangat marah dan kecewa.
"Terserah saja jika anda ingin menuduh saya begitu."ucap Dian dengan ekspresi datar tanpa menoleh kearah Alex yang lagi-lagi menahan kepergiannya itu.
"Honey aku akan pergi,"ucap Alex.
"Saya tahu itu"ucap Dian.
"Diandra, jangan buat saya habis kesabaran karena sikap mu ini!"ujar Alex yang kembali meraih tangan Dian dan menggenggam nya erat.
"Lalu saya harus apa? anda ingin pergi dan saya sudah berusaha melakukan apa yang harus saya lakukan lalu apalagi yang kurang"ucap Dian.
"Aku hanya ingin kamu berjanji untuk tetap menjaga hatimu untuk ku. Dan hanya untukku itu saja"ucap Alex.
Pria tampan itu kembali menempelkan bibirnya ke bibir Dian, tapi Dian langsung menjauh.
"Kenapa?"ujar Alex yang masih menahan Dian.
"Tidak apa-apa saya hanya tidak ingin melakukan itu dengan pria yang bukan muhrim saya"ucap Dian.
"Diandra, aku janji aku akan pindah keyakinan saat kita menikah nanti jika itu yang membuat mu tak bisa menerima ku"ucap Alex yang kini menatap sayu kearah Dian.
"Bos, kita harus segera berangkat"ucap asisten pribadi Alex.
"Aku tidak akan pulang jika istriku tetap seperti ini"ucap Alex dengan tegas sambil terus menatap kearah Dian yang kini juga menatap kearahnya.
"Tapi tuan besar sudah tidak bisa dihentikan jika kita terlambat beberapa menit saja"ucap sang asisten lagi.
"Saya tidak peduli sekalipun saya harus kehilangan semuanya. Yang terpenting dia tetap menjadi milikku"ucap Alex.
"Pergilah saya tidak akan pernah pergi kemanapun kecuali saat bekerja"ucap Dian.
"Honey kamu tidak boleh bekerja lagi. Kamu sudah memiliki segalanya"ucap Alex.
"Tuan,
"Jangan membantah!"ucap Alex yang kini memberikan black card miliknya pada Dian yang kini menggelengkan kepalanya.
"Diandra please"ucap Alex pelan.
"Tidak tuan"balas Dian.
"Baiklah kalau begitu aku tidak akan pergi dan tidak peduli jika aku tidak memiliki apa-apa lagi. kalau kamu terus begini"ucap Alex dengan tegas.
Dian langsung mengambil black card milik Alex yang telah diberikan padanya. Dian masih memiliki banyak cara untuk mengembalikan barang itu.
Dian mengambil pakaian Alex yang telah dia cuci pagi tadi, tapi saat dia membawa baju itu Alex bilang dia akan menyimpan semua baju dan aksesoris yang ia bawa untuk nanti saat dia kembali.
Dian sendiri kini bertanya-tanya kenapa Alex meminta dia untuk membereskan barang-barang nya kedalam koper jika dia ingin meninggalkan semua itu disana.
"Honey aku pergi dulu, ingat untuk selalu menghubungi ku. Atau aku akan menghukum mu"ucap Alex.
"Hm..." lirih Dian.
Alex pun berlalu pergi tanpa membawa apapun selain rasa kecewa atas sikap Dian yang seolah tak peduli pada dirinya.
Sementara Dian sendiri masih duduk termenung di dalam kamar tersebut, dia terus memikirkan sikap Alex tadi.
Sampai saat Afandi mengetuk pintu yang sedikit terbuka itu, Dian pun akhirnya bangkit dan berjalan mengikuti Afandi menuju dapur dimana pepes ikan itu telah matang.
Air mata Dian tiba-tiba menetes kala dia teringat akan sang ayah yang juga begitu menyukai pepes ikan buatan ibunya.
"Dian,"ucap Dito
"Hm... aku teringat pada ayah mas, dia sangat suka dengan pepes ikan"ucap Dian.
"Ingat pada pak Hasan atau pada do'i"goda Ari.
"Kau ini Ari, aku tidak pernah merindukan laki-laki manapun selain ayahku sendiri"ucap Dian yang kini memanggil ibu dari Afandi dan adiknya untuk ikut bergabung makan pepes ikan spesial bersama mereka.
...*****...
Dan saat ini waktu terasa begitu lama untuk Dian yang tengah menanti jawaban dari janji yang terucap dari bibir pria yang entah dimana dan sedang apa? Karena sudah hampir tiga kali Dian mengantar padi ke tempat dimana rumah kakek Alex berada, di sana tidak ada tanda-tanda keberadaan Alex.
Dian dan teman-temannya selalu pulang larut malam atau pagi dini hari, dan yang terakhir Dian mengembalikan barang-barang Alex tanpa tersisa berikut kartu ATM dan black card yang pernah dia berikan padanya.
Dian tidak ingin terus berharap pada sesuatu yang tidak pernah pasti, dia masih bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya hingga saat ini.
Sudah hampir lima bulan lamanya setelah kepergian Alex Dian bekerja serabutan di ladang milik orang, atau sawah selebihnya berjualan buah dan sayur.
Gadis cantik itu tidak pernah patah semangat, Dia akan pergi pagi dan pulang pagi lagi jika sedang mengantar padi milik Alex ke tempat tujuan.
Hingga sebuah berita mengejutkan pun sampai pada Dian, dimana Alex telah menikah lagi dengan putri pejabat yang memiliki kekayaan yang hampir setara dengannya.
Dian hanya terdiam sambil menatap lekat foto kebersamaan mereka yang terlihat begitu penuh kemesraan setelah bulan madu mereka usai, dan itu diambil di bandara.
"Dian, ayo berangkat"ucap Ari yang kini mengetuk pintu rumah Dian.
"Sebentar,"ucap Dian yang kini bangkit dari duduknya dan meraih tas ranselnya.
Hari ini Dian akan mengangkut hasil panen pisang milik keluarga Ari, untuk dijual di pasar oleh mereka secara langsung.
Dian pun lebih banyak diam tanpa kata selama mereka berada di perjalanan dan itu membuat Ari heran.
"Apa kamu punya masalah?" tanya Ari.
"Ah, tidak ada hanya saja pagi ini rasanya sungguh sangat sepi setelah semalam aku bermimpi bertemu ibu"ujar Dian yang juga mengungkapkan perasaan tentang mimpinya itu.
"Benarkah, lalu kenapa masih pergi"ucap Ari.
"Aku harus tetap hidup Ri, jika tidak bekerja bagaimana aku bisa menghidupi diri sendiri"ucap Dian.
"Jual saja mobil tuan Alex, aku yakin dia tidak akan marah.... dengan itu kamu mungkin tidak perlu bekerja lagi dan akan punya banyak modal"ujar Ari yang kini mengingatkan Dian tentang mobil yang masih terparkir cantik di garasi mobil miliknya.
"Aku akan mengembalikan mobil itu sore nanti Ri, aku takut mobil itu dicuri jika terus berada di luar"ucap Dian.
"Hm... Bilang saja padaku jika kamu butuh teman untuk di perjalanan"ucap Ari.
"Hm..." lirih Dian.
Dian pun tiba di tempat tujuan bersama Ari dimana ladang yang luas itu terdapat ratusan pohon pisang dan buah-buahan lainya dan Dian tidak menunda waktu lagi, dia langsung turun dari mobil dengan golok yang dibawa di tangannya dia menebas pohon pisang dan memotong bonggol pisang itu kemudian Ari yang mengumpulkan tandan pisang itu di suatu tempat yang tidak jauh dari mobil.
Hasil panen kali ini cukup berlimpah, hingga mobil dian mengangkut penuh hasil panen tersebut.
Dian dan Ari pun bergegas mengangkut nya ke pasar dan mereka menjualnya pada tengkulak yang ada di pasar.
Setelah Ari membawa uang hasil pembayaran, Ari pun segera menghampiri Dian yang lagi-lagi tengah melamun didalam mobil yang terparkir di parkiran pasar induk tersebut.
"Woy, mikirin apa?"ujar Ari.
"Tidak ada, ayo pulang"ujar Dian seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Mereka pun bergegas pulang karena waktu sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Kamu tidak mau belanja Di, mumpung lagi di pasar loh?"ujar Ari.
"Tidak ri, aku ingin menggunakan uang itu untuk ongkos perjalanan pulang nantinya."ucap Dian yang dibalas anggukan kepala oleh Ari.
"Baiklah ayo kita pulang"ucap Ari yang kini mengambil alih kemudi.
Sepanjang perjalanan dari pasar Dian terlelap dalam tidurnya. Dia pun terbangun tepat sesampainya di halaman rumah.
"Nyenyak kali tidur mu nak, sampai-sampai saat aku menabrak janda pun, tidak kau tahu"ujar Ari yang kini terkekeh.
"Aku lelah"ucap Dian yang kini keluar dengan perlahan dari dalam mobilnya.
Tidak lama ari pun pamit setelah memberikan uang untuk upah kerja dan juga ongkos mobil seperti biasanya meskipun Dian hanya minta diisikan bensin karena Ari adalah sahabatnya sama seperti Afandi yang kini tengah merantau di negeri orang.
Setelah memasuki rumah, Dian pun, buru-buru membersihkan diri terlebih dahulu lalu mengisi perut nya yang keroncongan lalu kembali istirahat.
Setelah malam tiba, Dian langsung terjaga tempat pukul tujuh malam, dia langsung bergegas bersiap untuk pergi mengantar mobil itu kembali ke tempat seharusnya.
Dian yang sudah mandi dan mengisi perut dengan menu alakadarnya itu pun, langsung bergegas menyiapkan perbekalan.
Dian memasukkan dompet dan SIM yang Alex kirim, pada tas Selempang nya berikut dengan ponselnya.
Dian yang kini menggunakan kulot jeans dipadukan dengan t-shirt berwarna senada, lalu dilapisi Hoodie pun langsung menggunakan topi dan masker lalu memastikan seluruh lampu rumah menyala dan semua pintu dan jendela terkunci, barulah Dian melangkah pergi menghampiri mobil mewah yang selama ini selalu dia jaga dan dia bersihkan.
Dian pun menghela nafas berat setelah berada di dalam mobil dan langsung menyalakan mesin mobilnya dia memanaskan mesin mobil tersebut untuk beberapa saat sebelum akhirnya ia benar-benar pergi untuk mengantar mobil mewah tersebut.
Sepanjang perjalanan pikirannya terus berkecamuk, Dian pun terus berusaha untuk fokus pada jalanan yang sepi itu.
Sepanjang perjalanan hanya ada jalanan yang gelap yang diterangi oleh lampu mobil nya itu.
Satu jam, dua jam hingga tiga jam pun terlewati. Dian yang tidak berhenti di perjalanan meski untuk sekedar beristirahat sejenak.
Dian hanya ingin cepat sampai dan cepat kembali setelah menyerahkan mobil tersebut pada pemiliknya.
Sesampainya di depan pintu gerbang rumah tersebut, security pun membuka pintu pagar yang menjulang tinggi tersebut.
Dian hanya mengangguk pelan sebagai tanda hormat, Dian pun melajukan mobilnya itu hingga ke depan lobby utama rumah megah itu yang kini di sambut oleh penjaga rumah.
"Saya ingin mengantar mobil milik tuan Gidion, tolong berikan ini padanya"ucap Dian yang kini menyerahkan kunci mobil tersebut, lalu berbalik pergi.
Saat Dian sedang berjalan menuju pintu gerbang, tempat pukul sebelas malam, sebuah mobil sport memasuki gerbang dan lampu mobil itu menyorot kearah Dian yang kini menggunakan Hoodie hingga menutup topi yang ia kenakan.
"Itu adalah Alex yang baru saja kembali dari perusahaan.