karena Ayahnya tewas di tangan Arya saat melakukan Pemberontakan Nirmala pergi ke negeri Bharat, guna belajar ilmu kanuragan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bang deni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lim Hao
Han Le di tempatkan di kuil belakang bersama biksu biksu muda yang selalu bekerja untuk kebutuhan Kuil.
" kau han le?" tanya seorang biksu muda saat han le sedang memperhatikan satu biksu yang sedang memasak
" Eh, iya saya Han Le, Maaf Siau Suhu ( Guru Kecil) siapa?" tanya Han Le sopan sedikit kaget
" jangan terlalu sungkan, aku Lim Hao " biksu muda itu
" Aku tak berani Siau Suhu, " Ucap Han Le
" Jangan terlalu sungkan, kita juga paling selisih beberapa tahun, berapa usiamu sekarang Han Le?" tanya Lim Hao ia mengajak Han le duduk di pinggir kuil
" Aku baru 16 siau suhu" jawab Han Le
" Aku dua puluh tahun, empat tahun lebih tua darimu, begini saja kau panggil aku Toako saja " ucap Lin Hao sambil tersenyum
" apa tidak apa apa Siau Suhu?" tanya Han Le ragu
" Tidak apa apa, aku juga hanya murid yang baru di terima beberapa bulan di sini" sahut Lim Hao " Eh kamu di hukum karena apa?" tanya Lim Hao penasaran
" mencuri pil pusaka" sahut Han Le pelan
" Apaaa!" Lim Hao berjingkrak kaget " Kau mencuri pil pusaka bagaimana bisa?" tanya Lim Hao tak percaya, untuk masuk ke tempat penyimpanan saja sangat sulit karena di jaga ketat, bagaimana seorang bocah bisa masuk dan mencuri pil di sana apalagi pil pusaka yang sangat di jaga dan banyak jebakan yang sangat berbahaya, seperti jarum , anak panah dan juga pedang terbang.
" Yang mencuri bukan aku, tetapi seorang yang sakti Locianpwe Lin Coa, guruku," sahut Han Le
" Gurumu yang mencuri kenapa kamu yang di hukum!?" Lim Hao menjadi semakin bingung
" Karena aku yang meminum pil itu, guruku mencuri karena ingin aku sembuh " Han Le berkata pelan
" Kapan kejadiannya? mengapa toako tak pernah mendengar?" tanya Lim Hao
" Sekitar beberapa minggu yang lalu, bukan di sini tetapi di kuil yang ada di dekat gunung Himalaya" jawab Han le , ia lalu menceritakan tentang kejadian di gunung Himalaya, dimana ia terjatuh karena pukulan Iblis bayangan, dan di tolong oleh Mahluk Yeti, namun ternyata Yeti itu seorang manusia yang kena kutukan karena perbuatan bejatnya hingga kulit Yeti tak bisa di lepas saat ia masih hidup, dan orang itulah yang mencuri pil Pusaka, yang akan di bawa ke gunung songsang dari kuil cabang di kaki gunung Himalaya.
" Tunggu berarti kau yang di bicarakan oleh tetua Kong Hui!?" Lim Hoa berseru kaget
" Tetua Kong Hui, apa dia ada di sini?" Han Le bertanya balik
" Iya sedang meditasi tertutup, keputusanmu hukuman mu sepertinya menungu tetua Kong Hui keluar dari pertapaan" ucap Lim Hao
" Lim Toako, sudah berapa lama jadi murid Shaolin?" tanya Han le
" Baru sepuluh bulan toako di sini, kau sedang menunggu hukuman walau tak di kurung jangan kau sesekali mencoba melarikan diri" bisik Lim Hao sambil melihat ke kiri dan ke kanan
" Mengapa??" tanya Han Le , ia juga kaget ia sebagai orang yang menunggu hukuman tetapi tak di kurung malah di biarkan bebas di kuil belakang ini.
" Di setiap sudut ada tetua yang mengawasi, jangan kau kira mereka diam bersemedi tak tahu apa apa, telinganya sangat tajam dan ilmu batinnya juga sangat tinggi, begitu kau melangkah ke luar mereka bisa langsung tahu" Tutur Lim Hao mengingatkan
" Hmm, rupanya begitu, tapi memang aku tak berniat melarikan diri, karena aku yang meminum pil itu aku harus bertanggung jawab" sahut Han Le tegas
" Bagus , kau bertanggung jawab , eh pekerjaan ku belum beres aku melanjutkan pekerjaan dulu" Lim Hao berdiri dan mengambil tong kayu berukuran sedang, rupanya ia sedang mengisi air untuk keperluan Kuil.
" Twako, kau mengambil air di mana Boleh aku ikut?" tanya han Le yang merasa bosan sendirian
" Di bawah, kau harus meminta izin dulu aku tak berani mengambil keputusan" sahut Lim Hao
" Izin sama siapa, ayo antarkan aku twako " pinta Han Le
" ayo, " lim Hao mengajak Han Le ke salah satu sudut kuil, di pojokan satu Biksu tua dengan janggut memutih sedang bermeditasi
" Suhu, maaf mengganggu, Han le ingin ikut mengambil air" Lim Hao membungkuk dan meminta izin
" Amitaba, jika hanya ingin ikut tak usah kecuali ia ingin ikut mengisi gentong air juga" Tanpa membuka mata Biksu tua itu berkata
" Tetua, aku akan ikut mengambil air" Han Le berkata dengan cepat
" Amitaba, pergilah aku mengizinkan" ucap Biksu itu
" Terima Kasih Suhu" Han Le dan Lim Hao dengan cepat membungkukkan badan berterima kasih, lim Hao mengajak Han le mengambil gentong kayu di gudang , baru turun ke bawah menuju mata air yang berada di kaki gunung Songsang
mereka berdua dengan gembira turun ke bawah , tanpa sepengetahuan mereka di atas pohon dua tetua mengawasi gerak gerik mereka
" Suheng ( kakak seperguruan) apa dia tak akan melarikan diri?" tanya biksu yang berbadan gendut, tapi anehnya dahan yang menjadi pijakannya tak melengkung , sedangkan yang di panggil suheng perawakannya bertolak belakang dengan Sutenya ( adik seperguruan), tubuhnya kurus dan tinggi bila keduanya berdiri sejajar maka akan tampak seperti angka sepuluh.
" Kita lihat saja nanti, jika dia melarikan diri , kita kurung di ruang penebusan" sahut sang suheng
" Amitaba" biksu gendut bergidik membayangkan di kurung di ruang penebusan, ia pernah satu tahun di kurung karena ketahuan meminum arak, selama setahun penuh ia harus duduk menghadap tembok dan membaca liangkeng ( Kitab Suci) , bila ia salah maka akan ada hukuman pukul rotan.
" Itu mata airnya " Lim Hao menunjuk salah satu cekungan yang berisi air di rimbunnya pohon bambu
" Suasananya sangat sejuk di sini Twako" seru Han Le senang
mereka segera mengisi tong kayu yang mereka bawa , tong kayu milik Han Le lebih kecil dari milik Lim Hoa
" Twako, mengapa harus lewat sini, kenapa tidak lewat jalan yang tadi kita lalui?" tanya Han Le karena setelah mengisi penuh tong kayu Lim Hao melewati jalan yang penuh dengan undakan batu,
" Aturan dari kuil mameng begini, ayo kita kembali ke kuil lewat sini, ikuti langkahku" Ajak Lim Hao sambil mulai melompat , ternyata harus menginjak undakan batu yang berukuran sejengkal yang menonjol di antara bebatuan dengan jarak beberapa meter, dan Lim Hao harus melompat kecil dengan membawa tong berisi air di kedua tangannya dan tangannya harus terentang
" Tunggu twako" Han Le yang takut di tinggalkan dengan gerakan cepat menyusul
Sreet
gubraak
byur
" ha ha ha" Lim Hao tertawa melihat Han le yang basah kuyup karena terjatuh dan air di tong kayu menyiram dirinya sendiri
" Bantuan Twako" gerutu Han Le yang di tertawakan Lim Hao, Lim Hao menaruh kedua tong kayunya dan membantu Han Le
" Kau isi lagi aku menunggu di sini" ucap Lim Hao setelah membantu Han le berdiri
Han Le turun lagi mengisi tong kayunya, dan kembali ke sisi Lim Hao
" Perhatikan langkahku, jangan terburu buru" Ucap Lim Hao sambil kembali melompat ke undakan batu
di atas pohon Kedua biksu yang mengawasi menahan tawa melihat Han le yang jatuh terlentang dan tersiram airnya sendiri