NovelToon NovelToon
Pendekar Naga

Pendekar Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 Penyamaran di Sungai Ular dan Pertemuan Tokoh Hitam

Asap kemenyan hitam membubung dari tungku-tungku tembaga di sekeliling panggung utama. Di tepian Sungai Ular yang berbau amis, ratusan jawara aliran sesat duduk berkelompok, memamerkan senjata-senjata aneh mereka yang berkilauan terkena cahaya api unggun.

Di pojok paling gelap, bersandar pada akar pohon beringin tua, Rangga Nata alias "Suro Koplak" sedang sibuk mengunyah tulang ayam sisa yang ia temukan di tanah. Caping bambunya miring, menutupi satu matanya yang sengaja ia julingkan.

"Heh, Macan Hitam! Mana janjimu? Katanya kalau kami datang ke sini, akan ada arak gratis dan perempuan-perempuan cantik!" teriak Si Tangan Beracun dari Palembang sambil menggebrak meja kayu.

Macan Hitam, yang duduk di kursi kebesaran berlapis kulit macan, tertawa terbahak-bahak. Suaranya menggetarkan daun-daun kering di sekitarnya.

"Sabar, Saudaraku! Besok, setelah kita meratakan Perguruan Melati Putih, kalian boleh mengambil apa saja. Emas, perak, bahkan murid-murid Dewi Melati yang tersohor kecantikannya itu akan jadi budak kalian!"

"Horeee! Makan-makan! Mandi arak!" teriak Rangga tiba-tiba sambil melompat-lompat girang dan bertepuk tangan seperti anak kecil. "Tuan Macan baik sekali! Nanti hamba minta satu ya, yang pipinya merah seperti tomat busuk!"

"Diam, Pengemis Buduk!" bentak salah satu pengawal Macan Hitam sambil melayangkan tendangan.

Rangga dengan lihai pura-pura tersandung kakinya sendiri, membuat tendangan itu melesat di atas kepalanya. Tubuh Rangga terguling-guling masuk ke tengah lingkaran para tokoh hitam.

"Aduh, aduh... Tuan ini galak sekali. Hamba cuma mau ikut senang," rintih Rangga sambil memegangi pantatnya, namun matanya yang tajam di balik juling itu terus merekam setiap detail senjata dan posisi lawan.

Tiba-tiba, suasana menjadi sunyi senyap saat pria berjubah hitam dengan Topeng Perak di samping Macan Hitam berdiri. Ia melangkah mendekati Rangga. Langkah kakinya tidak mengeluarkan suara sedikit pun di atas daun kering—sebuah pertanda ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi.

"Ketua Macan... ada yang aneh dengan pengemis ini," suara si Topeng Perak dingin dan tajam seperti sembilu.

Macan Hitam mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Penasihat? Dia cuma murid Suro Gentong yang otaknya sudah miring. Kau lihat sendiri tongkatnya, itu asli milik Partai Pengemis Hitam."

Si Topeng Perak tidak menjawab. Ia mengulurkan tangannya yang pucat ke arah kepala Rangga. Sebuah hawa dingin yang menusuk tulang terpancar dari telapak tangannya. Inilah Ilmu Sedot Sukma, yang mampu membuat orang biasa pingsan seketika.

Rangga merasakan serangan itu. Dalam hati ia menggeram, "Hampir saja... aku harus tetap tenang."

Rangga tidak melawan dengan tenaga dalam. Sebaliknya, ia justru mendongak, membuka mulutnya lebar-lebar, dan... HUAATCHIII!

Rangga bersin dengan sangat keras tepat ke arah telapak tangan si Topeng Perak. Air liur buatan (yang sebenarnya hanya air minum yang ia simpan di mulut) membasahi tangan pucat itu.

"Aduh! Maaf Tuan Topeng! Hamba alergi sama orang yang pakai kedok, rasanya seperti mau bersin terus!" Rangga tertawa-tawa sambil mengelap ingusnya ke lengan baju si Topeng Perak.

"Kurang ajar!" Si Topeng Perak menarik tangannya dengan jijik. Aura membunuhnya sempat meluap, namun ia kembali tenang. Ia tidak merasakan adanya aliran tenaga dalam dari tubuh Rangga—karena Rangga telah mengunci rapat pusat energinya dengan jurus Nafas Naga Terpendam.

"Lihat? Dia hanya orang gila yang jorok," ejek Datuk Hitam dari Minang. "Jangan buang energimu untuk sampah seperti dia, Penasihat. Lebih baik kita bahas bagaimana cara menembus gerbang Melati Putih."

Macan Hitam mengangguk setuju. "Benar. Berita yang kuterima, Dewi Melati sedang menunggu bantuan dari seorang pendekar dari Kerinci. Tapi sampai sekarang, tidak ada tanda-tanda siapa pun yang turun gunung. Mungkin si tua bangka Pertapa Gila itu sudah mati membusuk di guanya."

Rangga yang duduk di tanah pura-pura asyik menggaruk selangkangannya, padahal telinganya menangkap setiap kata. "Jadi mereka belum tahu aku sudah di sini. Bagus..."

"Rencananya begini," Macan Hitam membentangkan peta. "Besok pagi, saat embun masih tebal, kita akan mengepung lembah dari tiga arah. Aku tidak ingin ada satu pun melati yang tetap putih. Semuanya harus merah oleh darah!"

"Ha ha ha! Setuju!" teriak massa di sana.

"Tuan Macan! Tuan Macan!" sela Rangga lagi sambil mengangkat tangan tingggi-tinggi. "Apa hamba boleh ikut? Hamba jago loh kalau disuruh bakar-bakar rumah. Apalagi kalau ada sisa nasi keraknya, wah... sedap!"

Macan Hitam menatap Rangga dengan pandangan meremehkan yang luar biasa. "Kau, Pengemis? Ya sudah, kau ikut di barisan paling belakang bersama pembawa barang. Kalau kau beruntung, kau bisa mengambil sisa-sisa rampokan. Tapi kalau kau menghalangi jalan, parangku akan membelah kepalamu!"

"Siap, Tuan Besar! Hamba akan jadi pembakar rumah paling rajin! Hehehe!" Rangga kembali ke pojokan, bersandar lagi di pohon beringin.

Pertemuan itu berlanjut dengan pesta pora. Tak satu pun dari tokoh hitam itu menyadari bahwa di antara mereka, duduk seorang pemuda yang sedang memegang takdir nyawa mereka.

Pedang Naga Emas di punggung Rangga yang dibungkus kain lusuh seolah bergetar pelan, seakan tidak sabar untuk menunjukkan cahayanya di fajar esok hari.

Rangga memejamkan mata, pura-pura tidur mendengkur keras, namun batinnya bergumam, "Besok, saat matahari terbit di atas Sungai Ular, aku akan mencukur kumismu untuk selamanya, Macan Hitam."

Di kejauhan, di balik rimbunnya hutan, Selasih menghela napas lega melihat Rangga berhasil melewati pemeriksaan si Topeng Perak. Ia segera berkelebat kembali ke perguruan untuk melaporkan rencana penyerbuan esok pagi.

Bersambung...

1
Ilman Xd
cerita apa ini dawk
anggita
ada visualisasi gambar tokohnya👌. like iklan👍☝
Idwan Syahdani: makasih kk udah mampir...
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuuuttt mudah2n cerita selanjutnya makin seru...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!