Karena tak kunjung hamil, Sekar Arunika- wanita muda berusia 25 tahun, harus mendapati kenyataan pahit suaminya menikah lagi. karena tidak ingin di madu, Sekar memilih mundur dan merantau.
namun sepertinya Tuhan masih belum ingin membuatnya tenang. karena saat sudah bahagia, Sekar justru di pertemukan kembali dengan orang-orang yang menyakitinya.
bagaimana langkah selanjutnya yang akan di ambil Sekar? memaafkan atau memilih menyimpan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhevy Yuliana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Sekar yang tidak menyangka akan bertemu dengan laki-laki itu lagi, hanya menampilkan senyuman tipis.
sementara Sari sudah menatap sahabatnya dengan tatapan penuh arti dan senyuman yang begitu mengembang.
" aku baru tahu kalau kalian jualan makanan ringan kayak gini, " cetus Eksa Seraya melirik ke arah dagangan yang ada di hadapan kedua perempuan itu.
"Iya, kami mulai usaha kecil-kecilan buat menyambung hidup, " Sekar ikut menatap ke arah dagangannya.
Eksa mengangguk mengerti, kemudian kembali menetap ke arah Sekar. " Kebetulan aku baru buka cabang restoran, apa kamu mau bergabung dan membuat menu-menu baru untuk restoranku? " tanyanya dengan Tatapan yang begitu dalam.
"eh, " kaget Sekar, perempuan itu masih tidak menyangka bahwa akan diberikan penawaran seperti ini.
" tapi kami melakukannya berdua, dan yang lebih banyak resepnya itu Sari Bukan Aku, Jadi kalau kamu mau rekrut orang lebih baik kamu rekrut Sari aja soalnya dia lebih berpengalaman daripada aku. " saran Sekar.
Sari diam-diam mendelik saat mendengar penuturan dari sahabatnya. sebenarnya perempuan itu merasa gemas karena ketidakpekaan Sekar atas keadaan sekitar.
" Oh iya lupa aku, " Eksa tampak mengusap belakang kepalanya karena merasa canggung. " maksudnya kalian berdua, Kalian mau nggak gabung sama tim restoran aku kita buat makanan enak dan unik yang bisa menghasilkan banyak uang. " Eksa menatap keduanya secara bergantian.
Suasana tampak Hening untuk beberapa saat, sebelum akhirnya salah satu dari mereka membuka suara.
" kalau kita pikir-pikir lagi boleh nggak? " tanya Sekar menatap ke arah Eksa.
Laki-laki itu terkekeh kecil, dirinya merasa gemas dengan sikap Sekar sendiri.
" Tentu aja boleh, mau kalian terima atau tolak itu hak kalian aku nggak akan pernah bisa melarang. ' sahut Eksa.
" kalau gitu aku mau dagangan ini dibungkus semua ya, " Eksa menunjuk ke arah beberapa macam makanan yang masih ada di hadapannya.
Dengan sigap dan cekatan, Sekar dan juga Sari segera menuruti keinginan Eksa. hingga dalam waktu Sekejap, makanan-makanan yang ada di atas meja sudah habis tidak tersisa.
" Sampai jumpa lagi! " sapa Eksa Seraya Melambaikan tangan ke arah keduanya.
Bukan, lebih tepatnya ke arah Sekar Tapi sayangnya perempuan itu tidak menyadarinya dan itu membuat Sari semakin gemes.
***
Berbeda dengan kebahagiaan yang baru saja diterima oleh Sekar karena mendapati dagangannya sudah ludes, suasana berbeda terjadi di kediaman yang ditempati oleh Rangga dan Rinjani.
Mereka berdua sudah merenovasi rumah yang dulu ditempati Sekar menjadi lebih mewah sesuai keinginan Rinjani.
Karena penghasilan Rangga yang sudah melonjak drastis sejak mengelola Cafe milik Gendis kakaknya. akhirnya laki-laki itu bisa merenovasi rumahnya sesuai dengan keinginan wanita yang dia cintai.
Sekaligus membuang kenangan Sekar yang tentu saja masih tertinggal di rumah itu.
Tidak tanggung-tanggung, Rinjani merubah seluruh furniture menjadi keinginannya dan mengubur furniture furniture lama pilihan Sekar.
Tapi anehnya Rangga tidak bahagia melainkan ada sesuatu yang mengganjal yang sengaja dia sembunyikan serapat mungkin.
" Kapan kamu belajar masak? " tiba-tiba Rangga bertanya saat mereka Tengah berada di meja makan.
" Kenapa emangnya? " Rinjani langsung menoleh dengan ekspresi wajah bad mood.
"ya biar aku bisa ngerasain masakan hasil istri bukan hasil tangan pembantu, " sahut Rangga dengan mengambil tisu dan mengusap mulutnya.
"ck, Kamu tahu kan kalau aku itu wanita karir dan nggak suka masak, ngapain kamu suruh aku masak? " tanyanya dengan tatapan sinis.