bukan novel terjemahan!!!
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.
Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?
kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sekarang ketemu antagonis pria
Pagi itu, Lin Yan bangun dengan perasaan aneh. Bukan mimpi buruk, bukan karena sistem berteriak, tapi karena aroma masakan Bibi Li sudah menyeruak sampai ke lantai tiga.
Ia turun dengan langkah malas, rambut masih berantakan, kaos hitam kusut, celana olahraga biru tua, dan permen lolipop rasa anggur di mulut.
Di ruang makan, Bibi Li sedang menyusun piring. "Tuan, sudah bangun? Aku buat sup ayam gingseng, dan sayur rebung. Adik Tuan sudah sarapan duluan, katanya mau ke laboratorium."
Lin Yan mengangguk, duduk, dan mulai makan. Satu suapan, dua suapan, tiga suapan. Enak. Tapi tetap ada yang kurang.
"Sistem."
【Iya?】
"Aku bosan."
【Kau selalu bosan.】
"Karena tidak ada tantangan. Zombie level 3 sudah biasa. Aku butuh sesuatu yang lebih."
【...Kabar baik. Tadi malam, sistem mendeteksi kemunculan zombie level 4 di kota utara. Lokasi: gudang logistik. Satu ekor. Mungkin lebih.】
Mata Lin Yan berbinar. "Level 4? Akhirnya."
"Tuan bicara dengan siapa?" tanya Bibi Li dari dapur.
"Tidak ada. Bibi Li, aku mau supnya di tambah."
Satu jam kemudian, Lin Yan sudah berdiri di atap gudang logistik kota utara. Dari ketinggian, ia melihat pemandangan yang familiar: tumpukan peti kemas, truk-truk terbengkalai, dan di mana-mana, zombie level 3 berkeliaran. Tapi ada satu yang berbeda.
Di tengah lapangan, seekor zombie berukuran lebih besar dari yang lain. Tingginya hampir 2,5 meter, tubuh kekar, otot-otot membatu, dan matanya... bukan merah seperti zombie level 3, tapi hitam pekat dengan pupil emas di tengahnya. Di sekelilingnya, zombie level 3 lain menjaga seperti pasukan pengawal.
【Zombie level 4. Kemampuan belum terdeteksi. Hati-hati.】
Lin Yan mengisap permennya. "Akhirnya ada lawan yang menarik."
Ia melompat turun, mendarat ringan di atas tumpukan peti kemas. Di bawah, zombie level 3 mulai mendekat, tapi Lin Yan tidak peduli. Matanya hanya tertuju pada zombie level 4.
Zombie itu menoleh. Matanya yang hitam dengan pupil emas menatap Lin Yan. Tidak seperti zombie lain yang langsung menyerang, zombie ini diam. Mengamati. Menilai.
"Pintar," gumam Lin Yan.
Ia melompat lagi, mendarat tepat di depan zombie level 4. Zombi itu menggeram bukan geraman biasa, tapi suara yang dalam, seperti suara dari perut bumi. Lalu, dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk ukuran tubuhnya, zombie itu menyerang.
Lin Yan menghindar dengan geseran kecil. Cakar zombie itu menghantam peti kemas di belakangnya, merobek besi setebal 5 sentimeter seperti kertas.
"Wow." Lin Yan tersenyum. "Ini baru namanya tantangan."
Pertarungan berlangsung sengit. Zombie level 4 tidak hanya kuat dan cepat, tapi juga punya kemampuan ia bisa memanipulasi bayangan. Dari bawah kakinya, bayangan hitam merambat seperti ular, mencoba melilit kaki Lin Yan.
Lin Yan melompat, menciptakan tombak es, melemparkannya ke arah zombie. Tapi zombie itu menghindar dengan lompatan ke samping, lalu bayangannya menyerang dari belakang.
"Seru!" Lin Yan tertawa.
Ia menciptakan dinding es di sekelilingnya, memblokir serangan bayangan. Lalu dengan gerakan cepat, ia melompat ke udara, menciptakan puluhan tombak es yang melayang di sekeliling zombie.
"Sekarang, kau tidak bisa ke mana-mana."
Tombak-tombak itu melesat bersamaan. Zombie level 4 mencoba menghindar, tapi terlalu banyak. Beberapa tombak menembus tubuhnya dari lengan, perut, paha. Darah hitam menyembur. Tapi zombie itu tidak mati. Ia menggeram lebih keras, dan bayangannya membesar, menutupi seluruh area.
Lin Yan mengerutkan kening. "Gelap."
Ia menciptakan bola es raksasa di atas kepalanya, lalu melemparkannya ke tanah. Es itu pecah, menyebarkan cahaya ke segala arah bukan cahaya biasa, tapi cahaya dingin yang membuat bayangan surut.
Zombie level 4 mundur, terganggu. Lin Yan tidak memberi kesempatan. Ia melesat maju, tangan kanannya berubah menjadi pedang es panjang, dan dalam satu tebasan, kepala zombie itu terputus.
Tubuh besar itu roboh dengan suara gedebuk. Darah hitam mengalir deras, membasahi tanah. Lin Yan berdiri di samping mayatnya, menghela napas.
"Level 4. Cukup menantang."
【Kau terluka】
Lin Yan melihat lengannya. Ada goresan tipis kena cakar zombie saat serangan terakhir. Darah merah segar menetes.
"Sedikit."
【...Kau bisa mati, kenapa tidak menggunakan kekuatan mu yang lain juga】
"Tidak akan." Lin Yan mengeluarkan permen baru, memasukkannya ke mulut. "Aku punya kekuatan penyembuhan dan juga aku malas gonta-ganti kekuatan"
【Jangan gegabah.】
"Iya, iya."
Saat ia bersiap membersihkan sisa zombie level 3 di sekitar, telinganya menangkap suara pertarungan dari dalam gudang. Bukan zombie tapi manusia. Suara api, suara teriakan, suara benturan.
Lin Yan berjalan masuk, melewati lorong gelap, menuju sumber suara.
Di ruang pemuatan besar, sekelompok orang sedang bertarung melawan belasan zombie level 3. Pemimpin mereka adalah seorang pria tampan dengan rambut hitam sedikit panjang, mata tajam, dan di tangannya sebuah api menyala. Bukan api biasa, tapi api biru keputihan.
【Huo Lingfeng. Antagonis pria. 29 tahun. Pengguna api level 3. Memimpin kelompok penyintas yang bersaing dengan pangkalan militer Sudan.】
Lin Yan mengangkat alis. "Antagonis? Yang itu?"
【Iya. Di novel, dia akan mati di tangan Gu Beichuan.】
"Tragis banget."
Tapi pertarungan di depan tidak berjalan baik. Huo Lingfeng dan kelompoknya kewalahan. Zombie level 3 di gudang ini lebih pintar, mereka bersembunyi di balik peti, menyergap dari belakang. Seorang anggota kelompok terluka di lengan, yang lain terjatuh.
Huo Lingfeng mencoba melindungi, tapi dari belakang, seekor zombie level 3 melompat dengan cakar terbuka.
Lin Yan menghela napas. "Ganggu pemandangan."
Dengan gerakan malas, ia melempar tombak es. Tombak itu melesat, menusuk tepat di kepala zombie yang hampir menerkam Huo Lingfeng.
Semua orang menoleh ke arah pintu masuk.
Lin Yan berdiri di ambang pintu, bersandar di kusen, permen lolipop di mulut. Kaos hitam, celana olahraga biru, rambut pendek berantakan, dan di lengannya, goresan tipis berdarah yang belum sempat ia bersihkan.
"Pagi," sapanya datar. "Ramai juga ya disini."
Huo Lingfeng menatapnya dengan mata menyipit. Tombak es yang baru saja menyelamatkan nyawanya masih menancap di kepala zombie. Kekuatan es level tinggi tidak biasa.
"Siapa kau?" tanyanya, suara dalam dan waspada.
"hanya orang yang lewat." Lin Yan mengisap permennya. "Zombie di sini banyak. Kalian kurang persiapan."
Salah satu anggota kelompok, pria bertubuh kekar, maju selangkah dengan wajah marah. "Kurang ajar! Kau tahu dengan siapa kau bicara? Ini Komandan Huo—"
"Diam." Huo Lingfeng memotong. Matanya masih tertuju pada Lin Yan. "Dia bukan musuh. Dia baru saja menyelamatkanku."
Ia berjalan mendekat, mengamati Lin Yan dari dekat. Wajah tampan dengan fitur tegas, mata merah delima yang dingin, tinggi hampir sama dengannya, dan aura malas yang tidak biasa.
"Aku Huo Lingfeng. Terima kasih atas bantuannya. Siapa namamu?"
"Lin Yan."
"Lin Yan..." Huo Lingfeng mengulang nama itu, seolah menghafalnya. "Kau tinggal di mana? Sendirian?"
"Dekat gunung. Bersama adik tampan ku." Lin Yan berdiri tegak, meregangkan tubuh. "Saran aku, cepat ambil perbekalan dan pergi. Di lantai dua ada zombie level 4. Satu sudah aku bunuh, tapi mungkin masih ada."
Huo Lingfeng terkejut. "Level 4? Kau bunuh sendiri?"
"Iya." Lin Yan menunjukkan goresan di lengannya. "Sedikit goresan. Tapi dia sudah mati."
Kelompok Huo Lingfeng saling pandang, tidak percaya. Level 4 adalah ancaman yang belum pernah mereka hadapi. Dan pemuda di depan mereka yang terlihat seperti baru bangun tidur mengaku membunuhnya sendirian.
"Kau..." Huo Lingfeng hendak bertanya lebih lanjut, tapi Lin Yan sudah berbalik.
"Aku pergi dulu. Masih banyak zombie level 3 di luar. Kalian bisa bersihkan sendiri, kan?"
Tanpa menunggu jawaban, ia melompat ke atas tumpukan peti, berlari di antara barisan gudang, dan menghilang.
Huo Lingfeng menatap ke arahnya pergi, matanya menyipit. "Orang itu... kekuatan esnya luar biasa. Tombaknya tepat sasaran dari jarak jauh. Dan dia membunuh level 4 sendirian."
Anggotanya bertanya, "Komandan, kita kejar?"
"Tidak. Dia tidak mau diganggu." Huo Lingfeng berbalik. "Cepat ambil perbekalan. Kita ikuti sarannya jangan ke lantai dua."
Di dalam hati, ia bergumam, "Lin Yan... lain kali kita bertemu, aku akan tahu lebih banyak tentangmu."
Sesampai di kastil, Lin Yan langsung ke dapur. Bibi Li sedang menyiapkan makan siang.
"Bibi Li, masak apa?"
"Sayur asem, Tuan. Dan ayam goreng."
"Enak." Lin Yan duduk di kursi dapur, mengambil permen baru.
Lin Feng masuk, melihat kakaknya. "Jie, habis dari mana? Kaosnya kotor, ada darah di lengan."
"Bermain. Bertemu orang menarik."
"Siapa?"
"Antagonis pria. Huo Lingfeng. Yang pakai api."
Lin Feng mengerutkan kening. "Antagonis? Maksud Jie?"
Lin Yan sadar adiknya tidak tahu tentang novel. Ia menghela napas. "Maksud Jie... dia orang yang suka bikin masalah. Nanti dia akan jadi musuh bebuyutan si Komandan Gu Beichuan."
"Jadi dia musuh?"
"Belum. Tapi nanti."
Lin Feng semakin bingung. "Jie, kau bisa lihat masa depan?"
"Bukan lihat. Tahu." Lin Yan mengisap permennya. "Pokoknya, jangan dekat-dekat sama dia. Dia ganteng, tapi berbahaya."
Bibi Li yang mendengar dari dapur berkata, "Tuan, jangan main-main dengan api. Nanti kebakar."
Lin Yan tertawa kecil. "Bibi Li, api-nya dia. Bukan aku."
"Sama saja. Tuan masih muda, jangan cari masalah dengan orang asing."
"Tidak cari masalah. Mereka yang cari masalah sama zombie." Lin Yan berdiri. "Tapi kalau mereka cari masalah sama aku..." Ia tersenyum sebuah senyum yang membuat Bibi Li merinding. "Yaudah."
Di kamar, Lin Yan berbaring di ranjang, memandangi plafon. Lengan yang tergores sudah sembuh—kekuatan penyembuhannya bekerja cepat.
【Kau tidak ingin terlibat dengan Huo Lingfeng? Di novel, dia mati di tangan Gu Beichuan.】
"Biarkan. Itu takdirnya."
【Tapi kau bisa mengubah takdir. Kau punya kekuatan.】
"Aku malas. Lagipula, dia antagonis. Hidup atau mati, bukan urusanku."
【...Kau benar-benar tidak peduli.】
"Aku hanya peduli pada adikku, Bibi Li yang masaknya enak, dan zombie yang bisa kupotong."
【Zombie level 4 sudah kau temui. Sekarang butuh level 5?】
"Kalau ada. Tapi untuk sekarang, aku mau tidur siang."
Sistem Xiyue menghela napas digital.
Di markas kelompok Huo Lingfeng, di sebuah gedung pertokoan yang dibentengi, Huo Lingfeng duduk di ruang komandonya. Di tangannya, api kecil menyala, memantulkan cahaya ke wajahnya yang tegas.
"Lin Yan..." gumamnya. "Kekuatan es level tinggi. Tidak pernah terdengar sebelumnya. Siapa dia?"
Salah satu anggotanya masuk. "Komandan, kami sudah dapat informasi. Di sekitar gunung Qingcheng, ada wilayah yang dijaga ketat. Tembok tinggi, sistem pertahanan canggih. Penduduk sekitar bilang, tempat itu disebut 'Surga Gila'."
Huo Lingfeng mengangkat alis. "Surga Gila?"
"Iya. Diduga pemiliknya seorang pemuda dengan mata merah."
Huo Lingfeng tersenyum kecil sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. "Lin Yan... ternyata kau bukan orang biasa."
Ia menatap peta, menandai lokasi gunung Qingcheng. "Suatu hari, kita akan bertemu lagi."
Anggotanya bertanya, "Komandan, apa dia ancaman?"
"Belum tahu. Tapi lebih baik kita jaga jarak." Huo Lingfeng mematikan api di tangannya. "Orang dengan kekuatan sebesar itu... lebih baik jadi teman daripada musuh."
Di balkon kastil, Lin Yan duduk di kursi malas, permen lolipop rasa anggur di mulut. Di bawah, lampu-lampu taman menyala, apartemen dan laboratorium terlihat rapi. Bibi Li masih di dapur, menyiapkan makan malam. Lin Feng membantu Li Mei berlatih di halaman.
【Kau tidak khawatir Huo Lingfeng akan datang ke sini?】
"Biarkan. Kalau dia datang, aku sambut. Tapi kalau dia bawa masalah..." Lin Yan tersenyum dengan senyum yang membuat sistem merinding.
【...Aku kasihan sama antagonis pria.】
"Jangan. Dia akan mati di tangan Gu Beichuan sesuai novel. Bukan tanggung jawabku."
【Tapi kau sudah mengubah banyak hal.】
"Tidak untuk dia. Biarkan takdir berjalan."
Lin Yan memejamkan mata, menikmati angin malam. Di kejauhan, bintang-bintang bersinar terang.
"Tapi..." Lin Yan membuka mata. "Zombie level 4 ternyata menyenangkan. Mungkin besok aku cari lagi."
【...Kau benar-benar tidak bisa diam.】
"Bisa. Tapi lebih seru begini."
Ia berdiri, meregangkan tubuh, lalu masuk ke kamar. Di bawah, kehidupan terus berjalan. Dan di suatu tempat di kota utara, Huo Lingfeng masih menatap peta, memikirkan mata merah yang menatapnya dingin.
semangat kak