Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29: Labbaik Allahumma Labbaik
Udara Makkah di sepertiga malam terakhir terasa begitu sejuk, kontras dengan panas terik yang membakar di siang hari. Aroma gaharu dan misik menyeruak di sela-sela ribuan manusia yang bergerak searah, bagaikan aliran sungai putih yang tak pernah surut. Suara talbiyah berkumandang rendah, bergetar di dalam dada setiap hamba yang datang memenuhi panggilan-Nya.
Nara berjalan pelan, jemarinya menggenggam erat ujung kain ihram Danu. Di samping mereka, Bapak Rahardi duduk di kursi roda yang didorong oleh seorang mutawif muda. Wajah Bapak tampak begitu bersinar, seolah beban bertahun-tahun sebagai pegawai rendahan yang difitnah telah luruh tertiup angin padang pasir.
"Mas... kita sudah sampai," bisik Nara. Suaranya gemetar, bukan karena takut, tapi karena haru yang meluap.
Danu menghentikan langkahnya tepat di bawah gerbang besar King Abdul Aziz. Ia mendongak, menatap menara-menara tinggi yang mencakar langit Makkah, lalu menunduk menatap istrinya.
Danu, sang penguasa korporat yang dulu hanya percaya pada logika dan angka, kini merasa begitu kecil. Pakaian ihram yang melilit tubuhnya dua lembar kain tanpa jahitan adalah pengingat bahwa di depan Sang Pencipta, ia tak lebih dari sekadar debu.
"Bimbing aku, Nara. Aku takut hatiku masih terlalu kotor untuk menatap rumah-Nya," ucap Danu rendah. Ada kerentanan yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.
Nara tersenyum, meski air matanya sudah membasahi cadar tipis yang ia kenakan. "Allah tidak memanggil orang-orang yang suci, Mas. Allah memanggil orang-orang yang rindu untuk disucikan. Ayo."
Saat mereka memasuki area Mataf (tempat tawaf), kemegahan Ka'bah yang berselimut kain Kiswah hitam pekat langsung menghujam jantung mereka. Untuk beberapa detik, dunia seolah berhenti berputar. Hiruk pikuk ribuan orang mendadak senyap di telinga Danu. Matanya terpaku pada bangunan kotak itu muara dari segala doa yang pernah Nara panjatkan saat ia terpuruk dalam kontrak pernikahan mereka yang pahit.
"Ya orang..." gumam Danu, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh bebas. Ia bersimpuh di atas marmer dingin, diikuti oleh Nara.
Namun, di tengah momen spiritual yang begitu intens itu, insting Danu sebagai pria yang terbiasa hidup dalam ancaman bisnis tiba-tiba berdenyut. Ia merasa sepasang mata sedang memperhatikannya. Bukan tatapan penuh syukur seperti jamaah lain, melainkan tatapan yang tajam, dingin, dan penuh perhitungan.
Danu menyapu pandangannya ke arah deretan pilar marmer besar di lantai satu. Di balik bayang-bayang salah satu pilar, ia melihat sesosok pria. Pria itu mengenakan jubah gelap, kepalanya tertutup sorban yang ditarik hingga menutupi sebagian wajah. Yang terlihat hanya matanya. mata yang sangat familiar bagi Danu. Mata yang mengingatkannya pada masa lalu yang kelam.
Siapa dia? batin Danu.
"Mas? Ada apa?" Nara menyentuh lengan Danu, menyadari perubahan ketegangan di bahu suaminya.
Danu segera mengubah ekspresinya. Ia tidak ingin merusak momen sakral ini. "Tidak ada apa-apa, Sayang. Ayo, kita mulai tawaf kita. Jaga Bapak baik-baik."
Mereka mulai bergerak mengelilingi Ka'bah. Danu melingkarkan lengannya di bahu Nara, membentuk barikade fisik untuk melindungi istrinya dari desakan jamaah lain. Kekuatan fisiknya kini ia gunakan sepenuhnya untuk pengabdian, bukan lagi untuk intimidasi.
"Subhanallah, Walhamdulillah, Wala ilaha illallah, Wallahu Akbar..." Nara melantunkan dzikir
dengan suara yang sangat lembut, namun terdengar sangat kuat di telinga Danu.
Pada putaran ketiga, Danu kembali merasakan kehadiran sosok itu. Sosok misterius itu bergerak searah dengan mereka, namun selalu menjaga jarak konstan. Setiap kali Danu menoleh secara acak, sosok itu akan membaur dengan kerumunan atau bersembunyi di balik jamaah yang bertubuh besar.
Ketegangan mulai merayap di tengkuk Danu. Ia tahu ini bukan sekadar kebetulan. Makkah adalah tempat paling aman di dunia, namun bagi orang yang memiliki dendam setinggi gunung, tak ada tempat yang benar-benar suci dari niat jahat.
Vanya? Tidak mungkin, dia di penjara. Tapi pengikutnya? Atau saingan bisnisku yang dulu aku hancurkan? pikiran Danu berkecamuk.
Saat mencapai Rukun Yamani, desakan massa semakin kuat. Tiba-tiba, seorang pria berpakaian ihram menabrak bahu Danu dengan sengaja. Tabrakan itu cukup keras hingga Danu hampir terhuyung.
"Maaf, Tuan," ucap pria itu dalam bahasa Indonesia yang kaku, lalu segera menghilang di antara kerumunan.
Danu meraba pinggangnya. Sesuatu terselip di lipatan kain ihramnya. Sebuah kertas kecil. Jantung Danu berdegup kencang. Ia tidak berani membukanya di sana. Ia hanya bisa mengeratkan pelukannya pada Nara.
"Mas Danu, kamu pucat," bisik Nara di sela doa.
"Hanya sedikit pusing karena cuaca, Nara. Fokuslah pada doamu. Mintalah apa pun pada-Nya,"
Danu, berusaha menenangkan suaranya meskipun matanya terus waspada memindai sekeliling.
Setelah menyelesaikan tawaf dan shalat sunnah di belakang Maqam Ibrahim, Danu meminta izin pada Nara untuk pergi ke kamar kecil sebentar, sementara Nara menjaga Bapak Rahardi yang sedang meminum air Zamzam.
Di pojok koridor yang agak sepi, Danu membuka lipatan kertas kecil tadi. Tangannya gemetar saat membaca tulisan yang diketik rapi di sana:
"Tanah Suci bisa menjadi tempat pembersihan dosa, atau tempat pemakaman rahasia. Hutang nyawa dibayar nyawa. Jangan pernah merasa aman, Setiawan."
Napas Danu memburu. Ini adalah ancaman terang-terangan. Siapa pun orang ini, dia tahu jadwal perjalanan mereka. Dia tahu mereka ada di sini.
Danu meremas kertas itu hingga hancur. Ia menoleh ke arah kerumunan, mencari sosok berjubah gelap tadi. Di kejauhan, di dekat tangga menuju area Sai, sosok itu berdiri tenang. Kali ini, ia sengaja menunjukkan dirinya. Ia menurunkan sedikit sorbannya.
Danu terkesiap. Wajah itu... wajah itu adalah wajah Reza, saudara laki-laki Vanya yang kabarnya melarikan diri ke luar negeri setelah kasus korupsi keluarga mereka meledak. Reza adalah orang yang jauh lebih dingin dan licin daripada Vanya. Jika Vanya menggunakan emosi, Reza menggunakan logika murni untuk menghancurkan musuhnya.
Reza memberikan gestur leher yang dipotong dengan ibu jarinya, lalu ia berbalik dan menghilang ke arah kerumunan menuju bukit Shafa.
Danu kembali ke sisi Nara dengan wajah yang mencoba tetap tenang, meski badai sedang mengamuk di dalam dadanya. Ia tidak ingin memberitahu Nara sekarang. Nara sedang dalam kondisi spiritual yang sangat tinggi, dan ia tidak ingin meracuni hati istrinya dengan ketakutan.
"Ayo, kita mulai Sai," ajak Danu.
Mereka mulai berjalan dari bukit Shafa ke Marwah. Di tengah perjalanan, di bawah lampu hijau (tempat pria disunnahkan lari-lari kecil), Danu menyadari sesuatu yang aneh. Beberapa pria berbadan tegap dengan pakaian ihram tampak mengawasi mereka dari berbagai sisi. Mereka bukan jamaah biasa. Cara mereka berdiri dan berkomunikasi lewat mata menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang terlatih.
"Nara, tetaplah di dekatku. Jangan lepaskan tanganku, apa pun yang terjadi," perintah Danu tegas.
"Ada apa, Mas? Kamu membuatku takut," Nara mulai merasakan kegelisahan Danu.
"Hanya kerumunan ini semakin padat, aku tidak ingin kita terpisah," dusta Danu.
Tiba-tiba, saat mereka berada di putaran keempat, listrik di area tertentu di jalur Sai sempat berkedip. Dalam kegelapan yang hanya berlangsung dua detik itu, Danu merasakan sebuah tarikan keras pada lengan Nara.
"AW!" Nara menjerit kecil.
Danu dengan refleks cepat menarik Nara kembali ke pelukannya dan melayangkan sebuah sikutan keras ke arah bayangan di sampingnya. Terdengar rintihan sakit. Saat lampu kembali terang, pria yang mencoba menarik Nara sudah menghilang, hanya menyisakan sebuah pisau lipat kecil yang terjatuh di lantai marmer.
Nara gemetar hebat. Ia menatap pisau itu, lalu menatap Danu. "Mas... ada yang ingin mencelakai kita? Di sini? Di rumah Allah?"
Bapak Rahardi yang melihat itu langsung beristighfar berkali-kali. "Ya Allah, lindungi anak-anak hamba..."
Danu tidak bisa lagi bersembunyi. Ia mengambil pisau itu dan menyembunyikannya. "Reza ada di sini, Nara. Dia tidak akan membiarkan kita pulang dengan tenang."
Ketegangan mencapai puncaknya. Mereka masih harus menyelesaikan tiga putaran lagi. Danu tahu, jika mereka lari sekarang, itu justru akan memancing serangan di area yang lebih sepi.
Tempat paling aman adalah di tengah kerumunan massa yang berdzikir.
"Nara, dengarkan aku," Danu memegang kedua pipi istrinya, menatap langsung ke matanya yang penuh air mata.
"Kita tidak punya senjata di sini. Kita tidak punya pengawal. Tapi kita punya Pemilik rumah ini. Jangan berhenti berdoa. Jika mereka ingin darahku, aku akan memberikannya, asalkan kamu dan Bapak selamat."
"Tidak, Mas! Kita akan keluar dari sini bersama-sama!" Nara menggenggam tangan Danu dengan kekuatan yang luar biasa. "Allah tidak akan membiarkan kezaliman menan melanjutkan Sai .
pengawalan ketat dari Danu secara mandiri. Setiap langkah terasa seperti berjalan di atas bara api. Danu merasa setiap orang yang berpapasan dengannya adalah ancaman. Namun, di tengah ketakutan itu, sebuah kedamaian aneh justru merasuki hatinya. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu mengandalkan uang dan kekuasaannya untuk melindungi diri. Sekarang, ia benar-benar berserah diri.
Saat mencapai putaran terakhir di bukit Marwah, mereka melihat Reza berdiri di dekat pintu keluar. Ia memegang sebuah ponsel, tampak seperti sedang memberi instruksi. Di sekelilingnya, tiga pria tegap mulai mendekat ke arah Danu dan Nara.
Jarak mereka tinggal sepuluh meter. Danu sudah bersiap untuk melakukan perlawanan fisik terakhir.
Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi.
Tiba-tiba, sekelompok Askari (petugas keamanan Masjidil Haram) bergerak cepat dari arah samping. Mereka langsung meringkus Reza dan anak buahnya. Rupanya, Andra di Jakarta tidak tinggal diam. Ia telah menghubungi otoritas keamanan Arab Saudi melalui kedutaan besar setelah melacak sinyal ponsel Reza yang aktif di area Makkah.
Reza mencoba memberontak, namun ia tak berdaya di hadapan para petugas. Saat ia diseret lewat di depan Danu, Reza meludah ke arah lantai. "Ini belum berakhir, Setiawan!"
Danu hanya menatapnya dengan pandangan dingin yang penuh wibawa. "Di tempat ini, hanya kebenaran yang bisa tegak, Reza. Kamu sudah kalah."
Setelah area dinyatakan aman, Danu, Nara, dan Bapak Rahardi menyelesaikan ritual terakhir mereka: Tahallul (memotong rambut).
Di bawah lampu-lampu Masjidil Haram yang megah, Danu memotong sedikit ujung rambut Nara, dan Nara melakukan hal yang sama pada suaminya. Momen itu terasa begitu mengharukan.
Ancaman maut yang baru saja lewat seolah menjadi bumbu yang menguatkan ikatan jiwa
mereka.
Nara bersandar di dada Danu, memandang Ka'bah dari kejauhan. "Mas, aku sangat takut tadi..."
"Aku juga, Nara. Tapi tadi aku belajar satu hal. Kekuatan terbesarku bukan pada saldo bankku atau pengawalku. Kekuatan terbesarku adalah doa istriku dan perlindungan Allah."
Danu mencium kening Nara di depan ribuan saksi manusia, sebuah ciuman yang penuh hormat dan syukur. "Terima kasih sudah membawaku ke sini. Terima kasih sudah menjadikanku imam yang sebenarnya."
Bapak Rahardi mendekati mereka, tersenyum dengan air mata yang mengalir di pipinya yang keriput. "Alhamdulillah... kalian selamat. Allah benar-benar menjaga tamu-Nya."
Malam itu, di depan Ka'bah, Danu Setiawan bukan lagi pria sombong yang dulu memaksakan kehendaknya lewat kontrak. Ia telah lahir kembali sebagai hamba yang tunduk. Dan Nara, sang muslimah yang teguh, menyadari bahwa cintanya pada Danu kini bukan lagi karena takdir yang dipaksakan, melainkan karena takdir yang telah disucikan melalui ujian di Tanah Haram.
Namun, di kejauhan, sebuah ponsel yang terjatuh di lantai Marwah bergetar. Sebuah pesan masuk di layar yang retak:
"Rencana B dimulai. Jakarta akan terbakar saat kalian mendarat."