Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Di Dalam Kawah Berasap
Setelah meninggalkan Gua Air Terang, arah perjalanan mereka berbelok ke barat daya. Medan yang dilalui perlahan berubah lagi — dari lereng berbatu dan berangin menjadi tanah yang gersang, berwarna kelabu kehitaman, dan terasa semakin panas meski matahari tidak bersinar terang. Asap tipis berwarna keabu-abuan naik dari celah-celah tanah, membawa bau belerang yang menusuk hidung, tanda bahwa mereka semakin mendekati wilayah Kawah Berasap, tempat disimpannya Permata Api.
Semakin dekat ke tujuan, udara terasa semakin berat untuk dihirup. Panas yang menyelimuti lingkungan terasa menjalar hingga ke tulang, membuat kulit terasa kering dan tenggorokan terasa perih. Para prajurit mulai membungkus hidung dan mulut mereka dengan kain yang telah dibasahi air, sementara Valerius dan Elara mengandalkan energi dari dua permata yang telah mereka dapatkan sebelumnya untuk melindungi tubuh mereka dari hawa panas yang berlebih.
“Tempat ini dulunya adalah gunung berapi yang sudah tidak aktif selama ribuan tahun,” jelas Valerius sambil memandang ke depan dengan pandangan waspada. “Namun sejak pengaruh Morgrath mulai menyebar, energi panas di dalamnya kembali membara. Di sinilah batas wilayah kekuasaannya yang paling kuat, sehingga kita harus sangat berhati-hati — di sini, ia bisa mendengar bisikan pikiran dan merasakan setiap langkah yang kita ambil.”
Elara mengangguk sambil mengamati sekeliling. Ia merasakan bahwa energi di tempat ini sangat berbeda — panas, membara, namun juga memiliki kekuatan yang luar biasa jika bisa dikendalikan dengan benar. Seperti api yang bisa menghangatkan atau menghanguskan, semuanya tergantung pada bagaimana ia digunakan.
Setelah berjalan selama sehari penuh melewati lembah yang dipenuhi batu-batu vulkanik, mereka akhirnya tiba di tepi kawah raksasa yang mulutnya terbuka lebar menganga seperti raksasa yang sedang tidur. Dari dalamnya keluar asap tebal yang membumbung tinggi ke langit, disertai kilatan cahaya oranye kemerahan yang sesekali terlihat dari kedalamannya, menandakan bahwa aliran energi panas di bawah sana masih bergerak aktif.
“Jalan masuknya ada di terowongan samping ini,” tunjuk Kaelen sambil menunjuk celah gelap di dinding tebing kawah. “Namun udara di dalamnya sangat panas dan berbahaya. Hanya mereka yang memiliki perlindungan energi yang cukup yang bisa melaluinya tanpa terbakar.”
Valerius mengeluarkan kotak pelindungnya, lalu mengaktifkan energi dari Permata Bumi dan Permata Air. Sebuah lapisan cahaya hijau-biru segera menyelimuti tubuhnya, kemudian ia membagikan perlindungan itu kepada Elara, Kaelen, dan seluruh rombongan. Begitu tersentuh cahaya itu, rasa panas yang menyengat perlahan berkurang, memberi mereka ruang untuk bernapas dan bergerak dengan lebih leluasa.
Mereka melangkah masuk ke dalam terowongan yang gelap itu. Dinding-dindingnya terasa panas saat disentuh, dan suara gemuruh dari kedalaman kawah terdengar semakin keras, seolah jantung raksasa itu sedang berdetak di bawah kaki mereka. Setelah berjalan menuruni lereng yang curam selama beberapa jam, terowongan itu melebar dan membuka ke sebuah ruangan besar yang terletak tepat di dasar kawah.
Pemandangan yang terbentang di depan mata membuat mereka tertegun. Di tengah ruangan itu terdapat kolam cairan bercahaya berwarna merah menyala — bukan air, melainkan aliran energi panas murni yang bergerak perlahan seperti lahar. Di tengah kolam itu, berdiri sebuah tiang batu yang kokoh, dan di puncaknya bersinar terang Permata Api, berwarna merah keemasan yang memancarkan panas yang terasa hingga jarak sepuluh meter.
Namun sebelum mereka bisa mendekat, lantai di sekeliling kolam itu bergetar hebat. Dari dalam cairan panas itu, muncul sosok raksasa yang seluruh tubuhnya terbentuk dari api dan batu pijar. Matanya menyala seperti bara yang membara, dan suaranya terdengar seperti gemuruh letusan gunung yang sedang meledak.
“Siapa yang berani memasuki wilayah jantung kekuatan ini? Kalian yang telah mengambil dua sumber cahaya itu, berani-beraninya datang untuk mengambil yang ketiga!”
Elara dan Valerius segera berdiri berhadapan dengan penjaga itu, tanpa mundur sedikit pun.
“Kami datang bukan untuk menghancurkan atau merusak,” jawab Valerius dengan suara lantang namun tenang. “Kami datang untuk menyatukan kembali kekuatan-kekuatan ini demi menjaga keseimbangan yang telah terganggu. Morgrath telah bangkit, dan jika ia berhasil membebaskan diri, maka seluruh kehidupan di Aetheris akan musnah selamanya. Izinkan kami mengambil Permata Api untuk melindungi tanah ini.”
Sosok penjaga itu tertawa keras, membuat debu dan batu beterbangan di sekelilingnya.
“Kata-kata yang mulia! Namun kekuatan api tidak akan menyerah pada alasan semata. Api adalah simbol keberanian, semangat, dan pengorbanan. Ia tidak akan mengikuti mereka yang hanya berbicara tanpa berani membuktikan tekadnya. Jika kalian ingin memiliki kekuatan ini, maka salah satu dari kalian harus membuktikan kesediaan untuk membakar bagian dirinya sendiri demi tujuan yang lebih besar!”
Mendengar tantangan itu, suasana menjadi hening seketika. Maksud penjaga itu jelas — untuk menguasai kekuatan api, seseorang harus bersedia melepaskan rasa takutnya, bahkan bersedia menerima rasa sakit atau kehilangan sesuatu yang berharga, tanpa membiarkan rasa sakit itu mengubah hatinya menjadi kejam.
“Saya yang akan melakukannya,” ujar Valerius segera, melangkah maju tanpa ragu.
Namun Elara segera menahan lengannya, menatap matanya dengan pandangan tegas. “Tidak, biarkan saya. Anda sudah memikul banyak beban sebagai pemimpin, biarkan saya yang menghadapi ujian ini.”
“Elara, ini terlalu berbahaya! Panasnya bisa melukaimu parah bahkan dengan perlindungan yang kita miliki,” tolak Valerius dengan khawatir.
“Justru karena itu saya harus mencobanya,” jawab Elara lembut namun mantap. “Anda memiliki tanggung jawab besar untuk memimpin nanti. Jika sesuatu terjadi pada Anda, perjalanan ini akan berakhir. Saya memiliki perlindungan dari kedua permata itu, dan saya mengerti makna api — ia tidak memusuhi, ia hanya menguji seberapa kuat hati yang menghadapinya.”
Sebelum Valerius sempat melarang lebih lanjut, Elara melangkah maju mendekati tepi kolam energi panas itu. Ia menarik napas panjang, memusatkan seluruh kekuatan ketenangan dan keikhlasan di dalam hatinya. Perlahan, ia melangkah masuk ke dalam area yang dipenuhi hawa panas yang menyengat.
Begitu ia melewati batas perlindungan yang ada, rasa panas yang luar biasa langsung menyelimuti tubuhnya. Kulitnya terasa terbakar, napasnya terasa sesak, dan keringat langsung membasahi seluruh tubuhnya dalam sekejap. Ia menggigit bibirnya agar tidak berteriak, namun tetap melangkah maju selangkah demi selangkah.
Di dalam hatinya, ia terus membisikkan niatnya: Saya menanggung ini bukan untuk diri sendiri, tapi untuk kedamaian, untuk rakyat, dan untuk orang yang saya cintai.
Setiap kali rasa sakit itu semakin kuat, ia membayangkan kehangatan kebersamaan mereka, bukan rasa sakitnya itu sendiri. Perlahan namun pasti, rasa panas yang tadinya terasa seperti musuh berubah menjadi energi yang menyurgakan tubuhnya, membakar rasa takut dan keraguan yang tersisa di dalam dirinya tanpa melukai jiwanya.
Saat akhirnya ia berdiri tepat di depan tiang batu itu, ia meraih tangan kanannya dan menyentuh langsung permata itu. Seketika, kilatan cahaya merah menyala terang menyelimuti seluruh ruangan, menyatu dengan cahaya hijau dan biru yang memancar dari dalam tubuh Elara. Rasa panas itu menghilang seketika, digantikan oleh aliran energi yang kuat namun terkendali.
“Cukup!” suara penjaga itu bergema, kini terdengar lebih tenang dan damai. “Kau telah membuktikan dirimu. Kau tidak takut pada rasa sakit, namun juga tidak membiarkan rasa sakit itu mengubah hatimu menjadi keras. Itulah cara yang benar untuk menguasai kekuatan api — menggunakannya untuk melindungi, bukan untuk menghancurkan.”
Sosok raksasa api itu perlahan memudar, berubah menjadi butiran cahaya yang mengalir masuk ke dalam Permata Api. Elara merasakan kekuatan baru mengalir di dalam dirinya, melengkapi dua kekuatan sebelumnya menjadi satu kesatuan yang lebih kuat. Ia berjalan kembali menuju Valerius dengan langkah ringan, meski wajahnya masih terlihat pucat karena tenaga yang terkuras.
Valerius segera memeluknya erat, matanya terlihat berkaca-kaca karena rasa khawatir dan kekaguman yang mendalam. “Kau sangat berani, Elara. Aku hampir tidak sanggup melihatnya.”
Elara tersenyum lemah sambil meletakkan permata itu ke dalam kotak pelindung yang kini semakin bersinar terang. “Semua akan baik-baik saja. Kita sudah semakin dekat.”
Namun saat mereka hendak berjalan keluar, lantai ruangan itu tiba-tiba berguncang jauh lebih hebat dari sebelumnya. Asap hitam pekat masuk memenuhi ruangan, dan suara tawa yang keras serta dingin kembali bergema — kali ini terasa lebih dekat dari sebelumnya.
“Hebat… sangat hebat. Kalian sudah memiliki tiga kekuatan, tapi apakah cukup untuk menghadapi aku secara langsung?”
Dari balik asap itu, muncul bayangan raksasa yang jauh lebih besar dan mengerikan daripada penjaga sebelumnya — wujud manifestasi kekuatan Morgrath sendiri, yang kini telah melacak posisi mereka dan datang untuk merebut kembali apa yang telah mereka ambil.
Pertarungan pertama mereka melawan kekuatan kegelapan pun segera dimulai, dan kali ini tidak ada lagi ujian, hanya pertarungan untuk bertahan hidup.