NovelToon NovelToon
ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

ANAK HASIL PERSELINGKUHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Cerai / Penyesalan Suami
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: NeyNaa

Perselingkuhan di balas dengan selingkuh, hingga menghasilkan buah hati dalam hubungan terlarang!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NeyNaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Jahat

Malam itu hujan turun deras di luar sebuah hotel yang berada di pinggiran kota.

Irwan duduk di dekat jendela sambil memandangi titik-titik air yang mengalir di kaca,pikirannya sedang penuh,sebab usaha reklame yang semakin menurun,tagihan yang mulai menumpuk,pelanggan yang berkurang,dan rumah tangganya yang terasa semakin dingin.

Di belakangnya, Lastri sedang duduk di sofa sambil memperhatikan wajah pria itu.

"Ada masalah lagi?" tanya Lastri pelan.

Irwan menghela napas panjang.

"Usaha lagi nggak bagus."

"Masih karena proyek yang salah itu?"

"Iya."

Lastri mengangguk pelan.

Beberapa saat kemudian ia berpindah duduk lebih dekat.

"Mungkin Mas terlalu banyak pikiran."

Irwan tersenyum tipis.

"Memang."

Awalnya pembicaraan mereka biasa saja,tentang pekerjaan,kehidupan,masa depan,namun perlahan arah pembicaraan berubah,Lastri menatap Irwan cukup lama sebelum akhirnya bertanya.

"Mas pernah mikir nggak soal masa depan kita?"

Irwan terdiam.

Pertanyaan itu bukan pertama kalinya muncul,tapi kali ini terdengar lebih serius.

"Maksud kamu?"

Lastri menunduk sesaat.

"Lama-lama kita mau kayak gini terus?"

Irwan langsung mengerti,Ia tahu ke mana arah pembicaraan itu.

"Lastri..."

"Aku cuma nanya."

Irwan mengusap wajahnya pelan.

"Aku nggak bisa jawab sekarang."

"Kenapa?"

Pria itu kembali terdiam.

Lalu menjawab dengan suara pelan.

"Karena nggak semudah itu."

Lastri tidak langsung berbicara,Ia membiarkan Irwan melanjutkan.

"Aku punya anak."

Irwan menatap lantai.

"Dito sama Rara masih kecil."

"Aku tahu."

"Mereka butuh aku."

Lastri mengangguk pelan,ekspresinya terlihat berubah sedikit.

"Terus aku?"

Pertanyaan itu membuat Irwan kembali terdiam.

Beberapa detik berlalu tanpa jawaban.

"Aku juga peduli sama kamu."

"Tapi?"

Irwan menarik napas panjang.

"Aku nggak bisa langsung ninggalin semuanya."

Untuk sesaat suasana menjadi sunyi,Lastri memalingkan wajahnya seolah kecewa.

Jauh di dalam pikirannya, ia mulai menyusun sesuatu,Ia sudah mengenal Irwan cukup lama,Ia tahu pria itu sulit mengambil keputusan besar,terlalu banyak pertimbangan,memikirkan citranya dikeluarga,dan takut menghadapi konsekuensi.Jika menunggu Irwan memilih sendiri, mungkin semuanya akan berjalan sangat lama Lastri tidak menyukai itu.

"Kalau memang nggak bisa sekarang..."

Lastri akhirnya membuka suara.

Irwan menoleh.

"...bukan berarti nggak ada jalan lain."

"Apa maksudmu?"

Lastri tersenyum tipis,senyum yang sulit ditebak.

"Mbak Sulis itu sabar."

Irwan mengangguk.

"Sangat sabar."

"Iya."

"Tapi semua orang punya batas kesabarannya masing-masing."

Kalimat itu membuat kening Irwan berkerut,lalu Lastri lalu melanjutkan dengan hati-hati.

"Kadang orang pergi bukan karena disuruh,tapi karena udah nggak kuat bertahan."

Irwan mulai memahami arah pembicaraan itu.

Dan ia tidak menyukainya.

"Jangan macam-macam, Lastri."

"Aku cuma ngasi pendapat mas."

Lastri belum selesai,menurutnya, Sulis masih bertahan bukan karena berharap,tapi lebih memikirkan anak-anak.

"Jadi kalau suatu hari dia capek..."

Lastri menatap Irwan,sambil memainkan daun telinga Irwan dan setengah berbisik.

"...mungkin dia sendiri yang memilih pergi."

Irwan langsung menggeleng.

"Aku nggak mau mikir terlalu jauh ke sana."

"Tapi itu kenyataan masss aaaaaaaaaahhh." Ia mengecilkan lagi suaranya hingga hampir tak kedengaran, bahkan yang terdengar desahan di ujung pembicaraan itu.

"Lastri." Mata Irwan membelalak mendengar desahan Lastri tepat ditelinganya, Ia tak tahan meraup bibir ranum milik Lastri.

Sontak Lastri bak menarik ulur, melepasan kecupan yang bercampur asap rokok itu.

"Aku cuma kasih pendapat." Ucap Lastri sedikit menjauh

Irwan berdiri lalu berjalan menuju jendela,entah kenapa pembicaraan itu membuatnya tidak nyaman.

Ketika harus membayangkan rumah tangganya benar-benar hancur tetap membuat dadanya terasa berat.

Sementara Lastri memperhatikannya dari belakang,Ia tahu Irwan belum siap,belum cukup jauh untuk meninggalkan keluarganya,namun ia juga tahu bahwa benih yang ditanam perlahan bisa tumbuh,ukup dengan dorongan kecil,dan dengan tekanan yang terus menerus.

Malam semakin larut.

Irwan hari ini lagi-lagi tak pulang, alasan klasik selalu diberikan pada Sulis, ketika Sulis bertanya.

Matanya terus menatap Lastri yang terlelap di dadanya, setelah hampir satu jam meladeninya di atas ranjang, Ia juga tak sanggup jika harus berpisah dengan perempuan yang membuatnya tenang serta memberinya kenikmatan tersebut.

Kata-kata Lastri terus terngiang di kepala Irwan selama perjalanan pulang keesokan harinya.

Semua orang punya batas,kalimat itu terus berputar dalam pikirannya,seperti lagu yang diputar berulang-ulang.

"Semua orang punya batas."

"Kalau suatu hari dia capek, mungkin dia sendiri yang memilih pergi."

Irwan berusaha mengabaikannya.

Namun semakin diabaikan, semakin sering kalimat itu muncul.Saat berhenti di lampu merah,saat memarkir mobil,bahkan ketika memasuki halaman rumahnya sendiri.

...****************...

Sore itu Sulis sedang sibuk mengemas pesanan makanan,beberapa kotak nasi berjajar rapi di atas meja makan,Dito dan Rara membantu menempelkan stiker usaha milik ibunya.

Suasana rumah terlihat hangat,sederhana,tapi damai,ketika melihat pemandangan itu, langkah Irwan sempat terhenti,ada rasa bersalah yang tiba-tiba muncul,sesaat ia teringat semua kebohongan yang sudah dilakukan.

"Papa pulang!" seru Rara riang.

Anak kecil itu langsung berlari memeluk kakinya.

Irwan tersenyum lalu menggendong putrinya,entah kenapa, senyum itu terasa berat.

Malam harinya mereka makan bersama,Sulis lebih banyak diam,Ia sibuk melayani anak-anak.

Sementara Irwan sesekali memandangi wajah istrinya,dulu wanita itu selalu mengajaknya mengobrol,menanyakan pekerjaan,menceritakan kegiatan sehari-hari,sekarang tidak lagi,hubungan mereka terasa semakin jauh,untuk pertama kalinya, Irwan mulai bertanya-tanya apakah dirinya sendiri yang menyebabkan semuanya.

Keesokan harinya, rasa bersalah itu perlahan memudar,Lastri kembali menghubunginya,mereka kembali bertukar pesan,saling bercerita,tanpa sadar, benih-benih pemikiran yang ditanam Lastri mulai tumbuh,hasutan demi hasutan di lancarkan Lastri dengan alasan bahwa Ia sangat mencintai Irwan,dan perlahan memengaruhi cara pandangnya terhadap rumah.

...****************...

Suatu malam Sulis menegurnya karena lupa membayar tagihan listrik yang sudah dititipkan beberapa hari sebelumnya.

"Mas, tagihan listriknya belum dibayar ya?"

Irwan yang sedang membaca pesan di ponselnya langsung mengangkat kepala.

"Lupa."

"Besok jangan lupa lagi."

Nada bicara Sulis sebenarnya biasa saja,tidak keras,atau marah,tapi entah kenapa Irwan langsung merasa tersinggung.

"Aku lagi banyak pikiran."

Sulis terdiam.

"Aku cuma ngingetin."

"Aku tahu."

Jawaban Irwan terdengar lebih ketus daripada yang seharusnya,Sulis tidak melanjutkan pembicaraan Ia kembali membereskan meja makan,tapi suasana yang tadinya tenang mendadak berubah canggung.

Di kamar, Irwan berbaring sambil menatap langit-langit,Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dulu tidak pernah dipermasalahkan.

Cara Sulis berbicara,menegur,dan bersikap dingin,padahal sebagian besar perubahan itu muncul karena luka yang selama ini ia sebabkan sendiri,namun manusia sering kali lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada kesalahannya sendiri.

Sementara itu Lastri kembali mengirim pesan.

"Mas lagi apa?"

Irwan langsung membalas.

Percakapan mereka mengalir seperti biasa,hingga akhirnya Lastri menulis satu kalimat yang membuatnya berpikir.

"Kalau hidup Mas penuh tekanan terus, Mas bisa sakit."

Irwan membaca pesan itu berulang kali,lalu tanpa sadar membandingkannya dengan keadaan di rumah.

Di satu sisi ada keluarga yang sedang berjuang mempertahankan kehidupan mereka,di sisi lain ada Lastri yang selalu membuatnya merasa dimengerti.

Perbandingan yang tidak adil,namun itulah yang mulai terjadi di dalam pikirannya,semakin lama, cara berpikir seperti itu membuat jarak antara dirinya dan Sulis semakin lebar,padahal Sulis tidak mengetahui apa pun tentang percakapan malam itu,Ia hanya sibuk menghitung pesanan untuk esok hari,berusaha membangun masa depan bagi anak-anaknya.

1
Yati Adek
dasar janda bolong wkwkwk
NeyNaa: wkwkwkw tenangin diri kak 🤣🤣
total 1 replies
Yati Adek
dasar janda gatal
Yati Adek
memang perempuangktau malu
NeyNaa: mksh ud mmpir kak 😄
total 1 replies
Neriya Naura
Si lakor kayaknya pke guna2, si iwan ampe segitunya, author matiin tu lakor, gatal bgt....
Si sulis juga demen bgt masih betah am tu laki...
NeyNaa: jgn emosi kak 🤭
total 1 replies
NeyNaa
ud buta sma cnta, efeknya amnesia 🤭
Lili Amalia
laki2 klau sdh mulai mengalami puber ke 2 atau apapun itu alasannya, TDK akan bisa mendengar nasihat dari siapapun.
kalau kata aku sih biar saja mreka ,dan s istri minta talak 3 dan cari cuan sebanyak banyaknya tuk menyenangkan diri sendiri dan anak. Ngapain bertahan dg laki2 tdk setia. najis .
Neriya Naura
Gak tau malu bgt 🤭
Neriya Naura
Ni si pastri gatel ya gak ketulungn, gatel+gak tau malu, si iwan juga silau bgt ama godaan janda🤭, lemah bgt imannya.
NeyNaa: tenangkan dirimu kak...🤭
total 1 replies
Neriya Naura
Cerita menarik, makin seru, si suami naksir janda gatel...
Neriya Naura
Si pastri gatel bgt sih.... 🤭
NeyNaa
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!